GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PENGKHIANATAN.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya."


(Ali bin Abi Thalib)


Hidupmu adalah tanggungjawabmu, pilihanmu sendiri yang akan menentukan masa depanmu kelak. Apakah jalan yang kau tempuh akan memberikanmu keselamatan dunia akhirat atau hanya kepentingan dunia fana yang kau kejar.


Jangan sampai merugi karna nafsu sesaat, karena waktu yang kita miliki tidaklah lama. Jangan terlena dengan godaan dunia, apalagi sesuatu yang kita tidak tahu pasti mudharat atau manfaat yang ada di dalamnya. Serahkan semua keputusan dengan bersandar kepada Nya, maka engkau tidak akan pernah merugi karna kepasrahanmu pada ketetapan-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Yumna dan Farah, berhasil menjauh dari tempat penyekapan mereka, itu berkat Ali dan Budi. Tapi sayang, karena posisi mereka sangat jauh dari jalan raya, dan hanya mengandalkan kaki mereka saja, itu membuat mereka mudah sekali lelah.


"Bang Ali, kita istirahat dulu deh! Gue udah capek banget nih. Apa lagi nih bocah lumayan gendut lagi. Jadi gue udah nggak sanggup lagi gendongnya," keluh Budi yang saat ini ia memang sedang menggendong Yumna, di punggungnya.


"Baiklah kalau begitu, kita cari tempat yang Aman dulu! Gue sebenarnya juga udah capek sih! Kita istirahat disana saja, kayaknya disana aman!" balas Ali, yang tatapannya mengarah ke sebuah semak-semak yang rimbun. Lalu ia pun mulai berjalan ketempat yang tunjuk itu sambl menggendong Farah dipunggungnya juga.


Sesampainya mereka ditempat yang dituju. Ali dan Budi pun langsung menurunkan Farah dan Yumna.


"Kita istirahat disini dulu ya Dek-adek, soalnya kami sudah lelah banget nih," ujar Budi, seraya ia menurunkan tubuh Yumna. Begitu juga dengan Ali, yang langsung menurunkan tubuhnya Farah.


"Terima kasih ya Om! Om baik banget deh," ujar Yumna, seakan merayu Budi.

__ADS_1


"Terima kasih juga ya Om, semoga kebaikan Om, dibalas Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ucap Farha dengan tulus.


"Sama-sama, ya sudah sebaiknya kalian Istirahatlah disini. Soalnya perjalanan kita masih jauh lagi nih," kata Ali, seraya, ia mengumpulkan rumput-rumput yang terlihat telah kering, untuk alas Yumna dan Farah, beristirahat.


"Baiklah Om," balas Farah dan Yumna secara bersamaan. Namun mata Yumna sepertinya melihat sesuatu yang aneh.


"Om itu apa?" tanya Yumna seraya jari telunjuknya menunjuk sesuatu yang tertutup oleh ilalang yang lumayan tinggi. Ali dan Budi pun langsung mengikuti arah jari telunjuknya Yumna.


"Apakah itu sebuah gua Bang?" tanya Budi, dengan pandangan masih mengarah ke tempat yang ditunjuk oleh Yumna tadi.


"Coba kamu periksa Bud! Kalau memang gua itu malah bagus! Karena gue yakin saat ini Bang Anton dan Agus pasti sedang mengejar kita. Jadi alangkah bagusnya kalau itu memang Gua jadi kita bisa bersembunyi dulu disana," balas Ali.


"Baiklah Bang! Kalau begitu gue lihat dulu ya?" kata Budi dan ia pun langsung bangkit dari duduknya, dan langsung menghampiri tempat yang ditunjuk oleh Yumna tadi. Sesampainya di sana, Budi pun langsung mengacungkan jempol, menandakan kalau perkiraannya ternyata benar. Kalau yang ditunjuk Yumna tadi memanglah sebuah Gua.


"Ayo Anak-anak, kita sembunyi disana saja!" ajak Ali, seraya ia menggandeng tangan Yumna dan Farah, lalu ia pun mulai melangkah menuju ke gua yang saat ini Budi lebih dulu masuk.


"Aduh kok gelap banget Om?" keluh Yumna, yang memang suasana Gua terlihat remang-remang, dan hanya mendapatkan cahaya dari pintu gua yang sedikit ditutupi semak belukar.


