
*═══❉্͜͡💚Mutiara Hikmah.💚❉্͜͡═══*
"Banyak manusia yang menyimpan hartanya sebanyak mungkin sebagai bekal masa depan. Padahal sebaik-baiknya bekal masa depan adalah anak yang saleh ataupun salihah yang akan selalu mendoakannya di saat masih ada maupun sudah tiada."
[ Al Habib Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri ]
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•
Melihat kondisi Yumna yang terlihat tidak Baik, Naazwa dan Hans, pun langsung membawanya kerumah sakit. Bahkan, ia juga sudah ditangani oleh Dika. Namun karena belum mengetahui hasil pemeriksaan, membuat kecemasan Naazwa, belum juga reda. Sehingga disepanjang dalam pemeriksaan, ia hanya mondar mandir didepan ruang pemeriksaan saja.
"Yumna? Apakah kamu tidak capek, dari tadi mondar mandir saja, hm?" tanya Hans yang terlihat ia sedang duduk di sebuah kursi yang berada di koridor rumah sakit.
"Eh, Nggak kok Bang, Ana tidak capek," balas Naazwa, sedikit kaget.
"Duduklah Yumna, kamu tidak usah cemas, Aku yakin, Dia akan baik-baik saja kok," ujar Hans, sembari ia menepuk kursi yang kosong yang berada di sisinya.
Mendengar perkataan calon suaminya, Naazwa langsung berkata, "Aamiin ya Allah." Namun diungkapkannya hanya didalam hatinya saja. Lalu tanpa berkata apa-apa ia pun mengikuti perkataan Hans, dan duduk bersebelahan dengannya.
__ADS_1
Sejenak suasana begitu hening, tak berapa lama, Hans, terlihat merubah posisi duduknya, dengan tubuh yang ia membungkukkan sedikit, sambil ia menyatukan kedua jari tangannya lalu ia taruh dibawah dagunya, dengan siku lengannya ia tumpu atas pahanya,
"Yumna? Apakah kamu berniatan membatalkan pernikahan kita, demi anak itu?" tanya Hans, yang masih pose sama. Namun tatapannya mengarah ke Naazwa dengan tatapan lembutnya.
Naazwa pun tersentak mendengar perkataan Hans, "Apa maksudnya Abang?" tanyanya balik, dengan tatapan membalas tatapannya Hans, dengan tatapan penasaran.
"Yumna? Abang, lihat, kamu begitu menyayangi anak itu, bahkan kamu sampai berjanji akan menjadi ibunyakan? Jadi Abang berpikir kamu akan membatalkan pernikahan kita demi kamu memenuhi janji kamu padanya, Yumna," jelas Hans, dengan suara yang terdengar berat.
"Kenapa Abang berpikir seperti itu sih? Emangnya semudah itu, membatalkan pernikahan yang sudah dipersiapkan begitu lama ya Bang?" tanya Naazwa, Dia seperti tidak paham dengan pemikiran calon suaminya hanya hal kecil menurutnya. Namun ia malah mempertanyakan hal seperti itu.
"Kamu jangan salah paham dulu Yumna, Abang tidak bepikir sedikitpun untuk membatalkannya. Tapi Abang lihat kamu seperti tertekan. Abang tahu, perasaan kamu, saat ini, Yumna. Kamu sedang dilemakan? Antara memilih Abang, atau gadis kecil itu?"
"Bang, Ana bukan orang yang egois yang tega mengorbankan perasaan banyak orang, hanya untuk satu orang. Ingat Bang, dalam pernikahan kita ini, telah melibatkan banyak orang, terutama orang tua kita. Masa iya Ana begitu tega menyakiti Umi, Abi, Papa dan Mama kamu, hanya untuk seorang anak kecil Bang? Apalagi saat ini Mama Abang sedang sakit. Jadi Ana harap Abang jangan berpikir yang tidak-tidak ya?"
Hans pun langsung menghelakan nafas leganya. Dan seketika wajahnya langsung berubah berseri. Tak terlihat lagi rasa kekhawatirannya yang tadinya begitu terlihat jelas diraut wajahnya.
"Alhamdulillah.. Maaf ya Yumna, Abang sudah berpikir terlalu jauh," ucapnya, terdengar tulus, sambil ia menggenggam tangan Naazwa yang terlihat terbungkus dengan sarung tangan hitamnya.
"Na'am Bang, Ana paham kok, jadi lupakan saja ya," balas Naazwa dengan lembut.
"Oh iya, lalu bagaimana dengan janji kamu dengannya, Yumna?" tanya Hans lagi, mengingatkan Nazwa akan janjinya terhadap Yumna kecil.
__ADS_1
"Bang? Apakah menjadi seorang ibu bagi anak orang lain, harus bersyaratkan menikah dengan Ayahnya, atau ibunya? Tidakkan? Lagian banyak kok, pasangan yang memiliki anak angkatkan? Nah, Makanya Ana, ingin mengangkat Yumna sebagai anak angkat kita, setelah kita menikah nanti! Bolehkan Bang?"
Hans tersenyum lucu saat melihat mata hijau milik Naazwa, yang terlihat begitu mengharapkan persetujuannya. Lalu ia pun mengusap sayang pada kepala Naazwa yang tertutup dengan hijab hitamnya.
"Boleh dong Yumna, malahan Abang ikut senang! Habis gadis kecil itu terlihat menggemaskan, pintar lagi," balasnya. Membuat Naazwa terlihat begitu senang.
"Alhamdulillah, Syukron ya Bang," ucapannya, dan disaat Hans ingin membalasnya. Tiba-tiba Dika keluar dari ruangan pemeriksaan, membuat Nazwa yang melihatnya langsung berlari menghampirinya.
"Ay, segitu nggak sabarnya dia, ingin mengetahui kabar anaknya," gumam Hans, sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah calon istrinya. Lalu ia pun bangkit dan langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan Yumna Bang?" tanya Naazwa terlihat kembali cemas.
"Dia baik-baik saja Yumna! Jangan khawatir, ia hanya kelelahan dan membutuhkan istirahat saja," jelas Dika.
"Alhamdulillah," balas Naazwa dan Hans secara bersamaan.
"Tuhkan, benar, dia pasti akan baik-baik saja," sela Hans.
"Iya Bang, Syukurlah Ana tenang sekarang,"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1