
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Hidup itu...
💧yang mudah disyukuri
💧yang sulit disabarkan
Sesederhana itu saja.
Setiap manusia tidak akan mampu lepas dari cobaan dan penderitaan, baik kadarnya banyak ataupun sedikit. Tapi apakah mampu kita melewatnya? Itu tergantung pada diri kita saat menghadapinya.
Sama halnya bila ingin menggapai kebahagiaan.
Hanya dapat diupayakan dengan merangkainya, dengan banyaknya rasa Sabar dan rasa Syukur.
So, jangan menunggu jika waktu sudah tepat pasti akan indah pada waktunya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
"Hmm..Nayah bolehkah aku merasakan ini?" tanya Hans, yang kini jari jempolnya sedang mengusap bibir mungilnya Inayah, dengan tatapan yang seakan ia sudah sangat menginginkannya.
Inayah yang melihat itu, tak sampai hati untuk menolaknya. Dan akhirnya ia memberikan isyarat lewat kedipan matanya, menandakan ia telah memberikan izinnya. Hans yang mendapatkan lampu hijau pun langsung mendekati wajahnya ke wajah Inayah. Lalu dengan perlahan ia pun meraih bibir ranumnya Inayah, lalu menyesapnya dengan lembut.
Pada awalnya penyatuan bibir mereka hanya berlangsung secara singkat. Namun setelahnya, keduanya seakan tidak rela tautan tersebut berakhir begitu cepat. Dan nampak sekali kalau keduanya seakan menginginkannya kembali, itu terlihat jelas dari tatapan keduanya yang tak mau beralih dari bibir pasangannya. Hans yang sepertinya paham akan tatapan Inayah Ia pun kembali meraih bibir istrinya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Sehingga keduanya akhirnya terhanyut dalam tautannya yang semakin lama semakin memanas. Namun disaat keduanya sedang menikmati penyatuan bibir mereka, tiba-tiba perut Hans berbunyi membuat Inayah langsung melepaskan tautan bibirnya.
"Aah..Bang Hans lapar ya?" tanya Inayah seraya ia menahan senyumnya, karena merasa lucu saat melihat wajah suaminya yang terkejut karena mendengar suara perutnya sendiri.
"Eh, enggak kok, aku nggak lapar kok Nayah," balas Hans terlihat sedikit malu. Namun baru saja ia menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba perutnya kembali berbunyi membuat Inayah tak bisa menahan tawanya.
"Hihihi.. jelas-jelas sudah laper masih juga mau berdalih. Lucu deh Abang," ledek Inayah, membuat Hans langsung menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehehe.. ho'oh, Abang laper banget nih Nayah, soalnya dari pagi Abang belum makan," kata Hans yang akhirnya ia berkata apa adanya.
"Ya sudah ayo, kita lihat kedapur ada nggak yang bisa dimakan," kata Inayah yang langsung menarik tangan Suaminya, membuat Hans tersenyum senang. Karena sepertinya istri kecilnya itu sudah tidak merasa canggung lagi padanya. Sehingga timbullah keinginannya untuk menggoda istrinya.
"Baiklah sesuai kata istriku saja, Suamimu ini akan pasrah kok dibawa kemana saja," kata Hans seraya ia mengedipkan sebelah matanya membuat mata Inayah langsung membulat.
"Eh! Iikh, Bang Hans mulai genit deh! Udah akh Nayah ke dapur sendiri aja!" protes Inayah, dan langsung melepaskan tangan Hans yang sempat ia gandeng tadi. Lalu ia pun bergegas keluar dari kamarnya, dengan wajah yang terlihat memerah, karena sedikit malu. Tetapi sebenarnya hatinya terasa berbunga saat Hans menyebutnya istriku. Namun karena tak ingin ketahuan oleh Hans, ia pun berpura-pura merajuk.
"Loh kok ngambek sih? Kan aku tadi cuma bercanda Nayah," kata Hans seraya ia mengikuti langkah Inayah dari belakang.
"Iya deh aku akui nggak lucu! Kalau begitu ya maaf atuh Neng. Jangan marah lagi ya?" Inayah tersenyum tipis, saat mendengar perkataan Hans, yang nampak sekali ia takut kalau dirinya sedang benaran marah kepadanya.
