GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MEMAINKAN SANDIWARA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Saat perjalanan menuju impian merasa lelah itu wajar, istirahat sebentar atau pelankan langkah. Tetapi jangan pernah kita berhenti kemudian menyerah. Teruslah membuat rencana dan berjuanglah untuk mencapainya.


Jika engkau membuat sepuluh rencana dan yang berhasil tercapai "hanya" dua, berarti hidupmu maju dua langkah. Bukan gagal delapan langkah.


"Namun jika engkau tidak mempunyai rencana, maka sesungguhnya engkau merencanakan kegagalan."


So, tetap Semangat ya guys 😉


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Karena melihat suaminya yang suka sembarangan menciumnya. Inayah pun langsung membawa Hans ke kamar mereka. Karena ia takut dilihat oleh Mbok Iyem. Namun Hans malah berpikir, Inayah membawanya ke kamar karena ingin mengajaknya bercinta. Sehingga ketika mereka sampai di kamar Hans langsung membuka baju jasnya dan kini ia hendak membuka kancing kemejanya.


"Abang mau ngapain, kok pakai buka baju segala sih?" tanya Inayah dengan wajah polosnya. Seraya melipat kedua tangannya ke bawah dadanya.


Hans langsung tersentak mendengar pertanyaan Inayah, yang terdengar ambigu. Ia pun akhirnya menyadari kalau istri kecilnya itu, bukanlah wanita yang suka memnta terlebih dahulu. Mengingat hal itu membuat Hans, malu sendiri karena sudah berpikir yang tidak-tidak ketika Inayah menariknya tadi. Dan ia juga tak ingin memaksa istrinya, karena ia masih berpikir kalau istrinya masih belum pulih betul dari pasca kegugurannya.


"Loh kok malah bengong sih Bang? Abang sedang mikirin apa sih?" tanya Inayah lagi, membuat Hans tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh! Nggak mikirin apa-apa kok Sayang. Ya sudah kamu istirahat saja dulu ya Sayang?" balas Hans seraya ia mengecup dahi Inayah secara singkat.


"Sebentar ya Sayang? Abang mau mandi dulu, Soalnya Abang gerah banget nih," balas Hans, yang kemudian ia pun langsung bergegas ke kamar mandi, tanpa menunggu jawaban dari Inayah. Ia juga terlihat sedikit terburu-buru, karena sepertinya ia harus menuntaskan sesuatu. Karena tadi ia sempat berpikir nakal, sehingga membuat hasrat sedikit naik.


"Hmm..Bang Hans kenapa sih? Kok sikapnya berbeda banget sih? Kaya ada yang sedang dipikirkan deh? Tapi apa yaa?" gumam Inayah, setelah Suaminya tak terlihat lagi. Disaat seperti itu tiba-tiba Inayah kembali teringat perkataan Mbok Iyem dan seketika itu juga ia teringat pada wanita yang bernama Ranti.


"Eh, apa jangan-jangan Bang Hans, sudah tergoda ya sama si Ranti ya? Kan Ranti orangnya nekat, bahkan dia nggak perdulikan walaupun cowok yang dia suka sudah beristri? Hmm.. baiklah sepertinya Ana harus menjaga Bang Hans! Biar dia tidak tergoda pada wanita itu!" gumam Inayah lagi, yang sepertinya ia mulai was-was setelah ia mengingat wanita bernama Ranti tersebut. Bahkan rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Disaat ia sedang terhanyut dalam pemikirannya, membuat ia tak sadar kalau Hans, sudah keluar dari kamar mandinya. Dan bahkan ia sedang memperhatikan dirinya.


"Sebenarnya Inayah kenapa sih? Kok sejak aku datang tadi, dia selalu melamun ya? Apa jangan-jangan dia tidak betah tinggal di sini ya? Soalnya dari sebelum aku berangkat ke luar kota, dia selalu minta pulang ke daerah ST. Haiis sepertinya rencanaku gagal deh, membuat dia betah tinggal di kota. Aah ya sudahlah dari pada melihatnya tersiksa begitu. Lebih baik aku turuti saja keinginannya pulang ke St," batin Hans merasa bersalah karena telah memaksa istrinya untuk tinggal di kota.


"Sayang, bersiaplah kita akan pulang ke daerah ST," kata Hans, seraya ia menghampiri istrinya. Mendengar perkataan Hans, Inayah tampak terkejut.


"Apa Bang? Pulang ke St?" tanya Inayah, yang sepertinya ia tak percaya dengan pendengarannya.


