
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Renungkan pagi dengan mengenang kemudaan.
Agar kita tahu sudah sejauh apa kita berjalan.
Agar kita sadar bahwa nikmat Allah selalu cukup, hanya syukur kita saja yang sering kurang.
Agar kita tahu bahwa musibahNya selalu tepat, hanya sabar kita saja yang kadang terlambat.
Agar kita renungi bahwa meski ibadah kita compang-camping tapi rahmat Allah tak putus-putusnya dicurah-curahkan.
Agar kita insyaf bahwa ada banyak detak-detik yang tersia-siakan, tapi kesempatan memperbaiki diri masih Dia dibukakan.
Agar kita malu betapa banyak kita mendurhakai-Nya dengan dosa; tapi Dia begitu santun menutup aib-aib kita, tak langsung menyiksa bahkan menunggu-nunggu taubat, mengampuni bagi yang beristighfar dan menyambut yang kembali pada-Nya dengan bahagia.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Mobil yang dikemudikan oleh Giman, yang membawa Naazwa, kini telah memasuki kota M. Namun mobil tersebut tidak langsung menuju ke villanya Rio. Membuat Naazwa heran, dan ia berpikir kalau, bawahan suaminya itu, mungkin lupa dengan villa suaminya yang dikota M.
"Maaf Mang, apakah Mang Giman pernah ke Villa Bang Brian?" tanya Naazwa memastikan ketidaktahuan supir sekaligus penjaga Villa Rio yang berada didaerah BT.
"Pernah Neng. Bahkan saya pernah, bertugas diVillanya Pak Rio," balas Giman, dengan mata terfokus pada jalan.
"Ooh.. Hmm.. tapi kenapa arah jalan yang Mang Giman berbeda? Bukankah seharusnya kita kejalur kanan ya?" tanya Naazwa, terlihat bingung.
"Karena kita mau kerumah sakit dulu Neng," kata Giman.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit Mang?" tanya Naazwa semakin penasaran.
__ADS_1
"Nieng bisa lihat sendiri, karena kita sudah sampai Neng," ujar Giman, yang ternyata mereka memang sudah sampai tepat dirumah sakit besar, tempat Yumna pernah dirawat. Dan itu membuat Naazwa berpikir kalau anak sambungnyalah yang sakit kembali.
"Apakah Yumna sakit lagi Mang?" tanya Naazwa, masih penasaran.
"Mari kita masuk saja Neng, agar Neng segera tahu," kata Giman, seraya ia turun dari mobilnya, lalu ia berjalan berputar, dan kemudian ia pun membukakan pintu mobil untuk Naazwa.
"Terima kasih Mang," ucap Naazwa, seraya ia turun dari mobilnya. Lalu ia pun mengikuti langkah Giman memasuki rumah sakit.
Mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit, menuju ke sebuah ruangan yang didepan sudah ada Harun yang sedang duduk di kursi tunggu yang terdapat didepan ruangan tersebut.
"Papa? Apakah Yumna sakit lagi?" tanya Naazwa saat ia sudah berada di dekatnya Harun. Belum lagi Harun membalas pertanyaannya, tiba-tiba.
"Mymah?" Suara anak kecil mengagetkannya, dari belakangnya, membuat ia langsung menoleh kebelakang.
"Yumna, Yunda, Fanza, Fasya? Lalu siapa yang berada di dalam?" tanya Naazwa terlihat jelas wajahnya penasaran. Seraya ia berjongkok lalu ia
pun memeluk keeampat anaknya.
"Benar Mymah, Ayah yang sakit," sambung Yunda, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sakit? Bukankah tadi Ayah kalian baik-baik saja?" tanya Naazwa masih terlihat bingung. Dan belum sempat Yumna maupun Yunda menjawabnya, Harun langsung buka suara.
"Gilang, tolong bawa anak-anak dulu, aku mau bicara dulu dengan Naazwa," ujar Harun, pada Gilang, yang sedang berdiri dibelakang quadruplets.
"Baik Tuan besar!" Balas Gilang, "Ayo anak-anak kita cari buah-buahan dulu untuk Ayah kalian, masa mau menjenguk tidak bawa apa-apa," lanjut Gilang pada quadruplets.
"Oke, Om Gilang," kata quadruplets, yang akhirnya mereka mengikuti Gilang, tinggallah Naazwa, dan Harun.
