GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
AKU MENYUKAI KAMU INAYAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Wanita sholehah itu seperti matahari, dia bersinar, menghangatkan, tapi membuat orang-orang menunduk ketika melihatnya. Wanita sholehah itu adalah yang dicemburui bidadari syurga. Bagaimana tidak? Wanita sholehah di bumi itu lebih tinggi darjatnya daripada bidadari syurga"


__Ustadzah Nur Alina Al-Munawwar__


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Hans, semakin tertawa terbahak-bahak, saat melihat, wajah cemberutnya Inayah. Ketika ia mengetahui kalau wajahnya, terdapat hitam-hitam yang berasal dari tungku tempatnya memasak. Ditambah lagi ia mendapatkan tertawaan dari Hans, membuat ia semakin kesal.


"Huh! Bahagia banget ya, melihat orang lain kesusahan? Sampai Anta tertawa terbahak-bahak begitu!" cetus Inayah, yang terlihat sekali wajahnya begitu kesal karena ditertawakan. Namun membuat Hans, malah suka melihat raut wajah Inayah yang sedang kesal itu. Karena dimatanya ia terlihat begitu imut, apalagi saat melihat bibir mungilnya Inayah. Membuat ia gemas melihatnya.


"Eh, sorry-sorry, habisnya wajah kamu lucu sih. Jadi tanpa sadar Aku tertawa deh. Tapi percayalah, aku tertawa bukan karena melihat kamu sedang kesusahan Nayah. Aku nggak bermaksud seperti itu," jelas Hans, seraya ia jongkok di samping Inayah. Lalu ia mengusap lembut pipi Inayah dengan tangannya. Untuk menghilangkan noda hitam yang berada disana, seraya ia menatapnya dengan lembut. Membuat mata Inayah ikut terhanyut didalamnya.


Untuk sesaat suasana pun menjadi hening, karena keduanya, masih terlihat saling bertatapan. Hingga akhirnya Inayah mencium sesuatu yang ia kenali, dan seketika ia menoleh kearah tungku ya diatas terdapat kuali yang nampak ia sedang menggoreng sesuatu.


"Astaghfirullah! Bang telurnya gosong!" sentak Inayah terlihat terkejut.


"Aah enggak kok! Telurku nggak gosong Nayah," kata Hans, yang matanya masih menatap kearah wajah Inayah, "Apakah kamu sudah melihat telurku?" tanyanya lagi, membuat Inayah bingung pada pertanyaannya Hans.


"Eh? Apaan sih Bang? Emangnya nggak lihat ya? Tuh Nayah bilang telur ini yang gosong!" kata Inayah seraya ia menunjukkan sebuah piring yang didalamnya terdapat telur dadar yang sudah hitam, pada Hans.

__ADS_1


"Hah! Kok bisa hitam sih?" tanya Hans terlihat kaget, saat Inayah mendekati piring berisi telur tersebut tepat didepan wajah Hans.


"Huh! Malah tanya lagi! Inikan gara-gara Abang!" kata Inayah, yang terlihat bibir nya kembali cemberut.


"Eh, iya deh Aku ngaku salah! Ya sudah kalau begitu, kita cari sarapan diluar saja yuk?" rayu Hans, karena ia merasa bersalah.


"Nggak ah! Disini jauh kalau mau mencari sarapan!" balas Inayah menolak ajakan Hans.


"Terus gimana dong?"


"Ya masak lagi, tapi sebaiknya Abang tunggu didalam aja deh, biar secepatnya kita sarapan. Kalau Abang tetap disini yang ada Nayah nggak siap-siap nih," balas Inayah seraya ia mengambil telur yang hendak ia masak kembali.


"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu di dalam ya," kata Hans, dan langsung dianggukan oleh Inayah.


Setelah Hans, pergi Inayah langsung melanjutkan memasaknya. Ia juga memasak makanan yang sangat sederhana, yaitu menumis kangkung ya ia petik di kebunnya. serta ditemani telur dadar dengan irisan cabai rawit. Karena memang rumahnya sangat jauh dari paras. Hingga ia harus belanja tiga hari sekali. Makanya ia akan memasak apa adanya. Dan kebetulan juga, stok untuk lauknya tinggal telur saja.


"Baiklah," balas Hans, secara singkat, lalu ia pun mengikuti langkah Inayah. Setelah keduanya masuk, mereka pun sama-sama duduk datas tikar. Hans terlihat tertegun melihat masakkan Inayah yang hanya terdapat dua menu saja.


