GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
KEKESALAN RIO.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Jika Allah menghadirkan seseorang yang menghadiahkan air mata, itu berarti Allah mendidik kita untuk SABAR.


Jika Allah mempertemukan kita dengan seseorang yang membuat kita tersenyum, saat itu Allah mengajarkan kita rasa SYUKUR..


Jika tanpa sebab seseorang hadir menghina kita, saat itu, Allah mendidik kita untuk RIDHA dan memacu diri lebih baik.


Sabar, ridha dan syukurlah atas apa yang hadir menyapa dalam kehidupan kita sekalipun itu tidak kita sukai. Boleh jadi itu cara terindah dari Allah untuk menempa pribadi kita agar kian mulia dan dirahmati-Nya."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ*__


•┈•✾•◆❀◆•✾••┈💚┈••✾•◆❀◆•✾•┈•


Keesokan paginya.


Seperti biasa Naazwa akan terbangun di waktu subuh. Padahal malam itu ia tertidur sudah jam dua pagi. Namun ia akan tetap terbangun, di jam berapa pun ia tertidurnya. Seperti saat ini, bermaksud bangkit dari tidurnya. Namun tangannya terasa ditahan sesuatu. Karena penasaran akhirnya Naazwa pun menolehkan kepalanya, dan ternyata tangannya sedang digenggam oleh tangan Rio, yang terlihat masih tertidur pulas dengan posisi duduk.


Namun kepalanya berada diatas ranjang dengan tangan kirinya sebagai bantalnya dan tangan kanan memegang tangan Naazwa. Melihat itu Naazwa tersenyum seraya ia membelai rambut suaminya. Bahkan ia juga memberikan kecupan lembut pada pipihnya. Karena merasa tidurnya telah terusik, Rio pun terbangun dari tidurnya.


"Alhamdulillah, akhirnya Abang bangun juga, kita sholat subuh berjamaah yuk Bang?" ujar Naazwa begitu lembut, dengan tangan masih mengusap rambutnya Rio. Membuat hati Rio menghangat, karena sudah cukup lama ia tak merasakan perhatian dari seorang istri.


"He'em... pergilah kekamar mandi duluan, nanti setelah kamu baru Aku," ucap Rio, dengan suara yang terdengar serak, ciri khas orang bangun tidurnya.

__ADS_1


"Baiklah Suamiku, kalau begitu Azwa duluan ya," balas Naazwa, sembari ia turun dari tempat tidurnya. Dan langsung melangkah menuju kamar mandi. Rio yang mendengar kata suami, membuat ia tersenyum tipis.


"Suamiku? Hmm..gadis kecil ini, benar-benar pintar sekali menggodaku, bikin gemas aja sih!" gumam Rio, yang terlihat masih menatap pintu kamar mandinya. Dan tak berapa lama ia pun bangkit dari duduknya, dengan mata yang kini mengarah ke putrinya yang terlihat masih tertidur, Rio pun membenarkan selimut sang putri, serta memberikan kecupan lembut pada dahinya.


Pada saat bersamaan, Naazwa pun keluar dari kamar mandinya, "Bang, Azwa sudah selesai berwudhu, sekarang giliran Abang, pergilah berwudhu Bang," ujarnya, sembari ia melangkah kesebuah meja, yang diatasnya ada sebuah sejadah.


"Hmm" balas Rio yang hanya berhmm saja, sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan lima belas menit kemudian, ia kembali keluar, dengan wajah yang terlihat basah dengan air wudhunya. Setelah itu mereka melaksanakan kewajibannya terhadap Rabb-Nya


Setelah melakukan Dzikir dan doa bersama, Naazwa pun langsung meraih tangan suaminya serta memberikan kecupan lembut disana. Setelah usai Rio memberikan kecupan lembut pada dahinya. Setelahnya ia menatap lekat wajah istrinya dengan tatapan lembut.Tanpa sadar tatapannya kini beralih kebibir Naazwa yang terlihat merah merona.Terlihat jelas Rio menelan Silvanya dengan paksa. Ia juga terlihat begitu ingin menikmati bibir yang tadi malam hampir ia raih.


"Naaz? Bolehkah aku mencium bibir kamu?" pinta Rio tanpa basa-basi lagi.


