
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
“𝙎𝙚𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙗𝙖-𝙩𝙞𝙗𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖h, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝,𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙤𝙡𝙖𝙠-𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖. 𝙄𝙩𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 ,𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖.”
"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘩𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱,𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢"
(𝓐𝓵𝓲 𝓑𝓲𝓷 𝓐𝓫𝓲 𝓣𝓱𝓪𝓵𝓲𝓫)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Hans berhasil menemukan rumah Inayah. Namun ia begitu terkejut, saat melihat rumah Inayah, belum memakai listrik, padahal tadi disepanjang jalan, saat ia melewati rumah para warga, yang semuanya terlihat terang benderang, karena telah terpasang listrik. Sedangkan rumah Inayah begitu gelap, hanya yang terlihat cahaya lentera dari celah jendela rumahnya yang tertutup gorden.
"Hah, ternyata masih ada ya rumah yang hanya diterangi lampu lentera? Apa dia tidak takut, tinggal di rumah yang lumayan jauh dari tetangganya ya? Kalau ada apa-apa gimana pasti para warga tidak akan ada yang tahu kalau begini mah," gumam Hans, seraya ia melihat sekelilingnya yang nampak gelap. Namun karena ada cahaya bulan, membuat ia dapat melihat barisan pepohonan teh.
"Aah, sudahlah! Sebaiknya aku mengetuk pintunya saja," gumamannya lagi, sambil melangkah menuju menuju pintu. Saat ia hendak mengetuk pintu rumahnya Inayah, sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita yang sedang melantunankan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hans pun langsung mengurungi niatnya untuk mengetuk pintu.
Untuk uk sesaat Hans terdiam, seraya menikmati suara lantunan, yang terdengar begitu merdu. Sehingga hatinya merasakan kenyamanan mendengarnya, hingga rasanya ia ingin terus-menerus mendengarnya. Namun keinginan pupus, karena wanita itu nampaknya telah menyelesaikan kajiannya. Setelah suasana menjadi hening, Hans pun mulai mengetuk pintu rumah kecil tersebut. Dan langsung disahuti dari dalam rumah, tanpa membuka pintu.
"Siapa?" tanya seorang wanita dari dalam. Namun Hans, memilih diam, dan memilih mengetuk pintunya kembali, karena ia berpikir, kalau ia mengeluarkan suaranya, otomatis Inayah akan mengenal suaranya. Dan sudah pasti Inayah tak akan mau membukakan pintunya.
"Siapa ya diluar? Maaf Ana tidak akan membukakan pintu kalau Anda tidak menyebutkan nama Anda!" kata Wanita yang berada di dalam.
__ADS_1
"Hmm.. ternyata dia sangat waspada, rupanya. Tapi baguslah! Jadi dia bisa terhindar dari orang-orang yang bermaksud jahat padanya," gumamam Hans. Seraya ia kembali mengetuk pintu tersebut, seraya ia berkata.
"Inayah? Ini saya Hans, bukalah pintunya!" seru Hans, berharap Inayah mau membukakan pintu untuknya.
"Eh! Mau apa Anda kemari?!" balas wanita itu yang tak lain memang Inayah.
"Buka pintunya dulu Nayah! Kita harus bicara baik-baik!" seru Hans, lagi masih berharap Inayah membukakan pintu untuknya.
"Tidak! Saya tidak akan membukakan pintu untuk Anda! Bukankah Anda berharap saya pergi? Dan sekarang saya sudah memenuhinya, jadi Anda tidak perlu berepot-repot lagi mencari saya!" balas Inayah, yang sepertinya ia sangat enggan membukakan pintu rumahnya.
"Buka dulu Nayah! Atau saya akan mendobrak pintu ini!" kata Hans, yang nampaknya ia sudah habis kesabarannya, "Diamnya kamu itu pertanda kamu setuju saya mendobrak pintunya! Baiklah saya hitung sampai tiga, kalau belum juga dibuka maka jangan salahkan saya bila pintunya rusak!" lanjutnya, lagi karena tadi Inayah tidak memberikan responnya.
"Satu...! Dua...! Ti..." Belum habis Hans menyebutkan kata tiga, Inayah sudah terlebih dahulu membuka pintunya.
"Saya juga tidak akan mendobrak kalau kamu buka dari tadi!" kata Hans, yang langsung nyelonong Bae tanpa menunggu disuruh oleh Inayah. Membuat Inayah kaget melihatnya.
"Eh! Kenapa Anda main masuk saja? Anakan belum menyuruh Anda masuk?" tanya Inayah nampak bingung.
