GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MERAIH SURGA-NYA ALLAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


MANFAATKAN SETIAP WAKTUMU


Mari berdamai dengan masa lalu, untuk berdoa dan persiapkan masa depan. Dengan semaksimal mungkin memanfaatkan waktu dan kesempatan yang datang. Jangan sampai menyesal ketika tidak berikhtiar yang terbaik dan mendoakan yang terbaik. Jangan pula menunda taubat, karna tak ada yang tahu kapan batas usia sampai tiba saat dipanggil-Nya.


Sayyidina Umar Bin Khattab berkata:


"Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan Tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Rio masih menatap kepergian Hans, ia juga masih nampak kesal karena telah dipermainkan oleh Hans. Namun saat ia menoleh ke Naazwa, keningnya nampak berkerut, saat melihat mata Naazwa yang terlihat menyipit, yang berarti ia sedang tersenyum, entah karena Hans, atau karena dirinya.


"Apakah kamu sedang senang sekarang? Karena mantan calon suami kamu telah mempermainkanku hm?" tanya Rio, dengan suara datarnya serta tatapan dingin.


"Eh, ti-tidak Bang, A-ana..." sangkal Naazwa, namun langsung dipotong oleh Rio.


"Sudahlah, dimana ruangan Yumna, cepat bawa aku kesana!" potong Rio masih menatap dingin pada Naazwa.

__ADS_1


"Mari Bang Ana tunjukkan," ajak Naazwa, lalu ia pun melangkah menuju kesebuah ruangan, yang tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri. Dan diikuti oleh Rio dibelakangnya, ia sejak memperhatikan Nazwa dari belakang.


"Apakah dia masih mencintai Hans? Dan menyesal karena telah memilihku seorang duda beranak empat? Apakah aku sudah kelewatan padanya?" batin Rio, masih memandang punggung Nazwa yang mulai membuka pintu kamar rawatnya Yumna.


"Disini Yumna dirawat Bang," ujar Naazwa, membuat Rio tersadar dari pemikirannya.


"Eh, iya," balas Rio singkat lalu ia pun langsung memasuk keruangan tersebut. Dan langsung menghampiri ranjang anaknya yang terlihat ia masih tertidur. Lalu Rio pun membelai rambut Yumna, dan juga memberikan kecupan lembut pada dahi sang putri.


Disaat Rio hendak duduk dikursi yang berada disisi ranjang Yumna. Tanpa sengaja matanya melirik kearah Naazwa yang ternyata masih berdiri di depan pintu. Rio pun mengerenyitkan Dahinya, melihat sang Istri.


"Mengapa masih tegak disitu? Apakah kamu enggan berada di satu ruangan denganku, hm?" tanyanya, dengan suara datarnya.


Setelah dilihatnya sang Istri telah duduk, wajah Rio kembali menatap putrinya dengan tatapan sendunya. "Ceritakan padaku, mengapa Yumna seperti ini?" tanyanya tanpa menoleh sedikitpun pada Naazwa.


"Maaf Bang, Ana juga tidak tahu persis kejadiannya. Karena ana tadi sedang mengajarkan anak-anak santriwati, yang sedang menghafal Alquran. Lalu tiba-tiba, Yunda datang, mengatakan bahwa Yumna kejang-kejang. Dan karena panik Ana langsung membawanya. Dan kebetulan juga Bang Hans ada dipondok, makanya Ana meminta tolong padanya," jelas Naazwa, sambil membuka cadarnya.


"Hmm, mengapa tidak menghubungiku hm? Mengapa malah menyuruh Yunda, dan kenapa bukan kamu yang menghubungiku?" tanya Rio, yang terlihat ia masih enggan melirik Naazwa.


"Maaf, selain ana tak punya no kontaknya Abang. Ana juga berpikir, kalau Abang sedang membenci Ana Makanya Abang tak ingin berbicara dengan saya. Makanya Ana meminta Yunda, untuk menghubungi Abang," jelas Naazwa. Membuat Rio langsung menoleh pada Naazwa. Sejenak ia terdiam, karena sepertinya ia sedang terpesona lagi, saat melihat wajah istrinya.


