Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
jalan-jalan


__ADS_3

Apa yang di sukai seorang istri?


salah satu kegiatan sepele yaitu, ketika bisa jalan-jalan berdua bersama suami. Mengendarai sepeda motor, dengan tangan memeluk lingkar pinggang dari belakang. Bercengkrama kesana-kemari, sembari tertawa. Tidak peduli walaupun hanya keliling komplek ataupun desa. Bahkan jika hujan gerimis membasahi tubuh sekalipun, atau mungkin hawa panas akibat sengatan matahari.


Semua tak menghilangkan indahnya masa-masa itu. Debby mempererat pelukannya, sementara Rumi tersenyum ia mengusap-usap tangan Debby.


"Dek lihat rumah itu deh," Rumi menunjuk salah satu rumah. Dimana Debby langsung menoleh. "Dulu di sana itu adalah lahan kosong, aku sering tuh waktu masih MI, main bola sampe ke sana sama teman-teman. Kadang sampai lupa waktu, udah adzan Ashar akunya masih asik main bola."


"Wah... Lumayan jauh dong dari rumah, memang tidak di cariin Umma."


"Di cariin lah. Seringkali Umma jemputnya tuh bawa alat kejut."


"Alat kejut?"


"Iya, entah ranting atau apa gitu buat bikin aku langsung balik. Pokonya nggak perlu Umma teriak manggil, cuma motor berhenti sambil melotot ke arah ku aja udah bikin aku jalan ambil sepeda terus pulang. Karena di tangan Umma sudah ada batang kayu."


Debby yang mendengar itu tertawa.


"Memang dulu Umma galak ya? Suka mukul nggak?" Debby menyandarkan kepalanya di punggung Rumi, dimana deru motor yang berjalan amat pelan masih menyusuri kompleks perumahan tersebut.


"Nggak Dek. Umma tidak pernah mukul, memang agak sering teriak-teriak. Tapi beliau tidak pernah main tangan. Kecuali Abi sih, kadang suka mukul pakai rotan. Itu aja setelah usia aku dan Nuha baligh. Dan nggak sering juga, hanya kalau aku atau Nuha nggak mau ibadah," jawab Rumi.


Debby membulatkan bibirnya. "Terakhir kamu di pukul Abi usia berapa, kak?"


"Emmm... Belum lama banget, saat aku masih kuliah dulu. Udah S2 Dek..."


"Oh ya?"


"Iya. Waktu itu aku di telfon dosen pembimbing. Jadi lupa kalau aku harus jamaah. Makanya di marahin Abi, kena pukul rotan deh di betis."


"Ya Allah... Abi ternyata keras ya?"


"Nggak juga sih, karena itu juga demi kebaikan anak-anaknya. Tapi setelah itu Abi menyesal kok. Beliau pasti langsung minta maaf kalau habis menghukum anak-anaknya."


"MashaAllah. Lalu... Kalau kita punya anak? Apakah Kak Rumi akan keras juga?" Tanya Debby.


Rumi pun menggerakkan spion motornya mengarahkan cermin itu ke wajah sang istri yang tengah tersenyum, ia pun membalas senyum itu.


"Tergantung, tapi sepertinya aku nggak bisa keras seperti Abi. Kayanya nggak tega sih, mukul anak sendiri pakai rotan."


Mendengar itu Debby tersenyum lagi. Memang benar sih, melihat Rumi yang lembut seperti ini dalam bersikap? Dia bahkan tidak pernah sekalipun membentaknya. Walaupun semenyebalkan apapun perangainya jika sedang bengkok. Rumi tetap memilih untuk mengalah, dan berbicara dengan kata-kata yang halus.


Semua sudah menunjukkan, mungkin nantinya dia akan menjadi sosok ayah yang baik untuk anak-anaknya.

__ADS_1


Debby pun menyentuh perutnya sendiri. Ia bergumam dalam hati, bertanya-tanya kapan rahim ini akan terisi?


Namun ia kembali menggeleng lalu memegangi lingkar pinggang Rumi lagi.


'jangan berfikir yang tidak-tidak. Pasti akan segera di kasih. Aku yakin kok.' begitu pikir Debby secara optimis.


Motor mulai keluar dari kompleks, berjalan ke arah Utara hingga seratus meter jaraknya.


Mereka pun tiba di salah satu warung soto yang cukup ramai. Karena warung itu lumayan laris manis, terlebih dalam kondisi hujan seperti sekarang ini. Meja-meja bahkan terisi penuh, terlihat pula para pelayan serta pemilik warung soto yang amat sibuk melayani pengunjung, dari yang di makan di tempat itu sampai yang di bawa pulang.


Rumi memarkirkan motornya, setelahnya menggandeng tangan Debby masuk. Di dalam mereka mencari-cari meja kosong, berharap ada satu meja saja untuk mereka.


"Mas Rumi, mau makan di sini?" Seorang pelayan menghampiri.


