GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
BAPAK-BAPAK SOMPLAK.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Kesabaran mungkin tidak dapat merubah ujian, tetapi dengan kesabaran engkau akan mampu melewati ujian.


Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:⁣



ﺗﺠﺮَّﻉ ﺍﻟﺼﺒﺮ، ﻓﺈﻥْ ﻗـﺘﻠﻚَ ﻗـﺘﻠﻚَ ﺷﻬﻴﺪﺍ، ﻭﺇﻥْ ﺃﺣﻴﺎﻙ ﺃﺣﻴﺎﻙ ﻋﺰﻳﺰﺍ.⁣



“Teguklah kesabaran. Jika kesabaran membunuhmu, ia membunuhmu dalam keadaan dirimu mati syahid. Jika kesabaran itu membuatmu tetap hidup, ia membuatmu tetap hidup dalam keadaan mulia.”⁣ (Madarijus Salikin, jilid 2 hlm. 159⁣)


Ujian itu tak ubahnya seperti mendung di musim panas yang akan cepat berlalu. Yakinlah, semua akan baik-baik saja, apapun kesulitanmu pasti berakhir.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


"Apa lu kata? Yumna itu calon menantu gue tau!" ujar seorang pria, yang sepertinya baru saja datang. Dan dengan spontan semuanya menoleh kesumber suara.


"Daffin?!" sentak Rio, ketika ia melihat seorang pria, yang sedang berdiri sejajar dengan seorang wanita, dan kelima orang Anak kecil. Dua diantaranya dibilang anak tanggung, karena usianya sekitar sepuluh tahun, sedangkan ketiga anak lainnya baru usia enam tahunan.


"Mau ngapain Lo datang kemari?" tanya Rio, dengan wajah datarnya. Karena sepertinya ia tidak suka dengan perkataannya pada Dimas


"Mau ngapain Lo bilang? Yaa mau ikutan merayakan ulang tahun calon-calon mantu guelah!" balas Daffin dengan enteng.


"Siapa Lo sih! Datang-datang main ngaku-ngaku Yumna sebagai calon mantunya! Emang nggak tahu apa kalau gue sudah ngetekin duluan!" sergah Dimas, yang terdengar jutek. Terlihat sekali dia nggak suka mendengar perkataan Daffin.

__ADS_1


"Siapa gue? Nih kenalin gue Hanan Daffin Abidzar! Masih keturunan si Pitung! Mau apa Lo!" balas Daffin, yang tingkahnya sudah seperti anak kecil. Membuat Ardiyan, Dika, Andi dan Wira, langsung menahan senyumnya.


"Cih! Baru keturunan Si Pitung sudah belagu nih kenalin, gue Dimas Prakasa masih keturunan Mariam puntung, mau ape Lo!" ujar Dimas, yang tak mau kalah gayanya dengan Daffin. Sedangkan teman-temannya yang mendengar perkataan Dimas, seketika langsung terpelongo.


"Hah?! Lu yakin Dim, masih ada keturunan Maryam puntung? Diakan saudaranya Putri hijau, kalau nggak salah nama pangeran yang menjelma menjadi mariam itu Mambang Khayali, deh. Masa iya Lo keturunannya beliau?" tanya Andi, dengan wajah polosnya. Mendengar pertanyaan Andi, seketika taman-tamannya langsung tertawa terbahak-bahak,


"Hahahaha, dasar IQ jongkok! Lo kayak nggak tahu Dimas aja dah! Omongan bocah somplak dipercaya! Hahahaha.." celetuk Dika, yang terlihat masih terbahak-bahak, sambil memegang perutnya.


"Aah iya iya! Gue kok nggak sadar ya? Akh, jangkrik Lo Dim! Pakai ngaku-ngaku keturunan Mariam puntung!" protes Andi, sambil ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untuk menutupi rasa malunya.


"Eeeh.. Sudah sudah, kok jadi pada kayak anak kecil sih! Lo lagi Dimas! Anak-anaknya masih pada masih kecil, udah pada ngeributin soal jodoh lagi!" tegur Ardiyan, menengahi perdebatan kecil yang ditimbulkan oleh teman-temannya.


"Lah kok jadi gue sih! Tadikan gue cuma nyanyi doang! Eeh, Si keturunan si Pitung datang-datang main nyolot duluan. Ya udah gue jabanin aja sekalian! Padahal gue nggak punya niatan juga mau jodohin anak gue! Karena bagi gue dengan siapapun dia nantinya gue sebagai orang tua, akan mendukungnya saja," balas Dimas, yang kini terlihat sedikit bijak.


