GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MENEMUKAN YUMNA DAN FARAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Jangan pernah memandang rendah seorang pendosa, pelaku maksiat atau pelaku-pelaku keburukan lainnya. Karena kita tidak pernah tau siapa yang akan menjadi penghuni surga. Bisa jadi dialah yang hari ini berbuat maksiat yang kelak masuk surga. Karena hidayah mutlak milik Allah bisa diberikan pada siapa saja dan kapan saja. Mungkin hari ini dia menjadi ahli maksiat tapi bisa jadi besok dia bertaubat dan menjadi hamba yang paling taat.


Sebab betapa luar biasanya pahala taubat


Dimata manusia seribu kebaikan akan musnah hanya karena satu kesalahan. Namun Dimata Allah meskipun dosa kita sebanyak buih dilautan akan di ampuni dengan taubat nasuha yakni taubat yang sungguh-sungguh.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Setelah mengetahui kebenarannya, Bram pun merasa malu, dan juga merasa bersalah. Dan akhirnya ia pun memerintahkan anak buahnya untuk ikut mencari Yumna dan Farah, anak Rio dan Ardiyan. Namun bagi tak ditanggapi oleh Ardiyan dan Rio. Malahan mereka langsung pergi, tanpa berkata apapun pada Bram. Karena pemikiran keduanya saat ini sedang tertuju pada anak-anaknya, yang saat ini belum juga ditemukan.


"Gambar Guys? Apakah sudah ada tanda-tanda keberadaan mereka?" tanya Ardiyan, yang kini ia dan Rio, sudah bergabung kembali pada para sahabat-sahabatnya lagi.


"Belum Ar! Tidak terdeteksi GPS yang ada di kalung Anak Lo! Apa GPSnya sudah tidak berfungsi lagi ya?" balas Dimas, tanpa memandang Ardiyan, karena saat ini ia sedang fokus pada layar laptopnya.


"Aah, masa sih? Coba Lo priksa punya Farhan! Karena Gps milik Faran dan Farah, sama kok Dim," ujar Ardiyan, tampak penasaran.


"Oke, gue priksa dulu," balas Dimas, yang kemudian ia pun mulai berkutik lagi pada tombol-tombol keyboard laptopnya dan tak berapa lama.


"Punya Farhan aktif kok Ar!" kata Dimas, sambil menunjukkan sebuah titik dilayar laptopnya.


"Iyakah? Tapi kenapa punya Farah nggak aktif ya?" tanya Ardiyan, terlihat bingung.


"Biasanya kalau bukan root pada sistemnya yang bermasalah. Kemungkinan besar Gps berada diluar jangkauan Ar, seperti keluar negeri misalnya atau ketempat yang memang sulit untuk mendeteksi keberadaan Gps tersebut, Ar," timpal Wira. Dan seketika Rio dan Ardiyan tersentak, tatkala mendengar kata luar negeri.


"Keluar negeri? Kayaknya itu nggak mungkin deh! Soalnya kalau tidak salah, tadi anak buah Anton mengatakan, mereka tidak memiliki kendaraan! Ditambah lagi, daerah ini terbilang jauh dari jalan raya. Makanya kemungkinan besar, mereka masih ada disekitar sini. Hanya saja mungkin saat ini mereka sedang bersembunyi, guys," timpal Rio juga, yang tadi sempat teringat oleh perkataan, salah satu anak buahnya Anton.

__ADS_1


"Gue setuju apa yang dikatakan Brian! Pasti saat ini mereka sedang bersembunyi. Untuk itu mari kita menyisir kembali daerah ini! Dan priksa tempat-tempat, yang agak sulit dijangkau. Disini juga gue lihat, banyak semak-semak yang rimbun, priksa juga semuanya. Kalian mengerti??" ujar Ardiyan terdengar tegas.


"Mengerti Bos!" sahut para Anak buah mereka secara serentak.


"Bagus! Kalau begitu, sekarang laksanakanlah! Kita berpencar sekarang!" kata Ardiyan lagi, dan akhirnya mereka pun mulai bergerak, untuk. mencari keberadaan Yumna mau Farah.


Sesuai yang diperintahkan oleh Ardiyan, mereka pun mulai menyisir daerah tersebut, bahkan mereka juga membabat habis setiap ada semak belukar, bahkan mereka juga tak segan-segan. masuk kesebuah rawa-rawa yang ada disana. Begitu juga dengan Ardiyan berserta para sahabat-sahabatnya. Mereka terus menelusuri daerah tersebut. Hingga akhirnya, Rio mencurigai sesuatu, yang sedikit ganjil yang terlihat ditutupi oleh semak-semak yang begitu tinggi dan rimbun.


