
Mentari senja selepas Azhar. Tepatnya di salah satu masjid yang terletak di sebelah rumah Habib Bilal.
Beberapa jama'ah wanita sudah mulai berkumpul, membacakan sholawat nabi serta tilawah Al-Qur'an bersama-sama.
Kelompok majelis taklim ini, biasanya akan melakukan acara pengajian rutin setiap minggunya, seperti membaca Yasin dan tahlil, bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain.
Dan di Minggu akhir bulan mereka akan berkumpul di masjid untuk mendengarkan ceramah dari ustadz yang mereka tunjuk.
Sebelum di pimpin oleh ustadz Irsyad, ada seorang ustadz lain namun karena beliau sakit, dan sudah sepuh juga. Isti pun mencoba mencari ulama lain.
Tidak ada pikiran untuk menunjuk ustadz Irsyad pada awalnya.
Hanya saja ketika pertemuannya saat tengah pergi bersama Bilal, Isti jadi kepikiran bahwa ia sedang butuh ulama dakwah untuk mengisi pengajiannya. dan dia pun mencoba untuk menawarkan dan pada saat itu ustadz Irsyad menyanggupi, belum lagi dengan kajian Beliau yang ringan para ibu-ibu majelis juga merasa cocok. Maka jadilah ustadz Irsyad sebagai pengisi kajian di setiap akhir bulan mereka.
Ustadz Irsyad sudah duduk di hadapan mereka, dengan di dampingi Ibnu dan Zulham. Mereka berdua adalah mahasiswa Ustadz Irsyad yang bisa dibilang sering mendampingi ustadz untuk berdakwah, jika para jamaahnya rata-rata adalah wanita.
Posisi ustadz Irsyad yaitu duduk bersila dimana di hadapannya terdapat sebuah meja pendek yang lebarnya sekitar satu meter.
Sementara di sisi kanannya terdapat Zulham dan Ibnu, yang turut bertilawah. Serta seorang Takmir masjid yaitu pak Yasir namanya.
Rampung dengan tilawah mereka, ustadz Irsyad pun mulai membuka kajiannya. Mengucap syukur serta sholawat nabi.
Zulham berjalan mendekati, ketika suara pada pengeras suaranya tidak terdengar. membenarkan Microsoft tersebut lalu kembali duduk bersila di sebelah Ibnu.
Ustadz Irsyad terkekeh. "Nggak kerasa suaranya nggak masuk. Tapi sekarang sudah masuk ya... Jadi kedengaran sampai ke belakang sana. Ya bu... Jangan ngantuk lagi ya?" Ledek beliau pada seorang ibu-ibu tua berusia sekitar tujuh puluh tahunan di ujung kiri paling belakang yang tengah menguap sembari menutup mulutnya lalu tertawa.
__ADS_1
"Ustadz tahu saja ada yang ngantuk." Salah satu dari mereka menyaut, memicu gelak tawa para ibu-ibu lain.
"Tahu saya... Walaupun ngumpet juga di pojokan yang gelap. Semua sebab wajah cerah calon wanita penghuni surga." Ustadz Irsyad senyum-senyum.
"Cieeeeee..." Riuh para jamaah sembari tertawa.
"Aamiin Allahuma?"
"Aamiin..." Jawab mereka dengan suara lantang, lalu tertawa lagi kemudian.
"Kalau di puji langsung ya Bu...? Jawabnya paling kenceng." Tutur ustadz Irsyad sembari tertawa, karena suara tawa mereka masih riuh terdengar. "Baik saya lanjutkan, bab tentang keistimewaan orang yang gemar menahan amarah." Ustadz Irsyad, membuka buku kitabnya, dimana terdapat banyak coretan-coretan Arab gundul di bawah setiap petikan ayatnya dengan tulisan miring.
"La taghdob walakal Jannah (janganlah marah maka bagimu surga).” begitu kata ustadz Irsyad membuka dengan potongan ucapan dari Rosulullah Saw.
"Tahu maksudnya Bu?"
"Apa?" Ustadz Irsyad bertanya sedangkan mereka hanya tertawa, tidak ada yang menjawab, Membuat ustadz pun turut terkekeh. Begitu lah hiburan beliau jika tengah memimpin kajian, dimana suasananya mampu membuat dia lupa sejenak dengan kesedihannya serta rasa kesepian, selepas kepergian Rahma.
