GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
HATI YANG BERBATU


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Diriwayatkan Imam Abu Ya'la dari Aisyah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:


الجنة ارا ال لها ار الفرح لا لها لا الصبيان


“Sesungguhnya di surga ada satu rumah yang bernama Rumah Kegembiraan.


Tiada yang memasukinya kecuali orang yang menggembirakan anak-anak kecil.”


__Al-Habib Ali al-Jufri___


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Mendengar kabar kehamilan Naazwa, Harun maupun quadruplets terlihat begitu senang. Apalagi Yumna dan Yunda, mereka terlihat begitu bahagia karena akan memiliki adik bayi. Namun tidak bagi Rio. Yaa semenjak mengetahui Naazwa hamil, sikap Rio sedikit berubah. Karena memang sebenarnya ia tak begitu menginginkan kehamilan Naazwa.


Namun karena mengingat perkataan Naazwa, yang terdengar mengancamnya dengan perceraian. Karena ia juga tak mau mengecewakan keempat anak, yang baru merasakan kebahagiaan memiliki seorang Ibu. Makanya mau tidak mau ia pun harus menerima keinginan istrinya itu.Yang ingin tetap mempertahankan kandungannya.


Naazwa juga dapat merasakan perubahan terhadap suaminya. Padahal ia sedang dalam masa-masa ingin diperhatikan oleh Suaminya. Namun Rio seperti sengaja menghindar darinya, dan itu membuat Naazwa begitu sedih. Seperti saat ini, ketika mereka sedang sarapan bersama, Rio sedikitpun melirik ke arahnya. Seakan ia tak terlihat olehnya, dan itu membuatnya tak bisa menikmati sarapannya.


"Mymah? Kenapa sejak tadi nasi gorengnya hanya diaduk-aduk saja? Apakah Mymah tidak berselera?" tanya Yumna yang ternyata gadis kecil itu memperhatikan Naazwa yang terlihat tidak berselera dengan makananmya.


"Ah, tidak kok Nak, Mymah makan kok, nih lihat Mymah makan sekarang ya?" kata Naazwa, seraya ia menyuapkan satu sendok berisikan nasi goreng kemulutnya. Dan saat bersamaan tiba-tiba Rio bangkit dari duduknya.


"Ayah pergi duluan ya quadruplets, soalnya Ayah ada urusan mendadak! Jadi kalian akan diantar oleh Om Gilang ya?" kata Rio, lalu ia pun mengecup puncak kepala anaknya satu persatu. Setelah itu ia bermaksud langsung pergi. Namun langkahnya langsung terhenti karena panggilan dari Yumna.


"Daddy! Berhenti!" teriak gadis kecil itu, yang terlihat kini ia sedang berdiri didekat kursinya sambil kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya.


"Ada apa Yumna? Ayah sedang terburu-buru nih," tanya Rio, yang terlihat ia sedang melihat jam ditangannya.

__ADS_1


"Apa Daddy melupakan sesuatu?" tanya Yumna, dengan memasang wajah datarnya. Namun tetap terlihat imut dimata Rio.


Rio mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan Yumna, "Hmm..kayaknya nggak ada deh Nak!" balasnya, dengan mata berputar keatas, seperti sedang mengingat-ingat apa yang telah terlupakan olehnya.


"Huh! Dasar Daddy pikun! Masa Umna harus mengingatkan terus sih!" kata Yumna sambil ia menepuk jidatnya sambil ia menggelengkan kepalanya.


"Emangnya Ayah lupa apa?" tanya Rio, masih berusaha mengingat apa yang dimaksud oleh anaknya.


"Hu'uh! Daddykan belum mencium Mymah tau!" balas Yumna, dengan tatapan sedang marah pada Ayahnya.


"Ho'oh benar! Biasanya setiap habis mencium kami Ayahkan juga mencium Mymah! Kenapa hari ini Mymah dilewati?" sambung Yunda, ikut mengingatkan sang Ayah.


Rio sempat terkejut mendengar perkataan buah hatinya. Dan seketika ia melihat Naazwa yang terlihat sedang meliriknya, dan seketika itu juga wajah Rio langsung berubah datar, saat melihatnya. Namun karena ia tak ingin mengecewakan kedua putrinya. Akhirnya Rio pun menghampiri Naazwa, "Aah, maaf Ayah lupa, ya sudah Ayah cium Mymah," katanya, sembari ia mengecup singkat puncak kepala Naazwa.


"Aku pergi!" katanya lagi. Dan tanpa ingin menunggu jawaban dari Naazwa Rio pun langsung melangkah cepat meninggalkan ruang makan, tanpa menoleh kebelakang lagi.


