
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
"𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐛𝐚𝐢𝐤𝐦𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧
𝐂𝐨𝐛𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐦𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧".
"𝗝𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮,𝘄𝗮𝗹𝗮𝘂𝗽𝘂𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶𝗺𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝗲𝗱𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗸𝗮."
__𝗛𝗮𝗯𝗶𝗯 𝗔𝗹𝗶 𝗭𝗮𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗔𝗯𝗶𝗱𝗶𝗻 𝗔𝗹𝗸𝗮𝗳𝗳__
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Satu Minggu Kemudian.
Kepergian Inayah membuat semua orang amat terkejut terutama Hans. Ia tidak menyangka kalau perkataan Inayah yang akan pergi, telah dibuktikannya. Namun malah menambah beban untuk dirinya. Pasalnya ia mendapatkan tekanan dari Bosnya. Bahkan ancaman, yang sangat membuat dirinya semakin resah apabila ia belum juga menemukan Inayah. Bahkan satu Minggu telah terlewatkan perkataan sang Bos, masih saja terngiang dalam ingatannya.
"Ingat Hans! Kalau kamu masih ingin bekerja denganku, maka temukan dia segera! Aku beri kamu waktu satu bulan, apabila kamu belum menemukannya juga! Maka lupakanlah kalau kau pernah mengenal diriku! Apa kau paham Hans?" ancam Ardiyan, terdengar penuh tekanan.
"Paham Pak!"
"Bagus! Jadi segera temukan dia! Ingatlah walaupun dihukum pemerintahan nama kalian belum tercantum sebagai suami istri, karena Inayah belum menandatanganinya. Namun di hukum agama kalian sudah Sah Hans! Jadi sekarang Inayah adalah istri kamu yang harus kamu lindungi dan kamu bertanggungjawab atas dirinya! Kamu mengerti Hans!"
__ADS_1
Kata-kata Ardiyan itu telah terlewatkan satu Minggu yang lalu. Namun masih melekat jelas dalam ingatannya Hans. Dan setiap ia mengingatnya, membuat ia semakin gelisah, karena sampai saat ini ia belum menemukan titik terang atas keberadaannya Inayah. Padahal ia sudah mengerahkan semua anak buahnya, untuk mencari Inayah. Namun tetap saja, hasilnya selalu nihil.
"Haiiis..! Kemana lagi aku harus mencari kamu Nayah? Segitu marahnyakah kamu? Sehingga kamu tak meninggalkan jejak sedikit pun padaku? Aakh! Gue benar-benar pusing!" gumam Hans, seraya ia mengacak-ngacak rambutnya. Yang biasanya rambut itu selalu rapi dan klimis, kini terlihat bergitu berantakan. Di saat seperti itu tiba-tiba, ia teringat pada Naazwa.
"Oh iya! Bukankah Yumna sahabat karibnya Inayah? Jadi Yumna pasti tahukan? Inayah sekarang dimana? Ah, sebaiknya aku ke tempat Yumna saja sekarang!" gumam Hans, seraya ia bergegas pergi dan langsung menuju ke mobilnya.
Tampaknya Hans tak ingin menunda-nundanya lagi. Bahkan ia mempercepat laju mobilnya, menuju ke villa milik Rio. Agar secepatnya ia bertemu dengan Naazwa. Dan empat puluh menit kemudian, mobil Hans pun memasuki gerbang villa Rio. Dan langsung disambut oleh Harun, yang kebetulan ia sedang duduk-duduk di teras villa Rio.
"Assalamu'alaikum Pak," salam Hans, setelah ia baru saja turun dari mobilnya. Bahkan ia langsung menyalami tangannya Harun.
"Wa'alaikumus salam, Nak Hans? Tumben kemari? Apakah ada sesuatu yang mendesak sehingga kamu kemari Nak?" tanya Harun, seraya ia menyambut uluran tangannya Hans.
"Benar sekali Pak! Saya memang ada sedikit masalah, untuk itu bolehkah saya bertemu dengan Ustadzah Yumna Pak?" balas Hans, yang terlihat ia begitu berharap sekali, pada Harun, untuk mengizinkannya untuk bertemu dengan Naazwa.
