
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
SAHABAT.. Menjalani hidup adalah memilih. Namun untuk memilih dengan baik, kita harus tahu siapa diri kita. Apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan. Kemana kita akan pergi, mengapa kita harus sampai di sana.
Dunia bukanlah tujuan. Dunia itu sebuah perjalanan. Setiap nafas yang terhembus hari ini, setiap detak jantung yang berdegup detik ini, setiap kaki yang kita langkahkan tempo lalu, janganlah menjadi hembusan, degupan dan langkah yang sia-sia,
Jangan menjadi lemah karena langkah salah yang telah kita tapakkan. Janganlah mencari Allah karena kita membutuhkan jawaban, tapi carilah Allah karena kita tahu bahwa Dia lah jawaban yang kita butuhkan.
Bergegas dan berhati-hatilah, waktu kita tak jelas, kesempatan kita terbatas, Untuk menggapai bahagia di kehidupan sebenarnya, Karena kehidupan yang sebenarnya adalah hidup setelah mati.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Di Aula Hotel.
Setelah di make over oleh Joy, Hans terlihat begitu tampan, dengan setelan jas putih berkerahkan Koko, serta celana berwarna senada dengan jasnya. Walaupun pun pada awalnya, membuat Dimas dan Dika kerepotan. Namun hasilnya membuat mereka terpuaskan. Terutama Joy, ia tampak begitu senang, melihat hasil yang ia ciptakan. Walaupun kaki, masih terasa sakit akibat tendangan Hans. Karena ia sempat memberontak.
"Huuft! Akhirnya siap jugakan! Tapi, huh! Kalau saja, yey bukan temannya Mas Ardiyan! Eyke nggak sudi memake over yey tau!" ujar Joy, sedikit kesal, tapi tetap saja masih dengan gaya ngondeknya.
"Cih! Gue juga nggak syudi Lo sentuh lagi! Nazis gue!" balas Hans, dengan tatapan mata yang terlihat amat dingin sekali pada Joy.
"Yee.. Siapa juga yang mau menyentuh Yey lagi! Yang ada Kaki Eyke pasti pada babak belur semua tau! Huh! Untung saja yey ganteng, kalau tidak Eyke sudah minggat dari tadi kali!" kata Joy, lagi. Seraya ia mengedipkan matanya, pada Hans membuat Hans bergidik melihatnya.
"Hiiiiih..! Gue colok juga mata lu ya!" ancam Hans, sambil memberikan tatapan tajam pada Joy. Membuat Joy gantian bergidik.
"Eeeeh! Sudah-sudah kok jadi pada berdebat sih! Itu para tamu sudah pada nungguin tau! Masa pengantin nggak keluar-keluar sih?" tegur Ardiyan, mengingatkan Hans dan Joy.
"Maaf Mas Diyan! Oh iya, Mas Diyan mau Eyke make over jugakah? Kalau mau Sini mas, biar Eyke make up," ujar Joy, dengan tutur kata terdengar manja.
__ADS_1
"Tidak Joy! Terima kasih," balas Ardiyan singkat, setelah itu ia malah menghampiri Hans, "Ayo Hans kita keluar, Inayah juga sudah siap tuh, jadi kita langsung saja ketempat Inayah dulu," ajak Ardiyan.
"Baik Pak!" balas Hans singkat. Lalu ia pun mengikuti langkahnya Ardiyan, menuju ke ruangan tempat Inayah di make over juga. Sesampainya diruangan tersebut Hans langsung tercengang ketika melihat seorang wanita bercadar yang memakai gaun putih berserta hijab dan cadarnya yang serba putih yang berpadu dengan bunga brodiran berwarna silver.
"Eh, Dia siapa?" tanya Hans, yang tampaknya ia tak mengenali Inayah.
"Apa Hans? Lo bertanya Dia siapa? Ya dia Istri lo lah! Emangnya siapa lagi? Nggak mungkin bini guekan?" balas Dimas yang ternyata ia juga ikut mengiringi Hans
"Eh! Benarkah?" tanya Hans, seraya ia memperhatikan matanya Wanita bercadar tersebut, dan ketika wanita ia menyipitkan matanya pada Hans, menandakan ia sedang tersenyum. Hans langsung bisa mengenali wanita bercadar tersebut.
"Aah, iya ternyata benaran Nayahku," kata Hans, dengan kata ku nya terdengar lirih. Hans pun membalas senyumannya Nayah.
