
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
"Meraih masa depan bak menyusun koin, harus penuh dengan kepercayaan. Bila kita memiliki, keraguan maka koin yang kita susun tinggi akan tumbang dan jatuh berantakan,,
Seperti itu juga kehidupan, bila ingin meraih apa yang kita inginkan di masa depan. Maka kita harus memiliki kepercayaan diri, jangan pernah ragu. Karena akan membuat kita melemah, dan pada akhirnya akan sulit untuk kita gapai. Dan yang paling utama dalam mencapai sebuah impian kita harus sertakan Allah Subhanahu wa ta'ala, di dalamnya. Karena segala sesuatunya hanya Atas izin-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ*__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Rio nampak kaget, saat melihat Meira yang dihadapannya. Dan akhirnya ia menyadari kalau pria yang sempat berdebat dengannya tadi, sudah pasti adalah Daffin, sahabatnya sekaligus mantan bosnya. Lalu dengan spontan Rio pun menghampiri Pria itu yang terlihat masih enggan menunjukkan wajahnya, pada Rio.
"Mau sampai kapan Lo mau menyembunyikan wajah Lo hah?! Gue udah tau kalau Lo Daffinkan?" tanya Rio dengan nada datarnya. Karena sudah ketahuan akhirnya Daffin pun membalikkan tubuhnya.
"Huh! Kenapa sekarang Lo jadi arogan gitu sih?" Bukannya menjawab pertanyaan Rio, ia malah kembali bertanya.
"Bodo amat! Emang gue pikirin!" balas Rio, ketus, "Oh iya ngomong-ngomong, kalian kok bisa ada disini? Adakah yang mau kalian jenguk dirumah sakit ini?" lanjutnya lagi, terlihat penasaran.
"Heh! Apa kamu bodoh hah?! Jelas-jelas dikota ini tidak ada yang kami kenali! Masih bertanya juga hah? Jadi sudah pasti kami kesini mau jenguk anak Lo lah!" balas Daffin, terdengar kasar ditelinga Meira.
"Mas Daffin! Kok kasar banget sih kata-katanya?" tegur Meira. Membuat Daffin langsung merangkul pundak istrinya. Karena ia paling takut kalau istrinya merajuk padanya.
"Maaf Sayang, habis Mas kesal sama dia! Seenaknya saja dia menikah tidak mengabari kita! Dan yang bikin kesal sudah sebulan lagi pernikahannya! Jadi selama ini dia menganggap apa coba sama Mas!" keluh Daffin, dengan memandang dingin ke arah Rio. Terlihat sekali kalau ia sedang kecewa pada sahabatnya itu, yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Iya Ira paham, tapi Mas tidak boleh begitu dong. Mungkin Bang Rio punya alasan tersendiri, mengapa Dia tak ingin Mas tahu," balas Meira dengan lembut. Memberikan pengertian pada suaminya yang sedang kesal tersebut.
Rio yang mendengar pembicaraan mereka, akhirnya memahami kekesalan Daffin, "Maaf Fin, Gue nggak bermaksud merahasiakan pernikahan gue, sama elo kok. ceritanya panjang, gue bingung aja mau bercerita dari mana," jelas Rio, terlihat merasa bersalah.
"Sudah, sudahlah Bang, itu bisa diceritakan nanti saja. Untuk sekarang sebaiknya, Abang membawa kami ke ruang rawat Yumna dulu, karena Ana ingin menjenguknya Bang," ujar Meira, mencairkan suasana yang terlihat begitu tegang antara Daffin dan Rio.
"Oh.. baiklah Mei, mari ikut saya," ajak Rio, yang akhirnya ia pun membawa Daffin dan Meira menuju ke ruang Rawatnya Yumna. Sesampainya di depan pintu masuk, Rio tiba-tiba berhenti.
"Mei, maaf ya? Istriku yang sekarang adalah wanita yang bercadar. Jadi aku..." jelas Rio, dan nampak jelas ia terlihat bingung untuk menjelaskannya, agar para sahabatnya itu tidak tersinggung apabila ia terlebih dahulu masuk. Karena seingatnya saat ini, istri sedang tidak memakai cadar.
Apalagi semenjak ia tahu, makna dari mengapa Istrinya memakai cadar, ia pun jadi berusaha melindungi apa yang menjadi keputusan istrinya itu. Dan walaupun Daffin sudah dianggapnya keluarga, tapi dia tetap bukan makhram istrinya, dan sudah pasti istrinya tak ingin Daffin melihat wajahnya. Melihat Rio yang terlihat bingung untuk menjelaskannya, Meira pun seperti memahaminya.
"Maa shaa Allah..Oke Bang Ira paham kok, ya sudah Abang masuk, saja dulu, kami akan menunggu disini dulu," ucap Meira, sambil menarik tangan Daffin kesebuah kursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit tersebut.
"Terima kasih Mei, tunggu sebentar ya," balas Rio, sedikit segan. Namun ia harus secepatnya masuk, agar ia tak mendengar protesan Daffin. Yang sudah pasti ia akan protes. Dan benar saja setelah Rio masuk Daffin pun mulai protes di depan istrinya.
"Mas? Dengar penjelasan Ira dulu ya? Biar Mas tidak salah paham lagi, oke," balas Meira, dengan lembut.
"Mas, tadi Bang Rio, mengatakan kalau istrinya bercadar. Cadar itu adalah kain penutup kepala atau muka yang digunakan oleh sebagian wanita muslimah. Memang banyak perbedaan pendapat ulama dan para ahli dalam hukum mengenakan cadar. Ada yang mengatakan Wajib, dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunah. Namun didalam Al-Quran ada menjelaskan bahwa terdapat syariat penggunaan cadar.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 53 yang artinya:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al-Ahzab ayat 53)
__ADS_1
Sedangkan diSurat Al-Ahzab ayat 59.
Dalam surat ini dikatakan bahwa setiap wanita Muslimah mewajibkan untuk menutup auratnya dengan mengenakan hijab dari ujung kepala sampai kaki dan hanya memperlihatkan bagian wajah. Namun, Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengulurkan hijabnya ke seluruh tubuh.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab 59)
Selain itu, di dalam ayat suci Alquran juga menjelaskan bahwa seluruh tubuh serta perhiasan seorang wanita adalah aurat yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain yang bukan mahromnya. Allah SWT berfirman yang artinya:
“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nur ayat 31)
Mazhab Syafi'i
Yang rajih dari pendapat mazhab syafi'i ialah "mewajibkan muslimah mengenakan cadar di depan pria non mahram."
"Nah, kenapa Bang Rio, menyuruh kita menunggu? Itu kemungkinan saat ini istrinya lagi tidak bercadar Mas, makanya dia harus memberitahu dulu pada istrinya kalau kita akan masuk," jelas Meira panjang lebar, membuat Daffin akhirnya paham. Dan bertambah lagi kekagumannya pada sang istri kecilnya itu. Dan ia langsung memberikan kecupan lembut pada Istri kecilnya itu. Dan dibarengi dengan Rio yang baru saja muncul dari kamarnya Yumna.
"Woy! Di suruh tunggu sebentar! Kenapa kalian malah bermesraan sih?" tegur Rio, membuat Meira dengan spontan mendorong tubuh suaminya.
"Cih! Mengganggu saja Lo! Bilang aja Lo irikan? Jangan-jangan Lo belum nyentuh sama sekali istri baru Lo ya?" tebak Daffin, dengan tatapan kecurigaan.
"Eh! Sialan kenapa dia bisa tahu? kalau gue belum menyentuhnya?" batin Rio, terlihat kaget.
__ADS_1
"Hahahaha.. pasti benarkan?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...