"Kenapa emangnya? Apakah ada larangan seorang suami tidak boleh memasuki rumah istrinya, hm?" tanya Hans terlihat santai, dengan mata yang terlihat sedang melihat sekeliling rumah kecil milik Inayah, yang terlihat hanya memiliki satu kamar, dan dapur kecil yang bersanding dengan kamar mandi.
Mendengar perkataan Hans, Inayah terlihat terkejut, "Suami? Hmm.. Bukankah waktu itu Anda setuju, saat saya ingin pergi? Kenapa sekarang Anda malah mencari saya?" tanya Inayah yang suaranya terdengar datar.
"Benar! Yang kamu katakan itu tidak salah! Saat itu emang aku menginginkan kamu pergi, tapi sebelum aku mengijab kamu! Dan kalau saja pada saat kamu pergi sebelum aku mengijab qobul, mungkin aku tidak perlu repot-repot datang kemari Nayah. Tapi kenyataannya berbeda, kamu pergi setelah aku berijab qobulkan? Dan itu artinya, aku harus bertanggung jawab atas diri kamu!" jelas Hans, seraya ia duduk disebuah tikar anyaman yang kebetulan sedang terbentang diruang tamu rumah Inayah.
__ADS_1
"Tapi bukankah waktu itu, Ana tidak melakukan tanda tangankan, jadi..." Kata Inayah. Namun langsung di potong oleh Hans.
"Ya benar juga! Emang sih di hukum pemerintah nama kita belum tercantum sebagai suami istri. Tapi apa menurut kamu, hukum negara lebih kuat dari hukum agama hm? Jadi aku rasa itu tidak perlu dibahas lagi, karena aku yakin kamu akan lebih tahu Jawabannya. Apalagi kamu seorang Hafidzoh Alimah, tentunya kamu hafal Al-Qur'an dan hadits bukan? Jadi sekarang biarkan aku istirahat, karena aku sangat lelah sekali Nayah," kata Hans, lalu ia pun membaringkan tubuhnya ditikar tempat ia duduk tadi.
Yaa memang terlihat jelas dari raut wajah Hans yang nampak begitu lelah. Karena memang selama mencari Inayah, yang tak sekali pun berkesempatan tidur, karena selalu kepikiran hingga ia sulit untuk tidur. Sehingga ketika ia telah menemukan Inayah, rasa lelah dan rasa ngantuk menjadi satu. Dan rasa kantuknya membuat ia tak memperdulikan tempat yang saat ini ia tiduri. Dengan posisi terlentang dan berbantalkan lengan kanannya, ia pun tertidur pulas.
Sedangkan Inayah hanya terdiam terpaku dengan tatapan kosong memandang Hans, yang sedang tertidur pulas. Karena sebenarnya ia sedang mengingat sebuah hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.
" Ada tiga hal, seriusnya dianggap serius, main-mainnya juga dianggap serius, nikah, talak, dan rujuk." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Penjelasan Ulama
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menjelaskan maksud hadis di atas sebagai berikut.
" Jika ada orang yang melakukan akad nikah dengan main-main atau karena terpaksa, status akadnya sah, karena Rasulullah ﷺ bersabda, 'Ada 3 hal, seriusnya dianggap serius, main-main-nya juga dianggap serius, nikah, talak, dan rujuk.' Riwayat Turmudzi. Dan juga diriwayatkan dari Al Hasan, dari Nabi ﷺ , 'Siapa yang nikah main-main, atau menceraikan istrinya main-main, atau membebaskan budaknya main-main, maka itu sah.' Umar mengatakan, 'Ada 4 hal yang sah ketika sudah diucapkan, talak, nikah, membebaskan budak, dan nazar. Dan ada 4 hal yang tidak ada istilah main-main di sana: talak, membebaskan budak, nikah, dan nadzar"
Mengingat perkara ulama Inayah pun tidak bisa menyangkalnya, lagi. Kalau sosok pria yang sedang tertidur pulas dihadapannya saat ini adalah suaminya. Jadi mau tak mau ia harus menerima kenyataan kalau dirinya saat ini sudah berstatuskan seorang istri.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Dear Readers ♥️.
Beberapa hari yang lalu Author mendapatkan komentar yang nampaknya masih bingung alurnya. Untuk itu Author saran baca novel dibawah ini dulu ya👇👇👇 agar paham. karena Novel ini sambung dari Novel Anak Genius TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN. Jadi baca itu juga ya biar paham Syukron 🙏😉
__ADS_1