GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PEKERJAAN BARU.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Menjadi Wanita Dengan Attitude Baik


Kita Adalah Insan Yang Selalu DiPandang Baik Lahir Maupun Nurani. Ada Jiwa Yang Mengetahui Keelokan Seseorang Dengan Tingkah Laku Yang TerLihat.


Wanita Itu Tak Hanya Bisa Di Lihat Dari Elok Rupa. Namun Attitude Itulah Yg Sangat Penting.


Baik Akhlaqmu Maka Baik Pula Pandanganmu. Maka Milikilah Akhlaq yang Baik. .


Beatiful Girl Itu Karna Attitudenya Bukan Karna Wajahnya


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Sudah tiga hari Hans berada serumah dengan Inayah. Namun ia belum berhasil merayu Inayah, agar ia mau kembali ke kota. Membuat Hans menjadi resah, pasalnya ia takut, kalau Bosnya akan menggantikan orang lain sebagai Asistennya. Karena tak ingin membuat Bosnya menunggu lama akhirnya Hans, meminta izin pada Inayah untuk kembali ke kota dengan alasan dia memiliki pekerjaan mendadak. Dan Inayah langsung mengizinkannya pergi.


Namun justru membuatnya jadi Hans kecewa. Karena ia tak menyangka Inayah mengizinkan pergi tanpa ragu sedikitpun. Bahkan ia terlihat senang saat melihat Hans akan pergi, padahal ia begitu berharap Inayah akan sedih, dan akhirnya mau mengikuti dirinya ke kota. Tapi ternyata dia salah, dan itu membuat dirinya kesal disepanjang perjalanannya menuju ke kota. Dan kini ia sudah berada di kantor Ardiyan.


"Kenapa kamu sudah kembali Hans? Apakah Inayah juga ikut bersamamu? tanya Ardiyan, saat Hans telah berada di ruangan Ardiyan.


"Tidak Pak! Dia bersikeras ingin tinggal disana. Dan saya tidak mungkin mengabaikan pekerjaan Saya, karena masalah ini. Makanya saya mengatakan padanya akan pulang kesana hanya setiap akhir pekan saja. Dan dia langsung menyetujuinya Pak," jelas Hans apa adanya.


"Dasar bodoh! Apakah kamu Pria yang tidak bisa merayu wanita hah?! Dan apa kamu tega membiarkan dia seorang diri sana? Padahal kamu tahu kalau rumahnya sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk! Kalau terjadi sesuatu padanya apakah kamu tidak akan menyesal hah?" balas Ardiyan, yang terlihat dia kesal pada asistennya itu. Karena ia berpikir Hans tak memiliki rasa khawatir sama sekali terhadap istrinya.


"Saya tahu itu Pak! Saya bahkan khawatir juga karena itu, tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak mungkin berlama-lama meninggalkan pekerjaan saya. Karena saya tidak mau Anda memecat Saya karena keras kepalanya Istri Saya! Maka jalan satu-satunya adalah kami hanya bertemu setiap akhir pekan saja pak," jelas Hans, berharap bosnya memahami situasi dirinya.

__ADS_1


"Bodoh! Apa kamu pikir Aku orang yang bodoh hah? Hanya karena masalah ini Aku melepaskan kamu! Orang yang sudah bekerja denganku selama enam tahun lebih, gitu? Hans kamu jangan berpikir terlalu dangkal! Karena aku nggak akan melepaskan kamu segampang itu! Jadi kamu tidak perlu khawatir, dan anggaplah kamu disana sedang mengambil cuti yang selama bekerja denganku tak pernah kamu ambil. Jadi bersantailah disana, anggap saja kamu sedang berbulan madu dengan Inayah,"


Hans terlihat menghembuskan nafas leganya, setelah mendengar perkataan Ardiyan. Yaa memang selama ini Hans tidak pernah mengambil cutinya semenjak ia bekerja dengan Ardiyan. Karena baginya waktu itu cuti hanya membuang waktu dan uang saja. Namun sekarang berbeda, mungkin karena dihatinya kini sudah ada seseorang. Sehingga saat ini rasanya ia ingin sekali segera menemuinya.


"Hmm..apa itu artinya, saya boleh kembali ke daerah ST Pak?" tanya Hans, terlihat jelas dari matanya, kalau ia seperti tidak sabar ingin segera kembali.


Ardiyan tersenyum penuh kemenangan, saat ia melihat ada perubahan pada dari raut wajah Hans, yang menggambarkan kalau sepertinya ia sedang dilanda kasmaran. Ardiyan nampak puas, melihat perubahannya. Karena pada akhirnya, Pria es, dapat mencair juga.


"Mengapa pak Diyan malah tersenyum seperti itu?" tanya Hans, karena Ardiyan tidak langsung menjawab pertanyaannya tadi.


