
══ ✥.❖.✥ 🤍Kalam Habaib🤍 ✥.❖.✥ ══
"Segala sesuatu telah diatur. Berjalanlah terus sesuai dengan jalanmu. Jangan kau terganggu dengan apapun yang terjadi, karena tidak ada yang terlepas dari Allah. Semuanya telah teratur, kau perbaiki saja jalanmu dengan bersungguh-sungguh. Jangan kau sibukkan dengan pemikiran yang tidak bermakna bagimu."
[ Al Habib Umar Bin Hafidz ]
اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّی عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Malam harinya.
Setiap ba'da Maghrib, semua orang tua santri akan menjemput anak-anaknya, yang tidak tinggal dipondok pesantren tersebut. Termasuk Harun Kakek Yumna dan Yunda. Ia nampak sudah berada dihalaman rumah pondok utama milik Ustadz Khairul. Dan ia juga terlihat masih menunggu kedatangan kedua cucunya yang batang hidungnya belum juga muncul. Padahal anak-anak lainnya sudah pada berpulangan.
"Assalamu'alaikum, loh pak Harun masih disini?" tanya Ustadz Khairul, yang baru saja muncul entah darimana.
"Wa'alaikumus salam Ustadz, iya nih, kedua cucu saya belum datang," balas Harun, sembari ia menyalami tangan Ustadz Khairul.
"Loh, kok belum datang? Padahal teman-temannya sudah pada pulangkan?" tanya Ustadz Khairul merasa heran.
"Nah itu dia Ustadz, saya juga heran. Biasanya mereka duluan yang keluar dari sana. Tapi ini kok belum juga keluar ya?" kata Harun, yang matanya masih mengarah kesebuah gerbang pembatas khusus untuk para santriwati saja.
"Loh ada apa yaa?" Ustadz Khairul jadi penasaran. Dan saat bersamaan muncul seorang gadis kecil, yang terlihat masih memakai mukena sambil memeluk sebuah Al'Qur'an keluar dari gerbang pembatas tersebut.
__ADS_1
"Farah? Sini Nak!" panggil Ustadz Khairul yang ternyata gadis kecil itu, adalah Farah anaknya Ardiyan.
"Na'am Kek?" Farah pun mendekati sang kakeknya, yang sedang berdiri disampingnya Harun.
"Farah? Kamu melihat Yumna dan Yunda tidak? Kok mereka belum keluar Nak?" tanya Ustadz Khairul, sambil membungkukkan badannya.
"Na'am Kek, Farah lihat, tadi mereka masih berada dimesjid kek," balas Farah, dengan sopan.
"Ooh, apakah masih ada santriwati lainnya Nak?" tanya Ustadz Khairul lagi.
"Tidak ada kek, karena para kakak santriwati lagi, makan malam Kek. Di mesjid cuma tinggal mereka berdua," kata Farah, yang terlihat berkata apa adanya.
"Ooh, ya sudah kalau begitu kamu masuklah. Ummah kamu sudah menunggu sedari tadi," kata Ustadz Khairul, sambil mengusap kepala cucunya itu, dengan lembut.
"Baik kek, kalau begitu Farah masuk ya, Assalamu'alaikum" pamit Farah, sambil menyalami tangan sang kakek dan juga menyalam tangan Harun.
"Mari, Pak Harun kita kemejid para Santriwati, mumpung mereka sedang makan," ajak Ustadz Khairul, pada Harun, setelah Farah pergi.
"Baiklah Ustadz, mari," balas Harun. Dan akhirnya mereka pun beranjak dari sana. Dan memasuki gerbang pembatasan tersebut.
Setelah mereka berada di area lingkungan para santriwati. Ustadz Khairul pun membawa Harun, kesebuah mesjid, khusus untuk para santriwati saja. Dan belum lagi mereka memasuki pintu mesjid, langkah kaki keduanya tiba-tiba terhenti, tatkala mereka mendengar kata-kata dari dua orang bocah didalam mesjid tersebut.
