Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kasih sayang Mama


__ADS_3

Debar di dada masih berlanjut, menemani langkah kaki mereka yang sudah semakin mendekati pintu masuk.


Ingin rasanya Rumi memutuskan untuk berhenti saja, ketika suara tawa serta senda gurau mereka yang berada di dalam semakin jelas terdengar. Bisakah dia berbaur dengan keluarga itu? terlebih di acara yang tak sepatutnya ia hadiri. Begitulah isi hati Rumi, yang semakin merasakan ragu dan ingin kembali saja.


Tapi entah... herannya langkah kaki itu seolah tak urungnya untuk terus melangkah. Hingga tiba di depan pintu. Debby mengetuk dua kali pintu kayu di hadapannya.


Tok... Tok... Dengan ragu Debby mengucapkan selamat malam.


Mata Gallen membulat. Karena ruang tamu yang ramai itu mendadak senyap, semua mata tertuju pada mereka berdua. Berbeda dengan Tuan Yohanes yang hanya diam saja, sementara Nyonya Brigitta tersenyum senang.


Gallen melepaskan tangannya yang sedang menggandeng calon istrinya, lalu berjalan mendekati Debby dan Rumi.


"Kalian, kesini? Tidak tahu malu." Berbisik.


Rumi menarik pelan tangan sang istri yang hendak di raih kakaknya itu. merubah posisinya menjadi di hadapan Debby.


"Maaf kak, niat kami baik. Hanya ingin menemui Papa, mengucapkan selamat hari kelahiran setelah itu sudah."


Gallen terdiam, dengan tatapan tajam tertuju pada Rumi. Hingga seorang pria menghampiri mereka.


"Koh...? Sepertinya sejarah Merry akan terjadi pada anak mu."


Deg...! Mata Tuan Yohan terhunus kearah mereka berempat.


"Lihat ini, aku yakin? Apa yang pria ini lakukan tidak akan lama, dia akan bosan lalu menduakan anak mu dan menikahi wanita lainnya, itu kan adat seorang ustadz."


"Astagfirullah al'azim," gumam Rumi amat lirih.


"Om... Kenapa om bicara seperti itu? Suami ku itu tidak seperti apa yang om pikirkan."


"Nah..." Menunjuk kearah Debby. "Jawaban yang sama persis seperti apa yang di jawab Merry. Nyatanya? Dia jadi janda sekarang. Hahaha..."


"Antoni...!" Hentak nyonya Brigitta. "Tidak usah memberikan penilaian buruk pada menantuku. Mereka kesini hanya untuk menemui kami, sama sekali tidak akan merugikan mu."


"Emm..." Antoni bungkam. Nyonya Brigitta semakin mendekat, ia lantas mempersilakan Rumi dan Debby untuk masuk. Sedikit ragu namun akhirnya kedua orang itu masuk dan duduk di ruang tengah cukup jauh dari ruangan tamu tadi.


"Rumi, maafkan adiknya Papa ya. Dia memang seperti itu."


Rumi tersenyum tipis. "Tidak apa, Ma"


"Maaf sekali lagi, kalian boleh cicipi hidangan yang ada. Camilan di sana halal semua kok. Mama tinggal sebentar ke depan ya."


"Iya, Ma." Rumi tersenyum lagi, lalu menoleh kearah Debby yang menggenggam tangan suaminya erat, sedikit gemetaran. "Dek?"


"Hah?" Menoleh.


"Kamu kenapa? Tangan ku lumayan sakit di genggam sekuat ini."


"Astagfirullah... Maaf kak."


Pria itu terkekeh. Ia membelai lembut kepalanya.


"Tenang ya."

__ADS_1


Mata Debby menganak sungai. "Aku merasa tidak enak."


"Sama siapa? Aku biasa saja, Dek."


"Tapi ucapan Om Antoni jahat sekali. Hiks. Tolong jangan di masukin ke hati ya, Kak?"


Rumi menoleh sejenak kebagian pintu, lalu mencium kening istrinya.


"inshaAllah enggak sayang. Tapi ngomong-ngomong, Merry itu siapa?"


"Yang dia maksud adalah Tante Maryam. Ya... Keluarga ku membenci sekali keluaga dari kalangan ustadz, sebab Tante Maryam yang harus merasakan kesendiriannya."


"Begitu ya?" gumamnya, "ya sudah tidak apa, itu hal wajar kalau mereka masih belum menerima kita. Tetap semangat ya, dek."


"Iya kak." Gadis itu tersenyum, merasa lebih tenang. Walaupun hatinya masih merasakan tidak enak pada Rumi. Hingga Debby mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar dia sendiri.


Di kamar itu, Rumi tertegun dengan hiasan salib besar di dinding, tepat di atas ranjangnya. Debby bergegas naik ke atas ranjang itu, hendak melepaskannya.


