
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Kadang apa yang kita anggap baik bagi diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain. Demikian pula keadaan seseorang yang kita anggap baik-baik saja, bahkan dianggap memiliki kelebihan dalam beberapa hal, terkadang kita tidak tahu ujian apa yang sedang dihadapinya.
Apa yang kita lihat tak selalu yang sebenarnya di rasakan orang lain. Jangan dikira yang selalu tersenyum itu pasti bahagia. Kadang ada yang menampakkan kebahagiaan supaya tidak nampak kesedihan yang ada di hati.
Hargai dan syukuri apapun yg ada di hadapan kita. Ridho lah atas apapun yang di berikan Allah pada kita. Percayalah ada skenario Allah yang lebih baik. Rubahlah yang masi bisa dirubah, terimalah apa yang sudah menjadi kepastian. Semoga sabar selalu menghiasi diri.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Setelah memutuskan sambungannya pada Ardiyan. Anisah langsung bersiap-siap, karena ia ingin secepatnya menjalankan titah dari suaminya. Yaitu pergi ke rumahnya Hans, untuk membawa Inayah ke rumah sakit. akhirnya bergegas kerumahnya Inayah. Setelah semuanya siap ia pun langsung bergegas menuju ke mobilnya. Sesampainya disana ternyata ia sudah di tunggu oleh seorang pria paruh baya, yang sedang berdiri disisi mobilnya dengan tangan yang sedang berada di pintu mobil yang sudah terbuka.
"Terima kasih Mang Diman," ucap Anisah seraya ia masuk ke dalam mobilnya.
"Sama-sama Neng," balas Pria paruh baya yang dipanggil Mang Diman itu. Melihat majikannya telah duduk di bangkunya, Diman pun langsung menutup pintu mobilnya lagi. Setelah itu ia pun bergegas memasuki pintu mobil bagian depan tepatnya di kursi belakang pengemudinya.
"Kita mau kemana Neng?" tanyanya setelah duduk di belakang kemudinya.
"Kita pergi ke rumah Hans ya Mang?" jawab Anisah terdengar lembut.
"Baiklah Neng, bismillah kita berangkat ya Neng," balas Mang Diman, seraya ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya Mang," balas Anisah, lalu ia pun menengadahkan kedua tangannya, karena sepertinya ia hendak berdoa menaiki kendaraan, "Bismillahir rahmanir rahim.. Subhaanal ladzii sakhhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamungqolibuuna."
Artinya :
"Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
Setelah Anisah mengusap wajah sehabis berdoa, Diman pun mulai melajukan mobilnya dengan perlahan, setelah mobil berada diluar gerbang, barulah Diman melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ke rumahnya Hans.
__ADS_1
...***...
Sementara disisi lain, dirumahnya Hans.
Tampak Inayah, sedang berada di taman belakang rumahnya. Dan terlihat juga sepertinya ia sedang bercocok tanam. Melihat istri majikannya yang tidak bisa berdiam diri. Iyem pun tak bisa membiarkannya begitu saja. Dan mau tak mau ia pun akhirnya ikut melakukan, apapun yang dilakukan istri majikannya itu.
"Neng istirahat dulu yuk? Enengkan sudah dari tadi, menanemin sayur-sayuran. Emangnya Eneng nggak capek ya? Si Mbok saja sudah capek Neng," ujar Iyem, saat mereka sedang menanam sayur selada.
"Nggak capek sih Mbok. Malahan Nayah senang Mbok. Yaa daripada melihat TV ataupun main handphone. Nayah lebih memilih bercocok tanam, lebih seru lagi Mbok. Jadi nggak berasa capek sama sekali," balas Inayah, yang terlihat ia memang begitu bersemangat, bila sudah bergelut dengan acara tanam menanam.
"Iya Neng Si Mbok tahu, tapi tetap saja, Eneng tuh harus banyak istirahat. Emangnya Eneng nggak ingin segera hamil lagi, hm?" tanya Iyem, dan ketika Inayah ingin membalas perkataannya. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Eh, seperti ada tamu Neng, sebentar ya Neng si Mbok, lihat dulu," pamit Iyem.
"Iya Mbok, pergilah." Setelah mendapatkan jawaban dari Inayah. Mbok Iyem pun bergegas memasuki rumahnya Hans. Untuk melihat siapa tamu yang mendatangi rumah mereka. Dan tak berapa lama Iyem, sudah kembali lagi. Namun ia tak sendiri, karena ada seorang wanita bercadar mengikutinya dari belakang.
