
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
TIADA YANG SEMPURNA
Jangan hanya mengharapkan orang lain sempurna sedangkan diri sendiripun tidak sempurna.
Belajarlah untuk menerima orang lain apa adanya, sebagaimana kita mengharapkan orang lain menerima kita dengan apa adanya.
Belajar berlapang dada dengan kelemahan dan kekurangan orang lain, karena kadang kita lebih mencela orangnya dibanding kesalahannya.
Marilah kita belajar menghitung kebaikan orang lain dan bukan menghitung keburukan, karena tiada manusia yang sempurna.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Di Pramana grup.
Setelah melakukan perjalanan dari rumahnya. Kini Mobilnya Hans, tampak mulai memasuki area perparkiran di sebuah gedung yang bertuliskan PRAMANA Grup. Setelah mobil terparkir dengan sempurna ia pun langsung turun, dan langsung berjalan memasuki pintu lobiy kantornya. Namun baru saja ia hendak memasuki pintu lobiy, tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
"Hans!"
Mendengar namanya di panggil, seketika Hans pun langsung menoleh ke sumber suara, "Pak Ardiyan?" gumamnya dan ia pun menghentikan langkahnya. Sepertinya ia hendak menunggu kedatangannya, Bosnya yang terlihat masih berjalan menuju ke arahnya.
"Kamu kok sudah masuk kerja Hans? Emangnya kamu sudah sehat, ya?" tanya Ardiyan, ketika ia sudah berada di dekatnya Hans.
"Alhamdulillah seperti yang Bapak lihat sekarang, Pak," balas Hans.
"Ooh syukurlah kalau begitu! Senang melihat kamu kembali seperti semula. Ya sudah ayo kita masuk!" ujar Ardiyan, seraya ia kembali melanjutkan langkahnya, memasuki pintu lobiy kantornya, dan langsung di ikuti oleh Hans.
Di sepanjang jalan mereka menuju pintu lift, tak satupun dari mereka yang mengeluarkan suaranya. Hingga pada akhirnya mereka berdua berada di dalam lift, barulah Ardiyan mulai mengeluarkan suaranya.
"Hans, kamukan sudah sehat ni! Kalau begitu apa kamu bersedia kembali lagi ke kota A? Kamukan tahu sendiri proyek kita yang disana belum kelar. Dan proyek itukan sudah aku serahkan sama kamu! Jadi kalau bukan kamu sendiri yang kesana siapa lagi Hans?" ujar Ardiyan apa adanya. Dan dibarengi dengan terbukanya pintu lift, dan itu pertanda mereka sudah berada di lantai paling atas, yang mana disana terdapat ruangannya Ardiyan dan Hans.
"Aduh pak! Kalau harus kesana saya nggak yakin, kalau saya bisa seperti ini Pak" balas Hans, membuat Ardiyan langsung mengenyitkan dahinya. Tanda nggak paham dengan perkataannya Hans.
"Apa maksud kamu bilang seperti itu Hans?" tanya Ardiyan, seraya ia mulai keluar dari ruangan lifnya, dan langsung berjalan menuju ke Ruangannya. Dan sudah pasti Hans tetap membuntutinya.
Hans juga tak langsung menjawab pertanyaan bosnya itu. Karena ia bermaksud akan membalasnya setelah mereka benar-benar sudah berada di Ruangannya Ardiyan. Namun Ardiyan malah menghentikan langkahnya, ketika ia melewati meja sekertarisnya. Membuat Hans ikut menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Desi, seperti biasanya ya? Dan cepat bawa ke ruangan saya!" kata Ardiyan, pada sekertarisnya, yang terlihat ia sedikit terkejut karena Ardiyan yang tiba-tiba saja memanggilnya.
"Eh! Baik Pak!" jawabnya dengan singkat. Setelah mendapatkan jawaban dari sang sekretaris Ardiyan pun langsung melanjutkan langkahnya dan langsung memasuki ruangannya. Sesampainya di dalam.
"Hans Kamu belum menjawab pertanyaanku tadikan? Sekarang jawablah!" kata Ardiyan seraya ia menduduki tubuhnya dikursi kebesarannya.
"Hmm... begini saja Pak! Saya akan pergi ke kota A tapi dengan syarat Inayah diperbolehkan ikut bersama saya. Gimana Pak, apa Anda setuju?" balas Hans setelah mereka sudah berada di dalam ruangan Ardiyan.
