
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Kalam Hadits 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
*Rasulullah bersabda,
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
(HR. Tirmidzi)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ*__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Mendengar perkataan Naazwa, hati Rio begitu tersentuh. Ditambah lagi saat ia melihat tatapan mata hijau Naazwa yang terlihat begitu tulus dan teduh. Membuat hati Rio meluluh, rasanya ia tak ingin mengecewakannya lagi. Karena walau bagaimanapun Ia tak berhak untuk mendapatkan keegoisannya. Apalagi gadis itu sudah banyak mengorbankan kebahagiaannya untuk dirinya dan juga untuk anak-anaknya.
Melihat Rio, yang hanya diam dan hanya menatapnya, Naazwa pun meletakkan kepalanya diatas pangkuan Rio, "Bang? Mengapa diam? Apakah begitu berat memenuhi keinginan Azwa? Bang, Azwa hanya ingin Abang menjadi, Imamnya Azwa, dan membimbing Azwa agar kita sama-sama meraih surga kita Bang," ucapnya, sambil meletakkan tangan Rio, keatas kepalanya. Karena ia ingin Rio merasakan belaian tangan sang suaminya.
Sekali lagi hati Rio, kembali tersentuh, akan ucapan istri cantik itu, hingga akhirnya ia tak berdaya lagi. Dan akhirnya ia pun mengusap kepala Naazwa, seraya berkata. "Baiklah, sesuai keinginan kamu, Aku akan berusaha memenuhi keinginanmu, tapi Aku..." balasnya, namun belum lagu ia menyelesaikan perkataannya Nazwa udah keburu mengangkat kepalanya. Dan ia pun langsung meraih wajah Rio.
"Alhamdulillah... Terima kasih Bang, muach.. muach.. muach!" ucapnya, lalu ia pun mengecup dahinya Rio, serta mengecup kedua pipinya. Membuat mata Rio terbelalak, akibat kaget. Karena ia tak menyangka istri kecilnya itu mulai berani mencium dirinya.
"Eh! Bocah kecil ini! Berani sekali memprovokasi aku hm? Padahal hukuman karena membawa anak-anak pergi belum terlaksanakan, tapi kamu sudah melakukan kesalahan. Sepertinya kamu sudah tidak tahan untuk aku hukum hm?!" ujar Rio terlihat ia begitu gemas pada Naazwa. Dan ia pun langsung meraih wajah Naazwa, lalu ia pun mulai mendekati bibirnya kebibirnya Naazwa. Namun belum lagi bibir mereka saling bersentuhan Tiba-tiba.
__ADS_1
"Daddy! Mymah!"
Mendengar suara anak kecil, dengan spontan Naazwa pun langsung mendorong dada Rio. Dan seketika itu ia langsung bangkit, "Yumna? Kamu sudah bangun?" ucapnya, lalu ia langsung menghampiri ketempat tidurnya Yumna.
Sementara Rio, nampak kesal, karena niatnya mencium Naazwa gagal, "Haiis..! Kenapa bangunnya disaat seperti ini sih! Jadi gagal dah tuh, ngerasain cenil merahnya!" batinnya seraya ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun ia tetap bangkit dari duduknya, dan langsung menghampiri ranjangnya Yumna juga.
"Putri Ayah sudah bangun? Apakah ada yang sakit Nak?" tanya Rio, sambil membelai rambutnya Yumna, dengan posisi berdiri saling berseberangan dengan Naazwa. Sehingga ia dapat melihat wajah Naazwa yang terlihat memerah, karena sudah pasti ia malu. Karena mereka telah dipergoki oleh Yumna.
"Nggak ada yang sakit kok Dad," balas Yumna, sambil ia melihat wajah Ayah, dan juga Ibu sambungnya itu. "Hmm.. tadi Daddy mau cium Mymah ya? Apakah Daddy dan Mymah sudah baikan?" tanyanya lagi, dengan wajah polos dan imutnya.
Rio, langsung tersentak mendengar pertanyaan putrijya, "Eh! E-enggak kok Nak! Tadi Ayah cuma ingin membantu Meniupkan mata Mymah yang kelilipan. Iyakan Mymah?" balas Rio, sedikit gugup, karena yang ia katakan sedikit berbohong.