"Kenapa emangnya? Apakah ada larangan buat gue tersenyum hah?" balas Ardiyan terdengar jutek.


"Tidak kok! Hanya saja mengapa Anda tidak menjawab pertanyaan Sayu? Apakah maksud perkataan Pak Diyan tadi? Mengapa saya merasa, perkataan tersebut, seperti menyuruh saya untuk kembali ke daerah itu?" kata Hans, yang kini wajahnya terlihat datar. Karena ia merasa kalau Ardiyan mulai menyadari sikap senangnya tadi.


"Cih! Ge'er kamu! Siapa juga yang menyuruh kamu balik kesana hah?" balas Ardiyan. Dan seketika ia wajah Hans berubah pias. Terlihat sekali ada kekecewaan pada raut wajahnya.


"Siapa yang menyuruh kamu kembali bekerja hah? Apa gue tadi ada menyuruh kamu?" Hans terlihat amat bingung dengan sikap Bosnya itu, yang terkesan plin-plan.


"Hah? Terus saya harus melakukan apa Pak?" tanya Hans, berusaha sabar menghadapi Bosnya tersebut.


"Kamu ku perintahkan pergi berbulan madu dengan Inayah!" balas Ardiyan terdengar tegas.


"Hah?" Hans nampak tak percaya dengan perkataan Bosnya itu.


"Kenapa? Apakah kamu tidak senang hm?"


"Bukan, bukan begitu Pak! Tapi tadikan..."

__ADS_1


"Sssth..! Jangan protes! Sekarang kamu segera jemput Inayah dan bawa dia ke villaku yang di DT! Bukankah daerah ST sudah mendekati tempat wisata DT? Kebetulan villaku yang disana sudah lama tak dilihat. Jadi itu kesempatan kamu merayu Inayah, agar ia mau kembali ke kota M. Apa kamu paham?" potong Ardiyan. Hans nampak ragu, karena ia merasa Inayah belum sepenuhnya menerima dirinya.


"Eh, tapi Pak, kalau Inayah tetap nggak mau gimana?" tanyanya, yang terlihat ada kebimbangan.


"Nggak mau apa?"


"Nggak mau dua-duanya, kembali ke kota dan...dan...dan..itu..hum.. pergi..hum..ke villa DBnya! Hmm.. soalnya Inayah, sangat sulit orangnya," balas Hans, dengan wajah yang nampak merah, bahkan ia terlihat canggung untuk mengatakan berbulan madu.


Ardiyan, menahan tawanya, melihat wajah Hans nampak memerah. Yaa Ardiyan tahu, Hans tak pernah tertarik dengan yang namanya wanita. Ia pernah dekat dengan Naazwa pun berawal dengan keterpaksaan juga. Walaupun akhirnya mereka tak berjodoh. Dan kini ia menikahi Inayah karena sebuah ancaman. Jadi wajar saja bila ia masih kaku terhadap Inayah.


"Kalau Inayah tidak mau dengan keduanya! Itu berarti kamu selamanya tinggal di sana!" balas Ardiyan membuat Hans, langsung tersentak.


"Apa?! Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya Pak? Tidak mungkinkan, saya tidak bekerja? Karenakan saya juga harus mencari nafkah untuk dia," Kata Hans terlihat cemas.


"Kata siapa kamu tidak bekerja disana? Kamu tetap bekerja disana Hans! Sebagai mandor diperkebunan teh yang ada di sekitar rumah Inayah! Karena perkebunan itu sudah saya beli! Dan sekarang perkebunan teh itu menjadi tanggung jawab kamu!"


Hans langsung tercengang mendengar perkataan Ardiyan. Ia seperti tak percaya dengan apa yang ia dengar, " Hah? Segampang itu membeli perkebunan teh yang berhektar-hektar itu?" gumamnya. Namun masih terdengar oleh Ardiyan.


"Kamu tidak percaya Hans? Kalau begitu sekarang aku perintahkan kamu pulang sekarang! Dan tanyakan pada kepala desa disana! Setelah kau tahu jawabannya segeralah pergi berbulan madu! Karena setelah itu, kamu akan disibukan dengan pekerjaan baru kamu!" titah Ardiyan terdengar tegas.


"Eh, tapi Pak..."


"Jangan membantah lagi Hans! Sekarang pergilah! Dan bawalah mobil yang biasa kamu pakai dua bulan ini. Karena mobil itu memang aku beli atas nama kamu!" potong Ardiyan, membuat kembali tercengang.


"Hah? Benarkah Pak?" tanya Hans dan langsung di anggukan oleh Ardiyan semabri ia tersenyum. "Alhamdulillah terima kasih banyak pak!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2