
••══❉্᭄͜͡💚 Mutiara Alfaqiroh💚❉্᭄͜͡══••
"Jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah memperlancar, karena yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya untuk menemukanmu."
[ Sayyidina Ali bin Abi Thalib ]
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•
"Maaf Abi, Saya, saya..." Hans, terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Ustadz Khairul maupun Ustadz Marwan.
"Ada apa Nak? Apakah ada yang mengganjal dihatimu? Sehingga kamu ragu seperti itu hm?" tanya Ustadz Khairul penasaran.
"Maaf Abi, jujur, saya memang ragu dengan pernikahan ini Abi," balas Hans, sontak semua mata langsung tertuju pada Hans, termasuk Naazwa dengan tatapan penasaran pada Hans.
"Apa maksud kamu Hans? Bukankah tadi kamu terllihat begitu bersemangat? Mengapa sekarang kamu meragu Hans?" tanya Ardiyan, yang kebetulan ia duduk tak berapa jauh dari Hans.
"Maaf Pak, Tapi saya memang ragu, apakah pernikahan ini benar? Saya bisa saja melanjutkan pernikahan ini. Tapi setelah itu mungkin saya akan dicap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan bukan?" balas Hans, sambil menyunggingkan senyuman kecutnya
__ADS_1
"Mengapa kamu bisa berpikir seperti itu Hans?" tanya Ardiyan lagi, ia seperti tidak memahami perkataan dari asisten pribadinya itu.
"Saya akan menjelaskanmya Pak! Tapi bisakah Anda panggilkan Pak Brian terlebih dahulu, Pak?"
"Rio? Untuk apa kamu meminta dia kembali Hans?"
"Karena saya ingin menuntut Dia Pak!" tegas Hans, membuat para teman Ardiyan kaget mendengarnya dan itu termasuk Wira, selaku temannya Rio.
"Menuntutnya? Sebenarnya apa yang telah dia lakukan Hans? Sampai-Sampai kamu ingin menuntutnya, hm?" tanya Wira, semakin penasaran. Karena bagaimanapun Wira jadi merasa tidak enak karena dialah yang memperkenalkan pada mereka.
"Maaf Pak Wira kalau saya berkata tidak mengenakan hati Pak Wira. Tapi kenyataannya teman Pak Wira sudah mencuri sesuatu yang berharga dari saya! Jadi apakah saya salah, bila menuntutnya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya Pak?"
Mendengar perkataan Hans, Wira menggeretekkan giginya. Ia nampak geram dengan apa yang dia dengar tentang sahabatnya itu. Ia tak menyangka kalau Rio bisa melakukan hal sehina itu. Sehingga dengan spontan Wira bangkit dari duduknya, seraya berkata.
"Brian! Tunggu!" teriak Wira, dengan wajah yang terlihat dipenuhi dengan amarahnya.
Merasa ada yang memanggil namanya, seketika Rio pun menoleh ke sumber suara, "Wira? Ada apa dengan wajahnya?" gumamnya sambil mengerutkan keningnya.
"Ada apa Wir? Kenapa wajah Lo seakan mau nerkam gue seperti itu? Jangan pasang wajah yang membuat kedua putri gue takut seperti itu!" ujar Rio, karena ia dapat merasakan kalau kedua putrinya seperti ketakutan sehingga keduanya menyembunyikan wajahnya kebahu sang Ayah.
"Aah, sorry! Gue nggak bermaksud menakutkan mereka! Tapi memang sebenarnya gue ingin menghajar Lo! Beruntung Lo dilindungi oleh kedua putri Lo kalau tidak Lo bakalan habis ma gue!" ujar Wira, yang sebenarnya ia masih geram pada Rio, namun karena ia juga tak ingin membuat kedua putrinya takut akhirnya ia meredamkan amarahnya.
__ADS_1
"Apa maksud Lo? Mengapa Lo ingin menghajar gue?" tanya Rio, terlihat bingung.
"Aah banyak omong Lo! Sekarang katakan pada gue! Sebenarnya apa yang sudah Lo curi dari Hans, hah?!"
Rio langsung tersentak saat mendengar tuduhan Wira terhadapnya, "Hah! Apa yang Lo katakan? Gue mencuri? Hei.. Bro! Jangan menuduh sembarangan sama gue! Asal Lo tahu ya! Sesulit apapun hidup gue! Tapi gue tidak akan melakukan hal yang hina itu! jadi camkan itu sama Lo!" hardiknya dengan tatapan geram pada Wira, karena ia dituduh pencuri olehnya.
"Benarkah? Kalau begitu sabaiknya Lo masuk dulu ke mesjid untuk mengklarifikasi tuduhan Hans yang mengatakan Lo sudah mencuri sesuatu yang berharga miliknya," balas Wira, dan tanpa berkata apapun Rio, langsung kembali ke mesjid dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
Sesampainya didepan mesjid, ia langsung menyerahkan Yumna dan Yunda yang masih didalam gendongnya pada Harun. Setelah itu dengan wajah yang sudah dirundung amarah ia pun masuk tanpa mempedulikan tatapan mata semua orang yang sedang mengarah padanya. Dan setibanya ia didepan meja untuk ijab qobul, ia langsung menarik kerah baju Hans tanpa segan sedikitpun pada para Ustadz yang ada disana.
"Hei! Apa maksud Lo menuduh gue sebagai pencuri hah?!" bentak Rio yang terlihat ia amat geram sekali pada Hans, "Kapan gue mencuri barang berharga Lo hah?! Apa Dimata Lo gue punya tampang melakukan hal yang hina itu hah?! Dasar brengsek! Sembarang saja Lo nuduh gue!" murka Rio, yang hampir saja ia melayangkan tinjunya, untung saja Ardiyan langsung menahan tangannya.
"Tenanglah Brian! kita bisa bicarakan dengan baik-baikkan?" seru Ardiyan menenangkan Rio. Sambil berusaha melepaskan tangan Rio yang masih menarik kerah baju Hans, "Hans sekarang jelaskan apa masud tuduhan kamu, pada Brian hm? " tanyanya lagi pada Hans
"Iya Nak jelaskanlah! Ingatlah kamu tidak boleh asal menuduh tanpa ada bukti, karena itu jatuhnya fitnah dan fitnah dosanya lebih besar dari pada pembunuhan Nak," sambung Ustadz Khairul, yang terlihat ikut Manarik tubuh Rio. Hingga akhirnya Rio melepaskan kerah baju Hans.
"Saya tidak menuduh sembarangan Abi, dan buktinya sangat nyata. Kalau pak Brian dan keluarganya sudah mencuri pandangan calon istri saya! Sampai-sampai ia menangis terisak seperti itu!" kata Hans, sambil ia menatap wajah Naazwa yang terlihat masih menyisakan isaknya satu dua.
Mendengar perkataan Hans, sontak semuanya kaget, dan langsung menatap ke wajahnya Naazwa yang terlihat bingung dengan apa yang telah terjadi. Begitu juga dengan Rio, yang pandangannya ikut mengarah ke Naazwa.
"Jadi saya menuntut Pak Brian untuk mempertanggung jawabkannya! Dengan cara Nikahin dia sekarang juga!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...