
Langit di luar sudah mulai gelap, namun mereka berdua bersyukur ketika mampu tiba di rumah dengan tepat waktu.
Di lihat Abi Irsyad sudah siap dengan Koko dan sarung, juga sajadah yang tergantung di pundaknya.
Seperti biasa, setiap tiba waktu senja, Beliau akan datang ke masjid lebih awal sembari menanti adzan Maghrib berkumandang.
"Assalamualaikum." Sapa keduanya, berjalan menghampiri sosok ayah yang dengan sejuknya mengembangkan senyum ramah, menyambut kedatangan mereka berdua.
"Walaikumsalam warahmatullah," jawab ustadz Irsyad. Kedua anak itu meraih tangan beliau mengecupnya secara bergantian. "Dari sana jam berapa, nduk? Papa sama Mama sehat, 'kan?"
"Pukul dua siang tadi Bi. Alhamdulillah, mereka sehat."
"Syukurlah. Ya sudah Istirahat lah dulu jika lelah."
"Iya Bi," Debby mengiyakan. Keduanya lantas masuk, setelah Abi Irsyad berjalan keluar mendekati pintu pagar rumah itu.
Di dapur...
Debby mengeluarkan beberapa makanan yang mereka beli sebelum sampai ke rumah. Ada ayam goreng, ada SOP juga. Termasuk satu lusin donat, di peruntukan untuk dirinya Nuha dan Ziya.
"Aku pikir, Nuha dan Ziya masih menginap malam ini?" tutur Debby, yang sedang menuangkan sup tersebut ke dalam mangkuk besar.
"Kata Abi, A' Faqih sakit. Makanya Nuha pulang tadi pagi," jawab Rumi berjalan menuju meja makan, sembari membawa sebotol air dingin yang ia ambil dari dalam kulkas.
"Sakit apa?" Tanya Debby, menyerahkan gelas kosong yang berada di dekatnya kepada Rumi.
"Demam, dek. Sepertinya kecapean. Karena kata Nuha, malam sebelumnya A' Faqih sempet pulang malam ke sini karena bongkaran barang dagangannya, besok paginya selepas subuh beliau langsung jalan lagi kirim barang lumayan banyak ke salah satu ponpes di Banten, dan siangnya langsung ngajar di rumah Tahfiz. Jadi selepas Ashar beliau kaya ngedrop gitu."
"Ya Allah..."
"Beliau memang seperti itu, orangnya giat. Bekerja keras juga, kalau sakit pun tidak pernah dirasa, karena memang orangnya banyak diam, jadi tidak pernah mengeluhkan apapun yang ia rasakan. Tapi dia sangat bertanggung jawab kepada anak dan istrinya. Jujur aku itu iri, ingin gigih juga seperti Beliau." Rumi menengguk airnya.
"Aku maunya Kak Rumi kerja yang sewajarnya. Aku nggak mau kamu sakit." Memeluk pinggang Rumi.
"MashaAllah... Tapi bukannya baik ya? Laki-laki seperti itu. Bisa mapan, punya rumah sendiri juga, kendaraan pribadi dan?"
"Buat apa itu semua kalau ujung-ujungnya akan menyiksa diri. Aku mau Kak Rumi kerja sewajarnya."
Rumi tersenyum menanggapi ucapan Debby dengan perasaan senang. Tak lama suara adzan Maghrib pun berkumandang. "Aku akan berusaha bekerja sewajarnya, tapi membahagiakan mu sepenuhnya."
"Hehehe... Janji ya Suami."
"inshaAllah istri? Sholat yuk."
"Ayo." Bersemangat, Keduanyan pun berjalan menuju ruangan solat yang tak jauh dari ruangan makan itu.
***
Kita beralih ke tempat lain.
__ADS_1
Selepas sholat Maghrib, A' Faqih kembali merebahkan tubuhnya dengan kain sarung masih terpasang. Tidur dalam posisi meringkuk, sedikit menggigil.
Nuha pun beranjak dari alas sujudnya, mendekati sang suami. Ia menyentuh kening A' Faqih, demamnya masih lumayan tinggi namun jauh lebih baik. Di lihat keringat dingin mengucur di keningnya. Nuha pun mengusapnya lembut dengan tangan.
"A'...? Ke-rumah sakit saja ya."
"Nggak perlu, neng. A'a cuma perlu istirahat. Lagian sudah mengkonsumsi obat. Nanti juga sembuh."
"A'a tuh ya... Kalau sakit, bisa nggak sih nurut sama Nuha? Nuha kan bilang, jangan terlalu di paksakan kalau kerja."
"Nggak setiap hari neng, kemarin itu kebetulan pas bongkar barang paginya nganter pesanan." Faqih meraih tubuh Ziya yang tengah berusaha untuk naik ke atas ranjang, memasukannya kedalam selimut, lantas memeluknya. Anak itu tertawa cekikikan sama halnya dengan Faqih, ia menciumi pipi putrinya dengan gemas.