"Duduklah Nak," titah Harun, setelah para Cucunya pergi.
"Iya Pah," balas Naazwa singkat lalu ia pun duduk di kursi tunggu, tepat disampingnya Harun.
__ADS_1
"Apa yang terjadi tadi pagi Nak? Apakah kamu bertengkar pada Suami kamu hm? Ceritakanlah semuanya dengan jujur nak," tanya Harun.
"Hmm... Itu Pah, tadi pagi Bang Rio, meminta saya meminum obat kontrasepsi Pah, tapi saya tidak mengikuti keinginannya. Sehingga beliau pergi dalam keadaan Marah Pah," ujar Naazwa apa adanya, seraya ia menundukkan wajahnya. Karena ia sedikit malu, menjelaskan hal pribadi pada mertuanya. Tapi ia juga tak ingin berbohong padanya. Makanya ia berkata terus terang.
"Ooh.. pantas saja!" kata Harun singkat membuat rasa penasaran Naazwa semakin besar.
"Sebenarnya ada apa Pah? Apa yang terjadi pada Bang Rio, kenapa ia bisa berada di rumah sakit?" tanyanya terdengar mendesak.
"Suami kamu kecelakaan mobil Nak. Mobilnya masuk jurang,"
Bak kesambar petir Naazwa, begitu kaget mendengar perkataan sang ayah mertuanya. "Hah?! Innalilahi wa innailaihi Raji'un, sekarang bagaimana keadaannya Pah?" tanya Naazwa terlihat begitu mencemaskan suaminya.
"Saat ini, masa kritisnya sudah terlewati, hanya saja, ia mengalami cidera patah tulang di kaki dan tangan kanannya Nak," jelas Harun.
"Astaghfirullah.. Ya Allah Bang Brian. Hiks.. Maaf Pah, hiks..ini semua karena Zwa, kalau saja Zwa tidak membantah keinginan Bang Brian, pasti Dia tidak akan mengalami kecelakaan, hiks.." ujar Naazwa, yang akhirnya tangisnya pecah.
"Ini bukan salah kamu Nak, tapi ini sudah kehendak Allah. Jadi kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu ya. Karena Papa yakin, peristiwa ini adalah teguran Allah pada Brian, karena ia sudah sedikit menyimpang dalam Syari'at Islam. Jadi Papa berharap kamu harus banyak bersabar ya menghadapinya, serta membantunya memperbaiki kesalahannya, kamu pahamkan Nak," ujar Harun, terlihat sedih melihat Naazwa.
"In shaa Allah Pah, In shaa Allah Zwa akan memperbaikinya, merawat serta menjaga Bang Brian, dengan sabar," balas Naazwa, seraya ia menghapus air matanya.
"Bagus, sekarang pergilah masuk! Biar anak-anak menjadi urusan Papa, Ya sudah Papa, Assalamu'alaikum," kata Harun, seraya ia bangkit dari duduknya, sambil menepuk pundaknya Naazwa. Lalu ia pun beranjak pergi.
"Baik Pah, Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Naazwa sembari ia menatap kepergian Ayah mertuanya. Setelah sang mertua menjauh, Naazwa pun bangkit dari duduknya, lalu ia melangkah menuju pintu ruangan Rio dan membukanya.
Sehingga terlihatlah tubuh suaminya yang masih berbaring lemah di ranjang dengan keadaan yang mengenaskan. Nazwa melihat kaki Rio yang sudah terpasang gift dan begitu juga dengan tangannya. Sedangkan kepala juga telah dipasang perban juga. Membuat ait mata Naazwa kembali mengalir, melihat keadaan Suaminya saat ini. Ia begitu terpukul melihat kondisi tubuh, yang tadi pagi ia melihatnya masih baik-baik saja. Namun kini, tubuh yang sempat menggendong dirinya begitu kuat kini terlihat mengenaskan.
"Maafkan Zwa Bang, hiks..hiks.. maafkan Zwa, hiks..hiks... karena Zwa Abang jadi seperti ini, hiks..hiks.." ucap Naazwa, seraya ia meraih tangan kiri Rio, lalu ia kecup tangannya dengan lembut, setelah itu ia tempelkan dipipi, kanannya.
"Kamu tidak Salah Naaz. Akulah yang bersalah, Karena aku telah menyakiti hatimu. jadi Maafin Aku Naazwa,"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1