
Nuha menggigit ujung ibu jarinya, menatap keluar jendela dengan pikiran penuh di Harapan Indah Bekasi. Ya... sedari tadi perasaannya tidak enak, menelfon Abi Irsyad ataupun Umma Rahma tidak satu pun dari mereka yang menjawabnya.
Ia pun menelepon Rumi, beberapa panggilan tidak di jawab, bahkan Debby juga sama. Ada apa ya?
Riiiing... Sebuah panggilan telepon masuk. Ia lantas menerima itu cepat. Tanpa membaca namanya, ia sudah paham.
"Assalamualaikum, Kak Rumi." Sapanya.
"Walaikumsalam warahmatullah. Tadi telfon dek? Maaf ponsel kakak di kamar, kakak tadi lagi di ruang tengah."
"Iya, tidak apa? Emmmm, Umma sehat kan?" Tanya Nuha langsung, karena yang ia pikirkan hanyalah ibunya saat ini.
"Iya, Sehat. Hanya saja?"
"Apa?" Matanya sudah mengembun, dia sudah memiliki feeling tidak baik mengenai Umma Rahma.
"Nggak papa dek, tadi Umma kumat penyakitnya."
"Ya Allah..." Bergumam sembari menutup mulutnya.
"Tapi sudah baik-baik saja kok. Sudah di kasih oksigen juga sama Abi."
"Nuha pengen bicara sama Umma." Suaranya berubah parau.
"Umma sedang istirahat dek. Sedang tidur. Kamu tenang saja ya, jangan panik. Tunggu lah A'a pulang, nanti baru ke sini."
"Hiks..." Menangis.
"Jangan nangis, dek. Sungguh Umma sudah tidak apa-apa."
"Tapi Nuha kangen Umma."
Rumi menghela nafas, membiarkan setiap ucapan keluar dengan Isak tangisnya dari sebrang. Ia memahami sekali perasaan adiknya itu.
"Sabar ya Dek, tunggu A'a pulang atau kamu telfon A'a dulu? Minta izin ke beliau, nanti Kakak jemput." Ujar Rumi. Nuha pun menghapus air matanya, di lihat Ziya tengah tertidur dengan plester kompres demam tertempel di kening. Air matanya pun kembali menetes yang segera di hapus oleh Nuha.
__ADS_1
"Ziya lagi demam, aku tidak mungkin berani minta izin ke A'a. Karena tadi A'a pesan aku tidak boleh masak dan sebagainya, demi bisa jagain Ziya."
"Ya Allah... Sejak kapan demamnya?"
"Baru semalam. Tapi masih terasa kak, dan anak itu juga rewel. Nuha bingung. Hiks... Ummaaa–"
"Sssstttt... Sudah dek. Jangan nangis, kalau begitu tunggu A'a saja. Umma baik-baik saja kok. Kamu tenang ya?"
"Hiks... Iya. Tapi nanti kalau Umma sudah bangun? kakak telfon Nuha ya, Nuha mau bicara."
"Iya dek. Ya sudah, jaga Ziya ya. Semoga nanti sore anak itu sudah membaik kalian bisa ke sini."
"Iya Kak. Kalau begitu aku tutup ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Sambungan telepon terputus.
Detakan jam di dinding masih terus berbunyi. Menemani Nuha yang terpaku sendiri di samping jendela kamar.
Rengekan Ziya terdengar, ia langsung berjalan cepat menghampiri anaknya.
Hingga waktu terus bergulir, satu jam kemudian Nuha kembali meminumkan parasetamol yang ada untuk menurunkan demam Ziya. Lalu kembali anak itu ia tidurkan di atas ranjangnya, walaupun setelahnya merengek lagi membuat Nuha kembali menggendongnya, lalu berjalan keluar menyiapkan air hangat untuk menyekah tubuh anak itu.
Gadis itu terlihat lelah, keringat pun membasahi keningnya. Hingga tak lama, A'a pulang. Nuha menilik ke arah jam, di mana jarum jam masih menunjukkan pukul dua siang. A'a tidak ke rumah tahfiz sepertinya, karena beliau biasanya akan langsung mengajar di sana dan pulang selepas Ashar, sementara toko akan ia pasrahkan kepada tiga orang pegawainya sampai jam tutup yaitu pukul lima sore.
Hari ini dia tidak menyambut kedatangan A'a, karena masih sibuk menyekah tubuh sang anak dengan waslap di tangan yang sudah ia basahi menggunakan air hangat.
