
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
"Tanpa cinta semua ibadah hanyalah beban, semua tarian hanyalah rutinitas, semua musik hanyalah bunyian semata, seluruh tetes hujan dari surga hanya sekedar jatuh ke samudera. Tanpa cinta, tak satu tetespun dapat menjadi mutiara."
__Maulana Jalaludin Rumi__
Dengan cinta, setiap doa adalah rindu. Setiap gerak tak lain adalah gegas tuk sebuah temu. Setiap nada adalah warna dan cahaya. Setiap tetes hujan menjelma ketuk lembut jemari kekasih pada jendela dunia Setiap tetes darinya, anak embun hilang yang kembali pulang.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Satu Minggu telah terlewati oleh Hans dan Inayah, diVilla milih Ardiyan yang berada di daerah Danau T. Dihari-hari yang mereka lewati mulai terasa indah bagi Inayah. Karena nampaknya ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Hans yang sikapnya begitu hangat kepadanya. Jadi otomatis, hati Inayah mulai meleleh sedikit demi sedikit.
Apalagi Hans selalu mengajak Inayah ketempat-tempat yang disukai Inayah, membuat Ia nampak bahagia. Bak orang yang sedang berpacaran, Hans memperlakukan Inayah dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Kemanapun mereka selalu bergandengan tangan seperti saat ini, mereka sedang menikmati keindahan sore ditepi danau T.
"Maa shaa Allah, cantik banget ya bang mata harinya?" kata Inayah, ketika mereka sedang menikmati keindahan matahari senja ditepi danau.
"Iya Cantik, seperti kamu Nayah," balas Hans, seraya ia memposisikan dirinya kebelakang tubuh Inayah, lalu ia pun mendekapnya. Membuat jantung Inayah seketika berdegup kencang.
"Eh, Bang, jangan begini, malu dilihat orang," protes Inayah, seraya matanya melihat kesekitarnya, yang kebetulan sedang ramai. Karena mereka juga sedang menikmati sunset di Danau T tersebut.
"Kenapa emangnya, kitakan pasangan halal, jadi nggak masalah dong? Lagian bukan kita aja kok yang begini, lihat saja tuh yang disana mereka samakan, padahal mereka belum halal lagi, tapi seperti kita juga" balas Hans, seraya ia menunjuk sepasang kekasih, yang tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri.
"Eh, dari mana Abang tahu, kalau mereka belum halal?" tanya Inayah, dengan mata yang terlihat penasaran.
__ADS_1
"Karena Aku kenal sama yang laki-lakinya, Nayah," balas Hans, membuat Inayah, jadi ingin melihat wajah laki-laki tersebut.
"Ooh, diakan yang kemarin datang ke villakan?" tanya Inayah dengan mata yang masih menatap Pria tersebut. Namun tak berapa lama Hans langsung menutup mata Inayah, "Eh! Kok mata Nayah ditutup sih Bang?" protesnya, sedikit terkejut.
"Habis, kamu ada yang halal disini jugaan! Malah ngelihatin yang bukan halal!" balas Hans, dengan wajah terlihat kesal.
"Hmm... Bang Hans cemburu yaa? Ayo ngaku aja deh, kalau Abang cemburukan?" ucap Inayah, seraya ia memutarkan tubuhnya, agar bisa menatap wajahnya Hans, yang terlihat masih ada kekesalan.
"Iya! Aku cemburu, Aku nggak suka kamu menatap pria lain selain Aku! Jadi jangan pernah lakukan seperti tadi oke," akunya, seraya ia menarik kembali tubuh Inayah kedalam pelukannya, yang kini ia memeluknya dari depan. Membuat Inayah, terlihat terkejut, karena Hans memeluknya tanpa ragu, hingga tak memperdulikan orang yang ada disekitar.
