GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
IJAB QOBUL.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Menikah adalah kewajiban


"Janganlah takut dengan keadaan kita yang jauh dari kata sukses dan mewah. Karena Allah akan datangkan rezeki setelah pernikahan, bahkan jauh lebih memudahkan rezeki mu setelah menikah. Wahai para suami, jika tiap tetes keringat yang kau keluarkan dann engkau niatkan untuk mencukupi kebutuhan pada keluargamu.


Maka akan lebih banyak lagi rezeki yang engkau dapatkan.


Wahai para istri shalihah?


Membantu suamimu dengan menyemangatinya lewat do'a dan senyummu. Dan niatkan semuanya karna Allah. Insyaallah, Allah akan mudah jalan setelah pernikahan jika yang ditempuh adalah jalan ibadah untuk akhirat"


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


"Jadi saya menuntut Pak Brian untuk mempertanggung jawabkannya! Dengan cara Nikahin dia sekarang juga!"


Mendengar perkataan Hans semua para undangan hadir di masjid tersebut, kaget bukan main. Termasuk Rio, Ardiyan serta para sahabatnya. Apalagi Naazwa selaku mempelai wanitanya. Sontak ia langsung berdiri dan langsung menghadap pada Hans.


"Apa maksudnya Abang? Mengapa Abang mengambil keputusan secara sepihak seperti ini sih?" tanyanya dengan tatapan yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Antara kesal, sedih, atau meminta penjelasan yang tak bisa ia pahami atas pemikiran calon suaminya itu.


"Maaf Yumna, saya tahu, saya salah, tapi ini demi kebaikan kita bersama," balas Hans yang terlihat ia tak mampu menatap mata Naazwa.


"Kebaikan bersama? Benarkah? Atau hanya kebaikan Abang yang sebenarnya memang tak menyukai Ana, kan?"


"Tidak Yumna, jangan berpikir seperti itu! Wa'allahi Yumna, Saya mencintai kamu karena Allah. Tapi saya juga akan mengikhlaskanmu karena-Nya juga," balas Hans sambil memegang kedua tangan Yumna yang terlihat terbungkus dengan sarung tangannya yang berwarna putih. Yang kebetulan saat itu ia sedang memakai baju gamis dan hijab berwarna senada putih juga.


"Yumna? Saya memang membutuhkanmu sebagai menyempurna agamaku. Tapi Yumna, ternyata ada yang lebih membutuhkan kamu, dibandingkan saya. Lihatlah disana, tidakkah hatimu tersentuh melihat tatapan mereka, yang begitu mengharapkanmu Yumna? Lihatlah tatapan mereka yang begitu haus akan kasih sayangmu Yumna," lanjut Hans, yang terdengar begitu lembut. Dan kemudian dikalimat terakhirnya ia menudingkan jari telunjuknya ketempat quadruplets berada.

__ADS_1


Naazwa pun mengikuti arah jari telunjuknya Hans. Dan tatapan Naazwa langsung berubah iba melihat quadruplets, yang terlihat sedang memeluk sang Kakek, dengan tatapan yang terlihat sedih, menatap Naazwa. Seakan tatapannya sedang menuntut Nazwa agar menerima mereka sebagai Anak-anaknya.


"Kamu pasti ibakan melihat mereka? Maka dari itu saya lebih baik mengalah Yumna," ujar Hans lagi.


"Tapi Bang, bagaimana dengan Abang?" tanya Naazwa, yang ia juga menatap Iba pada Hans.


"Saya? Tenang, kamu tidak perlu memikirkan saya Yumna. Lagian ada seseorang yang mengatakan kalau saya ini tampan, gagah dan tinggi," ucap Hans sembari meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya.


"Makanya orang itu bilang saya tidak cocok sama kamu yang pendek dan jelek ini," katanya lagi. sedikit meledek Naazwa, membuat mata Naazwa membulat lebar. Sedangkan Hans malah main mata dengan Yumna kecil yang saat itu. Matanya Yumna ikut membulat kaget. Karena ia tak menyangka kalau Uncle Hansnya meniru perkataannya.


"Apa kamu bilang Bang? Ana jelek dan pendek? Kamu ya mulai berani!" berang Naazwa yang terlihat ia sudah mengangkat tangannya, seperti hendak memukul Hans.


Namun dengan sigap Hans langsung melompat melewati meja yang akan dibuat ijab qobulnya, "Ampun-ampun Tante!" teriaknya, sambil ia bersembunyi di belakangnya Ustadz Khairul, yang terlihat ia ikut tersenyum lucu melihat tingkah Hans.


