GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
ADA APA DENGAN NAAZWA?


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Dalam hidup, cobaan dan kesengsaraan membuat putus asa hingga depresi. Masa-masa sulit adalah bagian dari kehidupan. Kemungkinan masalah yang ada dimaksudkan untuk membuat kita lebih kuat dan lebih dekat dengan Allah.


Nasibmu telah ditulis dengan tinta cinta-Nya dan disegel dengan rahmat-Nya, jadi jangan takut, percayalah pada-Nya dan berharap pada ketetapan-Nya.


So, berbaliklah kepada Allah dan kamu akan menemukan Rahmat-Nya menyembuhkan setiap bagian yang sakit dari hati dan jiwamu."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Di Villa Rio.


Pagi itu Naazwa, terlihat sedang sibuk didapur. Karena ia sedang membuatkan sarapan serta bekal untuk untuk suami dan anak-anak sambungnya. Dan sudah dua bulan juga selama ia menikah dengan Rio, ia terlihat begitu menikmati perannya sebagai seorang istri dan seorang Ibu. Bahkan Naazwa akan terlihat bahagia dikala sedang menyiapkan bekal untuk mereka.


Karena Naazwa selalu menghiasi setiap bekal, dengan hal yang unik-unik untuk quadruplets. Sedangkan untuk Rio, ia selalu menghiasi bekalnya dengan ungkapan cintanya yang terhias di bekal suaminya. Akan tetapi pagi itu ia sedikit berbeda, yang biasanya Ia begitu bersemangat. Namun pagi ini Ia terlihat sedikit lesu dan lemas. Membuat, Bi Surti pembantunya Rio dapat merasakan perubahan pada majikannya itu.


"Neng? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Surti, seraya ia membantu Naazwa, yang sedang menyiapkan bekal.


"Alhamdulillah, Ana baik kok Bi? Emangnya Bi?" tanya Naazwa kembali, tanpa melihat sedikit pun wajah Surti, karena ia terlihat sedang fokus pada pekerjaannya.


"Syukurlah kalau Anda baik Neng. Cuma saja, bibi melihat wajah neng kok agak pucat ya? Apa benaran Anda baik-baik saja Neng? Kalau sakit sebaiknya Neng Istirahat saja, biar bibi nanti yang meneruskannya Neng," balas Surti, terlihat ada kecemasan diraut wajahnya.


"Benaran kok Bi, Ana baik-baik saja!" kata Naazwa, yang kini pandangannya mengarah Surti, seraya ia tersenyum lembut, seakan menunjukkan kalau ia memang sedang baik-baik saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu Neng, bibi senang mendengarnya," balas Surti merasa lega.


"Terima kasih Bi, atas perhatiannya, ya sudah karena bekal sudah siap. Kalau begitu Ana panggil Bang Rio, dan anak-anak dulu ya Bi," ujar Naazwa sembari ia bangkit dari duduknya, saat hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba ia sedikit terhuyung. Membuat Surti kaget, dan langsung memegang tubuh Naazwa.


"Astaghfirullah Neng! Hati-hati, seperti Eneng tidak baik-baik saja! Apakah perlu saya panggilkan Den Brian?" ujar Surti, terlihat cemas.


"Tidak-tidak Bi, Ana baik-baik saja kok, tadi Ana hanya sedikit pitam saja sekarang udah nggak papa kok Bi," balas Naazwa, kembali tersenyum lembut pada Surti.


"Benaran Eneng nggak papa?"


"Iya Bi, benaran! Ya sudah Ana panggil Bang Brian dan Anak-anak dulu ya?"


"Iya Neng hati-hati ya?'


"Iya Bi,"


"Assalamu'alaikum," ucap Naazwa, saat memasuki kamarnya.


"Wa'alaikumus salam," jawab Rio, sembari menoleh ke arah Naazwa, secara singkat. Lalu ia kembali fokus pada dasinya yang sedang ia simpul.


"Belum siap ya Bei?" tanya Naazwa, yang sedang menghampiri suaminya, "Hum..kok tumben pakei dasi segala? Biasanya nggak makaikan?" tanyanya lagi terlihat penasaran.


