
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.”
(Diriwayatkan dari Maisarah bin Ali)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
"Kamu tidak Salah Naaz. Akulah yang bersalah, Karena aku telah menyakiti hatimu. jadi Maafin Aku Naazwa,"
Naazwa, tersentak saat mendengar perkataan Suaminya yang terdengar masih melemah. Naazwa pun segera berdiri agar ia bisa mendekati wajah Suaminya, karena Rio terlihat agak sulitan untuk melihat wajah istrinya.
"Alhamdulillah, Abang sudah sadar?" tanya Naazwa, terlihat begitu senang melihat Rio telah membuka matanya.
"Kenapa kamu tidak membalas perkataanku Naaz?" tanya Rio, dengan tatapan terlihat sendu.
"Karena Zwa, sudah memaafkan Abang, sebelum Abang memintanya," balas Naazwa, seraya ia tersenyum lembut pada Rio.
"Benarkah? Kalau begitu apa buktinya?"
"Abang mau Zwa membuktikan seperti apa?" tanya Naazwa balik.
"Panggil aku Sayang, karena aku tidak nyaman dipanggil Abang, serasa aku ini tukang becak!" balas Rio, dengan memasang wajah ketidak sukaan terhadap panggilan Abang.
"Baiklah, Zwa, akan panggil Abang Sayang. Tapi dalam bahasa Arab ya? Habibie artisnya kesayanganku atau kekasih. Bolehkan Bang?" kata Naazwa, membuat Rio, senang. Namun ia hanya tersenyum tipis, karena sepertinya ia sedang menginginkan sesuatu dari Naazwa.
"Boleh! Tapi kamu harus menciumi seluruh wajahku, tanpa ada celah sedikitpun," pinta Rio, membuat mata Naazwa membulat kaget.
__ADS_1
"Haah? Dalam keadaan sakit Abang masih berpikir seperti itu ya?" balas Naazwa heran melihat suaminya yang dalam keadaan wajah banyak luka, masih memintanya mencium wajahnya.
"Emangnya kenapa? Apakah itu membuat dirimu keberatan hm?"
"Zwa nggak merasa keberatan kok. Hanya saja Zwa.."
"Lakukanlah Naaz, Aku tidak akan merasakan sakit kok, malahan ciuman kamu akan menjadi obat bagi rasa sakitku," potong Rio, yang sepertinya ia paham akan kekhawatiran istrinya.
Mendengar perkataan ciumannya akan menjadi obat untuk Rio, Naazwa pun langsung mencium Rio, tanpa berkata apapun. Dan ia menciumi setiap inci wajah suaminya, dengan tulus dan dengan kelembutan.
Sedangkan Rio hanya menikmatinya dengan memejamkan matanya saja. Hingga ciuman tersebut berakhir didagunya, membuatnya merasa heran, karena Naazwa tak melanjutkannya padahal terlewatkan olehnya. Jadi Rio, memutihkan untuk tetap memejamkan matanya, sampai Naazwa menyadarinya sendiri.
"Sudahkan Bang? Tapi kenapa Abang belum membuka matanya kembali?" tanya Naazwa, terlihat bingung.
"Kamu yakin sudah semuanya Naaz?" tanya Rio, balik tanpa ia membuka matanya.
"Zwa yakin sudah semuanya kok Bang," balas Naazwa, yang terlihat ia mengingat-ingat sambil memandang wajah Suaminya ia ia ciumi tadi.
Naazwa, nampak berpikir keras untuk mengingat semuanya, hingga matanya melirik ke bibir Rio, "Hah? Apakah yang Abang maksud itu bibir?" tanyanya terdengar lirih.
"Emangnya sejak kapan bibir bukan bagian wajah hm?" tanya Rio, balik, dengan bibir cemberutnya. Tanda ia kesal, karena ia sudah tidak tahan untuk tidak melihat istri kecilnya. Namun karena generasi makanya ia tetap bertahan, untuk tidak membuka matanya.