Naazwa tersenyum lembut, "Bang? Kenapa minta izin? Bukankah Azwa sudah halal buat Abang? Jadi bila Abang, menginginkannya, maka ambillah Bang," balasnya dengan ucapan yang begitu lembut.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi," kata Rio, seraya ia mendekati wajahnya ke wajahnya Naazwa. Lalu dengan perlahan ia juga mendekati bibirnya ke bibir istri kecilnya itu. Dan ketika bibir mereka sudah hampir bersentuhan Tiba-tiba..


Rio nampak mengeraskan rahangnya, terlihat sekali ia mulai kesal. Karena disetiap momen tersebut, Yumna, selalu menggagalkan keinginan, "Huh! Mengapa setiap seperti ini, anak kecil itu selalu mengganggu saja sih! Bikin kesal saja!" gerutunya, sambil mengacak rambutnya. Dan ternyata Naazwa mendengar gerutuannya Suaminya.


"Bang Brian! Bisakah berkata yang baik-baik saja? Lagian Yumna masih sakit Bang," tegur Naazwa, sambil memasang wajah cemberutnya. Yang sebenarnya ia bermaksud menunjukkan bahwa dirinya sedang marah pada suaminya, yang berkata kasar pada anaknya.


Namun justru membuat jantung Rio semakin tidak menentu rasanya ia ingin segera meraih tubuh kecil itu, lalu menciumi bibirnya, yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Namun karena saat ini Yumna sedang berada dipeluknya membuat ia tak bisa melakukan apa-apa. Walau bagaimanapun, anak adalah prioritas utamanya.


"Hmm, maaf! Ya sudah kalian tunggulah disini, aku mau pergi membeli sarapan dulu," ujar Rio, seraya ia berjalan keluar. Terlihat jelas ia masih sedikit kesal. Sehingga ia pergi tanpa berbasa-basi dulu pada putrinya.

__ADS_1


"Mymah? Apakah Daddy sedang marah?" tanya si kecil Yumna, yang ternyata ia memperhatikan raut wajah sang Ayah.


"Marah? Nggak kok, itu hanya perasaan Yumna aja kali? Sayang, Daddy seperti itu mungkin karena sudah sangat lapar. Makanya Daddy Yumna tadi terburu-buru ingin secepat membeli makanannya, Nak," balas Naazwa, menutupi kekesalan Rio. Agar Yumna, tak berprasangka buruk terhadap Ayahnya.


"Ya sudah jangan berpikir yang tidak-tidak lagi ya? Gimana kalau Mymah mandiin kamu, mau tidak Sayang?" rayunya lagi mengalihkan pembicaraan.


"Mau Mymah, Umna emang sudah gerah banget," balas Yumna Antusias.


"Alhamdulillah, ya sudah ayo Mymah gendong," Naazwa pun langsung menggendong Yumna, dan membawanya ke kamar mandi, dan memandikannya.


...*****...


Sementara disisi lain.


Rio yang baru saja keluar dari kamar rawat Yumna, masih terlihat kesal. Dan terlihat juga ia masih menggerutu, disepanjang ia menulusuri koridor rumah sakit. Sampai-sampai ia tak menyadari kalau ada beberapa orang sedang memperhatikannya. Dan bahkan salah satu dari mereka sengaja, menghalangi jalannya, sehingga mereka saling bertabrakan.


"Woy! Punya Mata nggak sih!" bentak Rio, seraya ia menoleh, untuk melihat siapa yang telah menabraknya.


"Yang nggak punya mata itu Lo! Sampai-sampai ada orang didepan Lo, nggak kelihatan!" ujar orang tersebut tanpa membalikkan tubuhnya. Membuat Rio, semakin emosi, karena tak dapat melihat wajah orang tersebut.


"Cih! Kalau gue nggak punya mata, seharusnya Lo yang punya mata menghindar dong! Kenapa malah sengaja menabrak gue hah?! Apa sebenarnya Lo juga nggak punya matakah hah?!" seru Rio, yang memang pada dasarnya ia sedang dirundung kekesalan. Di tambah lagi, dengan insiden tersebut, membuat emosinya semakin meluap-luap. Sehingga ia tak memperdulikan dengan siapa ia sedang berbicara.


"Astaghfirullah! Kenapa kalian jadi berdebat sih! Nggak ingat ini rumah sakit, hm?" tegur seorang perempuan. Dan Seketika Rio menoleh ke arah sumber suara karena, ia merasa mengenali suara tersebut.

__ADS_1


"Meira?!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2