
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Setiap Manusia memiliki ujian masing-masing, begitupun dengan kita. yang tak luput dari masalah yang diberikan oleh Allah ﷻ untuk kita hadapi sendiri.
Maka dari itu, berhentilah membandingkan masalah kita dengan masalah orang lain. Berhentilah berharap kepada orang lain agar membantu menyelesaikan persoalan kita.
Karena satu-satunya cara adalah dengan menghadapi masalah tersebut. Jangan takut apapun itu masalahnya, sebab Allah ﷻ sudah menyiapkan "jaminan" bahwa, bersama kesulitan ada kemudahan.
Mintalah jalan keluar dari segala persoalan hidup kepada Allah ﷻ , mintalah juga kekuatan dalam menghadapinya, maka sungguh pertolongan Allah ﷻ itu sangatlah dekat.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷
Sudah hampir dua jam, Rio dan Harun menunggu, Naazwa yang sedang dioperasi. Tampak ada ketegangan, dan kekhawatiran dari wajah Ayah dan Anak itu. Terutama Rio, yang jelas sekali ada rasa ketakutan juga dari raut wajahnya. Bahkan bibir terlihat tak pernah berhenti menyebutkan Asma Allah. Karena ia begitu berharap agar Sang Pemilik takdir memberikan selamat pada Istri dan juga Anaknya.
Sedangkan Harun yang teringat pada keempat cucunya, akhirnya ia pun berpamitan pulang pada Rio. Kini tinggallah Rio seorang diri, yang menunggu dalam kegelisahan.Disaat dirinya masih diliputi rasa tegang dan gelisah, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, membuat ia langsung tersentak dan langsung mendongakkan kepalanya.
"Dika?! Bikin kaget aja sih!" sentak Rio, saat ia melihat wajah si penepuk pundaknya. Dan ternyata ia adalah Dika, salah satu dokter dirumah sakit tersebut.
"Sorry-sorry, bro! Tapi ngomong-ngomong Lo kok disini? Siapa yang sakit Bri?" tanya Dika, sedikit penasaran.
"Naazwa Dik, dia jatuh, dan sekarang sedang di operasi," balas Rio, yang wajahnya terlihat amat kusut.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Sabar ya Bri? Mudah-mudahan operasi di lancarkan, dan insya Allah, istri dan anak kamu akan baik-baik saja," balas Dika, dengan tulus.
"Aamiin ya Allah, terima kasih atas Doanya," kata Rio, terdengar lirih.
"Oh iya, sudah berapa lama, bini Lo diruang operasi Bri?" tanya Dika lagi.
"Sudah hampir dua jam, Dik! Apa selama itu ya kalau operasi?" tanya Rio balik.
"Ya tergantung sih Bro, tapi sepertinya in shaa Allah sebentar lagi siap kok," balas Dika. Dan benar saja tak berapa lama kemudian, pintu ruangan operasi terbuka. Dan seketika Rio langsung berdiri, dan langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi itu. Dika yang kebetulan kenal pada dokter tersebut langsung bertanya mewakili Rio, yang terlihat kini ia semakin tegang.
"Gimana Dokter Inne? Apakah operasinya lancar?" tanya Dika, pada dokter yang dipanggil Inne itu oleh Dika.
"Alhamdulillah, lancar Dok, keduanya selamat dan dalam keadaan baik-baik saja. Dok. Hanya saja, karena usia kandungannya sang Ibu belum cukup, jadi bayi laki-lakinya terlahir dalam kondisi prematur Dok, tapi In shaa Allah, babynya kuat kok. Tapi untuk saat ini babynya harus tetap berada di inkubator dulu, sampai kondisinya benar-benar normal," jelas Inne.
"Alhamdulilah..Kamu sudah dengarkan Brian? Istri dan anak Lo selamat. Tapi untuk saat ini Lo belum bisa menggendong bayi Lo Bro, karena kondisinya yang prematur, mengharuskan dia harus berada di inkubator dulu, sampai kondisinya benar-benar normal selayaknya bayi biasanya. Jadi Lo harus bersabar dulu oke," ujar Dika, menyambung perkataan Dokter Inne.
"Iya gue dengar.. Alhamdulilah gue senang mendengarnya. Nggak papa nggak bisa gendong sekarang yang penting dia sehat. Tapi apakah saya bolehnya?" balas Rio, yang terlihat ia kini sudah mulai tenang.
"Tentu saja boleh Pak, silahkan saja! Kalau begitu saya permisi Dok, Pak," pamit Inne.
