GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MERINDU MEMBAWA BERKAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Daun pun tak pernah mengeluh kenapa ia harus jatuh, bahkan ia tak pernah marah pada angin yang selalu menghempaskan tanpa ampun.


Tak ada yang sia-sia dengan apa yang telah Allah hamparkan di dunia ini. Dan tak ada jiwa yang terlepas dari ujian yang Allah beri. Ingatlah duhai diri, ketika kita tak mampu menahan apa yang disebut dengan derita.


Maka katakan padaNya tentang apa yang membuatmu begitu terbebani. Jangan sampai kemarahan menguasaimu, dan mengeluh disepanjang hidupmu.


Sebab dengan begitu, akan hilang kesempatan bagimu untuk merasakan bagaimana nikmatnya menjadi orang-orang yang selalu mensyukuri takdir apapun yang Allah beri.


Maka milikilah hati yang thuma'ninah yaitu hati yang tenang hadapi ujian yang datang pada dirinya, ikhlaskanlah...


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Satu bulan sudah Hans dan Inayah, berada dirumah baru mereka. Pada awalnya, Inayah selalu merengek ingin kembali ke daerah ST. Namun karena Ardiyan mendapatkan proyek diluar kota yang sangat mendesak, dan mengharuskan Hans untuk ikut. Membuat Inayah tak bisa protes. Dan akhirnya mau tak mau ia harus menunggu kepulangan suaminya terlebih dahulu.


Ditambah lagi saat ini ia sedang dalam proses pemulihan tubuhnya, yang sudah Hans amanahkan pada Mbok Iyem. Membuat Inayah semakin tak berdaya dan akhirnya ia harus menuruti perkataan Mbok Iyem, yang bagi Hans, sudah seperti ibunya sendiri. Karena memang sedari kecil Hans, sudah dirawat olehnya. Dan karena Inayah telah mengetahuinya, otomatis ia pun juga menghormati Mbok Iyem seperti Ibunya juga.


"Neng, ini jamunya, cepat diminum ya Neng, mumpung masih hangat," ujar Mbok Iyem, sambil memegang sebuah nampan yang diatasnya terdapat segelas jamu. Lalu nampan tersebut ia sodorkan pada Inayah yang terlihat ia menonton televisi.


"Ay, masih harus minum lagi Mbok?" tanya Inayah, yang terlihat sekali ia tak menyukai jamu tersebut.

__ADS_1


"Iya dong Neng, kan biar cepat pulih," balas Iyem, masih terlihat menyodorkan nampan yang diatasnya terdapat gelas berisikan jamu tersebut.


"Tapi Mbok.. Nayahkan sudah sembuh. Kenapa masih harus minum jamu lagi sih? Kan pahit Mbok," keluh Inayah, Ia tampak bergidik saat membayangkan rasa jamu, yang sudah hampir tiap hari, Mbok Iyem memaksanya untuk meminum jamu tersebut.


"Mbok tahu Neng, tapi inikan untuk kebaikan Eneng sendirikan? Emangnya Eneng nggak kepingin hamil lagi hm?" rayu Mbok Iyem, agar istri majikannya itu mau meminum jamu yang sudah ia buat dengan susah payah.


"Eh, benarkah itu Mbok?"


"Benar dong Neng, kalau nggak percaya, nanti kalau Den Hans pulang, Neng coba aja langsung. In shaa Allah bulan depannya Neng pasti akan hamil lagi deh," kata Mbok Iyem, sembari ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Inayah langsung membulat melihat Iyam yang mulai berani menggoda dirinya.


"Eh! Si Mbok, apaan sih bikin malu aja deh," protes Inayah, yang wajahnya terlihat memerah menahan malu.


