GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PATAH HATI.


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


SABAR DAN IKHLAS


Perhatikanlah mereka yang memiliki hati yang sabar dan ikhlas. Lihatlah kehidupannya tak ada beban dalam hidupnya. Hanya ada senyuman yang menambahkan betapa indah kehidupnya.


Apapun yang ia hadapi, pasti akan ia lalui. Cobaan apapun yang menghampiri. Ia akan menghadapinya dengan sabar dan ikhlas.


Betapa indahnya memadupadankan sabar dan ikhlas disetiap perjalanan hidup. Mengajarkan bahwa sebuah rintangan yang akan membawamu ke tempat yang lebih indah.


Jadi, jikalau menginginkan kehidupan yang lebih indah. Maka hiasilah hati dengan sabar dan ikhlas.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••


"Pagi Pak Hans! Syukurlah Anda...!!" ucap seorang wanita. Namun perkatanya langsung terhenti, tatkala matanya melihat, adegan yang terlihat begitu romantis antara Hans dan Inayah. Sedangkan Inayah, yang mendengar suara seorang wanita dengan spontan ia langsung mendorong tubuh suaminya. Membuat Hans langsung tersedak karena kaget.


"Uhuk-huk-huk-huk..!! Nayah! Kenapa kamu dorong Abang sih! Belum semuanya Abang..." protes Hans. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba tangannya Inayah sudah menutup mulutnya. Dengan mata memberikan isyarat, bahwa ada seseorang yang sedang melihat mereka.


Hans, yang sepertinya paham dengan isyarat yang diberikan Istrinya. Dan dengan spontan ia pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu di ruangannya. Dan tampaklah seorang wanita yang terlihat masih terdiam membeku sambil menatap Inayah dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Regina! Ada apa? Mengapa kamu menatap istriku seperti itu hah?" tanya Hans, dengan tatapan datarnya pada Wanita yang dipanggil Regina itu. Mendengar kata istri, tampak wajah Regina terlihat begitu terkejut.


"Apa Pak? Istri? Dia istri Bapak?" tanya Regina dengan tatapan yang terlihat begitu penasaran.

__ADS_1


"Iya dia istri saya! Kenapa apa ada masalah hah?" tanya Hans yang tatapannya masih sama terlihat datar.


"Tapi kapan Pak Hans menikahnya? Saya tak pernah sekalipun mendengar Pak Hans sudah menikah," balas Regina. Tampak dari wajahnya ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mendengar perkataan Regina Hans pun mengenyitkan keningnya.


"Apakah itu penting? Apakah saya harus melapor pada kamu begitu? Emangnya kamu siapa saya, hah?" tanya Hans, yang kini tatapannya berubah menjadi dingin.


"Maaf Pak, bukan itu maksud saya, saya.." balas Regina, namun perkataannya langsung disanggah oleh Hans.


"Sudahlah! Jangan banyak omong kamu! Sebaiknya kamu pergi dari sini, cepat!" bentak Hans, membuat Regina tampak terkejut.


"Baik Pak! Kalau begitu saya permisi!" kata Regina, seraya ia menutup kembali pintu ruangannya Hans. Dan la pun langsung berlari menuju pintu lift, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca. Namun belum lagi ia sampai di pintu lift ia malah menabrak seseorang.


"Regina! Mata kamu kemana sih! Main tabrak saja!" bentak seorang wanita. Dan ketika ia melihat Regina menangis ia begitu terkejut, "Eh ada apa Reg? Mengapa kamu menangis?" tanya Wanita itu terlihat begitu penasaran.


"Eh! Ma-maaf Bu Desi saya tidak sengaja!" balas Regina, seraya ia menghapus air matanya dengan cepat.


"Ti-tidak apa-apa kok Bu! Mungkin tadi hanya memasukkan oleh debu saja kok Bu!," jawab Regina, sedikit gugup.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Atau kamu dari ruangannya Pak Hans ya? Apakah kamu begini karena habis melihat istrinya Pak Hans ya?" tebak Desi, terlihat sekali ia semakin penasaran.


"Eh, Bu Desi tahu kalau Pak Hans sudah menikah? Sejak kapan ibu tahu?" tanya kini ia yang terlihat begitu penasaran.


"Saya baru tahu tadi sih. Oh iya kamu menangis karena ini ya?" tanya Desi kembali kepo.


