
Hari yang berganti...
Sepasang mata mengerjap, ketika tangannya yang meraba kesamping tidak merasakan ada seseorang di sebelahnya.
Debby menoleh pelan, ia tak mendapati kak Rumi, namun sejenak dia langsung beranjak duduk ketika melihat sedikit cahaya terang di luar.
"Astagfirullah al'azim. Aku telat bangun?" ia segerakan turun dari ranjang itu, tanpa memikirkan dimana suaminya, yang pasti Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dia harus buru-buru menuju tandas hanya untuk menyikat giginya serta mengambil air wudhu.
Rasanya sangat tidak enak sekali, kenapa dia bisa terlambat bangun seperti ini. Debby pun langsung meraih mukenahnya setelah keluar dari tandas lalu menjalankan dua rakaat shalat subuh di sudut kamar itu.
Dia sebenarnya tidak suka solat subuh sendirian. Karena jika Solat sendiri? Gadis itu tidak memakai kunut, satu alasan pasti yaitu karena dia belum hafal doa kunut. Terlebih kunut itu sunah, walaupun memang lebih baik jika memakai kunut. Namun bukan berarti gadis itu tidak mau belajar untuk menghafal, hanya pelan-pelan. Sebagai muslim baru belum banyak surat-surat yang ia hafal, termasuk doa-doa keseharian.
Setelah beberapa menit berlalu, Debby menoleh ke kanan lalu ke kiri. Berzikir singkat dan ia pun melepaskan atasan mukenah setelah selesai, lantas meletakkan di atas pangkuannya.
"Kak Rumi, kok tidak membangunkan ku ya?" Melamun sejenak. Sedikit ada perasaan resah di dada, namun secepatnya ia tepis. Debby segera beranjak dari tempatnya lalu keluar dari kamar itu setelah menutupi kepalanya dengan kain hijab.
–––
Di ruangan dapur, ada Nuha yang sedang memasak bersama Abi Irsyad, sementara Faqih tengah bersama Ziya di ruang tengah.
"Assalamualaikum." Mendekati mereka dengan malu-malu.
"Walaikumsalam." Jawab keduanya ramah. Abi Irsyad menyunggingkan senyum, sembari meletakan sepiring telur mata sapi yang baru saja beliau masak sebagai teman nasi goreng yang baru saja matang di masak oleh Nuha.
"Abi, maaf... Debby telat bangun." Sedikit menunduk.
"Ya Allah tidak apa, kamu pasti lelah sekali karena kurang tidur kemarin kan? Nggak papa Nduk. Tapi sudah solat subuh kan?" Tanya Abi Irsyad. Sementara Debby hanya mengangguk. "Ya sudah, yang penting sudah solat subuh. Nggak papa, besok bangun lebih pagi lagi." Tutur beliau kemudian.
Debby pun membalas senyum Abi Irsyad dengan perasaan lega. Lalu pandangannya beralih pada ruangan solat yang terlihat dari dapur, Sepertinya masih terang. Gadis itu mengabaikan sejenak, lantas berjalan pelan, mendekati wastafel pencuci piring.
Ada beberapa alat masak dan piring yang kotor di sana, membuatnya langsung menyingsingkan kedua lengan baju tidurnya mencuci semua itu.
"Cici mau bikin susu atau minuman sereal?" Tanya Nuha, yang hendak membuat beberapa minuman untuk anggota keluarganya.
"Emmm... Aku tidak usah lah dek, nanti ku bikin sendiri saja." Menolak dengan halus, karena dia tidak enak jika harus di buatkan oleh adik iparnya.
"Jangan gitu, biar sekalian Ci." Kata Nuha lembut.
__ADS_1
"Begitu ya... Ya sudah minuman sereal saja deh." Melebarkan senyumnya, sama halnya dengan Nuha.
"Oke..!" Semangat. Debby melanjutkan pekerjaannya sementara Nuha berdiri di sebelah Debby agak berjarak sedikit.
Sudah memulai membuka bungkusan kopi dan minuman sereal satu-persatu lalu menuangkan isinya ke gelas-gelas yang berjajar di atas nampan.
"Emmm... Dek, Kak Rumi mana ya?" Tanya Debby pada Nuha.
"Masih di ruang solat sepertinya."
"Owh... Tadi ke masjid kah?"
Nuha menggeleng pelan, "sepertinya enggak."