"Siapa yang marah? Nayah nggak marah kok, jadi Bang Hans, tidak perlu minta maaf segala," balasnya, sambil menyunggingkan senyuman manisnya pada Hans, membuat jantung kembali berdesir.
"Aah.. syukurlah terima kasih istriku," kata Hans, sambil ia memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Eh! Iya, tapi jangan begini Bang! Nayahkan deg degan," balas Inayah berkata jujur. Membuat Hans, tersenyum mendengarnya.
"Maaf," ucap Hans, lalu ia pun melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"He'em, ya sudah Nayah mau lihat ada apa saja didalam sini," kata Inayah, sembari ia membuka pintu kulkas yang berada diruang makan.
"Hah? Kok kosong?" keluh Inayah saat melihat kedalam kulkas, yang ternyata tidak ada apapun disana.
"Ya mau gimana lagi, kan villa ini memang tidak ada penghuninya. Ya otomatis tidak ada yang mengisi kulkasnyalah," balas Hans, yang terlihat ia sedang merogoh kantongnya yang ternyata ia mengambil benda pipihnya, "Sudah jangan sedih, untuk malam ini kita pesan makanan saja ya? Besok baru kita isi deh kulkasnya, oke?" lanjutnya lagi, sambil ia melihat-lihat menu yang hendak ia pesan.
"Ya sudah deh, terserah Abang saja," kata Inayah terlihat pasrah.
"Sudah Aku pesan kok, ya sudah sambil menunggu makanan datang, gimana kalau kita duduk di teras, sambil melihat DT. Kamu maukan Nayah?" tanya Hans, tangannya kini sudah meraih tangannya Inayah.
"Mau kok Bang," Mendapatkan jawaban dari istrinya, Hans pun langsung menggandeng tangan Inayah. Dan mereka pun berjalan menuju ke teras Villa, "Maa shaa Allah, cantiknya DT dimalam hari," katanya lagi saat mereka telah berada di depan Villa.
"Iya cantik banget!" balas Hans. Namun tatapannya bukan kearah Danau, melainkan kewajah Istri, yang terlihat sedang terkesima melihat keindahan danau dimalam hari. Tak berapa lama mereka duduk di luar. Tba-tiba seorang wanita berpakaian seragam sebuah restoran pun datang. Karena ternyata Hans memesan makanannya disebuah restoran yang tak begitu jauh dari Villa mereka.
Setelah makanan telah tersaji di meja yang berada di teras. Keduanya pun langsung menikmati makanan tersebut. Tak membutuhkan waktu lama bagi Hans, untuk menghabiskan makanan tersebut. Apalagi saat itu ia dalam keadaan laper, jadi dalam sekejap makanan dipiringnya langsung ludes. Setelah makanan telah habis, mereka pun mengobrol ala kadarnya. Hingga Suasana berubah menjadi dingin.
"Seperti kamu sudah kedinginan, Nayah. Ayo kita masuk," ajak Hans, sambil menarik tangan istrinya. Lalu keduanya kembali masuk kedalam villa, dan Hans juga langsung membawanya ke kamar mereka, setibanya dikamar.
"Tangan kamu dingin sekali Nayah, kamu tidak sakitkan?" tanya Hans, terlihat cemas.
"Tidak kok Bang, inikan hanya karena cuacanya disini memang dingin," kata Inayah yang suaranya terdengar bergetar akibat menahan dingin.
"Ya sudah kalau begitu kita tidur saja ya?" balas Hans, dan nampak Inayah diwajahnya Inayah masih ada keraguan.
"Kamu tidak perlu cemas Nayah, akukan sudah pernah bilang, aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kamu benar-benar siap menerimaku. Jadi sekarang kemarilah aku hanya ingin menghangatkan tubuhmu saja," kata Hans, yang saat ini ia sudah berada di atas tempat tidurnya. Hanya tahu kalau saat ini Hati Inayah sedang Bimbang
Mendengar perkataan suaminya yang begitu meyakinkan akhirnya Inayah pun ikut berbaring di sampingnya. Dan Hans pun langsung menyelimutinya setelah itu ia pun memeluk tubuh Inayah dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan Ana Bang, Ana masih belum siap. Di Hati Ana seperti ada yang mengganjal, dan ana sendiri tidak tahu apa. Ditambah lagi Ana masih takut, jadi maafin Ana Bang," batin Inayah yang tanpa sadar air mata keluar begitu saja.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...