Cklaaakk... Pintu kamar itu terbuka. A'a masuk sembari mengucap salam pada Nuha dan sang anak yang tengah duduk dengan mainan di tangannya.
"Bagaimana si Eneng? Sudah baikan?" A'a menyentuh kening Ziya lembut, setelah menyalami Nuha, lalu mencium anak itu.
"Masih agak demam, tapi tidak sepanas tadi A'... Setelah di beri parasetamol jadi jauh lebih baik. Cuman demamnya naik turun." Kata Nuha yang tengah membaluri minyak telon di tubuh mungil Ziya.
"Ya sudah, kita ke dokter saja ya." Faqih berjongkok menatap iba anak perempuannya itu.
"Mmbii... Mmbiiii..." Kedua tangan Ziya terangkat, meminta untuk di gendong oleh Abinya.
__ADS_1
Sementara Faqih yang tengah berjongkok itu tersenyum tipis dengan jari telunjuk mengusap pipi gembul anaknya. Ziya pun berdiri mendekati sang ayah, memeluknya dengan cara melingkari leher Abi Faqih. "Ndooong... Mbiii endoong." Celoteh anak itu, sehingga membuat Faqih terkekeh, ia mencium pipi Ziya gemas.
"Geulis pake baju dulu... Nanti Abi gendong ya."
"Embbiii... Aaaaaa... Embiii..." Anak itu tidak mau melepaskan pelukannya, malah sepertinya semakin kuat mencengkram.
"Sebentar neng, Abi buka dulu jaketnya sama mandi ya, gerah sekali ini Abi... Geulis pakai baju dulu sama Umma. Yuk, Solehahnya Abi." Faqih melepaskan pelukan anak itu. Sementara Nuha sudah siap dengan celana yang akan di kenakan Ziya.
Faqih berjalan menuju tandas setelah melepaskan jaketnya, terdengar suara gemericik air di dalam setelah pintu itu tertutup.
Sedangkan Nuha masih berkutat dengan Ziya memakaikan baju untuk anak itu, dengan usaha yang lumayan keras juga, karena anak itu aktif sekali bahkan berkali-kali membuang baju yang hendak di pakaikan ke kepalanya.
"Emmmaaaaa... Maaaaa..." Ziya melepaskan plester kompres demamnya.
"Jangan di lepas, sayang." Nuha memakannya lagi. Namun anak itu sepertinya tidak mau, dia malah justru kembali menangis.
"Mmaaaaaa.... Mbiiii..." Rengeknya, membuat Nuha segera menggendong anak itu.
Cklaaaakkk... Faqih keluar dengan tubuh yang basah, serta handuk yang melilit di pinggangnya.
"Apa sih neng...? cengeng sekali sih?" Gumam Faqih seraya berjalan menuju lemari pakaian mengambil kaos berlengan pendek serta celananya.
"A'a sudah makan siang belum?" Tanya Nuha.
"Sudah tadi di toko sama anak-anak. Kamu sendiri sudah makan kan?" Tanya A'a balik, sembari memakai kaosnya setelah membaca doa. Nuha pun menggeleng.
"Kok belum makan? Berarti makanan yang A'a pesan untuk mu, belum di makan?" Faqih menyibak rambutnya kebelakang, setelah selesai memakai baju dan bawahnya. Lalu mendekati Nuha yang masih berdiri mengayun-ayunkan Ziya.
"Mana sempet Nuha makan A'? Ziya dari tadi tidak mau turun dari gendongan."
"Ya Allah... Sini... Sini..." Faqih mengambil Alih. Menggendong Ziya. "Andai Umma tidak sedang di Sukabumi pasti bisa bantuin kamu ngurus Ziya."
Nuha tersenyum tipis, "Umma Hasna yang kasian, dia harus istirahat. Kalau nggak ke Sukabumi Umma tuh tiap hari kesini A."
"Maklum lah... Cucunya kan hanya dari A'a. Apalagi si Eneng cewek." Faqih mencium pipi sang anak. "MashaAllah kasian anak Abi, badannya panas sekali. Sudah sana kamu makan, nanti habis itu siap-siap kita ke dokter. Kalau tanggung nunggu Azhar sekalian."
__ADS_1
"Iya A'..." Nuha hendak berangkat, namun satu tangan Faqih meraih bahu Nuha menariknya mendekat, lalu mencium pangkal kepala sang istri. "Kesayangan..." Gumamnya, Nuha pun tersenyum saat tangan A'a mengusap-usap kepala Nuha sejenak. Barulah setelah itu kembali melanjutkan langkahnya keluar kamar.