"Astaghfirullah, Bang jangan disini malu tau!" protes Inayah lagi, merasa malu, karena memang sebagian orang sedang menatap ke arah mereka.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang saja ya? Lagian sebentar lagikan mau Maghrib. Jadi nggak papakan melihat sunsetnya nggak sampai selesai?" tanya Hans, terdengar lembut.
"Iya nggak papa kok, Bang, ya udah ayo pulang," balas Inayah, sembari ia menarik tangan Hans, membuat Hans tersenyum tipis, karna merasa senang. Lalu keduanya pun berjalan menuju ke villa mereka, sambil bergandengan tangan. Nampak keduanya semakin akrab, dan itu terlihat jelas dari cara mereka bergandengan sambil mengayun-ayunkan tangan mereka. Canda dan tawa juga kerap terdengar di sepanjang jalan yang mereka lalu saat menuju Villa.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).
...*****...
Hans kembali ke Villa setelah menunaikan ibadah shalat isya. Yaa karena waktu Maghrib dan Isya jaraknya berdekatan, sehingga ia memilih pulang setelah melaksanakan sholat Isya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Hans, setibanya ia didepan pintu masuk rumahnya.
"Wa'alaikumus salam, Alhamdulilah Abang sudah pulang, kita langsung makan aja ya Bang?" kata Inayah seraya ia menyalami tangan Hans, serta mengecupnya. Sedangkan Hans, membalasnya dengan mengecup lembut dahinya Inayah.
"Alhamdulillah, kebetulan banget Aku sedang lapar nih, ya sudah ayo," balas Hans, sambil merangkul pundak istrinya, lalu keduanya pun menuju ke ruang makan, yang ternyata disana makanannya telah tersaji. Membuat Hans terlihat bersemangat saat menu yang berada di atas meja. Lalu keduanya pun menyantap makanan mereka dengan penuh hikmat.
Setelah selesai, Inayah lebih memilih menonton televisi, dan otomatis Hans pun ikut menonton, walaupun ia tak begitu suka, Aah, kenapa harus nonton sih? Kenapa nggak jalan-jalan aja, kan seru saling bercerita. Kalau nonton dia sulit diajak bicara!" batin Hans, yang terlihat sepertinya ia tak begitu fokus dengan layar televisinya. Karena matanya lebih suka melirik istrinya yang terlihat begitu serius menontonnya.
Namun tiba-tiba saja Inayah menjerit dan langsung memeluk Hans membuat Hans terkejut dibuatnya, "Kyaaak..!!"
"Eh! Ada apa Nayah?!" tanya Hans, terlihat ikut panik, karena Inayah memeluknya begitu erat.
"Filmnya seram Bang!" kata Inayah yang masih berada di pelukannya. Mendengar perkataan Inayah Hans, dengan spontan melihat kelayar televisinya, yang ternyata film yang ditonton Inayah film horor. Hans pun tersenyum penuh kemenangan.
"Ya sudah jangan ditonton lagi," balanya seraya mengambil remote TVnya dan langsung mematikannya, "Ya sudah kita kekamar saja ya?"
"Hu'um!" balas Inayah, yang terlihat ia langsung merangkul lengan suaminya saat Hans bangkit dari duduknya. Hans, kembali tersenyum tipis, ketika mereka menuju ke kamarnya Inayah semakin mempererat rangkulannya. Hingga mereka telah berada di dalam kamar.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Nayah, kamu naiklah ke tempat tidur duluan," kata Hans, seraya Ia melepaskan rangkulan tangannya Inayah.
"Ikuuut!" balas Inayah, kembali merangkul Hans.
"Apa?!" sentak Hans terkejut mendengar kata 'ikut' dari Inayah, "Hah?! Nayah, Akukan cuma..."
"Pokoknya Nayah ikuut!" potong Inayah, terdengar manja. Membuat Hans tercengang melihat, Inayah yang tiba-tiba menjadi manja
__ADS_1
"Hah?? Kenapa Nayahku menjadi manja begini?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...