
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bersyukurlah.
Jika Allah masih menghadirkan sahabat2 yang selalu mengingatkan kita dalam kebaikan. Itu tandanya, Allah sangat menyayangi kita. Allah tak ingin hati kita keras dan kotor walau hanya sedikit. Allah ingin kita juga bisa masuk ke surgaNya..
Tak ada hal yang ''kebetulan" di dunia ini, begitupun dengan orang-orang yang kita kenal saat ini, sudah Allah atur..
Teruslah berjuang di jalanNya bersama sama, agar kekeringan iman tidak akan dengan cepat merubah perjuangan kita. Akan ada berbagai tantangan selama kita berjuang. Tugas kita salah satunya adalah bersabar dan terus berjuang bersama menyamakan frekuensi.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Satu Minggu setelah perayaan Ultah quadruplets. Naazwa merasa Fanza anak sulung Rio agak sedikit berbeda sikapnya. Bahkan ia lebih suka menyendiri ketimbang bermain pada saudaranya. Itu sangat tidak biasa! Karena selama ini sifat Fanza sedikit jahil pada adik-adiknya. Makanya berasa sekali, bagi Naazwa saat melihat ia jadi orang yang pendiam. Dan itu membuat ia begitu penasaran, dan ingin segera mengetahui apa penyebab, yang membuat ia berubah.
"Fanzaa?" panggil Naazwa, ketika ia melihat Anak sambungnya itu sedang melamun, dibalkon kamarnya. Namun tampaknya panggilan Naazwa tak terdengar oleh Fanza, karena sepertinya lamunannya begitu dalam sehingga tak mendengar panggilan ibu sambungnya.
"Fanzaa?!!" panggilnya lagi, yang kini suaranya lebih keras, membuat Fanza langsung tersentak.
"Iya Mymah?" sahut Fanza, dan ia pun langsung menghampiri Naazwa, "Mymah panggil Anza?" tanyanya setelah ia berada di dekat Naazwa.
"Iya Sayang, Mymah mau minta tolong sama kamu, boleh nggak?" tanya Naazwa, yang terlihat ia nampak telah rapih. Dengan memakai baju gamis serta hijab dan cadarnya berwarna senada serba hitam.
"Hmm.. mau minta tolong apa My?" tanya Fanza terlihat ragu-ragu.
"Tolong temanin Mymah ke pondok, kamu maukan?" Seketika wajah Fanza berubah, ia terlihat, seperti enggan menuruti keinginan sang Ibu, "Kenapa? Nggak boleh ya Mymah minta tolong sama kamu?" tanya Naazwa lagi, yang mata ia buat, seperti orang yang sedang sedih.
__ADS_1
"Kenapa harus Anza? Tumben banget sih?Biasanya kan Mymah, selalu ditemani Yumna dan Yunda. Kenapa sekarang malah minta temanin sana Anza?" tanya Fanza terlihat datar.
"Ay.. mirip banget sih sama Bang Brian, kayak pinang dibelah dua. Haiiis... sabar-sabar Nazwa, kamu harus lebih sabar lagi. Karena dia masih kecil! Kalau bapaknya udah gampang ditakluhkan nah kalau anaknya kan sulit," batin Naazwa, saat melihat sikap Fanza yang begitu mirip dengan suaminya.
Melihat Naazwa, yang terlihat malah melamun, membuat Fanza mendecak kesal, "Ck, sudahlah lupakan saja!" kayanya seraya ia melangkahkan kakinya, bermaksud meninggalkan Naazwa. Namun dengan sigap Naazwa langsung menahan tangannya.
"Eeeh, kok malah pergi sih? Emangnya kamu nggak bersedia ya menemani Mymah?" tanya Naazwa, sambil memegang tangan Fanza.
"Emangnya mereka kemana?" tanya Fanza balik.
"Mereka sedang tidur Nak, Mymah nggak tega membangunkannya mereka. Ayoo Ding dong temanin Mymah," balas Naazwa, dengan memasang mata pengharapan, membuat Fanza mendengus pasrah.
"Hu'uh..ya sudahlah, Ayo!" katanya, yang kemudian ia pun berjalan lebih dulu. Membuat Naazwa, senang karena pada akhirnya rencananya berhasil. Ia emang sengaja ingin membawa Fanza, agar ia mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh anak sambungnya itu.
"Emangnya kita mau kemana sih Mymah?" tanya Fanza ketika mereka sudah berada di dalam mobil, yang dikemudikan oleh Gilang, kebetulan setelah menjemput quadruplets dari sekolahnya. Naazwa meminta Gilang untuk menunggunya, dan tentu saja Naazwa sudah meminta izin juga oleh suaminya.
