GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
INGIN PULANG.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


MENGHADIRKAN PERTOLONGAN-NYA


Tidak ada yang mampu menyelesaikan berbagai masalah kita kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada cara yang lebih baik mengundang pertolongan-Nya kecuali dengan kita menolong orang lain


Saat diri kita menolong karena Allah, maka otomatis kita akan tertolong. Dan saat kita memberi pada orang lain karena Allah, maka kita akan diberi oleh Allah dalam bentuk yang terbaik


Jangan pernah enggan untuk menolong orang lain. Sebab, semuanya akan kembali ke diri sendiri. Maka tolonglah diri kita dengan menolong orang lain, niscaya Allah akan menghadirkan pertolongan-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Tiga hari sudah Inayah berada dalam perawatan dirumah sakit. Namun kondisinya masih terlihat lemah, mungkin karena dihatinya masih belum ikhlas dengan apa yang terjadi. Bahkan ia selalu menyalah dirinya sendiri, karena ke bodohannya yang tidak mengetahui tentang kehamilannya. Dan bila ia ingat akan kebodohannya, membuat air matanya tanpa terasa mengalir begitu saja.


Seperti saat ini, dikala ia sedang sendiri dikamarnya. Karena kebetulan Hans sedang keluar untuk membelikannya makanan untuk mereka. Dan saat itulah ia berkesempatan untuk menangis. Karena apabila ia menangis dihadapan suaminya, itu sama saja ia menyakiti hatinya. Karena Hans pernah berkata padanya, hatinya terasa sakit sekali, bila melihat dirinya menangis, karena itulah ia tak mau menunjukkan kesedihannya apabila dihadapan suaminya.


"Hiks.. maafin Umi Nak, hiks..hiks.. karena kebodohan Umi, hiks.. kamu pergi, tanpa memiliki bentuk, hiks.. hiks.." Inayah menangis tersedu-sedu, karena membayangkan anaknya yang masih berbentuk seperti biji dan darah sudah harus pergi meninggalkannya. Disaat ia masih merutuki kebodohannya, tiba-tiba terdengar seseorang sedang membuka pintu ruang rawatnya.


"Bang Hans!" sentak Inayah, seraya ia menatap kearah kepintu, "Sebaiknya Ana ke kamar mandi saja!" lanjutnya lagi. Lalu ia pun segera turun dari tempat tidurnya, dan langsung memasuki kamar mandi. Dan tak berapa lama ia memasuki kamar mandi terdengarlah suara seorang pria memanggil namanya.


"Nayah, Nayah? Kamu dimana?" ucap pria itu, yang tak lain adalah Hans.


"Sebentar Bang, Naya sedang di kamar mandi!" teriak Inayah dari dalam kamar mandi.


"Oooh..eh, kamukan sedang sakit, Nayah! Apakah kamu tidak butuh bantuanku? Aku masuk ya?" teriak Hans, yang kini ia sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Tidak usah Bang! Nayah sudah mau keluar kok," balas Inayah, dan tak berapa lama ia pun membuka pintu kamar mandinya. Dan terlihatlah oleh Hans, wajah Inaya yang sedang basah, karena sepertinya Inayah habis membasuh wajahnya. Akan tetapi Hans, tahu kalau istrinya habis menangis, karena terlihat jelas dari matanya yang masih sembab. Namun ia harus berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Ah, syukurlah, sini biar Aku gendong," kata Hans, tanpa menunggu persetujuan dari Inayah akan selalu menggendong tubuh istrinya. Membuat Inayah langsung terpekik karena Hans menggedong secara tiba-tiba.


"Kyaak..!! Bang Hans, Nayahkan bisa jalan sendiri!" protes Inayah, saat tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Suaminya.


"Sssth.. diamlah, kamukan sedang sakit, jadi jangan banyak berjalan dulu, oke," balas Hans, seraya ia meletakkan tubuh Inayah keatas pembaringannya. Mendengar perkataan Suaminya Inayah langsung mendengus.


"Huh, orang Nayah sudah sehat pun! Nggak tahu apa kalau Nayah sudah bosen disini!" gerutunya terlihat kesal.


"Abang tahu kamu sudah bosen, tapikan kita harus mengikuti perkataan dokter dulu Sayang. Nggak bisa sembarang bisa pulang," rayu Hans, memberikan pengertian pada istrinya.