"Mymah nggak papakan?" tanya Yunda pada Naazwa, setelah kepergian Rio.


"Alhamdulillah sudah siap Mymah," bales quadruplets secara bersamaan.


"Ya sudah sekarang, ayo kalian siap-siap, Om Gilang pasti sudah menunggu kalian," kata Naazwa, seraya ia bangkit dari duduknya.


"Oke Mymah!" jawab quadruplets. Lalu mereka pun mengambil tas ransel mereka masing-masing dan menggendongnya kebelakang.


Setelah melihat anak-anaknya telah siap, Naazwa pun mengantar mereka, pada Gilang yang nampaknya sudah menunggu mereka sedari tadi disisi mobil. Setelah ia memastikan quadruplets duduk dengan nyaman. Pandangan Naazwa pun beralih ke Gilang.


"Gilang titip Anak-anak ya?" katanya pada Gilang.


"Baik Bu!" balas Gilang.


"Oh iya, Gilang nanti setelah mengantar anak-anak, kamu bisa datang kemari lagikan?" tanya Naazwa, membuat Gilang nampak bingung untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Emm..bisa sih Bu, tapi tadi pak Rio, menyuruh saya, untuk secepatnya ke kantor," balasnya.


"Ooh, ya sudah kalau berangkatlah, dan jangan lupa hati-hati ya dijalan," kata Naazwa, terlihat sedikit kecewa.


"Baik Bu! Kalau begitu saya permisi," kata Gilang, dan tak berapa lama ia pun mulai melajukan mobilnya dengan perlahan keluar gerbang. Setelah mobil tak terlihat lagi, Naazwa pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Dan langsung menuju ke kamarnya. Setelah ia berada di dalam kamar, Naazwa menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya.


"Hmm.. mau sampai kapan sih Bang Brian bersikap dingin begitu? Selalu saja menghindari Ana!" gumam Naazwa, dengan tatapan sendu mengarah ke langit-langit kamarnya.


"Hmm..ini nggak bisa dibiarkan, pokoknya Ana harus bicara padanya! Karena Ana nggak tahan seperti ini!" gumamnya lagi sambil ia menduduki tubuhnya, "Sebaiknya Ana ke kantor Bang Brian saja sekarang."


Naazwa pun langsung bangkit dari tempat tidurnya. Lalu ia pun mengganti bajunya dengan baju gamis, tak lupa juga ia memakai hijab serta cadar yang berwarna senada dengan gamisnya. Setelah itu ia pun bergegas keluar dari kamarnya. Dan langsung menuju ke keluar rumah. Sesampainya diluar ia nampak bingung karena tidak ada kendaraan disekitar villa Rio. Karena memang villanya berada ditengah-tengah perkebunan kelapa sawit.


"Aduh gimana cara Ana pergi ke kantor Bang Brian? Disinikan nggak pernah lewat taksi?" gumam Naazwa nampak bingung. Disaat ia sedang kebingungan sebuah mobil tiba-tiba berhenti di tepat di depannya. Dan tak berapa lama pintu mobil terbuka, nampaklah seorang pria tua turun dari mobil tersebut.


"Papa?" sentak Naazwa saat melihat pria tersebut, yang ternyata dia adalah Harun ayah mertuanya sendiri.


"Kamu mau kemana Nak?" tanya Harun saat ia sudah berada di dekat Naazwa.


"Ini Pah, Zwa mau ke kantornya Bang Brian," jawab Naazwa apa adanya.


"Ooh.. ya sudah kalau begitu naiklah ke mobil Papa, biar langsung diantar Mang Sardi," kata Harun, yang ia sebenarnya tahu, kalau Rio selalu menghindari Naazwa. Maka dari itu ia memang berharap Naazwa berinisiatif terlebih dahulu. Karena ia tahu kalau Rio itu keras kepala.


"Terima kasih Pah," balas Naazwa terlihat senang.


"Sama-sama Nak, ya sudah berangkat sana, dan hati-hati di jalan ya Nak,"


"Iya Pah, kalau Zwa pamit ya, Assalamu'alaikum" pamit Naazwa, lalu ia pun langsung masuk ke mobilnya Harun yang dikemudikan oleh Sardi, supir pribadi Harun.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," Setelah mendapatkan jawaban salamnya Naazwa. Sardi pun langsung melajukan mobil, meninggalkan Harun yang masih berdiri di depan gerbang villa Rio.


"Semoga Naazwa berhasil, meluluhkan hati yang berbatu, si anak keras kepala itu! Dan mau menerima dengan ikhlas atas kehamilan istrinya! Huh! Bikin kesal saja! Dia yang bikin dia pula yang marah!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2