"Ck...!" Nuha sedikit gusar, A' Faqih memang seperti itu paling sulit jika di ajak ke dokter Ketika dirinya sedang sakit. Ia sendiri bingung, selama menikah dengan dirinya? pria itu tidak pernah sekalipun mau ke-klinik ketika sakit, paling mentok hanya membeli obat di apotek.
"Hilwah, serius... A'a tuh cuma kecapean."
"Cuma kecapean apanya? Kamu bilang sendi mu agak nyeri kan?"
"Itu wajar karena A'a demam. Makannya menggigil juga."
"Tapi apa salahnya ketemu dokter, periksa biar lebih jelas sakitnya. Habis itu di kasih obat yang pas."
"A'a males neng... Males kalo dokter udah nawarin buat suntik." Menciumi lagi Ziya.
"Allahu Rabbi.... kenapa kalo di suntik, memang A'a takut?" Satu hal yang baru dia tahu. Mungkinkah itu alasannya? Pria itu tidak pernah mau ke-klinik, hanya karena takut di suntik.
"Emmm... Enggak, bukan gitu. Ya males aja. Udah lah nggak usah berobat, besok sembuh. Beneran."
"Neng, enggak usah. A'a aja udah sehat ini. Liat A'a bangun ya." Beliau berusaha untuk duduk walaupun tubuhnya masih merasakan meriang. "Tuh kan, A'a sehat. Jadi nggak usah lah ke klinik."
Melirik tajam, "Beneran kan takut suntik?"
"Enggak ih... ngarang maneh mah."
"Kalau begitu ayo ke klinik A'..."
"Nggak mau neng, Meni maksa pisan euy." Tiduran lagi, karena kepalanya yang masih pening.
"Siapa yang maksa, lagian nggak melulu semua yang sakit? Terus periksa kedokter harus di suntik."
"Faktanya banyak kan yang di suntik juga. udahlah A'a nggak mau neng." Menutup kepalanya dengan bantal.
"A'a..." Nuha menggoyang-goyangkan tubuh Faqih. "Ayo ke dokter, nggak usah takut. Nggak bakalan di suntik."
"Siapa yang takut di suntik? Di bilang nggak."
"Ya kalo nggak takut, ayo berobat."
"Neng? Sini pijit saja kepala A'a biar cepat sembuh," titah Faqih yang langsung meraih tangan Nuha, berpindah posisi dengan kepala di pangkuan Nuha, lalu meletakkan tangan Nuha di kepalanya.
__ADS_1
"Iyaaa... Ijit Abiii..." Kata Ziya turut memijat-mijat tangan Abinya.
"Pinter geulis mah... Sini pijitin Abinya. Jangan bawel kaya Umma yang suka nyuruh-nyuruh ke-klinik. Orang Abi sehat ya?" Ucap Faqih mengangkat tubuh Ziya dan meletakkannya di perut.
"Penakut." gerutu Nuha yang memutuskan untuk mengalah saja sembari memijat-mijat kepala sang suami. Memaksanya untuk berobat adalah hal tersulit sepanjang pernikahannya dengan Faqih. Dan baru kali ini dia tahu, alasan pastinya? Yaitu sang suami rupanya takut jarum suntik.
Nuha menunduk, ia tertawa lirih. Membuat Faqih menoleh ke atas.
"Ketawa?"
"Enggak." Meredam tawanya.
"Itu apa?"
"Enggak A'...."
"Ketawain A'a kan pasti, ngaku?"
"Su'udzon nih..."
"hmmmm...awas aja." Faqih kembali memejamkan matanya, menikmati pijatan Nuha.
"cieeeeee yang takut jarum suntik." goda Nuha kemudian.
"Hemmm... 'Kan? Jadi ini."
"Apa?" Nuha masih berusaha menahan tawa.
"Cara untuk menggoda A'a... Setelah balon."
"Hahahaha.... Astagfirullah al'azim."
"Kan?"
Tubuh Nuha berguncang karena tertawa. Lalu meredamnya sejenak. "Besok beli balon lagi ya, neng. Tiupnya di dekat Abi."
"Iyaaa, beli aloon. Meyaaa..." Ziya menanggapi.
"Merah? Sama apa nak?"
"Neng?" Faqih menekan kedua pipi Nuha dengan satu tangannya.
"Apa sih? Aku lagi ngomong sama Ziya."
"Awas aja kalau sampai di lakuin."
"Abi... Takut di suntik, takut balon. Yaa... satu persatu mulai ketahuan deh kelemahannya."
"Terus...terus... puas ya kamu?"
__ADS_1
"Hahaha..." Nuha menarik pipi Faqih merasa gemas sendiri, sementara Faqih hanya menghela nafas sembari geleng-geleng kepala.