"Oh iya, bang. Masih ada meja kosong nggak ya?"


"Di ujung sana. Ada yang kosong, tapi agak masuk ke dalam sih."


Rumi menoleh ke arah istrinya. "Bagaimana Dek, Mau?"


"Nggak papa, Kak."


Rumi pun tersenyum, ia menoleh kearah pelayan pria di hadapannya lagi.


"Siap mas, minumnya apa?"


"Teh hangat satu sama Es jeruk."


Debby yang mendengar kata es jeruk terlihat senang. Karena suaminya paham kalau dia suka minuman dingin, tidak perduli kondisi cuaca sedang panas ataupun dingin. Biasanya kalau di saat hujan begini dia minta es suka di ceramahi. Namun sepertinya sore ini sang suami benar-benar ingin membuatnya senang. Sehingga tanpa harus berdebat kecil, Rumi sudah memesankan es untuk dirinya.


Setelah memesan? ke-duanya kembali berjalan masuk, menuju meja yang di tunjuk pelayan tadi. Sementara itu beberapa di antara para pengunjung yang makan di sana kedapatan curi-curi pandang pada pasangan yang masih nyaman bergandengan tangan.


Mengucapkan kata permisi, hanya untuk meminta jalan.


Di meja itu, Rumi melepaskan kopiahnya dan duduk di kursi masing-masing.


"Kak Rumi, bajunya basah." Debby menyentuh bagian dada sang suami.


"Nggak papa, sedikit kok."


"Tapi dingin pasti tuh."


"Lumayan. Tapi nggak papa dek." Rumi mengusap kepala Debby sebentar menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bertopang dagu. "Hijab mu juga sedikit basah. Kamu kedinginan? Baju mu basah juga nggak?"

__ADS_1


"Enggak. 'Kan tubuh ku ketutupan tubuh kamu. Jadi cuma bagian pucuk kepala ku saja yang basah."


"Ya ampun. Nanti pulangnya pakai mantel ya?"


"Nggak mau, enak hujan-hujanan. Tadi katanya mau hujan-hujanan."


"Owh iya... Tapi aku yang nggak tega ke kamu."


"Nggak tega apa sih, aku suka main hujan-hujanan."


"Oh begitu ya. Ya sudah lah... Semoga sih nanti hujannya sudah benar-benar berhenti. Kalaupun belum atau bahkan tambah deras nggak papa, di rumah kita main hangat-hangatan ya." Bisik Rumi yang langsung terkekeh saat Debby melebarkan matanya.


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang meletakkan pesanan mereka di atas meja.


"Silahkan mas, kalau mau apa-apa lagi bilang saja."


"Iya bang, makasih ya," ucap Rumi.


"Sama-sama." Pelayan itu pun melenggang pergi. Di mana Rumi langsung menoleh ke arah istrinya. Debby sudah membuka penutup sambal, meraih satu sendok penuh ke dalam mangkuk sotonya, mengambil lagi untuk kedua kalinya, dan saat di sendok ke tiga. Rumi menahan tangan Debby


"Jangan kebanyakan. Kamu kalo makan apa-apa ya? Sambalnya suka nggak kira-kira. Nanti kalau perut mu sakit, gimana?"


"Aaaa... Tapi aku suka pedes. Kalau nggak pedes itu kurang nendang."


"Ya tapi itu udah banyak. Kamu pikirin lambung kamu loh, jangan nurutin lidah."


"Satu lagi aja kak... Ini tuh belum pedes."


"Nggak-nggak, sini ku cicipi kuah mu." Rumi mengaduk soto di mangkuk Debby, lalu mencicipinya. "Astagfirullah al'azim... Ya Allah Dek, ini mah kebangetan pedesnya. Kaya gini aja masih mau kamu tambahin? Udah sini sambelnya. Kamu ini ya, besok-besok kalau makan lagi aku saja yang ambilin sambal untuk mu."


"Ih... Aku biasa makan seblak level lima di Bandung. Ini belum ada apa-apanya."


"Kamu makan seblak Bandung itu sampai level lima?"


"Iya, setiap beli pasti level lima."


"Ckckckck... Level dua aja udah pedes banget. Kebangetan bener-bener."


"Hehe, itu sih lidah kak Rumi aja. Sini sambalnya." Debby masih berusaha untuk meraih mangkuk sambal yang di jauhkan oleh Rumi.


"Nggak... Nggak... Udah segitu aja cukup."


"Yaaaa... sedikit lagi."

__ADS_1


"Enggak Dek." Rumi memegangi mangkuk sambal itu meraih setengah dari sendok sambal tersebut untuk ia tuangkan ke kuah soto miliknya, Karena dia memang tidak begitu suka pedas. Debby pun mendengus, ia mencicipi kuahnya sendiri. Memang sudah lumayan pedas namun baginya itu kurang. Tapi dia paham Rumi, yang jika sudah melarang sesuatu maka ia tidak akan bisa membantahnya.


__ADS_2