
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bergembiralah
Hidup kan terus berjalan. Baik kamu tertawa maupun menangis, oleh karena itu jangan bebani dirimu dengan kesedihan yang tidak ada manfaatnya bagimu, Maka tersenyumlah!
Jika kamu merasa sedih dan hidup merasa tidak tenang dekatkan diri pada Allah dan shalat lah kemudian bacalah doa ini :
Doa mohon terhindar dari rasa sedih
أَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الْرِّجَالِ
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban hutang serta tekanan orang-orang (jahat)."
(HR. Abu Dawud 4/353)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Sesuai keinginan keinginan Inayah, hari itu juga Hans membawanya pulang. Dan kini mereka sedang di dalam perjalanan pulang. Inayah nampak begitu senang, karena ia berpikir, kalau suaminya akan membawanya pulang ke daerah ST. Namun ketika mobil Hans melaju kearah jalan yang berbeda, seketika wajah Inayah langsung berubah. Dan itu membuatnya sangat penasaran.
"Loh Bang, kan arah jalan pulang kesana, mengapa belok kesini? Apa kita nggak jadi pulang ya?" tanya Inayah, yang akhirnya ia buka suara karena saking penasarannya.
"Inikan kita mau pulang Sayang," balas Hans, tanpa melirik Inayah, karena ia masih fokus dalam menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Pulang kok arahnya kemari sih? Seingat Nayah tuh seharusnya jalannya hanya lurus saja Bang, nggak belok kesini tau!" protes Inayah, yang nampaknya ia tidak tahu kalau Hans, hendak membawanya kerumah baru mereka.
Mendengar protesan istrinya, Hans pun tersenyum tipis, karena pada akhirnya istrinya yang sedikit cerewet itu akhirnya kembali lagi. Yaa, semenjak Inayah, mengetahui kalau dirinya keguguran. Ia menjadi sangat pendiam, bahkan ia juga menjadi sangat sensitif. Makanya matanya terlihat selalu sembab akibat ia selalu menangis, ketika Hans tidur ataupun keluar.
"Sayang, mau jalannya dari manapun, intinya kita pulangkan? Jadi kamu tidak usah memikirkan jalan lagi ya? Jadi mendingan kamu tidur saja ya, nanti kalau sudah sampai Abang pasti akan bangunin kamu kok," balas Hans, yang sepertinya ia tetap ingin merahasiakan rumah baru mereka.
"Nggak mau akh! Dari kemarin jugakan Nayah tidur Melulu pun, capek tahu Bang," ujar Inayah, seraya ia melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Iyakan biar kamu cepat pulih lagi Sayang. Ingat loh kamu sudah janji sama Abang, untuk fokus dalam pemilihan badan kamukan? Nah tidur itu salah satunya loh Sayang," balas Hans, mengingatkan Inayah pada janjinya.
"Iya iya, Nayah ingat kok!"
"Ya sudah kalau ingat sekarang kamu tidur dong,"
"Nanti akh, dirumah saja!" balas Inayah, yang terlihat ia berkeras tak ingin tidur. Karena ia merasa, kalau suaminya sedang menutupi sesuatu. Makanya ia ingin terus tetap terjaga, agar ia segera mengetahuinya.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun Sayang," ujar Hans, setelah ia memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah tersebut.
"Eh, ini rumah siapa Bang?" tanya Inayah dengan pandangan masih menatap kerumah baru mereka, yang terlihat begitu indah. Karena terdapat berbagai bunga dihalaman rumah berlantaikan dua tersebut.
"Ini rumah kita Sayang,"
Mendengar perkataan Hans, dengan spontan tatapan mata Inayah langsung mengarah pada Suaminya, "Apa? Rumah siapa, Abang bilang tadi?" tanyanya ingin memastikan perkataan suaminya, yang sebenarnya tadi ia sudah mendengarnya.