"Silahkan Dok! Dan Terima kasih banyak ya Dok," balas Rio. Dan setelah mendapatkan jawaban dari Rio, sang Dokter pun langsung bergegas pergi meninggalkan Rio dan Dika.
"Eh, Dik, gue lupa, menanyakan ruangan bayi gue sama dokter Inne! Apakah lo tahu di mana ruangan bayi itu?" tanya Rio, setelah kepergian dokter Inne.
"Iyee gue tahu, ya sudah ayo kita kesana," ajak Dika, seraya ia mulai melangkahkan kakinya. Dan Rio pun akhirnya mengikuti langkahnya Dika. Sesampainya mereka di ruangan khusus bayi. Dika pun langsung menemui Suster penjaga.
__ADS_1
"Suster, dimana bayi dari Nyonya Rio Febrian?" tanya Dika, pada salah satu Suster jaga.
"Disana Dok! Itu yang sedang ditangani," balas suster tersebut.
"Ooh, terima kasih sus," kata Dika lagi. Lalu ia dan Rio pun menghampiri inkubator yang di tunjuk Suster tadi. Rio langsung tertegun saat melihat kondisi anaknya.
"Ya Allah, ini bayi ku Dik? Kenapa dia kecil sekali Dik?" tanya Rio, dengan suara yang terdengar bergetar. Ia begitu sedih melihat kondisi bayinya yang terlihat amat kecil.
"Benar Brian, ini bayi Lo. Ya begitulah bayi yang terlahir belum cukup umur. Tapi Lo tidak perlu khawatir, selagi bayi Lo masih dalam penanganan yang ahlinya. Insya Allah bayi Lo akan segera normal seperti bayi pada umumnya," jelas Dika, Seraya ia menepuk pundaknya Rio.
"Aamiin," ucap Rio lirih, dengan pandangan tetap mengarah ke bayi. Ia terlihat begitu terharu melihat kondisi anaknya. Sehingga tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, "Maafkan Ayah Nak, karena kecerobohan Ayah, kamu jadi terlahir sebelum waktunya," batin Rio, dengan pandangan yang masih tertuju pada sang Baby.
"Sudahlah Brian, Anak Lo akan baik-baik saja kok! Sebaiknya sekarang temuin istri Lo gih. Takutnya dia akan terkejut saat dia tersadar dan melihat perutnya yang sudah datar. Karena bahaya kalau dia sampai berteriak kaget," ujar Dika mengingatkan Rio.
"Ah..iya juga ya? Ya sudah kalau begitu gue keruang rawat bini gue dulu ya Dik," pamit Rio.
"Oke, pergilah! Gue juga mau mengontrol pasien juga nih," balas Dika apa adanya.
"Oke, thanks untuk semuanya Dik,"
"Sama-sama Bri, ya sudah sono pergi Lo!"
"Iya ini juga mau pergi, gue pamit ya Assalamu'alaikum," pamit Rio.
"Iye, wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"
"Terima kasih Sayang, terima kasih karena kamu masih tetap hidup demi aku dan anak-anak kita. Aku janji tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi," ucap Rio seraya ia mengecup lembut dahi istrinya.
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
Oh iya sembari menunggu Author update lagi yuk mampir ke karya terbaru Author Skysal. Ceritanya seru banget deh.
Biar pada penasaran Author kasih Cuplikan ye cekidot 😉👇
Judul : Rahim Nayra Untuk Naura
Penulis : SkySal
Cuplikan bab
4 bulan kemudian
Nayra yang saat ini sedang bersiap-siap kembali ke kampusnya tiba-tiba di datangi oleh Naura. Hal itu membuatnya cukup terkejut karena setelah tragedi malam itu Naura menjaga jarak dari Nayra, wanita itu seolah memusuhi Nayra karena menganggap hidupnya hancur karena Nayra. Sementara Nayra hanya bisa pasrah, apalagi sikap orang tuanya juga berubah setelah kecelakaan itu, seolah mereka masih sangat kecewa pada Nayra.
__ADS_1
"Ada yang mau aku bicarain sama kamu, Nay," kata Naura.
"Silakan," sahut Nayra sembari memasukan beberapa bukunya ke dalam tas.
"Mertuaku selalu bertanya apakah aku sudah hamil atau nggak, mereka bahkan menyuruhku berkonsultasi ke Dokter kandungan kemudian melakukan program hamil."