Namun karena teringat akan perkatanya, Rio pun, tersadar dari kekagumannya. "Kenapa kamu berpikir aku membenci kamu hm?" tanyanya, sambil ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun berjalan menuju ke Sofa. Dan duduk disalah satu sofa tunggal yang ada disana juga.

__ADS_1


"Karena, semenjak Abang menikahi Ana, Abang seperti menghindari Ana. Jadi Ana berpikir seperti itu. Tapi benarkan, kalau Abang sangat membenci Ana?" balas Naazwa, seraya ia menundukkan wajahnya. Yang sepertinya ia sedang menyembunyikan kesedihannya.


Rio jadi merasa bersalah, saat melihat, kesedihan Naazwa, "Maaf! Tapi Aku seperti itu, bukan karena membenci kamu. Hanya saja Aku belum terbiasa, dengan kehadiran kamu. Dan selama ini setiap aku mencoba mendekati kamu, aku jadi merasa telah mengkhianati Almarhum Istriku," ucap Rio, yang kini malah ia yang terlihat sedang bersedih. Naazwa terlihat paham akan kesedihan suaminya.


"Bang? Kematian adalah perpisahan terpahit bagi setiap insan yang ditinggalkan orang tercintanya, terlebih jika ditinggal meninggal oleh suami atau istri. Tapi Bang, sebagai umat muslim yang beriman, wajib percaya bahwa setelah kematian manusia akan menjalahi kehidupan di akhirat.


Namun sebagai manusia yang hidup, jalan masih panjang. Bagi yang ditinggal istrinya meninggal, biasanya suami akan menikah lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika istri meninggal, tidak ada larangan suami untuk menikah lagi, terlebih untuk menghindari zina.


Lalu siapa pasangan istri di akhirat jika suaminya di dunia menikah dengan wanita lain?.


Jika istri pertama telah meninggal, siapa pasangan di akhirat nanti jika suami di dunia menikah lagi? Istri bisa bersama dengan suaminya di akhirat kelak meski suaminya sudah menikah lagi selama di dunia. Dan jika istri keduanya meninggal dalam keadaan beriman dan tidak berpisah (bercerai) selama di dunia.


Dua-duanya akan bersama, yang penting meninggal dalam keadaan beriman dan tidak berpisah selama hidup. Dan disana juga tidak ada kata cemburu, Bang. Jadi tidak ada kata Abang telah berkhianat pada Almarhum istri Abang," jelas Naazwa panjang lebar, dengan penuturan yang begitu lembut. Membuat hati Rio menghangat.


"Abang tahu jugakan kisah Rasulullah? Setelah istri pertamanya Yaitu Ummu Khadijah wafat, Rasulullah pun menikah dengan Saudah binti Zam'ah. Istri Nabi Muhammad tersebut berusia 50 tahun, berstatus janda, dan telah memiliki lima atau enam orang anak dengan perkawinannya yang lalu. Lantas apakah itu di bilang pengkhianat jugakah Bang?" lanjut Naazwa, lagi.


Namun Rio hanya terdiam seribu bahasa. Melihat kediaman suaminya, Naazwa pun bersimpuh dihadapan Rio, sambil ia meraih kedua tangan Suaminya. Lalu ia pun mengecup kedua tangannya tersebut. Membuat tubuh Rio seakan beku dan ia hanya memperhatikan wajah cantik sang istrinya.


"Bang, Azwa mohon, bimbinglah Azwa untuk meraih surga-Nya Allah. Jadi izinkan Azwa, memenuhi kewajiban Azwa sebagai seorang istri Bang. Mari kita jalani ibadah terpanjang ini bersama-sama. Maukah Abang memenuhi keinginan Azwa?"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2