Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
rahasia Debby yang di ketahui Gallen


__ADS_3

Sinar matahari yang menyinari, sudah tidak seterik tadi.


Mungkin karena sudah mulai bergeser, selayaknya hari yang terus berjalan menuju sore.


Shafa yang duduk di belakang, membonceng ayahnya. Saat ini dia tengah melamun, menatap kosong melawan arus angin yang terus saja menghantam wajahnya. Sesekali ia menyeka air matanya yang hendak menetes, Seolah tidak ada daya untuknya menghentikan itu. sehingga membiarkan saja bulir bening itu menggenang terus-menerus, sampai benar-benar mengering. Mungkin dia butuh waktu untuk benar-benar merelakan sesuatu yang pergi itu. Namun? ini lebih baik sih, dengan tegasnya Rumi jadi bisa membuatnya berhenti untuk mengagumi sosok pria yang belum halal untuknya.


Motor Ulum berbelok ke salah satu pelataran masjid yang lumayan besar dan indah, suara Adzan pun membuyarkan lamunan Shafa.


"Alhamdulillah. Kita solat dulu ya," kata sang ayah.


Shafa tersenyum, seraya turun dari atas motor tersebut. "Iya, ayah."


Keduanya pun berjalan, dan berpisah menuju tempat wudhu masing-masing. Setelahnya Shafa segera bergegas menuju safnya, sesaat ia melewati satu ruangan yang masih di bilang bagian luar masjid, namun sudah lumayan masuk ke dalam.


Lalu setelahnya ia menyentuh sebuah handle pintu kaca, tempat di mana para jamaah wanita berkumpul.


Namun sebelum itu ia menoleh sejenak, ke arah bagian buku-buku yang berada di sisi kirinya, tepatnya di samping ujung tangga yang menuju lantai dua, di sana terdapat rak buku yang lumayan besar. Namun fokus Shafa bukan di situ, melainkan ada seorang pemuda dengan jaket kulit berwarna coklat, sedang merebahkan tubuhnya. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena tertutupi buku di atasnya.


'ada ya? orang tidur di masjid? Bukannya solat. Astagfirullah al'azim.' batin Shafa yang langsung geleng-geleng kepala, karena telah bersu'udzon 'bisa jadi nanti dia solat kan. Aku ini bicara apa?' sambungnya, dia pun masuk setelah di sapa salah satu orang asing dengan senyumnya karena dia juga hendak masuk.


Sementara pria yang ia amati tadi, masih saja tenang pada posisinya di bawah rak buku, tertidur pulas.


***


Di tempat lain...

__ADS_1


Gallen, kakak dari Debora baru saja pulang bekerja, sebenarnya ada sesuatu yang tertinggal sehingga membuatnya pulang lebih dulu. Dan akan kembali kekantornya sore ini untuk melakukan meeting dengan beberapa klien. Pria bertubuh tinggi sekitar 189 cm, itu pun berjalan masuk menuju kamarnya. Setelah menyapa ibu dan ayahnya yang sedang menyantai di teras, dengan di temani dua cangkir kopi di tengah-tengah mereka.


Pria itu meraih beberapa berkas di lemari tempat penyimpanan file, lalu mengecek ulang mana saja yang hendak di bawa. Sembari bersiul-siul ria pria itu menjilid satu persatu, sesuai dengan urutannya lalu menekan ujung dari lima lembar yang ia pegang itu, dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain membuka-buka laci meja kerjanya.


"Alat steplernya mana ya?" Ia terus saja mencari-cari, namun nyatanya tidak kunjung dia temukan. "Di kamar Debby kali ya?" Gumamnya Kemudian, yang langsung bergegas menutup lagi laci tersebut. Lalu berjalan keluar, berpindah ruangan menuju kamar Debora.


Kamar itu pun terbuka. Dia lantas berjalan semakin mendekati meja belajar adiknya itu. Biasanya Debby itu paling tidak suka jika kakaknya masuk begitu saja, dia akan memarahinya, apalagi jika berani membuka laci kerjanya.


Namun untuk kali ini, karena dia butuh sesuatu dengan cepat. Ancaman Debby pun tak di hiraukannya, hingga tangan itu mulai menyentuh handle laci tersebut menariknya pelan.