"Huh! Pakai rahasia-rahasia segala sih!" protes Fanza, seraya ia melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Iya dong, makanya sabar ya, nanti kamu akan menyukainya," kata Naazwa, sembari ia mengusap rambut Fanza. Namun dengan spontan Fanza langsung menepis tangan Naazwa, membuat Naazwa terkejut.
"Iiikh..Mymah! Jangan pegang-pegang kepala Anza!" protesnya, seraya ia merapikan rambutnya kembali.
"Aah.. Mymah lupa, yaa Maaf Tuan muda, jangan marah lagi dong," balas Naazwa, yang sebenarnya ia begitu gemas melihat Fanza saat sedang kesal. Karena mengingatkan ia pada suaminya.
"Tampan sih, tapi juteknya nggak nahan cuy," geremeng Naazwa. Namun ternyata terdengar oleh Fanza maupun Gilang, yang terlihat Gilang langsung melirik ke arah Fanza lewat kaca spion tengah. Dan ia langsung tersenyum lucu melihat Fanza.
"Mirip banget ya Nya, dengan Pak Rio?" tanya Gilang, yang kini matanya kembali fokus kedepan.
__ADS_1
"Banget, Lang. Bahkan banget-banget dah, hihihi," balas Naazwa, yang sepertinya ia tak bisa menahan tawanya lagi, karena membayangkan suaminya ketika sedang kesal. Mirip banget seperti Fanza saat ini.
"Hahahaha," Gilang pun akhirnya ikut tertawa. Karena sudah pasti ia juga sedang membayangkan wajah bosnya itu.
"Huh! Kenapa Om Gilang, jadi ikutan tertawa sih!" cetus Fanza, yang nampaknya ia tidak senang ditertawakan.
"Maaf Tuan muda kecil, saya tidak sengaja," balas Gilang, sembari ia menahan tawanya lagi. Dan disaat bersamaan bersamaan mobilnya memasuki gerbang pondok pesantren An-Nur. Membuat keningnya Fanza langsung berkerut.
"Loh, kok kita kesini sih My? Mau ngapain kesini?" tanya Fanza, yang nampak ia tak suka berada disana. Karena yang ia tahu pondok tersebut khusus untuk para santriwati.
"Ada deh, ya sudah ayo, nanti juga kamu akan tahu," ajak Naazwa, seraya ia menarik tangan Fanza. Karena kebetulan suasana pondok utama sepi, Naazwa langsung membawa Fanza, kebelakang pondok. Sesampainya di sana terpampanglah, lapangan hijau yang lumayan besar.
"Kamu tunggu disini sebentar ya? Soalnya Mymah mau mengambil sesuatu," kata Naazwa, dan langsung di anggukan oleh Fanza. Setelah itu Naazwa pun pergi menuju sebuah barak dan langsung memasukinya. Dan tak berapa lama kemudian, ia kembali keluar. Namun kini ia sudah berada di atas kuda berwarna putih. Fanza langsung tercengang melihat.
"Jack, kenalkan dia anakku Fanza, boleh dia ikut naik ke punggung Jack," kata Naazwa, saat ia dan kudanya berada di dekat Fanza. Mendengar perkataan Naazwa, kuda putih itu seperti memahaminya, bahkan ia langsung menekukan kedua kakinya yang bagian belakang, seakan ia mempersilakan Fanza untuk naik.
"Sini Sayang, Jack meminta kamu untuk segera naik ke punggungnya. Jadi sekarang naiklah," kata Naazwa seraya Ia mengulurkan tangannya pada Fanza. Dan tanpa berkata apapun, Fanza pun akhirnya ikut baik. Dan setelah Fanza sudah berada diatas punggung kudanya. Jack pun langsung menegakkan kakinya lagi.
"Kamu sudah siap Sayang?" tanya Naazwa, dan langsung dianggukan oleh Fanza. Setelah itu, Naazwa pun mulai menyentak tali kekang kudanya, dan seketika kudanya pun mulai berjalan dengan pelan, dan tak berapa lama kuda pun berlalu kecil dan mengitari lapangan hijau tersebut. Fanza tampak terlihat senang, dan disaat itulah Naazwa memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Sayang Mymah boleh bertanya? Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa akhir-akhir ini kamu banyak diam Nak?" tanya Nazwa, yang terlihat ia masih mengendalikan tali kekang kudanya. Fanza langsung memandang wajah Naazwa, yang kebetulan ia sudah membuka cadarnya. karena memang lapangan tersebut kawasan santriwati. jadi bebas untuk tidak bercadar.
"Anza cuma kangen Mamah!"
DEGH!!!.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1