"Iya hari ini, Bibei ada meeting penting, dari pihak luar. Makanya Bibei harus menyeimbangi penampilannya dong," jelas Rio, yang terlihat masih fokus pada dasinya, yang sepertinya ia sedikit kesulitan. Karena memang sudah lama sekali ia tak pernah lagi memakai dasi. Terakhir kali ia memakai dasi ketika ia diajak Daffin kepertemuan dikapal pesiar, dan sempat menghilang saat menyelamatkan Daffin.


Melihat suaminya terlihat kesulitan Naazwa pun mendekatinya, dan langsung mengambil alih, "Sini Zwaa bantu," katanya, dan ia pun mulai menyimpulkan dasi sang Suaminya. Yang terlihat hanya diam dan hanya memperhatikan wajah cantik istrinya. Dan entah mengapa tiba-tiba ia teringat pada Cindy. Mungkin karena semasa Cindy masih ada dialah yang selalu memakaikan dasi untuknya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah rapih! Hum.. tambah tampan ya suaminya Zwa," kata Naazwa, seraya tersenyum senang, setelah ia selesai memakaikan dasi untuk suaminya.


"Terima kasih Acha," balas Rio, seraya ia memeluk tubuh Naazwa, begitu erat. Sedangkan Naazwa begitu terkejut, saat Rio menyebutnya dengan nama Acha. Ditambah lagi pelukan Rio terasa berbeda baginya. Seperti pelukan melepaskan kerinduan untuk seseorang. Dan itu membuat Naazwa, menjadi risih hingga dengan spontan ia mendorong tubuh suaminya.


"Maaf Bang! Ana bukan Acha!" kata Naazwa terdengar ketus,


"Eh! Maaf Naaz! Bibei tadi..." balas Rio. Namun, Naazwa melengos dan langsung berjalan menuju pintu, tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya. Dan disaat tangannya sudah meraih handel pintu,


"Kalau Abang sudah siap, segeralah turun karena anak-anak sudah menunggu di meja makan!" kata Naazwa masih terdengar ketus. Lalu ia pun pergi begitu saja. Membuat Rio, terlihat heran dengan sikap Naazwa yang tidak biasanya.


"Eh! Ada apa dengan Naazwa? Kenapa sikapnya aneh begitu? Aah! Ini gara-gara mulut! Pakai salah sebut nama segala! Hmm..tapi tadi kenapa aku seperti melihat sosok Acha pada Naazwa ya? Makanya tanpa sadar aku menyebut namanya. Eh tapi tunggu dulu! Kayaknya bukan hari ini saja deh, Aku menyebut nama Acha. Tapi dia nggak pernah marah seperti tadi deh," gumam Rio yang nampaknya agak bingung dengan sikap Naazwa hari ini.


"Aah, sudahlah, sebaiknya aku minta maaf saja sekarang," gumamnya lagi, lalu ia pun melangkah keluar dari kamarnya. Dan langsung menuju ke ruang makan. Sesampainya diruang makan, Rio melihat anak-anaknya yang ternyata sudah menyantap terlebih dahulu sarapannya.


"Loh kok tumben nggak nunggu Ayah makannya? Apakah kalian tadi sudah berdoa?" tanya Rio pada quadruplets.


"Sudah dong! Habis Ayah lama sih! Jadi kami makan duluan deh! Dan doanya masing-masing," balas Fasya, dengan mulut yang sedang penuh makanan.


"Ooh, maaf tadi Ayah...." kata Rio, dengan mata melirik ke arah Naazwa, yang terlihat ia sedang mencelupkan buah pisang kedalam gelas, yang berisikan jus jeruk, lalu memakannya. Membuat Rio terperangah melihatnya, sehingga ia tak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Hah? Naaz, apa yang kamu makan? Kenapa pisang dicelup ke jus jeruk gitu sih? Emangnya itu roti apa?" tanya Rio, merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Naazwa, "Eh tunggu dulu, bukannya kamu nggak suka pisang ya?" tanyanya lagi terlihat heran.


"Humm!" dengus Naazwa seraya ia membuang wajahnya. Namun ia masih tetap memakan pisang yang dicelupkan ke dalam orange juznya.


"Apa yang terjadi pada istriku? Kenapa sikapnya Aneh banget sih?"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2