
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Malik bin Dinar rahimallahu berkata :
إذا تعلم العبد العلم ليعمل به كسره علمه وإذا تعلم العلم لغير العمل به زاده فخرا
“Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong (berbangga diri).”
~🌺Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
"Huh! Dasar wanita pembangkang! Padahal aku menyuruhnya meminum pil kontrasepsi untuk kebaikannya! Tapi dia malah menceramahi gue! Bikin orang kesal saja! Sekarang rasakan sendiri, aku tak akan memperdulikannya lagi!" gerutu Rio, seraya ia memukul setir kemudinya. Nampak sekali ia amat mara.
Rio pun pergi meninggalkan Naazwa di Vilanya yang berada didaerah BT, dalam keadaan marah padanya. Karena Naazwa, tak menuruti keinginannya. Sehingga menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Padahal dikala siang jalannya lumayan ramai, ditambah lagi jalanannya tidak begitu lebar, karena memang jalanan tersebut, masih didaerah perbukitan, jadi masih banyak jurang-jurang disana.
Namun Rio tak memperdulikan itu, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga saking kencangnya, membuat ia kesulitan mengerem mobilnya, saat mobil mulai mendekati tekongan yang sangat tajam. Sehingga ketika sebuah mobil yang tiba-tiba muncul dari tekongan tersebut, membuatnya lepas kendali. Namun ia sempat membanting setirnya, agar tidak beradu dengan mobil tersebut. Tapi naas, mobilnya justru terjun ke sebuah jurang.
"Kyaaa..!" teriaknya, saat mobil mulai terjun ke dalam jurang.
...*****...
__ADS_1
Sementara disisi lain.
Naazwa, yang tadi menyaksikan kepergian suaminya dari jendela, masih terlihat meneteskan air matanya. Rasa bersalah karena telah membuat Suaminya marah, dan rasa takut pada Rabbnya, bila memenuhi keinginan sang suami, menjadi satu. Ditambah lagi rasa sakit yang masih terasa dibagian intimnya, membuat ia sulit berjalan. Sehingga tangisannya menjadi pecah karena ia begitu tak berdaya.
Tubuh Naazwa merosot didepan jendela kaca tempat ia melihat kepergian Rio, "Astaghfirulla hal adzim, hiks..hiks.. astaghfirullah hal adzim..hiks..hiks..ampunilah Ana, ya Allah, hiks.. ampunilah hamba-Mu ini, karena telah membuat Suami Ana marah, hiks..dan Ana tahu kemarahannya, sudah pasti kemarahan Engkau juga! Tapi Ana juga yakin Engkau pasti tahu penyebabnya, itu karena Ana, tidak ingin menentang syariat-Mu ya Rabb. Maka ampunilah hamba, hiks..hiks.." ucap Naazwa, lirih. Terlihat sekali ia begitu sedih.
Naazwa, menangis tersedu-sedu, seraya memeluk kedua kakinya, ia begitu terluka, saat suaminya, memberikan sepapan pil KB, setelah malam pertamanya. Padahal ia sempat berpikir, malam itu adalah awal dari kebahagiaannya. Namun ternyata ia salah, ia sempat berpikir kalau dirinya telah berhasil mencairkan hati suaminya. Tetapi yang ia dapatkan justru hatinya yang semakin terluka.
"Hiks..hiks.. Padahal Ana tahu ini adalah ujian dari-Mu, hiks..tapi mengapa Ana masih mengeluh? Astaghfirullah, maafkan Ana ya Allah, maafkan Ana, atas ketidak bersyukurnya Ana. Dan In shaa Allah setelah ini Ana akan berusaha lebih sabar lagi, jadi berikanlah Ridha-Mu, dan berikanlah hamba kesabaran yang lebih," ucap Naazwa, setelah itu ia pun bangkit, saat ia hendak kembali keranjangnya. Matanya tak sengaja melihat meja yang diatasnya terdapat nampan berisi makanan yang dipersiapkan Rio tadi.