"Neng Nayah, ada Neng ustadzah Nisah nih, datang," kata Iyem, membuat Inayah yang tadi terlihat masih fokus pada tanamannya, langsung menoleh, kebelakang.
"Assalamu'alaikum Nayah?" ucap Anisah, saat ia melihat Inayah menoleh ke arahnya.
"Tidak apa-apa dek, emangnya kenapa kalau kotor, hm?" balas Anisah, yang malahan ia langsung memeluk tubuh Inayah, sembari melakukan cipka -cipki.
"Aah..Ukhty, nanti baju Anti, jadi ikutan kotor loh," kata Inayah, yang akhirnya pasrah, karena sudah tidak bisa menghindari pelukan Anisah lagi.
"Itu mah gampang Dek, kalau kotor tinggal di cuci sajakan," balas Anisah, seraya ia menarik tangan Inayah, "Ayo Anti juga harus mandi, karena Ana mau mengajak Anti ke sesuatu tempat," katanya, membuat Inayah, tak bisa membantahnya lagi, karena Anisah main tarik tangannya begitu saja.
"Emang mau kemana Ty?" tanya Inayah sedikit penasaran.
"Ada deh, nanti Anti juga akan tahu. Yang penting sekarang anti cepat mandi ya? Biar Ana menunggu disini," kata Anisah, ketika mereka sudah berada di ruang keluarga rumahnya Hans.
"Baiklah Ukhti, kalau begitu tunggu sebentar ya?" balas Inayah, dan dianggukan oleh Anisah. Setelah itu Inayah bergegas menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya sekaligus mengganti bajunya yang telah kotor. Dan tiga puluh menit kemudian, Inayah yang terlihat telah rapi, kini kembali menghampiri Anisah.
__ADS_1
"Assalammu'alaikum Ukhty, Ana sudah siap nih," katanya setelah ia berada di dekat Anisah.
"Wa'alaikumus salam, Alhamdulilah.. ya sudah ayo kita berangkat sekarang," balas Anisah seraya ia kembali menggandeng tangan Inayah dan langsung membawanya keluar dari rumahnya. Bahkan ia langsung membawanya menaiki mobilnya. Sedangkan Inayah yang terlihat pasrah mengikuti keinginan Ustadzahnya itu.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Ty?" tanya Inayah, saat mobil Anisah sudah mulai melaju meninggalkan rumahnya Hans.
"Sssth.. masih rahasia nanti kalau sudah sampai Anti, akan tahu sendiri," balas Anisah, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Humm..ya sudah deh, terserah Ustadzah aja," balas Inayah pasrah. Dan empat puluh menit kemudian, mobil Anisah terlihat mulai memasuki area rumah sakit. Dan tak berapa lama mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit.
"Loh, kok kita rumah sakit ty? Mau apa kesini?" tanya Inayah terlihat begitu penasaran.
"Nanti kamu tahu sendiri, sekarang turunlah," balas Anisah, yang terlihat ia masih enggan memberitahu maksud ia membawakan Inayah kerumah sakit tersebut. Dan lagi-lagi Inayah, tak bisa membantahnya, hingga akhirnya ia mengikuti langkah Anisah dengan pasrah. Dan ketika mereka didepan ruangan yang bertuliskan spesialis kandungan. Tiba-tiba saja jantung Inayah berdetak kencang.
"Kita kok kesini Ty?" tanya Inayah semakin penasaran.
"Ayo kita masuk saja dulu, oke," balas Anisah, dan akhirnya keduanya pun memasuki ruangan tersebut.
"Selamat datang Ustadzah Nisah," ucap seorang wanita berjas putih.
"Terima kasih Dokter Inne," balas Anisah seraya ia menyalami tangan Anisah.
"Apakah, ini yang mau diperiksa Ustadzah?" tanya Dokter Inne.
"Iya Dokter," balas Anisah membuat Inayah langsung tercengang.
"Hah? Apa maksudnya ini Ustadzah?" tanya Inayah tampak bingung.
"Menurutlah Nayah, biarkan Dokter Inne memperiksa kamu ya," balas Anisah dengan lembut. Dan kembali lagi Inayah tidak bisa protes, kalau sang Ustadzah sudah, berkata. Dan akhirnya dengan pasrah ia di periksa oleh Dokter Inne. Dan tak berapa lama kemudian.
"Wah, Maa shaa Allah, ternyata perkiraan Anda benar, Ustadzah. Iyaa Inayah positif hamil,"
__ADS_1
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