
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Tujuan utama hidup manusia adalah menggapai ridha Allah swt. Adapun jalan untuk menggapai ridha Allah adalah ibadah dengan niat yang tulus ikhlas karena Allah. Ta’abbud atau ibadah kepada Allah bukan hanya berupa menjalankan perintah-perintah-Nya tetapi juga meninggalkan perkara-perkara yang dilarang oleh aturan agama. Inilah tho’ah atau taat kepada Allah. Karena menjauhi perkara-perkara haram juga berarti menjalankan perintah Allah untuk meninggalkannya.
Taat menjalankan perintah Allah dan taat kepada Allah dalam menjauhi larangan-laranganNya dengan kesadaran dan niat ta’abbud inilah esensi dari takwa kepada Allah swt. Apabila seorang hamba sudah bertakwa, maka Allah akan ridha kepadanya. Dan jika Allah telah ridha kepada seorang hamba, maka Allah akan menyayanginya dan merahmatinya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Sesuai yang dikatakan Ardiyan, sebelum mereka pulang, Ardiyan mengajak para Anak buahnya sehingga kerestoran. Selain ingin, memenuhi keinginan anaknya dan Anak Rio. Ia juga ingin mentraktir mereka semua. Termasuk Ali dan Budi yang ikut serta dengan mereka. Sehingga satu restoran di penuh dengan para sahabat berserta anak-anak buahnya. Bahkan restoran jadi riuh karena celoteh anak-anak buahnya.
Namun ketika makan telah sampai di meja mereka masing-masing, suasana restoran pun berubah menjadi hening. Dan Ardiyan pun mengambil kesempatan itu untuk bicara dengan Ali dan Budi, "Nama kalian Ali dan Budikan?" tanya Ardiyan, yang kebetulan ia memang sengaja berada di satu meja dengan Rio, Yumna, Farah, Ali, dan Budi.
"Benar Pak!" jawab Ali dan Budi secara bersamaan.
"Baiklah Ali, Budi, Saya maupun sahabat saya Brian, ingin mengucapkan terima kasih, karena kalian sudah melindungi anak-anak kami. Dan ini untuk kalian, sebagai ucapan terima kasih, kami, terimalah," ucap Ardiyan, sembari ia menyodorkan sebuah amplop coklat yang terlihat isinya lumayan tebal, kehadapan Ali dan Budi.
Melihat hal itu, Ali dan Budi, pun saling berpandangan, lalu Ali pun kembali menatap Ardiyan seraya berkata, "Maaf pak, kami tulus menolong anak-anak Bapak berdua. Karena berkat anak-anak Bapak, kami menjadi sadar. Kalau perbuatan kami selama ini sangatlah salah! Untuk itu kami tidak bisa menerima ini," balasnya, sembari ia mendorong kembali amplop coklat tersebut, kehadapannya Ardiyan.
Mendengar perkataan Ali, Ardiyan pun tersenyum, ada perasaan bangga terhadap putrinya, karena telah menjadi asbabnya bagi kedua penjahat tersebut sadar atas perbuatannya yang salah selama ini. Namun ia tak mau menjadi riya karena hal itu. Dan hanya rasa syukur yang ia tampakkan di raut wajahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Semoga setelah ini kalian, akan selalu berada di jalan yang diridhai Allah," ucap Ardiyan, dan dengan serentak mereka pun membalasnya dengan kata.."Aamiin!"
"Terima kasih Pak, atas doanya," ucap Ali lagi.
"Sama-sama! Tapi kalian janganlah menolak ini, karena kalau kalian menolaknya, itu sama saja kalian menolak Rezki dari Allah. Karena inikan datangnya dari Allah, yang telah dititipkan pada kami. Jadi terimalah in shaa Allah barokah kok," ujar Ardiyan lagi, seraya ia kembali mendorong amplop coklat yang tadi. Mendengar perkataan Ardiyan, membuat Ali maupun Budi tak berani menolaknya dan akhirnya mau tak mau mereka pun menerima amplop coklat tersebut.
"Karena Bapak, telah berkata seperti itu, kami pun tak berani menolaknya lagi Pak. Dan kami mengucapkan terima kasih banyak pak, atas rezkinya. Semoga Allah melimpahkan rezekinya pada bapak berdua," ucap Ali dengan tulus.
"Aamiin" balas Rio dan Ardiyan secara serentak.