"Ya Allah, apakah Umna salah, bila meminta Aunty Naazwa menjadi Mama kami? Ya Allah apakah Umna salah bila memohon agar Uncle Hans dan Aunty Azwa tidak boleh menikah? Maaf ya Allah kalau Umna salah. Tapi Umna inginnya Aunty Azwa menikah dengan Daddy kami, agar kami bisa merasakan seperti teman-teman yang mempunyai Ayah dan Ibunya ya Allah," pinta Yumna, dengan kedua tangannya yang menengadahkan keatas dan dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
Sedangkan Yunda, malah terlihat sudah menitikkan air matanya. Dengan tangan yang menengadahkan keatas dan dengan tatapan matanya yang tertuju kesebuah kaligrafi yang bertuliskan Allah di dinding bagian atas tepat dibawah tempat biasa Imam berdiri. Dan dengan sedikit terisak ia pun mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Yaa Allah... hiks..Unda tidak akan meminta banyak dari-Mu hiks..Unda hanya minta hiks..jadikan Aunty Azwa sebagai Mama kami Ya Allah hiks.. Nikahin Aunty Azwa sama Ayah kami, hiks.. agar kami mempunyai keluarga yang utuh ya Allah, hiks..hiks... kabulkan doa kami ya Allah. Bukankah Engkau Sang Pengabul doa," pinta Yunda, terdengar begitu menyayat hati, bagi siapapun yang mendengarnya.
"Umna juga ya Allah, hiks..hiks.. Umna janji, hiks..Umna nggak akan minta apa-apa lagi, setelah ini, hiks..hiks..hanya satu keinginan Umna..hiks..hiks.. keluarga yang utuh..hiks..ada Daddy..hiks..ada Mama...hiks..ada..bang Anza, bang Asya, dan kak Unda..hiks ..itu lebih dari cukup...hiks! Maka Umna mohon, ya Allah hiks..hiks..Umna moho kabulkanlah ya Allah, hiks.. kabulkan permintaan Umna..yaa Allah hiks..hiks.."
Tangis Yumna benar-benar pecah, hingga ia terlihat begitu sulit untuk mengeluarkan suaranya. Sehingga suaranya terdengar bergetar. Membuat Ustadz Khairul, maupun Harun ikut menitikkan air mata mereka.
Betapa tidak, seorang anak kecil yang masih berusia empat, berdoa dengan penuh pengharapan memohon pada Rabbnya hingga menitikkan air matanya. Rasanya mereka tak percaya pada apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari doa dua gadis kecil itu. Hingga tanpa sadar keduanya mengucapkan kata "Aamiin." Bahkan Ustadz Khairul, yang menyandang sebutan kyai itu, ikut memohon pada Rabbnya.
"Aamiin Ya Mujibassailin. Kabulkanlah doa mereka wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan para peminta (orang-orang yang berdoa). Terimalah doa mereka, Wahai engkau Tuhan yang mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-My yang meminta.” ucap Ustadz Khairul dengan tulus lalu ia pun melanjutkan Doa agar segala permintaan dapat segera dikabulkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allaahumma innii as’aluka bi annii asyhadu annaka antallaahu, laa ilaaha illaa antal ahadus shamad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakullahuu kufuwan ahad.
Artinya: Tuhanku, aku memohon (pertolongan) kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah. Tiada tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, tempat bergantung yang tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, serta tiada apapun yang menyamai-Nya.
Doa agar segala permintaan dapat dikabulkan Allah SWT dilansir laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) yang mengutip hadis Imam An-Nawawi dari Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Buraidah RA, yang artinya sebagai berikut.
Di riwayatkan Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Buraidah RA bahwa seuatu ketika Rasulullah mendengar salah seorang sahabatnya berdoa dengan lafal,
‘Allaahumma innii as’aluka bi annii asyhadu annaka antallaahu, laa ilaaha illaa antal ahadus shamad, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakullahuu kufuwan ahad"
Rasulullah SAW lalu menyambutnya, ‘Kau telah memohon kepada Allah dengan nama (agung) yang mana Dia akan memberikan karunia-Nya bila diminta dengan nama tersebut, dan Dia akan mengijabah seseorang yang berdoa memanggil-Nya dengan nama tersebut.”
Itu artinya doa Ustadz Khairul adalah doa sapu jagad yang diberikan untuk kedua gadis kecil yang memintanya dengan bersungguh-sungguh.
Setelah mendoakan sekecil tiba-tiba hatinya terbesit merasa bersalah terhadap Hans.
__ADS_1
"Astaghfirullah, maaf Hans, Abi tidak bermaksud melukaimu. Semoga apapun yang terjadi besok adalah yang terbaik untuk semuanya," batin Ustadz Khairul.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...