Mendengar ungkapan kakaknya, Nayra langsung menghela napas berat kemudian berkata, "Maafin aku, Ra, aku tahu itu salahku tapi aku juga nggak bisa apa-apa."
"Sekarang kamu bisa menebus dosamu itu, Nay," ucap Naura yang seketika membuat kening Nayra berkerut dalam. "Asal kamu mau melakukan yang aku minta, aku akan maafin kamu," imbuhnya.
"Kamu mau aku melakukan apa, Ra?" Nayra bertanya dengan pasrah.
"Jadi istri Raka sampai kamu hamil dan melahirkan!"
Nayra terhenyak mendengar permintaan sang kakak, bahkan ia menahan napas selama berapa saat. Namun, kemudian Nayra tertawa kecil, menganggap Naura sedang bercanda. "Nggak lucu candaanmu, Ra," ujar Nayra.
"Kamu fikir aku bercanda, huh?" desis Naura tajam yang seketika membuat raut wajah Nayra kembali tegang. "Aku nggak mungkin bilang sama Raka dan mertuaku kalau aku nggak bisa hamil, Nay, apa kata mereka nanti?"
Nayra bergeming, mencoba mencerna apa yang sebenarnya diinginkan oleh Naura. "Aku mohon, Nay, kamu gantiin posisi aku sebagai istri Raka. Kita kembar identik, nggak akan ada yang tahu kalau kamu bukan aku. Saat kecil kita sering melakukan ini, kan?" desak Naura yang membuat Nayra semakin tercengang.
"Hanya sampai kamu punya anak, Nay, cuma satu anak," ucap Naura penuh penekanan.
"Kamu gila, Ra?" desis Nayra kemudian. "Ini nggak akan jadi bertukar peran seperti waktu kita masih kecil, Ra, ini berbeda. Dan bagaimana bisa kamu meminta adikmu ini pura-pura menjadi istri suami kamu?"
"Nggak ada jalan lain, Nayra! Aku nggak mau jadi istri yang nggak berguna, dan cuma kamu yang bisa membuat aku tetap sempurna di mata mereka!"
"Tapi apa harus dengan bertukar peran, Ra? Aku nggak mau dan aku nggak bisa!"
"JANGAN LUPA SIAPA YANG MEMBUAT HIDUPKU HANCUR, NAYRA!"
Tiba-tiba Naura berteriak, mengingatkan Nayra pada dosanya 4 bulan yang lalu. Seketika tubuh Nayra terjatuh lemas ke lantai, ia kembali mengingat tragedi yang membuat hidup suadara kembarnya hancur.
"Aku mohon, Nayra. Cuma kamu yang bisa bantu aku, kasihani aku, Dek," lirih Naura menurunkan nada bicaranya. "Kasihani Raka, dia anak tunggal, cuma dia yang bisa memberikan pewaris untuk keluarganya."
Nayra mengangkat wajahnya, ia menatap Naura yang kini berjongkok di depannya. "Okay, tapi dengan program bayi tabung," ucap Nayra dengan lirih tapi Naura menggeleng.
"Nggak, Ra. Aku mau kamu hamil normal, aku harus bilang apa sama Raka kalau kita harus program bayi tabung." Nayra semakin terhenyak mendengar penolakan Naura akan idenya.
"Kamu mau aku ... aku hamil dengan normal?" lirih Nayra tak percaya.
"Iya, harus! Semuanya harus terlihat normal, Ra. Itu akan membuat mereka bahagia!"
"Nggak mau, Naura! Aku nggak mau!" tolak Nayra mentah-mentah, ia sungguh tak habis pikir apa yang ada dalam otak kakaknya itu sampai menginginkan hal gila seperti ini.
Namun, tiba-tiba Naura memecahkan vas bunga kemudian ia mengambil pecahan vas itu dan mengarahkan ke lehernya sendiri yang membuat Nayra panik. "Naura! Jangan gila kamu!" seru Nayra.
"Lebih baik aku mati dari pada hidup tapi menjadi wanita yang nggak sempurna, Nayra!" Naura sudah menorehkan beling itu ke lehernya tapi dengan cepat Nayra merebut benda tajam itu.
"Okay, Naura! Akan aku lakukan yang kamu mau," ucap Nayra dengan begitu pasrah, hatinya terasa sesak dan sakit saat ia memberikan jawaban ini. Namun, mungkin inilah cara dia menebus dosanya pada Naura. Dengan mengorbankan dirinya sendiri.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Cus, mampir ya guys Syukron 🥰🙏