GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MASHAA ALLAH CANTIKNYA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Bedanya menyukai dan mencintai


" jika seseorang menyukai bunga. Ia pasti akan memetik bunga itu dan akan membuang nya ketika suda layu."


"Tapi jika seseorang mencintai bunga. Ia tidak akan memetik bunga , melainkan akan menjaga dan merawat bunga itu".


...Sama halnya dengan kita...


"Jika seseorang menyukai, ia pasti akan mengajak mu pacaran, dan setelah bosan ia akan putuskan"


"Tetapi jika mencintai ia tidak akan mengajakmu pacaran, melainkan ia akan menjagamu dengan cara menghalalkanmu"


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Setelah melihat suaminya telah tertidur pulas. Inayah akhirnya naik keranjang yang sama dengan Hans. Dan membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap ke dinding. Yang artinya posisi mereka tidur saling membelakangi. Pada awalnya, Inayah begitu sulit untuk memejamkan matanya, mungkin karena cadarnya masih melekat diwajahnya.


Namun setelah ia sadar kalau Hans, adalah suaminya. Inayah pun membuka hijab dan cadarnya tersebut. Agar bia bisa tertidur dengan nyaman. Dan benar saja tak berapa lama ia membuka hijab dan cadarnya, akhirnya ia pun ikut terlelap dalam tidurnya.


Daerah ST, memang terkenal dingin pada waktu malam. Apalagi di jam malam menjelang pagi, udara dingin akan menusuk ke tulang, bagi yang belum terbiasa tinggal didaerah St tersebut. Termasuk Hans, yang langsung terbangun dijam satu malam. Karena tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan.


"Brrr...arr...brrr....kenapa dingin banget sih? Iikh...rrrr..gila dinginnya...arrrr... padahal aku terbiasa tidur memakai AC, tapi nggak pernah sampai kedinginan seperti ini..Arrrr...arrr..." gumam Hans, yang terlihat ia begitu kedinginan, hingga membuat giginya saling beradu, saking dinginnya.


"Eh, gimana dengan dia?" gumam Hans yang tiba-tiba teringat pada Inayah, "Apakah dia tidak kedinginan seperti Aku saat ini?" gumamnya lagi, seraya, ia memutarkan tubuhnya, secara perlahan untuk melihat Inayah, yang ternyata ia juga terlihat sedang kedinginan. Dan itu terlihat jelas dari getaran tubuhnya, yang saat ia sedang tidur miring sambil meringkuk.


"Nayah? Kamu kedinginan juga yaa? Bolehkah aku memeluk kamu Nayah?" tanya Hans, dan tanpa menunggu jawaban dari Inayah, Hans pun mendekati tubuhnya, ketubuh Inayah. Lalu tanpa memberi aba-aba, ia pun memeluk tubuh kecil milik Inayah dari belakang.

__ADS_1


Sedangkan Inayah yang merasakan tubuhnya dipeluk oleh Hans, sedikit kaget, "Hum!Brr..arr..brrr..hmm.." sentaknya. Namun karena ia merasa dingin yang amat sangat. Membuat ia tak memberontak sedikitpun, ia malah membiarkan Hans memeluk tubuhmya.


"Tenanglah, sebentar lagi kamu tidak akan kedinginan lagi," kata Hans, yang entah mengapa, hatinya merasa iba melihat tubuh kecil Inayah yang sedang kedinginan.


"Apakah kamu selalu seperti ini, selama satu Minggu ini, Nayah? Mengapa kamu tetap bertahan sih dalam keadaan seperti ini?" tanya Hans lirih, karena ia berpikir Inayah masih mendengar dirinya. Namun Inayah tak meresponnya, karena ternyata ia telah kembali tertidur pulas, mungkin karena ia merasakan kenyamannya tidur dipelukan Suaminya.


Hans yang merasakan nafas Inayah mulai teratur, ia pun tersenyum tipis, "Apakah dia mulai merasakan nyaman tidur di pelukanku?" lirih Hans, seraya meliriknya. Dan seketika ia menyadari kalau ternyata Inayah telah melepaskan hijab dan cadarnya.


"Eh? Kenapa aku baru sadar sekarang, ternyata ternyata Inayah, membuka hijab dan cadarnya? Kenapa dia sudah tidak waspada lagi padaku..? Apa itu artinya dia sudah mulai menerima Aku sebagai suaminyakah?" gumamnya lagi terdenar lirih. Sambil ia mendekati wajahnya ke rambutnya Inayah, karena hidungnya mencium aroma harum yang menyejukkan di rambutnya Inayah. Sehingga membuat rasa lelahnya berangsur hilang. Bahkan ia terbuai, dan langsung menyelam dalam mimpi indahnya. Dan akhirnya keduanya tertidur pulas, tanpa merasakan kedinginan lagi.