"Eh kenapa tiba-tiba bang Hans, mengajak pulang ke ST? Apa jangan-jangan dia ingin bertemu dengan Ranti ya? Aah..tidak boleh pokoknya Bang Hans tidak boleh bertemu dengan dia lagi!" batin Inayah.


"Sayang, kok malah melamun lagi sih? Ayo dong kamu siap-siap sekarang. Biar kita tidak kemalaman sampai di sananya" ujar Hans, membuat Inayah kembali tersadar dari lamunannya.


"Eh, tidak-tidak! Nayah tidak mau pulang Bang, kita disini saja ya?" balas Inayah, membuat dahi Hans langsung berkerut.


"Benaran kamu tidak ingin kembali ke daerah ST lagi, hm?" tanya Hans, memastikan lagi.

__ADS_1


"Iya benaran kok Bang. Nayah nggak mau kembali ke daerah ST lagi bang. Jadi bolehkan Nayah tetap tinggal di rumah ini?" tanya Inayah dengan pandangan mata pengharapan pada Hans.


Mendengar perkataan Inayah, Hans langsung bernafas lega. Karena memang itulah yang ia harapkan, "Alhamdulillah.. tentu saja boleh dong Sayang. Lagian inikan rumah kamu juga Sayang, jadi hak kamu mau tinggal sampai kapanpun disini, tidak akan ada yang melarangnya," katanya seraya ia memeluk tubuh Inayah. Bahkan saking senangnya ia juga mengecupi seluruh wajahnya. Karena pada akhirnya yang ia harapkan terkabul juga.


"Iiikh..Bang Hans! Kok ciumin Nayah Mulu sih!" protes Inayah, terlihat kesal. Karena memang Hans, mencium dirinya dengan gemas.


"Itu Karena Abang senang Sayang. Karena mulai sekarang Abang nggak perlu repot-repot bekerja di perkebunan teh lagikan kalau kita tinggal di sini. Makanya Abang ngasih ciuman itu, sebagai ucapan terima kasih Abang, sama kamu Sayang," jelas Hans, membuat Inayah jadi merasa bersalah, karena sempat su'udzon padanya.


"Maaf ya Bang, Nayah tadi sempat Su'udzon sama Abang. Karena tadi Nayah sempat berpikir, Abang ngajak pulang ke ST, karena Abang ingin bertemu dengan Ranti," kata Inayah, seraya ia menundukkan wajahnya, sambil menyatukan ujung kedua jari telunjuknya. Menandakan ia merasa bersalah. Hans yang melihat itu, pun tersenyum tipis, dan timbullah keinginan untuk menjahilinya.


"Astaghfirullah..kenapa kamu berpikir seperti itu sih Sayang? Emangnya kamu pernah melihat Abang berduaan dengan dia hm?" tanya Hans, dengan memasang wajah pura-pura sedihnya. Dan Inayah pun membalasnya dengan gelengan kepalanya saja.


"Lalu kenapa bisa kamu berpikir seperti itu, hm?" tanya Hans lag. Namun tak dijawab oleh Inayah, sebenarnya ia ingin menceritakan awal mula ia terjatuh, yang sebenarnya karena ia melihat tatapan Ranti terhadap suaminya. Namun ia urungkan, karena ia berpikir Hans akan marah padanya, kalau penyebab ia jatuh karena wanita tersebut.


"Hmm.. nggak bisa jawab? Apa dimata kamu Abang orang yang seperti i.." ucap Hans. Namun ucapannya langsung terhenti karena tiba-tiba saja Inayah mencium bibirnya membuat mata Hans langsung terbelalak melihatnya. Karena itu pertama kalinya Inayah berinisiatif menciumnya terlebih dahulu.


"Maaf yaa Bang, Nayah sudah bersalah sama Abang," kata Inayah setelah ia melepaskan tautan bibirnya. Melihat hal itu, Hans semakin ingin memainkan sandiwaranya. Dan ia kembali memasang wajah pura-pura marah lalu ia membuang pandangannya dari Inayah.


Inayah pun semakin merasa bersalah, "Bang Maafin Nayah dong. Nayah khilaf Bang," katanya seraya ia mengatupkan kedua tangannya.


"Hum..!" balas Hans, kembali membuah pandangannya kesisi yang berbeda lagi. Melihat hal itu, Inayah pun langsung menahan wajah suaminya, agar pandangan mengarah ke dirinya. Membuat Hans terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Huh! Sepertinya Abang harus menghukum kamu!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2