"Sabar ya Dek? Untuk saat ini nggak papa kita begini dulu, yang pentingkan kita Aman. Nanti kalau situasi sudah Aman baru kami akan mengantarkan kalian pulang, Oke?" jelas Budi dengan penuturan yang terdengar lembut. Membuat Farah mau pun Yumna akhirnya menurut dengan perkataannya.


"Oke Om!" jawab Keduanya secara bersamaan.


"Bagus! Sekarang istirahatlah, soalnya om juga mau Istirahat nih," kata Budi lagi, lalu ia pun menyadarkan tubuhnya Kedinding gua. Dan diikuti oleh Yumna dan Farah. Sementara Ali, sudah lebih dulu memejamkan matanya.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain.


Di tempat penyekapan Yumna dan Farah. Tampak seorang pria memakai setelan jas hitam terlihat sedang marah-marah, pada Agus. Bahkan pria itu tak segan-segan menendang dan memukuli anak buahnya Agus. Karena ikutan lalai dalam tugasnya. Sedangkan Agus masih berusaha membela dirinya.


"Dasar kalian semuanya benar-benar Bodoh! Menjaga dua anak kecil saja tidak Bisa! Dan Lo lagi! Bisa-bisanya Lo memperkerjakan pengkhianatan, hah?!" Bentak Pria itu, yang terlihat ia amat murka sekali pada Agus


"Maaf Bang Anton! Maaf atas kelalaian saya yang telah salah memilih anak buah. Sehingga mereka menghianati saya," ujar Agus, Sambil mengatupkan kedua tangannya, dihadapan pria yang dipanggil Anton tersebut.


"Banyak alasan Lo! Sekarang bagaimana hah? Bagaimana cara Lo bertanggung jawab pada Bos Bram! Lo taukan? Kalau Dia paling benci dengan pengkhianatan! Lalu apa yang akan Lo lakukan sekarang hah?" Bentak Anton lagi, yang tampak sekali kalau sebenarnya ia sedikit takut. Karena dialah yang sudah diberi tanggungjawab tersebut. Dan sudah pasti, dia yang akan dipersalahkan oleh Bram.


"Begini saja Bang! Izinkan kami mengejar mereka! Saya yakin mereka belum terlalu jauh, karena pergi tidak membawa kendaraan," ujar Agus, memberi usul.


"Oke! Kalau begitu, cepat cari mereka! Ingat kalau kalian semua tidak menemukan mereka! Maka nyawa kalianlah sebagai gantinya! Kalian Paham hah?!" bentak Anton lagi. Membuat Agus, seketika bergidik mendengar ancamannya Anton.


"Baiklah Bang! Kalau begitu kami cari mereka sekarang!" balas Agus, dan hanya dibalas oleh Anton, dengan lambaian tangan saja. Setelah mendapatkan balasan, Agus berserta beberapa anak buahnya pun langsung bergegas pergi, menuju ke mobil mereka masing-masing.


Namun belum lagi mobil mereka berangkat. Tiba-tiba saja sebuah mobil jip berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang markas mereka, serta beberapa mobil biasa yang juga ikut berhenti tepat di belakang mobil jip tersebut. Dan otomatis Agus berserta anak buahnya tak dapat beranjak dari perkarangan markas mereka.


"Sialan! Kenapa cepat sekali Bos Bram sampai disini sih? Ini gawat habislah kita, kalau Bos Bram tahu kalau dua bocah itu sudah tidak ada disini!" gumam Agus, yang terlihat wajahnya langsung tegang tatkala, ia melihat seorang Pria berjas putih turun dari mobil jip tersebut. Bahkan Agus tak berani turun dari mobilnya, karena sudah pasti ia akan mati kalau Bos besar mereka itu mengetahui, kalau penyebab Sandra mereka pergi karena ulah anak buahnya.


"Aduh tahu gini, gue ikutan kabur dah sama dua bocah brengsek itu!" batin Agus, yang kini wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat jagungnya. Serta tatapannya masih mengarah ke tempat Bram, yang saat ini sedang mengobrol dengan Anton. Dan seketika wajah Bram, terlihat sangar dan langsung mengarah ke mobilnya Agus. Membuat tubuh Agus langsung gemetaran. Apalagi tatkala melihat Bram mulai mendekati mobilnya.


"Ya Tuhan..ya Tuhan..Aku taubat Tuhan! A-aku akan taubat! Jadi tolong saya Tuhan.. tolonglah Saya!"


...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...

__ADS_1


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉


__ADS_2