"Tapi Bang, Nayah akan tambah sakit kalau berada di sini! Karena Nayah benci bau obat Bang, jadi please ajak Nayah pulang Bang," rengek Inayah, membuat hati Hans langsung tersentuh.


"Ya sudah nanti Abang akan tanyakan sama Dokternya ya? Apakah bisa hari ini kamu pulang, tapi sebelum itu kamu makan dulu dong, biar Abang yakin kalau kamu memang benaran sehat," balas Hans, dengan lembut sembari membuka bungkusan yang tadi ia beli di luar.


"Baiklah Nayah, akan makan. Tapi Abang janji ya setelah Nayah menghabiskan makanannya, Abang harus bawa Nayah pulang," ujar Inayah dengan mata penuh pengharapan. Membuat Hans tak berdaya untuk menolak pengharapannya.


"Hem.. sebegitu inginnya kamu pulang, sampai-sampai segitu lahapnya kamu makan. Padahal beberapa hari ini kamu begitu sulit banget untuk makan," batin Hans, dengan tatapan mata yang tak lepas dari istrinya yang terlihat begitu lahap memakan makanannya. Bahkan makanannya sudah hampir habis.


"Sudah habis Bang. Lihat nih sudah kosongkan kotaknya?" kata Inayah dengan mulut yang terlihat masih dipenuhi dengan makanannya. Dan sambil menunjukkan kotak makannya yang terlihat sudah kosong.


Hans, kembali tersenyum melihatnya, karena wajah cantik Inayah jadi terlihat lucu, karena pipinya terlihat jadi tembem akibat makanan yang masih menumpuk di dalam mulutnya Inayah.


"Iya Sayang, Abang tahu. Ya sudah Abang akan menemui Dokter dulu ya? Tapi sebelum itu, maukah kamu berjanji pada Abang Sayang?"


Mendengar perkataan suaminya dahi Inayah langsung berkerut, "Hmm..janji apa Bang?" tanyanya, terlihat penasaran.


"Berjanjilah, kamu tidak akan memikirkan lagi apa yang telah terjadi kemarin. Dan fokuslah pada penyembuhan badan kamu. Apakah kamu mau berjanji itu Sayang?" balas Hans, membuat Inayah nampak ragu, untuk menjawabnya. Dan untuk sesaat ia hanya terdiam dan hanya memandang wajah suaminya.


"Kenapa diam? Apakah kamu tidak ingin secepatnya pulang Sayang?" tanya Hans, membuat Inayah kembali sumringah mendengar kata pulang.

__ADS_1


"Baiklah Nayah janji, tidak akan mengingatnya lagi dan Nayah juga janji akan fokus dengan kesembuhan Nayah, Bang," balas Inayah. Dan seketika Hans langsung memeluknya.


"Alhamdulillah, terima kasih Sayang, ya sudah kamu tunggu sebentar ya? Abang mau menemui Dokter dulu oke. Jadi kamu bersiaplah," kata Hans, sembari ia melepaskan pelukannya.


"Baiklah Bang,"


Setelah mendengar jawaban dari istrinya husband bergegas keluar dari ruang rawat Inayah. Sedangkan Inayah yang begitu senang akan pulang Ia pun bersiap-siap sambil menunggu suaminya kembali dan tak berapa lama harus kembali dengan membawa secarik kertas dan juga bungkusan yang berisikan obat-obatan Inayah.


"Bagaimana Bang?" tanya Inayah terlihat penasaran.


"Alhamdulillah Sayang, Dokter sudah memberikan izinnya. Sekarang apakah kamu sudah siap?" tanya Hans kembali.


"Sudah siap bang!" balas Inayah dengan sigap.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang," kata Hans, yang kemudian ia langsung mengambil kursi roda yang berada di ruangan tersebut.


"Loh kok pakai kursi roda sih?" protes Inayah.


"Mau pulang nggak?"


"Eh, ya maulah!"


"Ya sudah kalau begitu naiklah, atau kamu ingin Abang gendong saja?"


"Tidak-tidak! Nayah naik itu saja!" balas Inayah, dan ia pun langsung duduk di kursi rodanya, membuat Hans, tersenyum lucu melihat tingkah istri kecilnya itu.


"Hmm... my little wife is so cute bikin gemas deh!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2