"Di tanya apa malah ketawa. Jadi Bu? Orang yang bisa menahan amarahnya akibat di cibir, di Bully. Itu ada keistimewaannya tersendiri. Allah SWT loh yang bakal membela kita, ketika kita hanya diam. Tapi susah ya Bu?"
"Manusia itu kalau sudah tersenggol sedikit, dia akan mudah terpancing, mudah emosi. Benar atau tidak?"
"Benar tadz..." Jawab mereka serempak.
"Apalagi kalau sudah mendengar cibiran ya? Entah dalam bentuk lisan langsung atau mungkin modal katanya? Si A curhat ke si B ngomongin si C, eh si B ngomong ke si C. Begitu si C nggak terima langsung samperin, maki-maki si A, si A juga sama nggak terima. Udah, jadi tuh ribut."
__ADS_1
Para jamaah tertawa...
"Omongan tetangga pedes ya Bu kadang-kadang?" Pancing ustadz Irsyad, Membuat yang di sana tertawa lagi. "Jadi sebaiknya gimana kita menanggapi, ketika kita berada di posisi si C??"
"Yaitu jangan langsung di telan panas-panas bu. Mula-mula kita beristighfar, menyadari kesalahan jika itu benar. Namun jika hati mulai tersulut emosi jangan langsung samperin terus kita maki-maki, jangan Bu ya... Nanti yang ada malah menjadi masalah yang berkepanjangan, hubungan jadi tidak baik, juga akhirnya menimbulkan sebuah kebencian antar satu sama lain. Jadi kalo mendengar sesuatu yang sekiranya akan membuat kita marah, langsung saja membaca ta’awudz: A-‘uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. Ada dalam Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim."
Ustadz Irsyad terdiam sejenak, lalu dia tersenyum tipis kemudian. "Saya jadi ingat pengalaman mendiang istri saya Bu, pernah di gosipin nggak bisa punya keturunan. Jadi waktu itu kami baru menikah sekitar dua tahunan lebih, dan mendiang istri punya riwayat hamil di luar kandungan. Kemudian ada salah satu tetangga yang berasumsi, kalau istri saya nggak bakalan bisa hamil, kebetulan itu nggak lewat perantara. Jadi dengar sendiri secara ngga sengaja, di warung.
Dan si ibunya malah bilang suruh saya buat nikah lagi sama anaknya. Istri saya dengar gitu? Naik pita dong dia."
Ibu-ibu tertawa.
"Karena kebetulan, istri saya itu lumayan jawara sih Bu, kalo soal debat... Sama saya mungkin lebih sering menangnya."
Tertawa lagi.
"Iya... sebenarnya dia itu berani kalau di suruh adu mulut mah. Cuma dia mungkin jaga nama baik saya kalo ribut kan nggak enak ya... Jadi dia jawab dengan bijak gitu, bahkan sampai mempersilahkan anaknya untuk di nikahi saya, asal sayanya mau, katanya." Tutur ustadz Irsyad.
"Sayangnya nawarinya nggak langsung ke saya." Sambung Ustadz Irsyad... yang di sana pun tertawa. "Padahal sih... Kalo istri saya membolehkan, ya mau juga."
"Hahaha..."
"Bercanda ya Bu... Takut di Bully saya ini. Hahaha." Tutur ustadz Irsyad, dimana Isti yang menunduk pun menyipitkan matanya, dia tersenyum.
Ustadz Irsyad masih melanjutkan ceramahnya, hingga setengah jam kedepan. Inti dari kata menahan amarah yaitu manusia harus bisa menjaga agar setan tidak menguasai dirinya. Karena tidak ada suatu penyelesaian masalah dengan amarah.
__ADS_1
Yang ada malah hanya menimbulkan prahara, hingga memicu putusnya sebuah ukhuwah.
Bukankah malaikat akan berkumpul ibarat gula yang dikerubungi semut. Malaikat itu akan berkumpul ketika seorang hamba Allah yang terzolimi, di gunjing sana-sini namun dia tetap diam tak membalasnya. Maka kata Rosulullah Saw yaitu 'merugilah orang yang tidak bisa menahan amarahnya, ketika dia di hujat. Maka malaikat pun akan pergi meninggalkannya. Padahal mereka sedang Mendokan dia.'