"Ar, coba kita kesana! Kok gue merasa ada sesuatu dibalik semak-semak itu deh," aja Rio, seraya jari telunjuknya mengarah ke semak-semak tersebut. Ardiyan pun langsung mengikuti arah jari telunjuknya Rio.


"Aah iya, ayo kalau begitu! Dim, pinjam pisau Lo sini!" titah Ardiyan. Dan Dimas pun langsung menyerahkan pisau miliknya pada Ardiyan.


"Nih Ar!" balas Dimas dan langsung menyerah pisaunya pada Ardiyan. Dan setelah itu, Mereka pun mulai mendekati tempat yang dicurigai oleh Rio. Sesampainya disana, belum lagi mereka sempat memotong semak-semak itu, Rio dan Ardiyan malah saling berpandangan, karena keduanya seperti mendengar suara orang yang sedang berbisik-bisik.


"Lo mendengarnya juga Ar?" tanya Rio, sedikit berbisik.


"Iya gue mendengarnya! Sepertinya dibalik semak-semak ini ada sebuah guanya, Bri," balas Ardiyan yang juga ikut berbisik.


"Oke kalau begitu! Tapi untuk berjaga-jaga saja. Lo panggillah yang lain untuk bersiap disini ya Dim? Dan kalau dalam satu jam kami tidak keluar juga, baru Lo susul kami dengan yang lainnya. Lo pahamkan Dim?" kata Ardiyan lagi pada Dimas.


"Paham Ar! Ya sudah kalian berdua berhati-hatilah!" balas Dimas. Dan hanya dibalas acungan jempol oleh Rio dan Ardiyan. Setelah itu dengan perlahan mereka pun mulai memasuki gua tersebut. Namun baru saja mereka hendak melangkah semakin dalam tiba-tiba.


"Buyaaah..!!"


"Daddyyy..!!" Teriak kedua gadis kecil, secara bersamaan. Dan keduanya terlihat baru saja muncul dari kegelapan. Dan keduanya langsung berlari menghampiri Ardian dan Rio.


"Yumna!" sentak Rio, dan dengan spontan ia pun merentangkan kedua tangannya. tampak sekali ia Begitu senang karena telah menemukan Yumna dan Farah. Begitu juga dengan Ardiyan.


"Farah! Sini Nak," katanya yang terlihat ia juga merentangkan kedua tangannya. Dan kedua gadis kecil itu pun langsung memeluk Rio maupun Ardiyan. Namun langsung diangkat oleh sang Ayah mereka.

__ADS_1


"Kenapa Daddy, lama banget sih jemputnya? Umnah kan udah kelaparan tau!" protes si kecil Yumna, yang kini ia berada digendongan sang Ayahnya.


"Maaf Sayang, soalnya tadi Ayah dan Om Dian jugakan sedikit kesulitan mencari kalian?" balas Rio apa adanya.


"Hehehe, iya juga ya, itukan karena om Ali sama Om Budi yang sembunyikan kami Dad! Soalnya tadi, kami mau di tembak sama Om-om jahat itu Dad. Makanya kami bersembunyi di sini," adu Yumna, membuat Rio maupun Ardiyan yang mendengarnya, sedikit geram, pada Anak buahnya Bram.


"Brengsek mereka! Lihat saja! Gue akan membalasnya!" gumam Rio, namun terdengar oleh Ardiyan.


"Tenanglah Brian! Kita nggak boleh gegabah, Kasian anak-anak. Lagian anak-anak juga baik-baik sajakan? Oh ngomong-ngomong, mana kedua om yang menyelamatkan kalian?" tanya Ardiyan pada Farah.


"Disana Buyah! Mereka takut, ditangkap polisi katanya. Soalnya pasti Buyah datang sama polisikan?" balas Farah.


"Tidak Kok Nak. Buyah tidak datang sama polisi! Jadi untuk kalian berdua keluarlah!" kata Ardiyan, dengan suara yang terdengar sedikit keras agar bisa didengar oleh Ali dan Budi. Dan tak berapa lama muncullah dua Pria dari kegelapan juga.


"Ampun Pak, kami tidak melakukan apa-apa kok, sama anak-anak bapak!" ujar Budi dengan suara sedikit bergetar.


"Kami tahu, untuk itu kami ucapkan terimakasih atas kebaikan Anda berdua!" kata Ardiyan lagi.


"Eh iya pak sama-sama!" balas keduanya.


"Masih lamakah Dad? Ayoo pulang Umnah udah lapar nih!" celetuk Yumna, membuat Ardiyan tersenyum mendengar.


"Hehe... Oke-oke, ayo kita ke restoran dulu, baru deh kita pulang, oke Sayang?" balas Ardiyan.


"Okay Om!"


"Okay Buyah!!" balas mereka secara bersamaan.


...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...

__ADS_1


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉


__ADS_2