GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
TERBAKAR CEMBURU.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Jadilah seseorang yang hatinya mudah terbuka untuk kebaikan. Insan yang mudah meminta maaf dan memaafkan, mudah berterimakasih sesederhana apa pun bantuan. Selalu ringan tangan untuk menolong sesuai kemampuan. Senantiasa mendoakan dalam kesendirian.


Yang senantiasa teduh hati dalam menyambut segala bentuk pembelajaran, meski kadang Allah bungkus dengan beratnya ujian..


In shaa Allah..Semangat memantaskan diri dalam ketaatan. Semangat memampukan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi hingga di kemudian hari, Allah berikan berkah dan ridha-Nya untuk kita, Aamiin"


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Malam itu Rio nampak gelisah, ia bingung harus melakukan apa. Ditambah lagi sang ayah tak mau memberitahukan keberadaan istri dan anak-anaknya. Sebenarnya ia juga ingin sekali menghubungi Naazwa. Namun ia tak miliki no kontaknya. Membuat ia terlihat kesal pada dirinya sendiri karena kebodohannya.


"Haiiis! Kemana gue harus mencari mereka ditengah malam begini! Mana gue nggak punya nomer kontaknya lagi! Aah bodoh banget sih gue! Nomor hp istri sendiri saja nggak tahu! Dasar bodoh!" gumamnya terdengar kesal. Sambil ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan kasar.


Disaat ia sedang bingung-bingungnya, tiba-tiba terdengar bunyi deringan benda pipih, yang berada di dalam saku celananya. "Eh, apakah itu dia?" gumamnya sambil ia mengambil benda pipihnya tersebut. Lalu tanpa melihat siapa yang menghubunginya ia langsung menerima panggilan tersebut.


"Halo Assalamu'alaikum" ucap Rio setelah sambungan terhubung.


"Wa'alaikumus salam, Ayah," jawab seorang anak kecil yang berada di seberang.


"Yunda? Kalian dimana Nak? Cepat beritahu Ayah, biar Ayah menjemput kalian," tanya Rio terdengar antusias.


"Ayah kami berada di rumah sakit. Adik Umna sakit Ayah," jawab si kecil, membuat jantung Rio, spontan seakan berhenti.


DEGH!


"Apa! Cepat katakan dirumah sakit mana Nak?" tanya Rio terdengar amat cemas.


"Di rumah Sakit tempat Dek Umna pernah dirawat Ayah," balas si kecil lagi.

__ADS_1


"Apakah Mymah juga ada disana?"


"Ada Yah, Uncle Hans juga ada. Dia yang mengantarkan kami kerumah sakit Yah," jawab Yunda, membuat hati Rio terasa panas.


"Ya sudah kalau begitu Ayah kesana sekarang. Ayah tutup ya Assalamu'alaikum" Rio memutuskan sambungannya, sebelum Yunda menjawab salamnya. Ia langsung keluar dari kamarnya, dengan wajah yang terlihat kesal. Sebelum ia menurunkan anak tangga, ia kembali mengambil benda pipihnya, lalu ia langsung menghubungi seseorang.


"Gilang cepat siapkan Mobil!" ucapnya sebelum yang ia hubungi menjawab. Bahkan ia langsung menutup kembali tanpa orang yang diseberang membalasnya.


"Huh! Dasar perempuan itu bikin kesal saja! Bukannya menghubungi suaminya! Dia malah menghubungi Pria lain! Lihat saja nanti! Gue akan memberikan hukuman padanya!" gumam Rio disepanjang jalannya menuju ke mobilnya. Ia nampak begitu kesal setelah mendengar perkataan Yunda tadi.


Sesampainya di luar, ternyata Gilang sudah membukakan pintu mobil. Dan Rio pun langsung masuk ke dalam mobilnya, Cepat jalankan mobilnya! Kita ke rumah sakit!" ucapnya dengan tegas.


"Baik Pak!" balas Gilang, dan yang kemudian ia pun ikut naik kedalam mobil tersebut. Dan tak berapa lama mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Dan kebetulan juga waktu sudah menunjukkan pukul Nol-nol, membuat jalanan menjadi lengan hanya satu dua saja kenderaan yang ia lewati. Sehingga hanya dalam waktu tiga puluh menit, Gilang sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah sakit.