Melihat tatapan mata Hans, Inayah merasa tidak enak hati, "Maaf ya Bang, Nayah hanya bisa menyajikan ini saja, karena kebetulan Nayah belum belanja. Tapi nanti siang In shaa Allah setelah sarapan Nayah akan belanja kok, jadi nanti siang In shaa Allah menunya akan berbeda dari ini kok," ujar Inayah dengan lembut. Seraya ia mengambilkan nasi dipiringnya Hans, lalu ia letakkan tepat didepan ia duduk.


"Tidak apa-apa Nayah, ini sudah Alhamdulillah kok. Saya malah senang menu seperti ini, karena mengingatkan saya pada masa kecil saya Nayah," kata Hans seraya ia mengambil tumisan kangkungnya serta telur dadarnya, dan ia letakkan kedalam piringnya. Setelah itu ia langsung menyantapnya, dengan lahap.


"Gimana rasanya Bang? tanya Inayah dengan lembut.

__ADS_1


"Enak kok! Malahan masakan kamu mirip sekali dengan masakan Ibuku," kata Hans, sambil ia kembali menyantap makanannya. Membuat Inayah yang melihatnya menjadi senang. Sehingga ia lupa dengan makanannya sendiri.


"Kenapa kamu malah lihatin saya makan? Apakah kamu ingin saya suapin?" tanya Hans, seraya ia mendekati tangannya yang berisikan nasi dan lauknya kearah mulutnya Inayah.


"Eh, tidak-tidak Bang, Nayah bisa makan sendiri kok," balas Inayah, sambil menghindari tangan Hans.


"Ayolah Nayah, sekali saja," kata Hans, terlihat sedikit memaksa agar Inayah mau disuapinya. Mau tak mau akhirnya Inayah menerima suapan dari tangan Hans, langsung. Hans tersenyum senang. Sehingga ia ingin menyuapi istrinya kembali. Namun Inayah menolaknya, dengan alasan ia sudah terlanjur mengisi nasi dan lauknya dipiringnya. Dan akhirnya Hans pun menerima alasannya. Dan disela-sela makan mereka.


"Oh iya Nayah? Pak Ardiyan, menghadiahkan kita Rumah loh, dan beliau mengingatkan kita segera menempatinya. Untuk itu maukah kamu ikut denganku kembali ke kota M hari ini Nayah?" tanya Hans dengan lembut. Inayah nampak terdiam sejenak, dan entah mengapa hatinya terasa sakit kembali. Mungkin karena ia teringat ketika Anisah merencanakan pernikahan untuknya tanpa sepengetahuan dirinya. Sehingga ia merasa berat untuk kembali ke kota itu.


"Maaf Bang, untuk saat ini Nayah ingin tinggal disini dulu, tapi kalau Abang, ingin kembali silahkan, Nayah tidak akan menghalanginya," balas Inayah, yang raut wajahnya menggambarkan kalau ia sedang sedih.


"Hmm, baiklah kalau itu keputusan kamu, itu artinya saya, juga akan tinggal disini!" tegas Hans, mengejutkan Inayah.


"Eh, tapi Bang, disinikan.…"


"Sssth..! Tidak boleh protes, ingatlah dimana istri berada maka suami harus siap menemaninya. Dan aku sudah mulai menyukai, daerah ini, rumah ini, yang utama aku menyukai kamu Inayah!" potong Hans, seraya ia mengedipkan sebelah matanya pada Inayah. Membuat Inayah langsung tersedak, setelah mendengar perkataan Hans.


"Huuk...Hugh..! Hugh..!Hugh..!"


Hans yang melihat Inayah tersedak, jadi panik, dan iapun langsung mengambil air putih, dan langsung menyodorkannya langsung ke mulutnya Inayah "Aah..! Maaf, maaf Nayah! Kamu kaget ya mendengar perkataanku, ini minumlah airnya," katanya sambil meminumkan kemulutnya. Dan Inayah pun menurutinya, ia meneguk air minumnya, seraya matanya memandang kewajah suaminya, yang saat ini sedang menatap dirinya juga.


"Terima kasih Bang," ucap Inayah setelah Air didalam gelas yang dipegang Hans, telah habis. Namun tatapannya Hans masih tertancap di wajah Inayah, seakan ia ingin menerkamnya. Membuat Inayah jadi salah tingkah.

__ADS_1


"A-anu, Nayah mau bereskan in...Uhmm..??"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2