
Saat ini telah tiba bulan suci ramadhan, di hari ke sepuluh.
Di bawah cahaya lampu yang masih sedikit redup, Shafa melipat mukenanya setelah usai melaksanakan solat tahajud.
Hari ini dia ada di Bandung, tepatnya di rumah salah seorang wanita Nasrani. Debora namanya, (cerita detail ada di novel Ikrar cinta sang Hafizh Qur'an)
Karena kemauan gadis yang ia temui saat baru tiba kemarin, ia pun akhirnya menginap di sana.
Dan itu juga di setujui oleh Rumi, hingga suara ranjang yang menandakan pergerakan orang yang tengah merenggangkan tubuhnya membuat Shafa menoleh.
"Hoaaaaaammmm...." Debby menguap dengan mulut yang terbuka, dan ia tutup dengan tangannya. Shafa yang melihat itu tersenyum. "Mbak, jam berapa sekarang?" Tanya Debby.
"Pukul tiga lewat Sepuluh menit." Jawab Shafa, dia sudah selesai melipat mukena itu, dan meletakkannya di atas pangkuan dia sendiri yang tengah duduk bersimpuh.
"Sudah waktunya sahur berarti ya?" Gadis itu dengan semangat tinggi langsung beranjak, dia berjalan menuju tandas untuk cuci muka dan menggosok giginya, lalu keluar lagi. Di mana lampu kamar sudah di nyalakan oleh Shafa.
Sejujurnya dia masih bingung, mau melakukan apa. Dan niat hati dia juga ingin sahur hanya menggunakan roti yang ia bawa kemarin untuk bekalnya beserta air mineral dalam kemasan yang masih tersisa separuh.
"Ayo kita sahur kak, nanti ku masakan mie instan." Ajak Debby.
"Sahur, kamu mau sahur juga?" Tanya Shafa.
"Iya seperti yang ku bilang, aku tetap sholat dan berpuasa walaupun belum jadi mualaf. Ayo kak."
"Tapi kan?"
"Tenang, keluarga ku jarang masak daging non halal di rumah ini. Kalaupun sedang ingin memakannya? paling beli yang sudah matang. Jadi alat-alat masak masih aman... Yuk." Ajak Debby. Sejujurnya Shafa tidak enak hati sih, namun ya sudah lah... Menghormati dan menghargai ajakan orang bukankah itu adab seorang muslim ya?
Hingga dia pun mulai melangkahkan kakinya ke dapur.
Sepanjang langkahnya, dia di selimuti rasa kagum atas semangatnya gadis itu menjalankan ibadah yang di peruntukan untuk umat muslim, dan ketika sampai pada ruangan yang tak terlalu luas di mana panci-panci dan wajan tergantung rapi, serta meja dapur yang bersih, Debby sudah siap menyalakan kompornya ketika air sudah ia tuangkan ke dalam panci perebus mie yang ia letakkan di atas tungku perapian.
"Mbak Shafa duduk saja. Biar aku yang masak mie dan siapkan teh hangatnya." Titah Debby, kedua tangannya masih sibuk membuka lemari gantung yang isinya deretan cangkir berukuran sedang, di atasnya.
__ADS_1
"Deb, aku minum air putih saja ya." Pinta Shafa, yang masih ada sedikit keraguan.
"Kak, ini gelas baru kok. Belum di pakai, jadi tenang saja." Tersenyum. Dia pun mencuci gelas itu lebih dulu, sebelum meletakkan kantung teh ke dalamnya.
Shafa yang merasa tidak enak hati jika hanya duduk pun beranjak, dia melihat air itu sudah mendidih, lalu membuka bungkusan mie rebus yang tergeletak di meja.
"Mbak duduk saja mbak..." Titah Debby.
"Nggak ah... Kita masak sama-sama." Shafa tersenyum simpul, sama halnya dengan Debby.
Hingga tak butuh waktu lama, hidangan yang sangat sederhana itu sudah siap. Keduanya pun mulai menyantap makanan itu dengan hati-hati.
Sebelumnya Shafa mengamati Debby yang tengah menengadahkan kedua telapak tangannya, berdoa. Dan setelah selesai dia menoleh ke arah Shafa.
