GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
GARA-GARA KEEGOISAN.


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah berkata:


"Jika kesalahanmu banyak maka perbanyaklah bersedekah, karena sesungguhnya sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan." [Syarhu Al Arbain An Nawawiyah, hal. 361]


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:


وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ


"Sedekah akan menghapus dosa sebagaimana air dapat mematikan api." [HR. Ibnu Majah No. 4200]


Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: "Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang jelek, mencegah bala’ sampai penggemar maksiat pun terjaga dari bala’ karena rajin bersedekah, menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati dan menyebabkan hati yakin dan baik sangka kepada Allah." [Uddah ash-Shabirin, hlm. 490]


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••


"Loh, dimana Inayah? Kok nggak ada?" gumam Hans, seraya matanya melirik isi baki yang terlihat masih utuh, "Aah, makanannya juga belum di makan lagi! Apa dia masih marah ya?" gumamnya lagi, dan seketika ia pun teringat ketika ia memperingatkan Inayah, dengan suara bernada tinggi. Dan seketika itu juga rasa penyesalan pun timbul dihatinya.


"Aaakh! Kenapa tadi Aku marah-marah sih sama Nayah! Pasti dia semakin marah nih, sama gue!" gumam Hans, seraya ia mengusap wajah dengan kasar, "Aah, sebaiknya aku pakai baju dulu, baru cari dia!" gumamnya lagi. Lalu ia pun langsung bergegas menuju ke lemari pakaiannya. Setelah itu ia pun mengambil sepasang bajunya. Dan kemudian, dengan cepat ia langsung memakai pakaian tersebut.


Setelah selesai ia langsung bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Sesampainya di anak tangga, ia langsung turun dengan mata yang seperti sedang mencari-cari sesuatu di ruang keluarga, yang letaknya berdekatan dengan anak tangga yang menuju ke lantai dua.


"Aah, dimana dia? Kok nggak ada? Apa di ruang makan ya?" gumam Hans, lalu ia pun langsung bergegas menuju ke ruang makan. Sesampainya di sana, yang ada hanya Mbok Iyem yang terlihat sedang mengelap meja makan.


"Mbok, ngeliat Nayah nggak?" tanya Hans, membuat Mbok iyem terlihat heran.

__ADS_1


"Loh, bukannya, tadi Neng Nayah dikamarnya ya Den? Soalnya sejak tadi si Mbok nggak lihat tuh Den," balas Iyem seadanya.


"Tadi saat saya ke kamar mandi Nayah keluar Mbok, mungkin dia marah lagi sama Saya Mbok," ujar Hans, dengan wajah terlihat ada penyesalan.


"Eh, marah lagi? Emangnya ada apa lagi Den? Kok Neng Nayah bisa marah lagi?" tanya Mbok Iyem terlihat penasaran.


"Itu Mbok.. hum.. Anu.. tadi, Nayah.. itu.." balas Hans, yang sepertinya ia ragu-ragu untuk menceritakan permasalahan, yang membuat Istrinya marah.


"Ada apa sebenarnya Den? Kok ragu-ragu begitu sih? Ceritakan saja sama si Mbok, siapa tahu saja si Mbok bisa bantu," tanya Mbok, Iyem yang memang ia sudah terbiasa, mendengar curhatan Hans, sedari dulu. Karena memang, bagi Hans, mbok Iyem sudah seperti Ibunya sendiri.


"Gini Mbok, sebenarnya akhir-akhir ini Nayah, ingin melakukan itu Mbok. Tapi saya tidak pernah mau, karena takut melukai Anak kami, dan tadi, karena saya kesal, jadi tanpa sengaja saya membentak dia," balas Hans yang akhirnya ia pun menceritakan semuanya pada Mbok iyem, penyebab mengapa istri marah. Mendengar hal itu, Iyem pun tersenyum lucu pada Hans, membuat Hans heran melihatnya.


"Eh, kok Mbok malah ketawa sih? Emangnya ada yang lucu ya Mbok?" tanya Hans, dengan wajah yang terlihat tidak senang. Karena merasa ditertawakan oleh pembantunya itu.