"Tumben omongan Lo benar? Biasanya juga selalu melenceng dah. Apa otak somplak Lo udah sembuh ya?" celetuk Andi, sembari ia meletakkan jari telunjuk dan jari jempolnya di bawah dagunya.


"Aah, sompret Lo! Padahal somplak gue juga, ketularan Lo kan? Kenapa Lo nggak nyadar sih?" balas Dimas terlihat santai.


"Eeeh..! Kalian ya! Sesama somplak tuh jangan saling mendahului! Nggak malu apa sama tamunya Brian! Yang dari tadi hanya menonton kelakuan kalian aja!" tegur Ardiyan, yang mulai kesal, melihat teman-temannya, yang terlihat nggak ada habisnya untuk diperdebatkan.


"Sorry sorry! Maaf ya keturunan si Pitung, membuat Anda tidak nyaman, disini. Kalau gitu gue mau berteman sama asap aja dah, silahkan Anda, duduk disini," kata Dimas, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun melangkah menuju tempat pemanggangan.


"Maaf ya Pak Daffin, atas kelakuannya teman-teman saya," ucap Ardiyan, pada Daffin, yang sejak tadi hanya menonton perdebatan para lima sekawan tersebut.


"Ooh, Iya, tidak apa-apa Pak..?." Perkataan Daffin, langsung berhenti, seakan ia memberikan Isyarat, agar Ardiyan mau menyebutkan namanya.


"Aah iya saya lupa, maaf Pak Daffin! Kalau begitu perkenalkan Saya Ardiyan Pramana, masih keturunan cucu Adam," kata Daffin, sambil ia mengulurkan tangannya kepada Daffin.


Mendengar perkataan Ardiyan, Daffin pun tersenyum lucu, "Heh, maaf tadi saya juga hanya bercanda kok Pak Ardiyan," balas Daffin seraya ia menyambut uluran tangannya Ardiyan.

__ADS_1


"Hehehe, iya saya tahu, kalau begitu perkenalkan juga, ini teman-teman saya," ujar Ardiyan dan otomatis para teman-teman Ardiyan pun langsung mengulurkan tangannya pada Daffin.


"Saya, Wiraxana Andara, biasa dipanggil Wira," ujar Wira, yang lebih dulu mengulurkan tangannya.


"Sidi Rudika Tanjung, panggil Dika saja," sambung Dika, yang ikut mengulurkan tangannya pada Daffin.


"Kalau saya Andika Anggara, panggilan biasa Andi," sambung Andi juga, dan ikut mengulurkan tangannya juga pada Daffin.


"Waah, ternyata kalian, adalah para CIO, yang terkenal itu ya? Tapi sepertinya hanya Pak Dika saja ya yang berbeda, karena yang saya ingat, Andakan yang menangani Yumna ketika dirumah sakit?" ujar Daffin, yang ternyata ia tahu, kalau para Pria, yang baru saja ia berkenalan dengannya.


"Aah, iya baru saya ingat, kalau Anda pernah datang ya kerumah sakit tempat saya bekerja. Kalau begitu maaf Pak Daffin, karena saya tidak mengenali Anda," bala Dika, merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kok Kok Dok,"


"Ooh iya, saya baru Ingat, Anda CIO, dari HDA yaa? Karena sepertinya perusahaan saya pernah bekerjasama dengan perusahaan Anda," celetuk Dimas, yang terlihat ia kembali nimbrung pada teman-temannya.


"Iya benar HDA, perusahaan saya, tapi benarkah kita pernah bekerjasama?" tanya Daffin, yang terlihat ia sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Apakah Anda, pernah mendengar Prakarsa grup?" tanya Dimas, dan spontan Daffin pun langsung mengingatnya.


"Aah, iya saya ingat, memang perusahaan saya pernah bekerjasama dengan prakarsa grup. Maaf Pak Dimas saya benar-benar lupa pada Anda, karena seingat saya, Anda dulu tidak seperti ini," balas Daffin, sedikit malu, karena ia tadi sempat berdebat kecil dengan Dimas.


"Iya nggak papa Pak, saya maafin kok, tapi Anda harus mengalah ya, dan membiarkan Yumna untuk Anak saya!" kata Dimas, dengan wajah seriusnya.


"Eh! Kenapa nyambung kesitu lagi ya? Tapi maaf Pak, urusan Yumna, saya tidak mau mengalah! Karena dia sudah ditetapkan jadi menantu saya!" ujar Daffin, yang terlihat begitu tegas.


"Haiiis.. dasar bapak-bapak somplak! Pada ngotot banget sih mau jadiin anak gue menantu kalian! Asal kalian tahu! Gue akan jodohin Yumna, sama anak Ardiyan, titik jebret!" kata Rio dengan tegas.


"Apa!!!!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2