
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bukannya Allah tak tau beratnya beban dipundakmu.Tapi Allah tau, bahwa engkau masih mampu menghadapinya. Bukannya Allah tak tau betapa perihnya lukamu. Tapi Allah tau bahwa engkau masih mampu melewati. Bukannya Allah tak tau lelahnya perjuanganmu.Tapi Allah tahu bahwa dengan ujian itu engkau akan mendapat derajad yg tinggi.
Maka bersabarlah dengan segala keadaan yang engkau hadapi. Yakinlah bahwa ini yang terbaik untukmu dan suatu saat nanti engkau pasti akan bahagia. Karena Allah telah berjanji bahwa siapa saja yang mampu bersabar dalam ujian, maka Allah akan memberikan kebahagiaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Masih disekolah Bintang.
Mendadak sekolah bintang, menjadi ramai. Bukan hanya para orang tua siswa saja, yang berkumpul di sana. Namun terlihat juga ada beberapa polisi yang terlihat, sedang mengintrogasi para saksi mata. Yaa ternyata berita penculikan anak Rio, dan Anak Ardiyan, telah merebak disana. Membuat para orang tua siswa disana, menjadi ikut khawatir. Dan itu termasuk para keluarga lima sekawan. Apalagi Naazwa dan Anisah, yang anaknya telah diculik.
"Bagaimana bisa para scurity itu lengah sih? Masa mereka tidak tahu, kalau ada murid yang keluar dari gerbang! Bukankah biasanya pintu gerbangnya ditutup ya?" protes Naazwa, terlihat ia begitu panik. Sehingga ia meluapkan kekesalannya pada dua orang scurity penjaga sekolah Bintang tersebut.
"Tenanglah Yumna, jangan terbawa emosi. Ingatlah saat inikan kamu sedang mengandung," balas Anisah, yang memang ia terlihat lebih tenang dari Naazwa.
"Gimana Ana bisa tenang Ustadzah! Kalau, keberadaan mereka belum diketahui," balas Naazwa.
__ADS_1
"Bersabarlah, in shaa Allah mereka akan baik-baik saja Yumna. Karena ada Allah, yang akan menjaga mereka. Jadi berprasangka baik saja Yum, karena Allah bersama prasangka Hamba-Nya, seperti yang dikatakan didalam sebuah hadits kutsi
"Aku bersama prasangka hambaku dan Aku akan selalu bersamanya. Selama dia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dengan begitu banyaknya, maka Aku akan mengingatnya lebih banyak darinya. Dan apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Dan apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari" ( Riwayat Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi ).
"Jadi kita harus berpikir positif saja ya. Dan berprasangka baik saja. Karena seseorang berprasangka baik pada Allah adalah sikap tawakkal. Berserah diri pada Sang Pencipta. Dan kita pun akan menjadikan dia tenang, tidak ada akan kekhawatiran karena percaya bahwa Allah akan memberinya kehidupan yang terbaik bagi kita," jelas Anisah panjang lebar.
"Astagfirullah, maafin Ana Ustadzah, karena memikirkan Yumna. Ana jadi melupakan ajaran yang Ustadzah diberikan. Sekali lagi terima kasih ya Ustadzah," balas Naazwa, merasa bersalah karena telah melupakan ilmu yang pernah diberikan oleh Anisah. Dan disaat bersamaan.
"Assalamu'alaikum," ucap enam orang pria, yang tak lain adalah, Rio, Ardiyan, Dimas, Dika, Andi, dan Wira. Tampak mereka sedang menghampiri enam wanita. Yang sudah pasti, mereka adalah para Istri lima sekawan.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," jawab para wanita secara bersamaan.
"Sayang, sebaiknya kamu dan Farhan pulanglah. Biar Ubby yang akan menangani masalah Farah," ujar Ardiyan pada Anisah, "Kalian juga pulanglah, bawalah Anak-anak kalian juga, masalah disini biar kami yang akan menanganinya," lanjut Ardiyan, yang ditujukan kepada para istri-istri sahabatnya.
"Kamu juga Sayang, pulanglah dulu, bersama Anak-anak, kasihan mereka Sayang. Sepertinya mereka syok, karena saudaranya diculik. Jadi Pergilah, Gilang sudah menunggu kalian dimobil," ujar Rio, pada Naazwa.
"Baiklah Bei, kalau begitu kami pulang juga ya, Assalamu'alaikum," pamit Naazwa, yang kemudian ia pun beranjak pergi dan membawa anak-anaknya, menuju ke mobilnya. Tinggallah Rio, bersama para sahabatnya.
"Apakah para penculik itu sudah menghubungi kamu Brian?" tanya Ardiyan pada Rio.
"Belum Ar, Lo sendiri gimana? Apakah mereka sudah menghubungi Lo?" tanya Rio balik.
"Belum juga Bri, tampaknya mereka bukan dari musuh gue deh," balas Ardiyan, "Oh iya Dim, coba kamu periksa cctv yang ada didekat gerbang siapa tahu ada petunjuk disana," lanjutnya pada Dimas.
"Oke Ar, kalau begitu gue ke ruang kontrol dulu ye," kata Dimas, yang kemudian ia pun langsung beranjak meninggalkan para sahabatnya.
__ADS_1
"Mengingat kata musuh, gue jadi teringat pada wanita yang ingin menjebak.." ujar Rio, yang bermaksud ingin menceritakan kejadian yang menimpanya saat dikantornya. Namun belum sempat yang menghabiskan ceritanya tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Dan dengan cepat ia pun langsung merogoh sakunya, untuk mengambil benda gadgetnya itu.
"Siapa Brian?" tanya Ardiyan, yang terlihat ia sangat penasaran.
"Gue juga nggak tahu Ar! Soalnya nggak ada namanya," balas Rio apa adanya.
"Ya sudah kalau angkatlah! Eh tapi tunggu sebentar Bri! Kita harus ke ruang kontrol dulu karena gue yakin itu pasti dari para penculik itu!" ujar Ardiyan.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita segera kesana!" balas Rio, lalu mereka pun langsung bergegas menuju ke ruang kontrol. Sesampainya disana.
"Wir, Lo yang melacak posisi mereka!" ujar Ardiyan pada Wira.
"Oke Ar!"
"Oke, Brian sekarang terima panggilan itu," kata Ardian lagi, pada Rio.
"Okay!" balas Rio, lalu ia pun langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo! Siapa ini?" tanya Rio dengan nada terdengar ketus.
"Halo.. Daddy ini Yumna..ummm..!!" ucap Yumna, namun perkataannya langsung terhenti. Dan bahkan sambungannya juga terputus.
"Halo Yumna??"
...⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
__ADS_1