"Rumah kita Sayang, karena tubuh kamu masih lemah dan kamu juga harus melakukan kontrol dalam dua hari lagi. Jadi kita tidak bisa melakukan perjalanan jauh Sayang. Makanya Abang membawa kamu ke rumah kita yang disini. Tapi nanti kalau kamu sudah pulih seperti sedia kala, baru kita kembali lagi kedaerahan St, ya?" jelas Hans, memberi pengertian pada istrinya. Karena ia tahu, kalau Istrinya itu tak mau tinggal dikota lagi. Makanya hanya ini alasan yang tepat, dan seiring berjalannya waktu ia akan terus berusaha agar ia bersedia untuk tetap tinggal di kota.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari suaminya, Inayah pun tidak bisa protes lagi. Karena memang, sebelum mereka pulang tadi, dokter berpesan kepadanya untuk melakukan kontrol dalam dua hari lagi. Dan apabila ia bersikeras untuk kembali ke daerah ST, itu hanya akan membuat susah Suaminya saja. Karena memang perjalanan ke ST sangatlah jauh.
"Hmm, ya sudah terserah Abang saja deh," balas Inayah terlihat pasrah.
"Nah gitu dong, ya sudah ayo sekarang kita masuk, Sayang," ujar Hans, semabri ia menggendong tubuh istrinya. Membuat Inayah langsung terpekik, karena memang Hans mengangkat tubuhnya, tanpa memberi aba-aba.
"Kyaak..! Bang Hans! Kebiasaan banget sih! Main gendong Nayah, tanpa ngomong dulu!" protes, Inayah, yang kini tangannya dengan spontan langsung melingkar di leher suaminya.
"Maaf Sayang, habis nanti kalau Abang ngomong, pasti kamu menolaknyakan? Jadi sekarang jangan protes lagi. Karena sudah waktunya kamu harus beristirahat," balas Hans, seraya ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah baru mereka. Mendengar perkataan suaminya, Inayah pun hanya mendengus pelan dan akhirnya ia hanya pasrah saja.
Dan ketika mereka hendak memasuki pintu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari dalam, "Alhamdulilah, akhirnya Aden dan Neng sampai juga, Mbok pikir Aden nggak jadi pulang hari ini," ujar Wanita paruh baya tersebut, yang terlihat ia begitu senang dengan kedatangan Hans, serta Inayah.
"Eh, Mbok Iyem! Bikin kaget aja, tiba-tiba main muncul aja!" tegur, Hans, yang terlihat ia memang sedikit kaget.
"Eh, hehehe, maaf Den, soalnya Mbok terlalu bersemangat, saat mendengar suara mobil Aden tadi," balas wanita yang dipanggil Mbok Iyem tersebut.
"Ya sudah nggak papa, Oh iya, kenalin dulu, ini istri saya Mbok," ujar Hans, masih dalam posisi menggendong Inayah.
"Assalammu'alaikum Mbok, Saya Inayah," ucap Inayah, sedikit malu, karena posisinya yang sedang digendong. Padahal tadi ia sempat ingin turun ketika Mbok Iyem baru muncul. Namun karena cengkraman tangan Hans terlalu kuat akhirnya ia hanya bisa pasrah lagi.
"Wa'alaikumus salam Neng, Saya Mbok Iyem, yang bertanggung jawab, untuk menjaga dan membersihkan rumah ini Neng," balas Mbok Iyem, seraya ia bermaksud ingin bersalaman. Namun Hans sudah kembali melangkahkan kakinya.
"Sudah selesai seksi perkenalannyakan? Jadi maaf Mbok, sekarang Nayah harus segera istirahat, karena dia baru keguguran," ujar Hans, sembari berjalan menuju ke anak tangga.
"Aah, iya nggak papa Den, silakan," balas Iyem, sambil menatap punggung Hans yang kini sudah menaiki anak tangga, "Kasihan Neng Nayah, pasti dia sedih banget, ya sudah kalau nanti aku akan membuatkan sup ayam kampung deh, biar Dia secepatnya pulih, dan bisa hamil lagi," gumam Iyem, lalu ia pun langsung pergi menuju ke dapur.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...