"Aku baca doa makan, sesuai yang orang muslim selalu bacakan." Bisiknya sembari terkekeh.
"MashaAllah." Gumam Shafa senang. 'ku harap dia benar-benar bisa menjadi Islam seutuhnya.' batin Shafa kemudian.
Jika saja Shafa bisa lebih lama di sini pasti akan lebih menyenangkan
***
Waktu cepat berlalu, setelah seharian beraktivitas, seharusnya sore ini Shafa sudah kembali ke Jakarta. Namun karena travel yang di pesan Rumi bermasalah dia pun terpaksa harus menginap lagi di rumah Debby.
Malam itu keduanya duduk di atas ranjang milik Debby, bercerita ke sana kemari. Tentang agama dan sebagainya, dengan tawa-tawa kecil yang mewarnai suasana kamar di sana. Namun sepertinya lebih banyak Shafa yang terkekeh tipis karena ucapan Debby itu.
Gadis yang sedikit humoris, begitu pikir Shafa yang merasa asik dengan obrolan ini.
Di sela-sela obrolan itu, Debby baru ingat sesuatu, dia pun meraih tasnya lalu mengeluarkan hijab dari dalam tas itu.
Shafa yang melihatnya langsung mengulum senyum, walaupun masih terlihat sangat tipis di sana. Entah mengapa hatinya terasa sedikit sesak, kala mengingat, sore tadi Rumi membelikan hijab itu untuk Debby.
"rasanya ingin ku pakai terus." Gadis itu terkekeh, dia memeluk hijab itu dengan senyum mengembang sempurna.
__ADS_1
'dia Seperti senang sekali, mungkinkah?' batin Shafa yang langsung menggeleng, menepis semua pertanyaan demi pertanyaan yang melintas di benaknya. Dan menanggapi itu semua dengan senyum simpul di bibirnya.
"Mbak, aku mau tanya. Laki-laki seperti kak Rumi itu, sebenarnya mempunyai kriteria tidak sih, dalam hal memilih jodoh."
Mendengar pertanyaan itu, Shafa terdiam sejenak. Kenapa tiba-tiba dia jadi jadi bertanya tentang kriteria dan jodoh.
"Emmm.... Mungkin ada." Jawab Shafa Kemudian.
"Menurut mbak, laki-laki yang seperti itu memilihnya wanita yang seperti apa?" Debby bertopang dagu.
Shafa terkekeh sembari menutup mulutnya. "Mana ku tahu Deb. Aku kan tidak pernah tahu isi hati laki-laki."
"Hahaha... Iya juga sih, tapi setidaknya kalau ada di posisi mbak Shafa sendiri deh, pengennya laki-laki yang seperti apa?"
"Kalo aku, yang pasti seiman dan Soleh." Begitu jawab Shafa.
"Seiman dan Soleh ya?" Debby tersenyum kecut, pandangannya masih terarah kepada Shafa. 'kalau kak Rumi punya pemikiran sama seperti mbak Shafa, berarti wanita seperti mbak Shafa ini lah yang menjadi kriterianya. Bicaranya lemah lembut, baik hati, sopan, Soleha lagi. Sangat jauh dengan ku.' rasa minder di hati pun mulai mencuat.
Sehingga rasa tak semangat pun membuat dia merasa sudah kalah sebelum berjuang. Apalagi Rumi Seperti terus saja menghindarinya, mungkinkah cinta akan muncul? Atau mungkin akan berujung pada kekecewaan, yang pasti Debby tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, dan mengenal Islam lebih dalam lah yang menjadi tujuannya saat ini.
Dan apabila tidak mendapatkan Rumi pun, dia harus bisa lebih ikhlas lagi. Dengan harapan, ada laki-laki yang lebih baik yang bisa membimbingnya.
Shafa menepuk pelan tangan Debby, sehingga membuat gadis itu terkesiap.
"Ngelamun apa sih? Kok jadi diam?"
"Hahaha... Tidak kak."
"Begitu ya? Sudah malam nih, tidur yuk."
"Ayo." Debby mengiyakan, dan langsung beranjak mematikan lampu kamar, serta menyisakan penerangan hanya dari lampu tidur saja.
Bersambung...
__ADS_1