"Kok malu sih Neng? Lagian si Mbok mengatakan faktanya loh Neng. Percaya deh apa kata si Mbok, setelah ini Den Hans, pasti tak mau jauh-jauh lagi sama Neng. Bahkan Dia tidak akan pernah melirik wanita manapun lagi. Karena hanya sama Eneng saja dia sudah terpuaskan. Kenapa si Mbok berkata seperti ini, itu karena jamu ini jamu rahasia keluarga saya Neng,"


Mengingat hal itu, tanpa berkata apapun Inyah langsung mengambil gelas berisi jamu yang ada di atas nampan yang sedang di pegang Mbok Iyem. Lalu ia pun langsung meneguknya, rasa pahit yang tadi ia takutkan, tak terasa lagi olehnya. Bahkan ia meneguknya hingga bersih, padahal kemarin-kemarin ia tak pernah seperti itu, pasti ia selalu menyisainya karena terlalu pahit.


Iyem pun tersenyum tipis melihatnya, "Alhamdulilah, gitu atuh Neng, kan biar tambah sehat. Ini si mbok kasih permen biar rasa pahitnya segera hilang Neng," katanya seraya ia memberikan sebuah permen pada Inayah.


"Terima kasih ya Mbok," ucap Inayah seraya ia mengambil permen tersebut, lalu ia pun langsung memakannya.


"Sama-sama Neng, ya sudah si Mbok kebelakang dulu ya Neng,"


"Iya Mbok,"

__ADS_1


Setelah mendapatkan jawaban dari istri majikannya, Iyam pun beranjak pergi meninggalkan Inayah seorang diri. Dan seketika ia kembali teringat pada wanita itu lagi, "Kayak Ana kenal deh dengan wanita itu, hmm.. kalau tidak salah namanya Ranti deh. Dan kalau tidak salah, setiap Ana belanja diwarung, para ibu-ibu yang belanja disana juga pasti, selalu membicarakan dia, yang katanya orangnya suka nekat, bila menyukai sesuatu. Astaghfirullah kenapa aku ingat dia sih?" gumam Inayah, yang sedang teringat ketika ia masih berada di daerah ST.


"Siapa yang sedang kamu ingat sih Sayang? Sampai-sampai ucapan salam suami kamu ini tidak terdengar lagi!"


Inayah langsung tersentak tatkala ia mendengar suara bariton yang amat ia kenali itu. Dan seketika ia langsung menoleh kesumber suara tersebut, "Bang Hans!" sentaknya dan seketika ia pun langsung bangkit dari duduknya, dan langsung memeluk pria tersebut, yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Hans, langsung terkejut mendapatkan pelukan dari Inayah. Karena setahunya, istrinya yang pemalu itu, tak pernah melakukan hal tersebut, "Eh, ada apa Sayang? Kok tumben kamu seperti ini? Atau jangan-jangan kamu sangat merindukan Aku ya?" tanya Hans seraya ia mengecup puncak kepala Inayah.


"Hu'um! Nayah kangen Abang! Habis Abang perginya lama banget sih!" balas Inayah sambil mengerucutkan bibirnya, terlihat manja.


Hans tersenyum lucu melihat tingkah istri kecilnya itu. Apalagi saat melihat bibirnya membuat ia menjadi gemas, membuat ia tak tahan untuk tidak meraihnya dan..


"Uhmm..Umm..!" proses Inayah, seraya ia memukul dada bidang suaminya itu. Namun tak dipedulikan oleh Hans, hingga akhirnya ia mencubit bagian perut Hans.


"AW! Sakit Sayang, kok dicubit sih?" tanya Hans, sambil mengusap perutnya yang bekas cubitan Inayah.


"Rasain! Habis main cium aja sih! Kalau sampai Mbok Iyem lihat, kan malu Bang!" balas Inayah, terlihat kesal.


"Yaa maaf Sayang, itukan salah kamu sendiri, siapa suruh bibir kamu menggoda Abang. Jadinya Abangkan nggak tahan Yank, makanya, Abang ingin menci.."


"Stop! iiis apaan sih Bang! Ayo ikut Nayah!" potong Inayah dan langsung menarik tangan Hans menuju ke kamar mereka membuat Hans tersenyum karena kemenangan.


"Asyiiik! ini merindu membawa berkah"

__ADS_1


__ADS_2