"Eh, nggak kok Bu, tadikan saya sudah bilang, kalau mata saya hanya memasukkan debu saja!" dalih Regina, seraya ia menekan tombol liftnya dan tak berapa lama pintu lift pun terbuka.

__ADS_1


"Ya sudah Bu! Kalau begitu saya permisi ya!" kata Regina lagi, dan tanpa menunggu balasan dari Desi, ia langsung masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Setelah berada di dalam ia langsung menekan tombol agar pintu lift segera tertutup.


"Haiis.. Kasian, sepertinya dia sedang patah hati," gumam Desi, setelah pintu lift telah tertutup kembali. Namun matanya masih mengarah pintu lift bagian atas, "Eh! Loh kok Regina kelantai atas sih? Disanakan cuma gudang penyimpanan berkas-berkas lama. Mau apa dia kesana? Apa ada yang mau dia ambil? " gumam Desi lagi, terlihat dari wajahnya ia sedikit Penasaran.


"Aakh bodo akh! Lebih baik Aku lanjut kerja saja!" gumam Desi lagi sembari ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya yang tak berapa jauh dari sana. Namun baru empat langkah ia berjalan tiba-tiba ia kembali menghentikan langkahnya.


"Eh! Biasanya orang ke ataskan bukan hanya mencari berkas lama sajakan. Kadang mereka keatas ada yang mencari angin diatas gedung. Tapi apakah Regina hanya mencari angin saja ya? Tapi kalau dia mau bunuh diri gimana? Secara diakan lagi patah hati!" gumam Desi, entah kenapa tiba-tiba ia jadi merasa khawatir.


"Aah...dari pada menerka-nerka lebih baik aku ke atas sajalah!" gumam Desi lagi. Lalu ia pun bermaksud berjalan menuju ke pintu lift. Namun baru saja ia menekan tombol pintu lift tiba-tiba seorang memanggil dirinya.


"Desi! Mana laporan yang Saya minta tadi?" tanya seorang pria, mengejutkan Desi.


"Aah.. maaf pak Ardiyan Saya lupa! Ada pak sudah siap kok laporannya!" kata Desi, seraya ia berjalan menuju ke mejanya. Lalu ia pun mengambil sebuah file, lalu ia pun menyerahkannya pada Ardiyan, "Ini Pak! Laporannya!" katanya seraya ia menyerahkan laporan tersebut.


"Hmm...oh iya tadi kamu mau kemana?" tanya Ardiyan, seraya ia menyambut file yang diserahkan oleh Desi.


"Saya tadi mau keatas Pak! Mau nyusul Regina, karena saya takut dia bunuh diri!" balas Desi. sepertinya ia keceplosan, "Eh, bu-bukan pak!Maksudnya hanya ingin melihat dia saja!" dalih Desi terlihat gugup


"Bunuh diri? Kenapa dia mau bunuh diri? Cepat katakan apa yang terjadi?" tanya Ardiyan, yang sudah terlanjur dengar, membuat ia jadi penasaran.


"Eh.. itu Pak, Reginakan suia pada Pak Hans, dan hari ini istrinya Pak Hans datang. Dan Regina sudah tahu, makanya dia tadi nangis Pak! Lalu dia pergi keatas Pak," jelas Desi, yang akhirnya ia pun menceritakan semuanya tentang Regina.


"Astaghfirullah! Ya sudah ayo kita lihat!" ajak Ardiyan, dan ia pun langsung berjalan menuju ke lift dan diikuti oleh Desi dari belakang. Setelah keduanya masuk, tak berapa lama pintu lift pun langsung tertutup. Dan tak berapa lama mereka pun sampai di lantai atas, dan mereka pun langsung bergegas ke luar. Dan tampaklah olehnya mereka Regina yang sedang berdiri di pinggir gedung.


"Hai Regina! Apa yang kamu lakukan disana!"

__ADS_1


...••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...


Haiiis.. karena badan belum fit, mau update aja kok kayak pencuri deh 🙄. Habis takut ketahuan sama Paksu. Karena disuruh fokus sama kesehatan dulu, Author jadi dilarang nulis dulu. Tapi kalau nggak nulis nanti pada kabur lagi..haiis serba salah..😭.


__ADS_2