"Owh..." Manggut-manggut, sehingga membuat Nuha terkekeh bersama Debby juga. Nuha meraih termos air yang berada di dekatnya, menuangkan air itu ke gelas yang sudah berisikan serbuk kopi dan minuman sereal tersebut, lalu mengaduk-aduk kemudian menggunakan sendok kecil.
Setelah selesai membuat minuman, Nuha meraih potongan pisang goreng dan mengulurkannya ke dekat mulut Debby.
Gadis itu menoleh, tersenyum sejenak sebelum akhirnya membuka mulut menggigit gorengan pisang tersebut.
"Emmm... Enak dek, pisangnya manis." jawab gadis itu sembari mengunyah.
"Manis karena liat Nuha kali. Hahaha." Keduanya tertawa.
"Bisa jadi... Hehehe." Ia kembali membuka mulutnya saat pisang itu kembali terulur ke arahnya. "Memang tidak apa ya? makan sambil berdiri begini?" Tanya Debby sebelum memasukkan sisa potongan pisang gorengnya itu langsung kedalam mulutnya.
"Emmm?" Nuha hendak menjawab.
"Sebaik-baiknya makan dan minum itu ya sambil duduk, namun bukan berarti nggak boleh berdiri. Selagi masih ada bangku dan memungkinkan untuk duduk, ya duduk. Kalau terpaksanya berdiri pun tidak di permasalahkan." Potong ustadz Irsyad.
"Kalau begini berati Debby salah dong?" Ucap Debby merasa tidak enak.
"Yang salah tuh ini nih..." Ustadz Irsyad menjewer telinga Nuha, membuat anak itu mengaduh. Debby pun terkekeh tanpa suara.
"Sakit Bi... Nuha kan pengen minta Cici buat cobain pisang goreng buatan Nuha."
"Ya... Tapi tunggu Cicinya selesai dulu, ajak duduk, baru suruh nyicipin."
__ADS_1
"Tapi tadi abi aja cobain nasi goreng dari wajan nggak perlu duduk tuh?" Jawab Nuha nyengir. Membuat Abi Irsyad membalas senyum Nuha seraya menatap wajah sang anak lalu menarik telinga Nuha lagi.
"Pintar menjawab ya anak ini sekarang?" Abi Irsyad semakin melebarkan senyumnya melihat Nuha mengaduh lagi. Anak itu benar-benar mirip seperti Ummanya, begitu pikirnya.
"Aaaa... Udah bi sakit."
"Kapok nggak?"
"Iya kapok, Bi..." Nuha memegangi lengan Abinya, supaya tidak terlalu kuat menarik.
"Istighfar kalau begitu."
"Astagfirullah al'azim." Jawab Nuha. Yang semakin membuat Debby tertawa. Terlebih saat melihat ustadz Irsyad tertawa sembari mengusap-usap kepala Nuha.
***
Keluarga itu sudah berkumpul di atas meja makan, dan sudah memulai sarapan pagi mereka. Berbeda dengan Debby yang terus menerus menatap kearah ruang solat itu.
'kak Rumi tak kunjung keluar?' batin Debby, ia belum mengambil nasi beserta lauknya. Menunggu kak Rumi saja pikirannya.
"Nduk... Kok nggak makan?" Tanya Ustadz Irsyad.
"Nunggu Kak Rumi Bi."
"Ya Allah anak itu.... Sepertinya dia akan lama. Mending makan duluan saja."
"Iya Bi, tapi Debby mau tunggu kak Rumi saja." Jawab Debby. Abi Irsyad pun hanya tersenyum. Hingga sampai keluaga itu selesai makan. Sementara Kak Rumi tak kunjung keluar, membuat Debby akhirnya beranjak mencoba menemui Rumi.
Di depan ruangan solat itu, ia melihat Rumi sedikit mencondongkan tubuhnya, kedepan. Lalu helaan nafas kembali terdengar.
Debby pun masuk dengan perlahan, duduk di sebelah Rumi, sedikit ke belakang.
Ia menyentuh bahu yang kembali berguncang. Pria itu sepertinya menangis sedari tadi. Tangan Debby turun mengusap punggungnya lembut.
"Kak Rumi, masih lama?" Tanya Debby sangat lirih. Namun Rumi tak menjawabnya, bibirnya masih bergumam dengan tangan menggulir biji tasbih, serta air mata yang tak henti-hentinya bercucuran.
Perlahan tangan itu turun, dia memutuskan untuk menunggu Rumi sebentar lagi di ruangan solat itu, berdiam diri tanpa berbuat apa-apa.
__ADS_1