"Sama-sama," ucap Ardiyan lagi, "Oh iya, setelah ini apa rencana kalian?" tanyanya lagi pada Ali dan Budi. Mendengar pertanyaan Ardiyan, Ali dan Budi pun kembali bertatapan. Nampak keduanya terlihat bingung, karena memang keduanya belum memiliki rencana apapun.
"Kami belum tahu pak! Kemungkinan kami akan pulang kampung saja, pak. Karena takutnya, anak buahnya Pak Bram masih mencari kami. Jadi untuk menghindarinya lebih baik kami, kembali kempung saja Pak," ujar Ali, tahu betul tabiat mantan Bosnya itu, yang amat membenci pengkhianatan. Sehingga ia tak segan-segan menghabiskan nyawa seorang pengkhianat, tanpa belas kasih sedikit pun.
"Punya Pak, saya memiliki seorang istri dan juga tiga orang anak, dan saya juga tulang punggung untuk orang tua saya pak," balas Ali apa adanya.
"Kalau kamu?" tanya Rio lagi pada Budi.
"Saya belum berkeluarga Pak, karena saya masih menanggung biaya adik-adik saya Pak! Karena Ayah saya saat ini sudah tidak bisa apa-apa lagi, Beliau kenak stroke, makanya saya yang harus menghidupi keluarga saya Pak," balas Budi, dengan wajah yang sekilas ada kesedihan. Namun ia terlihat berusaha tampak tegar.
Hati Ardiyan langsung tersentuh, setelah mendengar perkataan Ali dan Budi. Dan ia pun menatap langsung menatap wajah Rio, seperti ingin meminta persetujuan darinya. Rio, yang sepertinya paham dengan tatapan Ardiyan, ia pun mengedipkan kedua matanya dengan sekejap. Tanda ia menyetujui apapun rencana Ardiyan. Setelah mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu, pandangan Ardiyan kembali mengarah ke Ali dan Budi.
__ADS_1
"Begini saja Ali, Budi! Karena mengingat peristiwa kemarin, kami jadi berencana ingin memperkerjakan kalian sebagai bodyguard anak-anak kami saat disekolah. Untuk itu apakah kalian bersedia menjadi bodyguard anak-anak kami, hm?" tanya Ardiyan. Dan dengan spontan wajah keduanya langsung sumringah setelah mendengar perkataan Ardiyan.
"Bersedia Pak! Kami sangat bersedia sekali Pak! In shaa Allah kami juga akan menjaga mereka!" ujar Ali dengan tatapan yang begitu senang mengarah ke Yumna maupun Farah, yang terlihat masih asyik memakan makanannya.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau kalian bersedia. Tapi Ali, Budi, anak-anak kami, bukan hanya mereka berdua saja. Karena mereka memiliki saudara kembar juga disekolah tersebut. Seperti Putriku Farah, memiliki saudara kembar laki-laki, yang bernama Farhan. Sedangkan Yumna, memiliki tiga saudara kembar lagi. Karena anak pak Rio kembar Empat," jelas Ardiyan membuat Ali dan Budi, sedikit kaget mendengarnya. Karena artinya mereka harus menjaga enam orang anak.
"Kami mengerti maksudnya Pak! Berati kami harus menjaga enam orang anakkan Pak? Dua anaknya Pak Ardiyan dan empat anaknya pak Rio! Benarkan Pak?" tanya Budi lagi untuk memastikannya.
"Enak saja hanya enam Anak! Lalu anak kami mau kalian kemanain, hm?" celetuk Dimas, yang kebetulan mejanya bersebelahan dengan mejanya Ardiyan. Sehingga pembicaraan mereka tadi amat terdengar oleh Dimas, Andi, Dika, dan Wira, yang satu meja dengan Dimas.
Mendengar celetukan Dimas membuat Ali maupun Budi, tampak bingung, "Eh, lalu emangnya berapa Pak, yang harus kami jaga?" tanya Budi dengan tampang polosnya.
"Dengar ya Baik-baik dan dihitung juga oke! Anak Ardiyan dua, Anak Rio Empat! Anak gue satu! Anak Andi satu! Anak Dika satu! Anak Wira tiga! Nah itulah anak yang harus kalian jaga saat disekolah," jelas Dimas, pada Ali dan Budi, yang terlihat keduanya sambil menghitung, saat mendengar penjelasan dari Dimas. Dan tampak juga keduanya terlihat sedikit terkejut setelah tahu hasilnya.
"Haa...dua belas anak dong yang harus kami jaga?" sentak Budi.
"Yaa begitu deh!" balas Dimas, sambil mengedipkan matanya. Membuat Ali mau pun Budi langsung terpelongo.
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
__ADS_1