"Apa! Jangan gila kamu Hans! Apa kamu lupa kalau istri kamu itu sedang mengandung hah? Ditambah lagi kandungannya masih terbilang sangat muda, jadi sangat berbahaya untuk melakukan perjalanan jauh Hans!" ujar Ardiyan. Yang tampaknya ia tak menyetujui syarat dari asistennya itu.
"Tapi Pak, kalau istri saya tidak ikut, takutnya Saya akan menyusahkan orang lain lagi Pak! Karena saya..." bales Hans namun belum habis lagi ia mengutarakan alasannya. Ardiyan sudah langsung menyanggahnya.
"Hans! Apa kamu ingin melihat istri kamu keguguran lagi hah?!" tanya Ardiyan dengan nada suara tingginya.
"Tidak Pak! Hanya saja saya..." balas Hans, namun lagi-lagi perkataannya terhenti karena tiba-tiba pintu ruangan Ardian diketuk oleh seseorang. Sehingga dengan spontan juga Ardiyan, langsung menjawabnya. Dan otomatis Hans langsung menghentikan perkatanya.
"Masuk!" seru Ardiyan. Dan tak berapa lama masuklah seorang wanita cantik yang tak lain adalah Desi sekertarisnya Ardiyan. Ia terlihat sedang membawa sebuah baki yang diatasnya terdapat dua piring berisi makanan serta dua gelas air putih.
"Permisi Pak! Saya datang membawa sarapan yang Bapak pesan tadi," kata Desi, seraya ia mendekati mejanya Ardiyan.
"Iya letakkan di situ!" balas Ardiyan, dan Desi pun langsung meletakkan makanan tersebut diatas mejanya Ardiyan. Setelah itu ia pun langsung bergegas pergi dari ruangan tersebut.
"Maaf Pak! Saya Ugh..ukh..!" balas Hans, yang terlihat ia langsung menutup mulutnya. Bahkan wajahnya langsung memucat tatkala ia melihat makanan-makanan tersebut.
"Apa! Jangan bilang kamu masih mengalami sindrom simpatik kehamilan Hans?" tanya Ardiyan, yang sepertinya ia tadi sempat berpikir kalau Hans, sudah baik-baik saja.
"Iya Pak saya masih mengalami hal itu! Dan itu juga Alasan saya ingin membawa Inayah, bila bapak masih ingin saya kembali ke kota A. Karena saya hanya bisa makan kalau Inayah mrnyuapi saya lewat mulutnya Pak!" balas Hans, yang akhirnya ia berkata jujur pada Ardiyan.
Mulut Ardiyan langsung ternganga setelah mendengar perkataannya, "Hah..? Sindrom Aneh! Aakh sudahlah kau boleh pergi sekarang! Sebelum selera makanku hilang karena melihat kau yang mual-mual begitu! Cepat pergi sana!" ujar Ardiyan, mengusir Hans, karena ia tak suka melihat Hans, yang terlihat sedang menahan mualnya.
"Baik Pak! Ugh.. kalau begitu saya permisi ukh..!" balas Hans, dan ia pun langsung bergegas pergi dengan cepat bahkan ia sempat berlari kecil saat menuju ke pintu ruangannya Ardiyan.
"Huh! Bikin selera makanku hilang saja! Dasar Pria Aneh, pakai ngomong lagi, baru bisa makan kalau disuapi lewat mulut istrinya! Kan gue jadi kepingin juga merasakan makan disuapi lewat mulutnya Anisah kan enak tuh tiap hari ciuman!" gumamnya Ardiyan.
"Aah, kalau begitu gue telpon Anisah deh! Suruh dia cepat datang! Biar gue juga bisa ngerasain disuapi lewat mulutnya!"
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
__ADS_1
Oh iya guys selagi menunggu Author update yuk mampir ke Novel terbarunya Author yang berjudul: "🍄 JAMUR 🍄
Biar pada penasaran Author kasih Cuplikan babnya deh cekidot 😉.👇
...🦋🦋🦋...
Di Bab pertama:
Selagi bapak dan anak itu sedang bicara. Ternyata tatapan matanya Bambang tak pernah lepas dari wajah si gadis tanggung itu. Bahkan pandangannya terlihat sedikit mesum. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sehingga tiba-tiba saja ia menyunggingkan senyum seringainya. Yang menandakan ia sedang merencanakan sesuatu yang licik.