Naazwa tersenyum melihat suaminya yang sepertinya sedang mengambek, "Baiklah, Zwa bibir Abang, jangan ngambek lagi ya," katanya, lalu ia pun mencium bibir Rio, pada awalnya ia bermaksud hanya memberikan kecupan singkat saja. Namun, tiba-tiba saja, tangan kiri Rio menahan tengkuknya Naazwa. Membuat ia tak berdaya, dan akhirnya ia membiarkan suaminya menikmati bibir merahnya. Disaat mereka sedang meresapi ciuman yang begitu nikmat bagi keduanya, tiba-tiba ketukan pintu mengagetkan Naazwa. Sehingga dengan spontan ia langsung melepaskan tautannya dengan paksa.
"Aakh..! Sssth.." desis Rio menahan sakit, karena Naazwa sedikit mendorong tubuhnya, yang ternyata, dibagian dada Rio terdapat luka juga.
"Eh! Sakit ya Bang? Coba Naazwa lihat," Naazwa pun membuka baju Rio. Dan terlihat perban dibagian dada kiri Rio yang terlihat mulai merah, menandakan lukanya berdarah lagi, "Astaghfirullah! Sepertinya luka Abang berdarah lagi! Tunggu sebentar ya Bang Zwa panggil Dokter," kata Naazwa panik dan ia langsung berlari ke arah pintu, dan ketika pintu terbuka.
"Bang Dika!" sentaknya, saat melihat seorang Pria berjas putih sedang berdiri didepan pintu. Dan ternyata dia adalah Dika.
__ADS_1
"Ada apa Yumna? Kenapa kamu panik begitu?" tanya Dika.
"Itu Bang, luka Bang Brian berdarah lagi!" balas Naazwa terlihat begitu Khawatir. Tanpa basa-basi lagi Dika langsung masuk, menghampiri Rio, dan langsung memeriksanya.
"Sebaiknya kamu keluar dulu Yumna!" titah Dika terdengar tegas.
"Baik Bang!" Naazwa pun langsung pergi meninggalkan Dika, Rio, dan juga salah satu Susternya Dika.
"Apa yang sudah kamu lakukan sih? Kenapa luka kamu terbuka lagi hah?!" tanya Dika, terdengar ketus. Sambil ia mulai menangani luka Rio.
"Aku tidak melakukan apa-apa, paling cuma berciuman pada istriku. Apakah itu ada larangannya?" balas Rio yang berkata apa adanya, dengan nada datar.
"Cih! Sombong sekali sementang sudah punya Istri! Yaah gue nggak ngelarang Lo mau ngapa-ngapain juga sama bini Lo! Tapi gue ingatkan saja! Kalau luka Lo ini sangat rentan! Jadi berhati-hatilah! Jangan sampai kamu menyesal dikemudian harinya!" ujar Dika, memberikan peringatan pada Rio.
"Sudah selesai! Ingat jangan melakukan tindakan yang ekstrim dulu, kamu paham!" lanjutnya, seraya ia kembali memakaikan baju Rio, setelah ia selesai menggantikan perbannya.
"Hmm!" balas Rio terdengar terpaksa.
"Ya sudah, gue panggil teman-teman dulu! Kebetulan mereka ada di depan," kata Dika, seraya menyerahkan sarung tangannya pada susternya. Seraya ia melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Suster tersebut boleh pergi.
"Apa? Mau ngapain mereka kemari?" tanya Rio yang sedikit kaget, medengar bahwa teman-temannya telah datang. Dan terlihat sekali sepertinya ia tak menyukai kedatangan mereka.
"Mau ngapain Lo bilang? Ya mau jenguk Lo lah! Emangnya mau ngapain lagi! Sudah, gue panggil mereka dulu!" tegur Dika, terlihat kesal, mendengar pertanyaan Rio. Sehingga ia melangkah dengan suasana menahan amarah.
"Haiiis..! Malang banget nasib gue! Udah dari tadi menahan nafs* ! Sekarang harus menghadapi para teman yang somplak lagi!" batin Rio, sembari ia mengusap wajah dengan tangan kirinya Secara kasar.
"Awwu! Wajah Gue!" pekiknya yang ternyata ia lupa kalau wajahnya juga dipenuhi luka kecil.
"Kenapa Lo berteriak setelah melihat kami? Atau jangan-jangan Lo mengidolakan kami ya? Secara Kami seperti Boy band Five friends " kata Dimas yang terlihat narsis, sembari ia menaik turunkan alisnya. Membuat Rio memutar bola mata malasnya.
__ADS_1
"Cih! Lebih cocok boy band somplak kali!" cetus Rio.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...