"Tentu saja boleh nak Hans, kalau begitu duduklah dulu Nak, biar saya panggilkan Yumnanya ya," balas Harun, dengan ramah, seraya ia mengisyaratkan tangannya untuk mempersilahkan Hans untuk duduk.
"Sama-sama Nak, kalau begitu tunggu sebentar ya," balas Harun, lalu ia pun, berlalu meninggalkan Hans, untuk memanggil Naazwa. Dan tak berapa lama kemudian, Naazwa pun muncul dari dalam villa tersebut.
"Assalamu'alaikum Bang Hans?" ucap Naazwa, mengagetkan Hans, yang kebetulan pandangannya, sedang mengarah ke gerbang Villa. Sehingga ia tak menyadari kedatangan Naazwa.
"Eh! Wa'alaikumus salam Yumna!" balas Hans, terlihat sedikit kaget, hingga dengan spontan ia langsung bangkit dari duduknya.
"Maaf Bang, sepertinya Ana sudah mengagetkan Bang Hans ya?" tanya Naazwa, yang ternyata ia menyadari kalau Hans, sedikit terkejut. Karena kedatangannya yang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Aah, nggak papa kok Yum. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengganggu kamu," balas Hans, sedikit berbasa-basi pada Naazwa.
"Enggak kok Bang! Kebetulan saja tadi Ana sedang bersantai bersama anak-anak," balas Naazwa apa adanya.
"Ooh.. syukurlah kalau begitu,"
"Iya Bang, oh iya ngomong-ngomong ada perlu apa ya Abang, mencari Ana?' tanya Naazwa, yang terlihat matanya menggambarkan penasaran, atas kedatangan Hans.
"Begini Yum, tapi sebelumnya kamu pasti sudah mendengar kabar saya dengan Inayahkan?" tanya Hans, yang entah mengapa ia ingin sekali melihat reaksi Naazwa, tentang dirinya yang telah menikahi sahabat karibnya itu.
"Alhamdulillah, Ana sudah mendengarnya kok Bang, selamat ya bang! Semoga Abang dan Inayah menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Ana sangat senang sekali saat mendengar pernikahan Abang dan Ty Inayah. Itu artinya Doa Ana di ijabah Allah. Karena pada saat Abang mengikhlaskan Ana. Pada saat itu juga Ana memohon pada Allah, Agar orang sebaik Abang, berjodoh dengan sahabat karib Ana yang begitu baik pada Ana, jadi pantaskan orang baik berjodoh dengan orang baik juga?" tutur Naazwa, yang memang terlihat dimatanya begitu berbinar. menandakan ia sangat senang. Karena orang yang pernah Naazwa cintai, serta sahabat yang sayangi kini telah berjodoh.
Mendengar perkataan Naazwa, entah mengapa hati Hans terasa sakit. Namun mengingat kata-kata doa Naazwa, serta keinginannya. Membuat Hans, seperti tak ingin mengecewakannya. Jadi kini dihatinya telah bertekad untuk segera menemukan Inayah, agar ia bisa memenuhi keinginan Wanita yang, masih ia cintai itu.
"Terima kasih banyak Yumna! Oh kedatangan saya sebenarnya ingin bertanya pada kamu, Yum! Perihal, kepergian Inayah, yang tiba-tiba, apakah kamu bersedia Yum?" tanya Hans, terdengar begitu berhati-hati sekali.
"Katakanlah Bang, kalau ana bisa menjawab, maka akan Ana jawab," balas Naazwa.
"Yum? Pernahkah Inayah mengatakan sebuah tempat, yang ingin dia kunjungi?" tanya Hans, terlihat tak ingin menunda-nundanya lagi.
"Kayanya pernah Bang, ia ingin sekali mengunjungi kampung Uminya di daerah ST, kalau nggak salah perkampungannya masih terpencil Bang, didekat perkebunan teh," balas Naazwa, yang sepertinya ia berkata apa adanya.
Mendengar jawaban Naazwa, Hans langsung bersemangat. Sehingga tanpa sadar ia memegang kedua tangannya Naazwa, dan langsung mengecupnya, "Terima kasih banyak Yum! Kamu sudah..." belum habis ia mengungkapkan rasa terima kasihnya tiba-tiba.
__ADS_1
"Hans!!! Lepaskan tangan istriku!!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...