"Hahahaha, kamu ada-ada saja sih Hans?" katanya, sambil ia membalikkan tubuhnya agar menghadap ke Hans. "Sungguh mulia hatimu Nak, Abi yakin Allah akan menggantinya yang lebih baik lagi, dan in shaa Allah, kebahagiaanmu akan segera datang Nak," sambungnya lagi, seraya ia mengecup lembut dahi Hans, lalu ia pun memeluknya. Sebenarnya Ia sedikit merasa bersalah pada Hans, karena tanpa sadar ia ikut membantu si kecil berdoa.


"Maksud kamu apa Hans?"


"Hehehe, itu Bi, bisa Hans punya istri sekali tiga?"


"Kamu yaa! Satu aja nggak becus! Mau tiga? Dasar anak nakal kamu ya?" kata Ustadz Khairul sambil menjewer telinganya Hans.


"Aw, aw aw! Ampun Abi! Hans cuma bercanda kok!" teriak Hans terlihat kesakitan. Membuat semua orang tertawa melihat tingkahnya.


"Hellow... Mau sampai kapan nih bercandanya? Ini pak penghulu juga sudah menunggu sedari tadi. Dan Beliau juga harus menikahkan orang juga dikampung sebelah, tahu!" tegur Dimas.


"Aah, iya saya lupa, maaf Ustadz Marwan, sudah membuat Anda menunggu," ucap Ustadz Khairul pada sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa Ustadz. Lalu apakah acaranya akan dilanjutkan?" tanya Marwan, terlihat bingung.

__ADS_1


"Sebentar Ustadz, saya tanyakan dulu pada yang bersangkutan," kata Ustadz Khairul, lalu ia pun mendekati Rio. "Bagaimana Nak Brian? Apakah kamu bersedia menerima Yumna Naazwa Humairah, sebagai istri kamu?" tanya Ustadz Khairul, pada Rio, yang terlihat masih terlihat bingung, harus menjawab apa.


Melihat kediaman Sang Ayah, Yumna dan Yunda pun langsung menghampirinya. Lalu keduanya memeluk lengan sang Ayah, sambil menengadahkan kepalanya keatas, agar Sang Ayah melihat tatapan pengharapan mereka.


Melihat tatapan sang Buah hati, membuat hati Rio tak sampai hati untuk mengecewakan mereka, "Saya...saya.." katanya yang terlihat masih sulit untuk menjawab.


"Aah lama! Ya sudah Ustadz, saya saja yang menikahi Yumna," potong Hans, yang terlihat ia hendak berjalan kemeja lagi. Namun dengan cepat Rio, langsung menarik kerah baju Hans, yang bagian belakangnya, persis seperti ia menarik anak kucing.


"Saya yang akan menikahinya!" tegas Rio, membuat semuanya jadi tersenyum lucu melihat keduanya.


"Huh! Tadi aja sok jual mahal! Giliran gue berse..." protes Hans, sambil mencemberutkan bibirnya.


"Sssth..! Jangan berisik pengantin mau ijab qobul dulu!" potong Rio, sembari ia berjalan menuju meja ijab, lalu ia pun langsung duduk disebelah Naazwa. Ustadz Khairul pun tersenyum melihatnya sambil menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Harun, ia begitu bahagia melihat kesediaan anaknya untuk menikah lagi.


"Baiklah kalau begitu, kita langsung mulai saja, Nak Brian, jabatlah tangan calon Ayah mertua kamu," titah penghulu pada Rio.


"Baik Pak!" Rio pun menjabat tangan Ayahnya Naazwa.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Rio Febrian bin Harun Iswanto?" panggil Ayah Naazwa.


"Saya Pak!" sahut Rio dengan tegas.


"Saya Nikahkan dan Kawinkan engkau dengan putri kandung saya Yumna Naazwa Humairah, binti Syafrizal Daulay dengan mas kawin berupa, cincin berlian dibayar tunai!" tegas Ayah Nazwa, sambil menghentakkan tangannya.


Rio langsung menyahut dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Yumna Naazwa Humairah, binti Syafrizal Daulay dengan mas kawin tersebut tunai!" sambut Rio yang hanya dengan satu tarikan nafas dan dengan suara yang terdengar lantangnya ia mengijab Naazwa.


"Bagaimana para saksi? Apakah Sah?!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2