
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
🌹SEMUA HANYA TITIPAN🌹
Meyakini bahwa apa yang kita miliki hari ini hanyalah titipan dari Allah, membuat kita lebih mudah melepaskan apa-apa yang ada dalam genggaman. Meyakini bahwa teman, sahabat, keluarga, orangtua, bahkan pasangan adalah titipan dari Allah, akan membuat kita lebih ringan apabila harus kehilangan. Semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kapan saja. Dan sebagai orang yang beriman, tentu kita akan ikhlas sepenuh hati apabila pemiliknya memintanya kembali.
“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” [Q.S An-Nisa: 126].
Bahkan tubuh ini pun bukan milik kita.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali".
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Keesokan harinya.
Dipagi harinya setelah melakukan sarapan bersama Rio pun membawa keluarganya, ke makamnya Cindy. Ini pertama kalinya Naazwa ikut menyekar kesana. Setelah melakukan perjalanan yang menepuh jarak lumayan jauh. Akhirnya mobil yang di kemudijan oleh Gilang itu pun terparkir tepat didepan gerbang makam. Karena memang hari masih pagi, sekitar makam terlihat begitu sepi. Bahkan pedagang bunga pun tak terlihat satu pun. Membuat Yumna terlihat sedih. Karena biasanya ia lah, yang akan terlebih dahulu menghampiri pedagang Bunga.
"Yaah..Dad, tukang bunganya nggak ada! Lalu bagaimana kita ke makam Mamah kalau nggak ada bunganya?" keluh gadis kecil itu, yang wajahnya terlihat sedih. Naazwa pun tersenyum melihat wajah yang bibirnya terlihat cemberut.
"Memangnya bunga itu untuk apa Nak?" tanya Naazwa dengan lembut.
__ADS_1
"Ya untuk ditabur dikuburan Mamah dong My," balas Yumna.
"Ooh.. ya sudah kalau tidak ada bunga yang untuk ditabur. Gimana kalau kita ganti dengan menabur doa. Pasti Mamah kalian akan lebih senang loh kalau ditaburi doa oleh anak-anak yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng ini. Percaya deh sama Mymah, pasti Mamah kalian akan tersenyum bahagia, karena putra dan putrinya telah menaburi doa, untuknyakan?" tutur Naazwa dengan lembutnya. Seraya ia mengelus kepala Yumna dengan penuh kasih sayang. Dan saat bersamaan.
"Benar Yumna, doa malah jauh lebih baik ketimbang bunga. Jadi mengapa sedih kalau tidak ada bunga,"
Mendengar kata-kata, dari seseorang, spontan Rio, Naazwa dan quadruplets, langsung menoleh ke sumber suara.
"A'a Amy, kak Ziah, Papah Affin Mamah!" ujar Yumna, yang wajahnya langsung berubah sumringah. Ketika ia melihat keluarga Daffin telah datang.
"Assalamu'alaikum" ucap keluarga Daffin Seca bersamaan.
"Wa'alaikumus salam," jawab keluarga Rio, yang juga terdengar kompak.
"Heh.. keren banget informan lu!" celetuk Rio, seraya tersenyum miring.
"Itu sudah termasuk terlambat! Padahal kalian sampainya tadi malamkan?" balas Daffin.
"Eeeh, kok jadi malah bahas yang nggak penting sih? Kitakan kesini mau berziarahkan? Jadi ayo dong kita ke makam Cindy! Nanti keburu panas kan kasihan sama anak-anak," tegur Meira, karena ia tahu, kalau kedua laki-laki itu bertemu, pasti ada saja yang akan menjadi perdebatan untuk mereka. Makanya sebelum itu terjadi ia pun harus berinisiatif terlebih dahulu.
"Benar kata Ty Ira Bang, sebaiknya kita, secepatnya ziarah kubur dulu. Agar anak-anak tidak kepanasankan," sambung Naazwa, sambil meraih tangan Yumna dan Yunda.
"Ya sudah kalau, ayo kita ke makam," ajak Rio, sembari ia meraih tangan kedua putranya. Dan akhirnya mereka semua pun mulai berjalan memasuki gerbang makam. Dan menelusuri jalan setapak diarea pemakaman tersebut. Hingga pada saat mereka mulai mendekati makam Cindy, tiba-tiba Yumna, menarik tangan yang sedang dipanggang oleh Naazwa. Lalu ia pun langsung berlari menuju makam sang Ibu terlebih dahulu. Membuat Naazwa sedikit terkejut, juga khawatir.
"Astaghfirullah Yumna! Kamu mau.." tegur Naazwa, namun langsung di potong oleh Rio.
__ADS_1
"Sudah nggak papa Naz, dia memang selalu begitu. Itu karena ia ingin lebih dahulu menyapa Ibunya," jelas Rio, apa adanya.
"Oooh.." balas Naazwa hanya ber oh ria saja.
Sementara Yumna yang terlebih dahulu pergi kemakam sang Ibu, kini sudah berdiri tepat disisi batu nisannya Cindy, "Assalamu'alaikum Mama," ucapnya seraya ia mencium batu Nisan tersebut.
"Mama senang nggak Umna datang? Mama pasti juga kangenkan sama Umana?" ucap si kecil, seraya ia memunguti daun kering yang berada di rerumputan tepat diatas makam,
"Tapi maaf ya Mah, Umna nggak bawa bunga untuk Mama. Tapi Mama jangan khawatir, karena hari ini Umna akan menaburi Mama dengan doa kok. Jadi Mama jangan sedih lagi ya? Oh iya, Mah, Umnah datang sama Mymah juga loh. Nanti Mamah kenalan ya sama Mymah," kata Yuman lagi, yang kini matanya malah melihat disekitar pemakaman, yang kebetulan tak berapa jauh dari makam Cindy, ada sebuah pohon Kamboja yang terlihat dibawahnyan bertebaran bunga putih tersebut.
"Eh, disana ada bunga! Tunggu ya Mah, Umna ambil bunga itu dulu," kata Yumna, yang kemudian ia mendekati pohon Kamboja tersebut. Dan mengambil bunga-bunga yang berserakan di bawahnya.
"Eh, Yumna mau ngapain itu Bei?" tanya Naazwa, yang ternyata ia memperhatikan gerak-geriknya Yumna.
"Dia cuma mau ngambil bunga-bunga itu saja kok Naz, mungkin dia ingin meletakkannya dimakam ibunya," balas Rio. Dan benar saja, setelah bunga terkumpul Yumna pun kembali kemakam sang ibu. lalu ia menyusun bunga-bunga tersebut diatas makam sang Ibu.
"Alhamdulillah, kuburan Mamah sudah cantikkan?" kata Yumna seraya ia tersenyum manis. Membuat Naazwa, Rio, Daffin maupun Meira tersenyum melihatnya.
"Maa shaa Allah, segitu senangnya dia, cuma hanya menghiasi kuburan ibunya," kata Naazwa, begitu haru.
"Alhamdulillah, memang seperti itulah Yumna, kesederhanaannya mirip sekali dengan ibunya," kata Meira, yang juga terlihat begitu haru.
"Ya sudah sekarang kita berdo'a dulu yuk, nanti keburu panas," ajak Rio, yang kini ia sudah bersimpuh disisi makamnya Cindy. Lalu Rio pun langsung mengajak mereka semua berdoa dengan ia yang memimpin doa tersebut.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1