"Gilang, ikut saya! Kamu harus membawa Yunda pulang!" kata Rio, sembari ia turun dari mobilnya.


"Baik Pak!" balas Gilang, dan ia pun mengikuti Rio memasuki rumah Sakit tersebut.


"Gilang! Bawa Yunda pulang!" titah Rio sambil ia mengangkat tubuh Yunda yang berada di pangkuan pria tersebut, secara tiba-tiba. Membuat Naazwa dan pria tersebut kaget, karena ternyata mereka sama-sama ketiduran dikursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit tersebut.


"Bang Brian!" sentak Naazwa, begitu kaget, hingga ia langsung berdiri.


"Kenapa terkejut begitu melihatku hm? Apa karena ketahuan kamu selingkuh?" kata Rio terdengar dingin, sembari ia menyerahkan Yunda pada Gilang. Dan tanpa berkata apa-apa, Gilang langsung membawa anak majikannya itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Eh, apa maksudnya Abang? Siapa yang selingkuh?" tanya Naazwa terlihat bingung mendengar perkataan suaminya.


Rio, tersenyum sinis melihat Naazwa, dan juga melihat Pria yang masih belum bangkit dari duduknya "Heh, kamu masih mau menyangkalnya?" tanyanya datar.


"Astaghfirullah Bang, kamu jangan berprasangka buruk begitu. Bang Hans hanya membantu Ana mengantar Yumna kesini Bang," jelas Naazwa.


"Ooh, jadi kamu lebih suka meminta bantuan Pria lain, ketimbang suami kamu sendiri ya?" sindir Rio disertai senyum sinisnya.

__ADS_1


"Maaf Pak, Anda jangan salah paham dulu! Yumna meminta bantuan saya, karena dia tidak memiliki nomor Handphone Pak Brian," sela pria yang tadi duduk disampingnya Naazwa, yang ternyata ia adalah Hans.


"Ooh, baiklah! Kalau begitu saya ucapkan terimakasih karena Anda telah membantu Istriku dan anak-anakku!" balas Rio, dengan menekan kata Istri dalam pengucapannya, "Dan Anda, sudah boleh pergi, karena sudah ada saya yang menjaganya!" lanjutnya dengan datar.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi Pak!" ucap Hans, seraya ia menoleh ke arah Naazwa, "Yumna Abang pulang ya?" ucapnya terdengar lembut, saat berkata pada Naazwa.


"Iya Bang, sekali lagi terimakasih ya Bang, dan hati-hati di jalan," balas Naazwa, yang suaranya juga terdengar lembut. Membuat hati Rio semakin panas.


"Sama-sama Yum, ya sudah Abang Pamit ya, Assalamu'alaikum," kata Hans, sambil ia tersenyum lembut pada Naazwa. Membuat Rio semakin geram melihatnya.


"Wa'alaikumus salam! Sudah pergi sana! Kebanyakan basa-basi Lo!" cetus Rio, dengan tatapan dingin.


Membuat Hans, tersenyum tipis, melihat wajah garang Rio, "Hmm.. kok sepertinya ada bau hangus ya Yumna?" ujarnya sembari ia menghirup-hirup hidungnya.


"Bau hangus apa Bang?" tanya Naazwa dengan polos.


"Kayanya bau hangus hati yang terbakar deh," balas Hans, sambil mendekati wajahnya dengan dadanya Rio.


"Mau Lo hah?!" bentak Rio, sambil mendorong wajannya Hans.


"Mau mencari bau terbakar Pak?" balas Hans, yang sambil mendekati wajahnya kembali.


Rio mengerenyit melihat tingkah Anehnya Hans, "Apa maksud Lo hah?" tanyanya yang sepertinya ia tak memahami perkataan Hans


"Wah benaran disini! Yang bau terbakar," kata Hans, sambil memegang, dada Rio. Namun langsung ditepis olehnya.


"Apa yang terbakar?" tanya Rio polos.


"Hati Pak Brian, yang terbakar! Terbakar cemburukan?" ujar Hans, lalu ia pun berlari meninggalkan Rio dan Naazwa.


"Brengsek! Beraninya dia mempermainkan gue!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2