
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Perubahan apapun yang kalian harapkan dari Allah SWT di dalam dunia ini. Lakukanlah dalam diri kalian terlebih dahulu. Dengan kesabaran ketika melakukunnya maka sebuah jaminan untukmu buhwa Allah akan menjadikan harapanmu terwujud. Karena sesungguhnya permulaan perubahan di dunia ini semua dari diri kita sendiri.
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd: 11)
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ❤
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Keesokan harinya di kota A.
Ardiyan masih berada di rumah sakit tempat Hans, dirawat. Melihat keadaan Hans, yang semakin memburuk membuat ia bertekad ingin membawanya pulang ke kota M. Namun karena kondisinya yang sangat lemah, Dokter pun melarang Hans untuk tidak melakukan perjalanan lewat udara. Hal itu membuat Ardiyan, semakin bingung, Dan disaat ia masih dalam keadaan bingung tiba-tiba, terdengar suara panggilan yang berasal dari handphone. Seketika Ardiyan pun langsung melihat kearah layar benda pipihnya itu.
"Brian? Tumben, dia menghubungiku? Ada apa ya?" gumam Ardiyan, setelah ia melihat sebuah nama yang tertera di layar handphonenya, '"Aah sudahlah sebaiknya aku angkat saja," gumamannya lagi. Seraya ia menekan tombol terima di benda pipihnya itu.
"Halo, Assalamu'alaikum? Ada apa Brian?" ucapnya saat sambungan telah terhubung pada seseorang yang berada disebrang, yang tak lain dia adalah Rio.
"Wa'alaikumus salam! Ar, Lo dimana?" balas Rio, dan balik bertanya.
"Gue lagi di kota A Bri! Tumben banget Lo menghubungi gue? Emangnya ada apa Bri?" tanya Ardiyan, terdengar ia sedang penasaran.
"Iya gue udah tahu dari Wira, kalau Lo juga di kota A. Dan kebetulan gue juga lagi di kota A juga Bro, makanya gue tanya. Maksudnya gue dimana posisi Lo sekarang, Ar?" balas Rio, membuat Ardiyan yang mendengarnya menjadi senang.
"Aah, syukurlah kalau Lo juga berada di kota ini juga. Kalau begitu Lo datang aja kerumah sakit Medistra. Gue akan nunggu Lo di lobbynya, cepat ya?" ujar Ardiyan terdengar bersemangat.
"Eh, kok dirumah sakit? Emangnya Lo sakit ya?" tanya Rio lagi.
__ADS_1
"Udah jangan banyak tanya lagi! Cepat aja Lo kemari!" balas Ardiyan terdengar tegas.
"Dih kok maksa banget yaa?"
"Berisik! Cepat datang oke! Assalamualaikum!" balasnya dan seketika ia langsung mematikan sambungannya tanpa menunggu balasan dari Rio lagi. Setelah itu ia langsung menghampiri Hans yang terlihat masih berada di pembaringannya.
"Hans Lo dengar gue nggak? Kalau dengar buka mata Lo Hans?" ujar Ardiyan, ketika ia sudah berdiri disisi pembaringannya Hans. Mendengar perkataan Ardiyan, tak berapa lama Hans pun membuka matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya Lo buka mata juga. Begini Hans, Lo ingin secepatnya pulangkan ke kota M? tanya Ardiyan, dan langsung dianggukan sekali oleh Hans, yang terlihat mau sangat begitu lemah.
"Bagus! Gue akan membawa lo secepatnya pulang. Tapi kita hanya bisa melakukan perjalanan lewat darat, apa Lo bisa bertahan, naik mobil satu hari satu malam Hans?'' tanya Ardiyan lagi dengan perlahan.
"Bi-bisa p-pak, ja-di sa-ya mo-hon to-long ba-wa sa-ya se-ce-pat-nya da-ri si-ni pak! Sa-ya akan ma-ti ka-lau te-rus di-si-ni pak," balas Hans, dengan terbata-bata.
"Sembarang aja Lo ngomong! Nggak semudah itu Lo mati! Oke gue akan secepatnya bawa Lo pulang, untuk itu Lo tunggu disini sebentar, gue mau menjumpai Seseorang dulu! Untuk itu Lo istirahatlah, nanti kalau sudah siap gue akan kembali lagi, Lo paham?" kata Ardiyan, dan langsung dianggukan lagu oleh Hans. Setelah mendapatkan jawaban dari Hans, Ardiyan pun langsung bergegas pergi meninggalkan Hans yang terlihat kembali memejamkan matanya.
...•••••...
Tampak sebuah mobil Van Mercedes-Benz V-Class berhenti tepat di depan rumah sakit.