"Dek, ngapain?"


"Melepaskan ini." Masih berusaha melepaskannya.


"Nggak usah, biarin saja. Nggak enak sama Papa."


"Tapi aku takut kak Rumi nggak nyaman."


"Nyaman sayang," Rumi meraih tangan istrinya. "Turun sini, jangan naik-naik nanti jatuh."


"Sekarang jangan di biasakan. Kamu kan wanita. Sini duduk." Titahnya.


Mereka pun duduk bersebelahan, Rumi meraih tangan Debby menggenggamnya.


"Pokoknya kamu tidak usah merasakan tidak enak sama aku."


"Terimakasih sudah berusaha untuk menerima keluarga ku ya, kak?"


"Dek, untuk apa berterimakasih kepada ku? Aku malah yang justru bersyukur dan kagum sama kamu, dengan kondisi seperti ini. Kamu masih bertahan dengan keyakinan mu."


Debby tersenyum, "jangan di puji, nanti terbang."


"Kan aku pegangin kamu. Jadi tenang saja, nggak akan terbang kok." Terkekeh bersama, lalu hening sejenak.


Debby menghela nafas. "Sudah berapa bulan berlalu, kamar ini masih bersih. Mama benar-benar menata ruangan ini dengan baik, seolah-olah aku masih di sini."


Rumi mengusap-usap kepalanya.


"Itu bukti bahwa selama ini, Mama tidak pernah membenci mu."


"Iya, kak." Menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Rumi mengusap-usap pipi sang istri.


Hingga sebuah ketukan terdengar di pintu, serta panggilan lembut di dari bibir sang ibu di luar. Debby dan Rumi menoleh.


"Masuk saja, Mah..." Titah Rumi, mengizinkan. Dan tak lama gagang pintu mulai bergerak, pintu itu terbuka.

__ADS_1


Senyum ramah nyonya Brigitta tersungging. "Lima menit lagi keluar ya. Kita akan makan bersama-sama."


"Bolehkah, kita ikut bergabung?" Tanya Debby, ragu.


"Boleh lah...." Tuturnya.


"Iya Mah, nanti kami keluar sebentar lagi," jawab Rumi. Sementara Nyonya Brigitta hanya tersenyum lalu menutup lagi pintu itu, dan melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Di dapur...


Ia memerintahkan asisten rumah tangganya untuk menyiapkan piring, gelas dan sendok yang masih baru. Sementara dirinya menata ulang makanan di atas meja.


"Gita." Panggil Tuan Yohan. Yang hanya di respon dengan lirikan matanya saja, lalu kembali memalingkan wajahnya. "Istri ku..." Panggilnya lagi.


"Jangan menggangguku, aku tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk dua anak ku." Tak membalas tatapan suaminya.


"Kenapa kau lakukan ini."


"Apa? Memangnya apa yang ku lakukan?" Masih belum menoleh, ia meraih piring yang masih basah dari sang asisten rumah tangga yang mengulurkan itu padanya.


"Apa sekarang kau sudah tidak menghargai ku?" Menepuk-nepuk dadanya.


Nyonya Brigitta menoleh, pada pria bertubuh sedikit tambun yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Pah? Apakah saat ini aku sedang melakukan sesuatu yang tercela? Dia memang sudah tidak seiman dengan kita, tapi dia tetap anak kita."


"Gita? Kau tahu aku ini siapa?"


"Aku tahu. Anda itu Tuan Yohanes, seorang pendeta yang Taat. Dan kau malu dengan jemaat mu kan, ketika putri mu malah justru berpindah keyakinan, lalu menikah dengan seorang ustadz?"


"Aku punya alasan lain, tidak hanya itu."


"Apa? Apakah soal Merry? Kau masih sakit hati dengan mantan suami dari adikmu itu?"


"Kau tahu jawabnya kan?"


"Aku harus menjabarkan ini berapa kali lagi? Kau mungkin bisa membenci satu ustadz hanya karena kelakuan dia? Tapi apakah kau harus membenci semua ustadz juga?"


"Gita..."


"Ku mohon, jangan pernah membenci anak yang masih amat menyayangi serta menghormati mu sebagai Ayahnya." Nyonya Brigitta meletakkan kain lap itu di atas meja, lalu melenggang pergi keluar dari dapur.


Sementara Tuan Yohan hanya diam saja, ia merogoh saku celananya mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah arloji yang ia temui di atas meja, pemberian dari Debby kemarin.


Bersambung...


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


assalamualaikum, maaf teman-teman, aku lama upnya...


karena memang aku lagi tamatin satu-satu novel ku.


tapi Novel Ikrar cinta Rumi nantinya bakal ku coba buat sesekali up. mohon maaf sekali lagi ya, atas ketidaknyamananya. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2