GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
KESEDIHAN NAAZWA.


__ADS_3

••══❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hadits 💚❉্᭄͜͡══••


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).(Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•


"Apakah kita terlambat kak Unda?" tanya Yumna, dengan tatapan mengarah kedalam mesjid. Yang terlihat mereka sudah berkumpul. Dan ia juga melihat Naazwa dan Hans duduk saling berdekatan, membuat hatinya begitu sedih melihatnya.


"Kak Unda juga tidak tahu Dek Umna, kalau sudah terlambat, sebaiknya kita beri ucapan selamat aja yuk," kata Yunda yang terlihat ia sedang berusaha tegar di depan sang Adik. Yumna langsung mengangguk pasrah.


Yumna dan Yunda, pun memasuki mesjid dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca. Yunda menggandeng tangan Adiknya. Dan mereka berjalan mendekati, Naazwa yang terlihat sedang duduk bersanding dengan Hans, dengan satu selendang menutupi kedua kepala mereka.


Semakin mereka mendekat semakin mereka tak mampu menahan air mata mereka. Dan anehnya semua mata langsung tertuju pada kedua gadis kecil itu. Termasuk Naazwa, Hans juga Ustadz Khairul. Setelah keduanya berdiri di dekat meja tempat ijab akan berlangsung, Yumna dan Yunda tak langsung menatap orang-orang yang sedang melingkari meja tersebut.

__ADS_1


Keduanya malah menatap sebuah kaligrafi yang bertuliskan Allah, dengan tatapan yang begitu sendu. Seakan keduanya sedang meminta jawaban dari tulisan tersebut. Hingga membuat air mata keduanya semakin mengalir deras ke pipi keduanya. Namun dengan cepat keduanya langsung menepis air mata tersebut.


Nampak Yumna dan Yunda menghelakan nafasnya, lalu pandangan keduanya pun beralih pada Naazwa dan Hans, seraya tersenyum. Namun senyuman mereka malah membuat hati Naazwa, Hans, Ustadz Khairul serta yang lainnya, jadi merasa sedih. Karena mereka semua tahu, kalau senyuman itu menutupi kesedihan mereka.


"Selamat ya Aunty Azwa, semoga Aunty bahagia bersama Uncle Hans," ucap Yumna dengan suara yang terdengar bergetar. Seperti sedang menahan tangisnya.


Mendengar Yumna, tak lagi menyebut Mama, membuat hati Naazwa, seakan sakit. Bahkan ia dapat merasakan hatinya seakan kosong. Ia seperti tak rela Yumna mengganti panggilan tersebut, rasanya amat sakit. Sehingga tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. Tatapan mata Naazwa terlihat begitu lekat pada Yumna. Seakan ia ingin bertanya "Mengapa yumna merubah panggilannya? Apakah dirinya tak pantas lagi menyandang panggilan Mama lagi?"


Namun pertanyaannya tidak dapat keluar dari mulutnya. Karena lidahnya seakan kelu, ditambah lagi, ia ingin menjaga perasaan Hans. Sehingga pertanyaan tersebut hanya tersimpan didalam hatinya saja. Melihat kediam Naazwa, Yunda pun mengulangi perkataan adiknya.


"Aunty, Uncle? Unda juga mau mengucapkan selamat pada Aunty Azwa dan Uncle Hans. Semoga, Allah memberi kebahagiaan untuk Aunty dan Uncle," ucap Yunda seraya tersenyum, namun air matanya ikut mengalir kembali.


Yumna dan Yunda, kini sudah berada di depan pintu mesjid, yang ternyata disana sudah ada Rio dan Harun serta kedua anak laki-lakinya. Mereka juga ternyata ikut menyaksikan keharuan tersebut. Membuat Rio juga tak mampu menahan air matanya saat melihat kedua putrinya yang terlihat sedang berusaha tegar. Rio pun langsung memeluk keduanya.


"Daddy? Hiks..bawa Umna pergi dari sini, hiks..hiks.." pinta Yumna didalam pelukan sang Ayah.

__ADS_1


"Unda juga Ayah, hiks..Unda mau pulang hiks.." pinta Yunda juga, yang nampak begitu erat memeluk sang Ayahnya.


"Baiklah, putri-putri cantik Ayah, sekarang kita pulang oke?" balas Rio, seraya, memberikan kecupan lembut pada keduanya. Lalu ia pun menggendong kedua putrinya, yang terlihat keduanya masih menangis di bahu sang Ayah, tanpa ingin melirik kearah Naazwa sedikitpun. Rio pun mulai berjalan meninggalkan acara akad tersebut.


"Apakah sudah bisa kita lanjutkan ijab qobulnya?"


Suara bariton seorang pria menyadarkan seisi mesjid yang sedang terhanyut di suasana sedih tersebut. Dan anehnya tidak ada yang merespon pertanyaan pria yang sepertinya ia adalah seorang penghulu.


"Nak Hans? Apakah sudah bisa kita lanjutkan acara ijab qobulnya?" tanya Pria itu lagi, yang kali ia pertanyaan tersebut terlontar khusus untuk Hans.


Mendengar pertanyaan tersebut, Hans bukannya menjawab, ia malah menatap Naazwa yang masih terlihat terisak sambil menatap kepergian Rio dan anak-anaknya yang masih terlihat walaupun sudah mulai menjauh. Hatinya seakan sakit, melihat kesedihan Naazwa. Dan semakin terasa sakit karena melihat orang yang dicintainya, menangis begitu sedih sambil menatap pria lain didepan matanya.


"Nak Hans? Apakah Anda mendengar perkataan saya?" tanya Penghulu tersebut yang kali ini suaranya sedikit dikeraskan.


"Nak Hans, Ustadz Marwan, bertanya pada kamu Nak," sambung Ustadz Khairul, sambil memegang tangan Hans.

__ADS_1


"Maaf Abi, Saya, saya..."


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2