"Ya luculah Den! Makanya Den, kalau saat istrinya sedang memeriksa kandungan sesekali ikut, jadi Aden bisa tahu Den," balas Iyem, yang kini ia terlihat sedang menahan tawanya.


"Ya nyambung dong Den, karena pasti Dokter akan menyuruh, pasangan yang sedang menunggu kelahiran Anaknya, untuk melakukan itu. Gunanya untuk membantu, sang jabang bayi mendapatkan jalannya untuk keluar Den," jelas Mbok Iyem, membuat Hans, sedikit terkejut mendengarnya.


"Hah? Benarkah itu Mbok? Apa itu nggak nyakitin bayinya Mbok?" tanya Hans, yang kini ia menjadi penasaran.


"Tidak loh, malahan Dokter sendiri loh, yang nganjurkan, agar proses persalinannya menjadi lancar Den, Wong si Mbok dulu juga gitu Den, sampai-sampai hampir tiap malam, Suaminya si Mbok melakukan itu. Dan Alhamdulilah, akhirnya si Mbok melahirkannya jadi lancar. Hanya anak pertama saja yang sulit, karena kami tidak tahu, Den," balas Mbok iyem, yang akhirnya ia menceritakan, masa-masa ketika ia sedang hamil pada Hans.


"Ooh, gitu ya Mbok? Kalau begitu nanti saya lakukan deh sering!" ujar Hans, tanpa ada rasa canggung sedikit pada Mbok Iyem.


"Iya Den, Tapi sekarang sebaiknya den cari dulu dong Neng Nayahnya, di rayu, biar nggak marah lagi Den," ujar Mbok iyem mengingatkan Hans.


"Aah, iya saya hampir lupa! Kalau begitu saya mau cari Nayah dulu ya Mbok?"

__ADS_1


"Iya Den, pergilah," balas Iyem.


Setelah mendapatkan balasan dari Mbok Iyem, Hans pun langsung pergi meninggalkan ruang makan untuk mencari istrinya kesana-kemari. Namun tidak ada tanda-tanda istri di rumahnya itu. Hans mulai panik, hingga akhirnya ia mendatangi penjaga rumahnya.


"Mang Giman, lihat istriku keluar nggak?" tanya Hans, yang wajahnya kini terlihat, mulai cemas.


"Lihat Den, tadi, Neng Nayah pergi naik taksi Den," balas, penjaga gerbang yang bernama mang Giman.


"Aah, mau kemana dia naik taksi?" gumam Hans lirih, "Oh iya Mang, Istriku ngomong nggak dia mau kemana?" tanya Hans terlihat begitu penasaran.


"Kalau nggak salah, tadi Neng Nayah bilangnya mau pergi ke pondok Den," balas Mang Giman terlihat apa adanya.


"Eh, mau ngapain dia kepondok? Padahal kan sudah lama dia nggak kesana?" gumam Hans, dengan dahi, yang terlihat sedang berkerut.


"Emangnya ada apa Den?" Tadi Mamang lihat, Neng Nayah kayaknya lagi Nangis, soalnya cadar Mamang lihat agak basah Den," ujar Mang Giman yang raut wajahnya terlihat sangat penasaran. Mendengar kata menangis Hans langsung tersentak.


"Apa Mang? Istriku menangis?" tanya Hans terlihat penasaran.


"Iya Den, soalnya kelihatan banget kok Den, dari matanya yang merah, juga cadarnya yang basah. Jadi sudah pasti Neng Nayah Nangis Den," balas Giman apa adanya. Mendengar perkataan Giman Hans semakin merasa bersalah.


"Aah, sudahlah Mang, kalau begitu tolong buka pintu gerbangnya Mang, saya mau keluar!" ujar Hans, yang kemudian ia langsung bergegas menuju ke mobilnya yang terlihat sedang terparkir di halaman rumahnya. Setibanya ia di mobil Hans pun langsung bergegas masuk. Dan tak berapa lama, mobil pun mulai melaju dengan perlahan. Hingga akhirnya mobil berada di luar pagar, Hans pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aah.. ini semua gara-gara keegoisanku! Jadi Nayah saat ini pasti kecewa banget deh sama aku!" gumam Hans, sambil memukul-mukul, setirnya, karena ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.


...┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...


Oh iya Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏 Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron

__ADS_1


__ADS_2