Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
H-1


__ADS_3

Dengan posisi duduk di depan meja rias, selepas mandi dan berganti pakaian. Dia melamun menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, dengan tangan yang berkerja menyisir rambutnya yang panjang sebatas panggul.


Sesaat ia mengingat kata-kata kakaknya itu. Jika ia membiarkan Debby untuk menikah dengan siapapun. Apa itu artinya, koh Yohan menyetujui? Itu yang ia tangkap.


Hingga suara pintu kamar yang terbuka membuat Maryam sedikit terkesiap. Ia pun meletakkan sisir ke tempatnya.


"Suka banget sama rambutnya Tante, bagus." Debby menyentuh rambut itu.


"Ini sudah jelek kalo kata tante. Soalnya banyak di sanggulnya, jadi menggelombang." Bibi Maryam meraih ikat rambutnya, merapikan sejenak lalu nguncirnya.


"Tapi masih bagus kok, Debby sampai pengen punya rambut kaya gitu." Tuturnya. Maryam pun tersenyum.


"Makan yuk." Ajaknya.


"Ayo." Kedua tangannya beranjak lalu berjalan keluar menuju meja makan. Di sana sudah ada dua piring nasi hangat, dengan lauk yang di beli Maryam tadi.


Mereka lantas duduk di kursinya masing-masing, membaca doa setelah membasuh tangan mereka lalu mulai menyantap hidangan di atas meja itu dengan sesekali bersenda gurau.


Entah apa saja yang di bahas, yang pasti Keduanya sampai terkekeh saking asiknya. Bahkan tanpa terasa makanan di atas meja pun sudah habis tak tersisa.


Bibi Maryam menuangkan air mineral ke dalam gelasnya, lalu meminum isinya.


"Deb? Tante mau tanya. Apa kamu sudah siap untuk menikah?" Tanya Maryam.


"Emmm... Sebelum Debby menjawab? Debby ingin tahu lebih dulu bagaimana tanggapan Papah, prihal ini?"


"Papah mu hanya bilang, dia tidak melarang. Jika kau ingin menikah?"


Debby menatap dengan bingung. "Semudah itu? Lalu bagaimana ekspresinya? Apa papah masih marah?"


Maryam hanya terdiam, ia kembali menengguk air dari dalam gelasnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa ayahnya mengizinkan itu karena sudah tidak peduli.


Taaaak... Gelas itu kembali tergelak di atas meja. Dia pun meraih tangan Debby, lantas menggenggamnya erat.


"Kamu butuh pendamping Deb, supaya ada yang membimbing mu."


"Debby tahu, tapi Papah? Tante belum menjawab pertanyaan Debby."

__ADS_1


"Sudah Tante bilang kan papah mu menyetujui. Jadi tinggal di kamunya. Kalau iya, Tante akan menghubungi ustadz Irsyad."


Debby terdiam, lalu mengangguk pelan. "Debby bersedia." Jawabnya lirih.


"Alhamdulillah." Gumam Maryam, matanya berkaca-kaca menatap penuh haru namun juga kasian pada anak itu.


Hingga esok paginya di waktu duha, Maryam menghubungi nomor telepon yang di berikan ustadz Irsyad. Dimana seorang wanita lah yang menerima panggilan itu.


Langsung saja ia mengabarkan tentang Debby yang bersedia menerima pinangan dari Rumi. Namun ia pun menjelaskan tentang kondisi keluarganya. Dimana ayah dari Debby mungkin tidak akan bisa menghadiri pernikahan anaknya itu, sehingga Debby pun harus menggunakan wali hakim.


Setelah berunding, mereka menyetujui, dan sudah mengatur tanggal pernikahan mereka di tiga bulan dari sekarang.


Terpancar rona bahagia, serta syukur yang teramat di wajah Rumi. Karena dia bisa meminang gadis pilihannya.


🌸 🌸 🌸


malam sebelum pernikahan...


Di dalam kamarnya, Rumi menatap layar ponselnya. Mengamati nama Debby di sana, dia ingin mencoba mengirim pesan chat. Namun ia sendiri tidak tahu


Di tambah nomor itu sudah tersimpan lebih dari tiga tahun lamanya.


Ia pun mencoba untuk menghubungi nomor itu, dengan mata masih memandang tulisan memanggil, serta berharap bisa berubah menjadi berdering.


Beberapa detik kemudian, tulisan itu berubah. Rumi tersenyum...


'nomor ini masih aktif.' gumamnya dalam hati. Dan ia pun terkesiap saat tulisan berdering itu berubah menjadi angka. Debby menerimanya.


"Bismillah." Dia menempelkan telfon itu di telinganya. "Hallo... Assalamualaikum"


"Walaikumsalam." Jawab Debby, dia kenal suara ini. Sehingga membuatnya menutup mulutnya merasa tidak percaya bahwa yang menelfonnya itu adalah Rumi.


"Se... Sedang apa?" Tanyanya gugup.


"Baca buku." Jawab Debby, dia menyentuh dadanya yang berdebar-debar. "Kak Rumi, sendiri?"


"Aku? Emmm... Sedang menghafal." Jawabnya kaku.

__ADS_1


"Menghafal ayat?" Tanya Debby.


"Bukan... Aku sedang menghafal, sebuah Ikrar yang akan aku lantang kan besok pagi."


Debby tersenyum... Ia menutup mulutnya merasa senang.


"Kakak dapat nomor ku dari Tante Maryam ya?" Tanya Debby mengalihkan, karena dia tidak bisa menahan bapernya itu.


"Enggak... Kan kamu sendiri yang dulu ngirim pesan chat, dan nomor ini masih tersimpan."


Deg... Deg...


Debby semakin tidak bisa menahan perasaannya. "Aku tutup ya."


"Kenapa?" Tanya Rumi, dia tersenyum di sebrang.


"Nggak papa... Kalau sekarang, kita masih haram kan untuk saling merayu."


"Loh... Memang siapa yang merayu."


"Kak Rumi lah..."


"Masa? Aku nggak merasa merayu. Aku ngomong apa adanya. Seperti keseriusan ku... Menikahi kamu besok."


Kedua pipi Debby memerah, seketika. "Sudah lah ku tutup. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, calon istri ku." Jawabnya. Debby yang mendengar itu reflek langsung menutupnya karena tidak tahan lagi. Dia pun menutupi wajahnya dengan bantal.


"Aaaaa.... Ya Allah. Semoga pagi cepat datang." Terkekeh girang.


Sementara yang di sebrang, dia tengah mengacak-acak rambutnya.


"Astagfirullah al'azim... Dari tadi aku ngomong apa sih? Duh." Ia merasa geli sendiri, karena reflek saja merayu gadis itu. Rumi pun mengangkat kedua tangannya, bermunajat sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya untuk tidur.


Butuh waktu lama untuk dua orang itu bisa terlelap, perasaan gugup Membuat mereka tidak bisa tidur. Bahkan hingga pukul satu dini hari inilah, mereka baru bisa terlelap kedalam mimpi masing-masing yang entah apa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2