"Haiiis... kok jadi malah tengok-tengokkan sih! Sudah ayo kita ketempat acara! Tidak enak dengan para tamu yang sudah menunggu sejak tadi!" tegur Ardiyan.
"Iya Bang," balas Inayah lirih. Lalu keduanya pun melangkah terlebih dahulu. Sedangkan Ardiyan, Anisah, Dimas, Lisa serta Dika dan Nina. Berjalan dibelakang Hans dan Inayah.
Mereka terus berjalan perlahan-lahan saling beriring-iringan menuju ke pelaminan yang telah dipersiapkan di dalam Aula Hotel. Susana acara walimah'ursnya Hans dan Inayah terlihat begitu meriah. Suara lantunan sholawat badar pun mengiringi langkah mereka menuju pelaminan. Dan para tamu pun menyambutnya dengan suka cita atas kedatangan para iring-iringan pengantin.
Setelah keduanya telah duduk di pelaminan. Para sahabat Hans maupun para sahabatnya Inayah pun berdatangan silih berganti, untuk memberikan ucapan selamat serta doa bagi kedua mempelai. Dan tak lupa juga mereka berfoto bersama, agar menjadi kenangan yang abadi. Acara ditentukan hanya beberapa jam saja. Sehingga tanpa terasa acara pun selesai, dan para tamu pun sudah berpulangan tinggallah Ardiyan berserta para sahabatnya.
"Sekali lagi selamat ya Hans, semoga Allah memberikan Ridho-Nya serta keberkahan pada hubungan kalian, hingga Jannah-Nya," ucap Ardiyan, seraya ia memeluk tubuh Hans. Begitu juga dengan Anisah, pada Inayah.
"Selamat ya Sayangku," ucap Anisah seraya ia memeluk Inayah, lalu ia pun memberikan doanya padanya "Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir" ucapnya terdengar begitu tulus.
Artinya: “Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang atau susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan”. (HR. Abu Dawud)
"Aamiin-Aamin ya Rabbal'alamiin. Syukron ya Ustadzah," balas Inayah, seraya menyambut pelukannya Anisah. Begitulah seterusnya para sahabat Ardiyan juga memberikan ucapan serta doa untuk Hans dan Inayah. Setelah selesai, Rio pun memberikan sesuatu pada Hans.
__ADS_1
"Hans, nih bonus dari hotel ini! Mereka memberikan kesempatan untuk berbulan madu di hotel ini selama satu Minggu!" kata Rio, seraya ia memberikan sebuah kartu pada Hans.
"Maa shaa Allah, Terima kasih banyak Pak Brian!" balas Hans seraya ia menyalami tangan Rio.
"Sama-sama Hans, ya sudah kalau begitu kami pamit pulang ya Hans, dan selamat berbulan madu!" kata Rio, yang kemudian ia kembali menyalami Hans.
"Terima kasih Pak!" balas Hans, begitu juga dengan Ardiyan dan para teman-temannya akhirnya mereka pun berpulangan.
"Ayo Sayang, kita istirahat, kamu pasti capekkan?" ajak Hans setelah kepergian Ardiyan dan para sahabatnya.
"Iya Bang," balas Inayah, lalu keduanya pun langsung menuju ke kamar Hotel, yang sudah dipersiapkan oleh pihak Hotel. Sesampainya mereka di sana, Inayah tampak terkagum melihat dekorasi kamar tersebut.
Namun tidak bagi Hans, ia malah terlihat tidak menyukainya, "Apa-apaan ini! Kamar begini jorok segala kelopak bunga berserakan lagi! Gimana mau istirahat kalau begini!"
...••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...
Terus dukung author ya guys 🙏
Oh iya Author mau minta tolong pada pemilik Akun dibawah ini. 👇
Saya tahu Anda selalu mengikuti cerita di novel ini. Tapi please, bila Anda kecewa dalam perbabnya saya minta jangan ngasih bintang satu. 🌟, Padahal saat Anda menyukai salah satu pebabnya Anda tidak pernah sekalipun ngasih bintang limakan 5? Jadi Please 🙏 tolong saya jangan terus-terusan ngasih bintang satu 1 itu hanya menjatuhkan reting novel ini, sekali lagi saya, mohon jangan hancurkan karya orang lain 🙏 Saya lebih baik tidak usah dikomentari dari pada hanya menghancurkan.
Kalau Anda memang ingin berkomentar. berkomentarlah ditempat yang saya beri tanda contreng merah ya. Sekali lagi saya mohon tolong saya 🙏
__ADS_1