Dan tak berapa lama kemudian, tampak seorang pria turun dari mobil tersebut. Dan baru ia hendak menutup pintu mobilnya kembali. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Membuat pria itu tampak begitu terkejut.
"Akh..! Sialan Lo Ar! Bikin kaget gue aja Lo!" bentak Pria itu, tampak ia menjadi kesal karena telah dikejutkan oleh Ardiyan.
"Hehehe, Sorry Brian! Gue nggak bermaksud ingin mengejutkan Lo kok!" balas Ardiyan, pada pria itu yang ternyata dia adalah Rio.
"Cih, alasan aja Lo! kenyataannya juga Lo udah ngagetin gue kan?" kata Rio, yang terlihat dari wajahnya ia masih tampak kesal.
__ADS_1
"Benaran kok Brian! Gue tadi begitu karena saking senangnya lihat Lo sudah datang bro! Apalagi saat lihat mobil Lo, membuat gue berasa hidup kembali Bro," balas Ardiyan, membuat Rio langsung mengerenyit dahinya.
"Apa maksud Lo sih?'' tanya Rio tampak bingung.
"Nanti gue jelasin! Sekarang Lo cepat ikut gue!" balas Ardiyan, yang kemudian ia langsung menarik tangannya Rio. Membuat Rio terlihat semakin bingun melihat tingkah temannya itu. Namun ia hanya bisa pasrah, dan hanya mengikuti langkahnya Ardiyan.
Sesampainya di depan sebuah ruangan, Ardiyan langsung membuka pintu ruangan tersebut. Dan terlihat oleh Rio, seorang pria yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya, membuat ia jadi penasaran, "Siapa tuh yang sedang sakit Ar?" tanyanya. Dan ketika ia melihat dari dekat ia begitu terkejut saat melihat wajah pria yang sedang tertidur itu, "Hans? Apa yang terjadi pada Hans Ar? Kenapa dia seperti ini?" tanyanya lagi, terlihat penasaran.
"Kalau gue bilang sih Dia kenak sindrom simpatik kehamilan. Karena saat ini bininya sedang hamil. Tapi kata Dokter dia kenak hidrasi karena hilangnya banyak cairan ditubuhnya. Ya gimana nggak banyak hilang cairan ditubuhnya, orang dia muntah Mulu. Dah gitu dia nggak bisa minum air putih, dan ngga mau makan, ya semakin hilanglah cairannya. Dan makanya dia semakin lemah," tutur Ardiyan, menjelaskan keadaannya Hans saat ini.
"Eh, dulu waktu Almarhum bini gue hamil, gue juga mengalami sindrom simpatik kehamilan juga. Tapi kayaknya nggak separah ini deh Ar," ujar Rio, yang seketika teringat pada saat ia mengalami sindrom simpatik juga.
"Hah? Iyakah? Kalau begitu sama dong. Gue juga mengalami hal itu. Tapi sama kayak Lo nggak separah ini sih," sambung Ardiyan lagi.
"Ya mungkin memang berbeda-beda kali Ar. Sama halnya wanita yang sedang mengalami ngidamnya, ada yang parah dan ada yang biasa-biasa aja, ada yang hanya morning sickness doangkan? Nah begitu juga kali dengan kita, mungkin akan kita hanya mengalami morning sickness saja. Kalau Hans dia kenak yang parahnya Ar," balas Rio.
"Ah iya juga kali ya? Ya sudah lupakan itu, sekarang tolong bantu gue bawa Hans balik ke kota M ya? Karena keadaannya nggak memungkinkan untuk perjalanan Udara, jadi gue bermaksud membawanya lewat darat. Nah mobil Lo kan besar tuh, jadi gue bermaksud bawa Hans pakei mobil Lo, Bri," jelas Ardiyan.
"Eh, tapi tugas gue disini belum selesai Ar," balas Rio apa adanya.
"Ayolah Brian, bantu gue! Please.." Tampak Ardiyan begitu berharap sekali pada Rio. Membuat Rio tak bisa menolaknya.
"Aah.. ya sudahlah, oke gue bantu Lo!" balas Rio pasrah membuat Ardiyan tampak senang.
"Alhamdulillah..ah Lo memang yang terbaik..Muaach!!" ujar Ardiyan dan langsung mencium pipinya Rio.
"Aah! Sompret Lo! Ngapain nyium gue sih? Nazis tau!!"
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
__ADS_1
Terima kasih banyak ya guys, terima kasih atas bintang yang kalian berikan 🙏😘 Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ...Aamiin. Terus Dukung Author ya guys 🙏😘