"Hum.. oh iya, apakah Yumna ingin makan? Atau adakah yang Yumna inginkan?" lanjut Naazwa, mengalihkan pembicaraan.
"Umna, nggak ingin apa-apa, Mymah. Umna hanya ingin Bobo dipeluk Mymah aja," jawab Yumna, yang sepertinya, Naazwa berhasil mengalihkan ingatan Yumna.
"Oh..baiklah, Mymah, akan memeluk kamu kok Sayang," ujar Naazwa, sembari ia naik ketempat tidurnya, dan membaringkan tubuhnya disisinya Yumna. Dan dengan cepat Yumna pun langsung memeluk ibu sambungnya itu.
"Terima kasih Mymah," ucap Yumna didalam pelukan sang ibu.
"Sama-sama Sayang. Sekarang tidurlah Nak," balas Naazwa sambil sambil mengecup dahinya Yumna. Setelah itu ia pun mengusap-ngusap kepalanya dengan kasih sayang.
__ADS_1
Sedangkan Rio, yang melihat aksi kemesraan istri dan anaknya itu. Terlihat senang, hingga tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman tipisnya. Karena sebenarnya ia kagum pada sosok Naazwa, yang begitu pintar mengurus anak-anaknya.
"Ya sudah kalian tidurlah ini sudah hampir pagi," kata Rio, sembari ia berjalan menuju ke sofa tempat ia duduk tadi. Saat ia hendak duduk ia melihat tas Naazwa yang sedikit terbuka di atas meja. Dan ia juga bisa melihat isi dalam tas tersebut, salah satunya adalah Handphone milik Naazwa, lalu ia pun mengambilnya.
"Apakah benar dia tidak memiliki nomor kontakku? Coba aku lihat saja deh," batin Rio. Lalu ia pun membuka Hpnya Naazwa serta memperiksanya, "Huh! Ternyata nomorku memang tidak ada! Ya sudah aku tinggal tambahkan saja kalau begitu," batinnya lagi, lalu ia pun menambahkan nomornya ke kontak hp Naazwa.
Setelah selesai ia bermaksud ingin menaruh kembali Hp tersebut. Namun entah mengapa ia sedikit penasaran dengan isi hp tersebut. Dan akhirnya ia pun membuka galeri Handphonenya Naazwa, yang ternyata begitu banyak foto-fotonya. Bahkan foto saat, ia menikahinya juga ada. Terkadang ia menyunggingkan senyumnya saat melihat foto Nazwa bersama Anak-anaknya. Sampai pada akhirnya ia melihat foto Naazwa yang sedang menunggangi kuda sambil memanah.
"Ini diakah?" gumamnya yang masih menatap layar ponselnya Naazwa, "Wah, ternyata ini memang dia, sepertinya dia pernah ikut turnamen berkuda, sambil memanah," gumamnya lagi, saat ia melihat foto Naazwa yang sedang memegang sebuah piala.
"Ternyata istriku bukan wanita biasa, walaupun badannya sedikit kecil. Namun Dia, memiliki banyak kemampuan," gumam Rio lagi yang kini matanya memandang kearah tempat tidurnya Yumna. Lalu ia pun mengembalikan hp Naazwa ke tasnya kembali, dan kemudian ia pun bangkit kembali dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke tempat tidur.
"Mengapa Dia mau mengorbankan dirinya untukku dan anak-anakku. Padahal ia masih begitu muda dan cantik. Kalau tidak salah umurnya baru dua puluh satu tahunkan? Tapi mengapa dia mau menerimaku yang umurnya sudah tiga puluh empat tahun ini?" batin Rio yang terlihat sedang memandangi istrinya yang sudah terlelap sambil memeluk Yumna.
"Hmm.. sudahlah, mungkin ini sudah takdir Allah. Karena semua yang terjadi, adalah kehendak-Nya. Jadi jalani saja dengan ikhlas, in shaa Allah ini yang terbaik untukku dan untuk dia. Ya Allah semoga aku bisa menjalankan ibadah ini karena-Mu. Dan jadilah aku pemimpin yang Amanah didalam rumah tanggaku" batin Rio, yang kemudian ia mendekati wajahnya ke wajahnya Naazwa, lalu ia pun mengecup lembut dahi istrinya itu.
"*Tidurlah yang nyenyak istriku, semoga kamu bermimpi indah."
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈*...
__ADS_1