...*****...


Keesokan paginya.


Inayah yang terbiasa terbangun saat menjelang subuh. Sempat terkejut, saat ia menyadari sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Namun seketika ia pun teringat, ketika ia kedinginan Hans memeluknya. Dan seketika itu juga jantungnya kembali berdetak kencang, saat ia hendak memindahkan tangan Hans.


"Gimana caranya Ana memindahkan tangan bang Hans ya? Kalau Ana pegang, dia pasti terbangun. Aah.. iya bukankah Bang Hanskan juga selalu sholat, apa sebaiknya Ana bangunin saja ya?" batin Inayah lagi, "Aah, sudahlah Ana bangunkan saja, siapa tahu saja dia ingin pergi ke mesjid," batinnya lagi. Lalu Inayah akhirnya memberanikan diri untuk membangunkan suaminya.


"Bang? Bang Hans, bangun! Bangun Bang, apa Abang tidak ingin subuh dimesjid?" panggil Inayah dengan lembut, seraya ia menggoyangkan tangan Hans, yang masih melingkar di tubuhnya.


"Hmm.. apakah sudah waktunya subuh?" tanya Hans kembali dengan suara yang terdengar serak ciri khas orang bangun tidur.


"Sebentar lagi Bang, tapi apa Abang tidak ingin mandi dulu?" balas Inayah, masih dengan suara lembutnya.


"Hmm..baiklah! Tapi bisakah aku tidur lima menit lagi Nayah?" tanya Hans, sambil mempererat pelukannya, Bahkan ia makin membenamkan wajahnya di rambut Inayah. Sehingga Inayah dapat merasakan hembusan nafasnya Hans, yang mengenai tengkuknya. Membuat ia langsung merinding.


"Ukhm..Bang jangan seperti itu, Ana jadi meinding nih," tegur Inayah, sambil ia berusaha bangkit dari tidurnya. Dan akhirnya ia berhasil duduk dan langsung memakai hijabnya yang kebetulan berada didekat bantalnya.


Sedangkan Hans langsung membuka matanya, karena Inayah yang memaksa melepaskan diri dari pelukannya. Dan seketika ia ikut terduduk, saat ia melihat wajah Inayah, yang terlihat begitu cantik.

__ADS_1



"Nayah? Maa shaa Allah, cantiknya!" ucap Hans, yang terlihat ia begitu terpesona melihat kecantikan wanita yang dihadapannya, yang Kini telah menjadi Istrinya.


"Terima kasih Bang, hum..itu baju Abang terbuka," balas Inayah, seraya ia menundukkan wajahnya, yang terlihat kini sedikit tersipu malu. Seketika Hans, langsung melihat bagian dadanya, yang ternyata, kancing kemejanya, memang terbuka.


"Eh, maaf ini bukan sengaja kok," kata Hans, seraya ia membetulkan kancing kemejanya. Namun pandangannya tetap tak lepas dari wajah cantiknya Inayah.



"Bang? Jangan lihatin Nayah seperti itu! Um.. anu, itu kayaknya, dimesjid sudah Adzan. Apakah Bang Hans tidak kemesjid?" tanya Inayah, yang terlihat ia begitu canggung karena, Hans yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


"Aaah, Iya! Kalau begitu aku pergi ke mesjid dulu ya? Umm..itu apakah kamu tidak ada sarung? Soalnya Aku tidak membawa pakaian," balas Hans, yang nampaknya ia juga, menjadi canggung, setelah melihat wajah istrinya.


"Ada kok Bang! Tunggu sebentar Ana ambilkan," Inayah pun bergegas turun dari tempat tidurnya, lalu ia pun langsung menghampiri sebuah lemari kecil, yang berada disudut kamarnya. Setelah ia mengambil kain sarung yang diminta Hans, ia pun kembali menghampiri suaminya, dan menyerahkan sarung tersebut, "Ini Bang,"


"Terima kasih Nayah, ya sudah saya kemesjid dulu ya," kata Hans, seraya ia hendak berjalan. Namun...


"Bang?" panggil Inayah dengan lembut.


"Iyaa?" sahut Hans, sembari membalikkan badannya dan, "Eh?!" Hans terlihat kaget saat Inayah meraih tangannya lalu mengecupnya.


"Hati-hati ya?" kata Inayah, sembari tersenyum lembut.


"Aah iya! Ya sudah saya pergi Assalamu'alaikum," ucap Hans yang nampaknya ia masih terlihat, canggung dengan perlakuan istrinya.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2