Naazwa pun menghampiri meja tersebut, lalu ia pun duduk di sofa yang berada di belakang meja tersebut. Karena memang dirinya sedang lapar, Naazwa pun langsung mengambil piring yang berisi nasi berserta lauknya tersebut, dan langsung melahapnya. Baru beberapa suap, yang masuk ke dalam mulutnya, ia merasakan pedas, dan ia pun mengambil gelas berisi air putih. Baru saja ia hendak minum tiba-tiba ia merasakan desiran aneh didadanya, bahkan gelas yang ia pegang terjatuh sebelum ia meminum airnya. Dan gelas tersebut pecah berkeping-keping.
"Astaghfirullah..! Apa yang terjadi?" sentaknya dengan tatapan mata kegelas yang telah pecah. Dan entah mengapa ia teringat suaminya.
"Astaghfirullah ssssh.."desisnya, seraya ia mengambil tisu yang berada di meja. Setelah itu ia pun langsung menuju ke pintu untuk melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, Naazwa sedikit kaget saat melihat seorang wanita paruh baya yang belum pernah ia melihatnya.
Yaa karena pada saat ia memasuki villa tersebut, ia dalam keadaan tidur. Ditambah lagi, malam itu ia habis melakukan malam pertamanya, jadi Rio sedikit memanjakannya dengan membawakan sarapan untuk dirinya. Sehingga ia sama sekali belum beranjak dari kamarnya. Jadi wajar saja kalau ia belum mengenal wanita tersebut.
"Maaf ibu ini siapa ya?" tanya Naazwa, terlihat bingung, dan tanpa sengaja juga matanya melihat sekelilingnya yang terlihat asing baginya, "Dan kalau saya boleh tahu ini dimana?" tanyanya lagi nampak penasaran.
"Saya Mbok Rumi, yang bertanggung jawab terhadap kebersihan villa den Rio Nyonya. Dan saat ini Nyonya sedang berada diVilla BT," balas wanita paruh baya yang menyebutkan namanya Rumi.
"Ooh, maaf ya Mbok, saya tidak tahu," kata Naazwa terlihat tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nya, saya maklum, karena memang, tadi malam Nyonya datang dalam keadaan tidur, jadi mungkin Nyonya tidak mengenal tempat ini," balas Rumi, membuat Naazwa sedikit, malu. Karena sudah pasti saat ia mengetahui saat Rio menggendongnya dalam keadaan tidur.
"Eh, hehehe.. Maaf Mbok, saya tidak sengaja tertidur dimobil," kata Naazwa sambil cengengesan karena malu.
"Tidak apa-apa kok Nya, saya maklum, karena perjalanan dari kota M, ke daerah BT inikan memang jauh, jadi wajar saja bila Anda kelelahan," balas Rumi, apa adanya, agar majikan barunya itu tidak merasa canggung padanya.
"Terima kasih Mbok. Oh iya ada apa ya Mbok memanggil saya?" tanya Naazwa lagi, mengingatkan kedatangan Rumi kekamarnya.
"Ooh iya saya hampir lupa, ini Nyonya, Anda di minta segera pulang oleh, tuan besar Nyonya," kata Rumi.
Naazwa mengerutkan dahnya, "Tuan besar? Maksud si Mbok Papa ya?" tanyanya terlihat penasaran.
"Iya Nya,"
"Eh, ada apa ya Mbok? Padahal tadi malam beliau yang menyuruh kemari? Apa terjadi sesuatu pada anak-anak ya?" tanya Naazwa, menerka-nerka karena ia teringat pada quadruplets.
"Saya tidak tahu Nya, sebaiknya sekarang Anda bersiap-siaplah, karena mang Giman sudah menunggu Anda, dimobil," balas Rumi seperti sedang menutupi sesuatu. Membuat Naazwa sedikit curiga.
Melihat kecurigaan Naazwa pada dirinya, Rumi langsung berpamitan, "Kalau begitu saya permisi Nyonya, kalau bisa secepatnya Anda bersiap," katanya sambil membungkukkan tubuhnya lalu ia pun bergegas pergi.
"Ada apa ya? Kenapa perasaan Ana tidak enak ya? Aah sudahlah sebaiknya aku bersiap," gumamnya lalu ia pun bersiap, karena rasa penasaran serta perasaan tidak enaknya ia pun segera bersiap setelah selesai ia langsung bergegas pergi.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1