"Ck...! Di kunci? Misterius sekali sih anak ini." Gallen malah jadi penasaran, karena dia selalu di larang untuk membuka laci tersebut. Pria itu meletakkan sejenak beberapa lembaran kerja itu, lalu mencoba mencari-cari kunci laci tersebut, merogoh setiap lubang penyimpanan alat tulis dan guci-guci kecil hiasan di tempat itu. "Mana sih? Cuma butuh stapler sama staples doang saja, ribet sekali." Gerutunya, dia bukan kesal karena butuh alat stapler itu sih sepertinya, melainkan rasa penasarannya.


Traaaaakkk... Sebuah kunci terjatuh, dari bawah buku yang tak sengaja kesenggol Gallen, bibir itu tersenyum.


"Nah, ini yang ku cari." Gallen meraih kunci tersebut, yang terdapat lima buah kunci yang entah kunci apa saja. Ia pun mencobanya satu persatu, memasuki kunci tersebut ke lubangnya. Dan di kunci ke-tiga, ia baru berhasil, ia pun segera menariknya pelan.


"Astaga! I...ini?" Tangan Gallen gemetaran. Di raihnya semua itu dan ia keluarkan dari dalam laci meja milik Debora. "Apa... Apa-apaan ini?" Dia pun sedikit panik, lalu mencoba untuk beralih ke yang lain.


Gallen mulai menggeledah kamar Debora, ia membuka lemari pakaiannya. Dan lemari itu terkunci rapat, sehingga membuatnya kembali meraih kunci tersebut yang masih bertaut dengan lubang kuncinya.


Setelahnya kembali berusaha membuka lemari pakaian itu. Dan lagi, matanya melebar seketika. Ketika mendapati banyak catatan berhuruf latin. semuanya adalah bacaan solat dan zikir.


Gallen pun melepas semua tempelan di sana, lalu mencoba untuk menggeledah lagi, mencari sesuatu yang ia harap tidak ada.


Di angkatnya satu persatu, baju milik Debora. Dari atas hingga ia pun berjongkok ke bagian paling bawah, hingga tangannya mulai meraih sesuatu, sebuah kantong keresek berwarna hitam.

__ADS_1


Gallen menggeleng pelan. "Ku mohon... Semoga saja bukan." Pria itu sudah lemas lebih dulu ketika tangannya mulai membukanya.


Sontak seketika dia langsung tercengang, ia mendapatkan sesuatu yang ia khawatirkan. Iya... Sajadah dan mukenah.


Gallen pun menjadi gusar, segeralah ia beranjak. Meraih Semua yang ia temukan itu lalu berjalan keluar kamar tersebut.


Di luar...


Braaaaakkk... Gallen meletakkan itu dengan sedikit menjatuhkannya di atas meja. Mata Nyonya Brigitta pun melebar. Sama halnya dengan tuan Yohan yang terkejut, tidak mengerti maksudnya.


"A...apa ini? Ini kan?" Nyonya Brigitta menyentuh kain mukenah tersebut.


"Itu milik Debora, Mah... Ku temukan itu. Di kamarnya!" Jawab Gallen.


"Tidak mungkin... Tidak mungkin ini milik Debby."


"Itu semua bukti. Aku sudah bilang kan? Debora itu dekat dengan Tante Merry, sudah jelas Tante Merry akan menghasutnya." Gallen Geram.


"Tenangkan diri mu, kita tunggu Debby kembali saja." Yohan berbicara dengan tenang.


"Kapan dia kembali Pah?! Seharusnya kita jemput saja, kita seret anak itu tidak usah kembali lagi ke Jakarta." Tukas Gallen yang sudah merasa geram.


"Aku tidak akan pernah rela Debora ikut Merry. Aku tidak akan pernah Sudi Debby seperti Merry." Nyonya Brigitta menangis. Sementara Tuan Yohan hanya diam saja, dia masih menatap ke arah barang-barang tersebut di hadapannya.


Dalam hatinya dia terus berfikir, tidak mungkin Merry berani melangkahinya. Mempengaruhi Debby untuk berpindah keyakinan.

__ADS_1


Beliau pun beranjak, lalu masuk ke dalam rumahnya, dengan tangan menyentuh dada sebelah kiri. Tiba-tiba saja dia merasakan sesak.


Sementara Gallen kini tengah fokus dengan ponselnya, mencoba menghubungi Debby namun tidaklah aktif.


__ADS_2