"Ehem..ehem..!" Bambang, sengaja berdehem untuk mendapatkan perhatian dari bapak dan anak tersebut. Dan benar saja, mendengar deheman Bambang, spontan Marwan maupun Alisha langsung menoleh ke arahnya.
"Eh... maaf juragan Bambang! Kami jadi malah asyik sendiri," ucap Marwan, merasa tidak enak pada Bambang.
"Aah..tidak apa-apa kok Marwan. Oh iya..begini saja Marwan, kamukan tidak bisa tuh membayar hutang-hutangnya kamukan? Kamu mau nggak kalau hutang kamu saya anggap lunas?" tanya Marwan yang saat ini cara bicaranya juga sudah terdengar lebih lembut.
"Mau juragan! Tentu saja saya akan senang Pak! Karena memang, saat ini saya sangat kesulitan untuk membayar hutang Bapak! Karena setelah jatuh dari bangunan, saya jadi tidak bisa bekerja berat lagi Pak," balas Marwan, yang terlihat wajahnya memang berharap, agar Bambang mau menghapus semua hutang-hutangnya yang semakin menumpuk itu.
"Baiklah saya akan menyatakan kalau hutang-hutang kamu telah lunas! Tapi dengan satu syarat, kamu harus menikahkan putri kamu dengan saya! Apakah kamu setuju Marwan?" ujar Bambang, dengan tatapan mata yang masih mengarah ke wajah cantik milik Alisha.
Mendengar perkataan Bambang, Marwan maupun Alisha, langsung tersentak kaget, "Apa! Jangan juragan! Anak saya masih kecil, masih dibawah umur, juragan! Jadi saya mohon agar juragan urungkan niat Anda itu juragan!" balas Marwan, seraya ia bersimpuh di hadapan Bambang, sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia begitu berharap agar Bambang tak, minta anaknya.
Karena Marwan sangat mengetahui bahwa, bila Bambang sudah menginginkan wanita yang ia incar pasti harus dipenuhi. Padahal ia sudah memiliki empat orang istri. Dan semuanya, gadis yang masih belia, hanya satu yang umurnya hampir sama dengannya yaitu istri tertuanya. Melihat Marwan bersimpuh dihadapannya, Bambang malah tertawa terbahak-bahak,
"Hahahaha...kau pikir aku orang yang punya belas kasih hah? Tapi baiklah, aku kasih kamu tempo tiga hari lagi untuk melunasi hutang-hutang kamu yang dua puluh lima juta itu! Tapi kalau dalam tempo tiga hari itu kamu belum juga bisa membayarnya maka dihari itu juga kamu harus menikahkan Anak kamu denganku! Kalau tidak... kau akan tahu akibatnya!" pungkas Bambang seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun bermaksud hendak pergi.
Namun sebelum Bambang pergi ia menyempatkan diri menoel dagunya Alisha, sambil ia mengedipkan matanya dan di sertai dengan menyunggingkan senyum seringainya juga. Membuat Alisha yang melihat itu langsung bergidik. Setelah puas memandang wajah Alisha ia pun berlalu pergi meninggalkan rumahnya Marwan, sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah kepergian Bambang, Alisha pun langsung menghampiri Marwan yang terlihat ia masih dalam posisi bersimpuhnya, di hadapan kursi kosong bekas Bambang tadi, "Pak, Icha nggak mau menikah sama juragan itu Pak! Icha takut Pak..! Jangan Nikahin Icha sama rentenir itu Pak?" keluh Alisha, yang terlihat matanya kini terlihat sudah berkaca-kaca.
"Iya Nak, kamu tidak akan menikah dengan juragan Bambang! Dan akan Bapak usahakan secepatnya membayar hutang Bapak pada juragan itu, ya?" kata Marwan, seraya ia memeluk tubuh Alisha. Dan saat bersamaan, seorang wanita paruh baya muncul dari sebuah kamar, bersama seorang anak gadis yang usianya hampir sama dengan Alisha.
"Secepatnya membayar hutang? Huh mimpi kali kamu Mas! Mau bayar pakai apa hah? Pakai daun iya?!"
...••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
Penasarankan😁 Cus Akh mampir dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya 🙏 Syukron 🙏😉
__ADS_1