Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
Hari-H


__ADS_3

Shafa berhenti di depan rumah Maryam, di sana tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang saja, itu saja hanya dari jasa rias.


Dia hari ini tidak datang ke rumah Ustadz Irsyad, karena menurutnya akan lebih baik jika dia mendatangi Debby dan memberinya semangat serta ucapan selamat untuknya.


Ia menghela nafas di depan pagar rumah sederhana itu. Senyumnya mengembang cerah, mengucap basmalah lalu melangkah masuk kedalam rumah itu.


"Assalamualaikum." Sapa Shafa di depan rumah. Hingga seorang perempuan yang menurutnya sangat cantik itu keluar.


"Walaikumsalam," jawab Maryam, tersenyum lembut.


"Aku Shafa temannya Debby."


"Oh... Silahkan masuk, Debby ada di kamar. Yuk saya antar." Ajak Maryam yang langsung meraih lengan Shafa. Gadis itu pun mengikuti langkah Maryam hingga sampailah dia di depan pintu kamar yang sudah terhias indah layaknya kamar pengantin.


Wangi bunga melati pun tercium semerbak di seluruh ruangan itu.


"Debby." Panggil Tante Maryam, gadis itu menoleh. Lalu mematung.


"Mbak Shafa?" Matanya langsung berkaca-kaca. Sama halnya dengan Debby, Shafa pun juga. Ia mengembangkan senyumnya itu. Sembari mengangkat tangannya melambai.


"Hai... Assalamualaikum." Terkekeh.


"Tante tinggal dulu ya." Ucap Maryam, langsung mengurus yang lainnya.


Debby mendekati Shafa yang masih berdiri di depan pintu kamar itu. Jujur saja, hingga saat ini dia tidak berani menemui Shafa. Walaupun hanya sekedar meminta maaf saja.


"MashaAllah, cantiknya." Shafa memuji Debby. Gadis itu malah justru langsung memeluk Shafa.


"Maaf ya mbak... Maafkan aku."


Shafa meredupkan senyumnya dengan pandangan lurus kedepan. Perlahan tangan itu terangkat lalu membalas pelukan Debby. "Kenapa minta maaf?"

__ADS_1


"Seharusnya kan, bukan aku yang menikah dengan kak Rumi."


"Deb... Hei, kok kamu ngomong gitu?"


"Karena memang benar kan? Aku sudah merebut calon imam mu."


"Astagfirullah al'azim..." Shafa melepaskan pelukannya, lalu memegangi kedua pundak Debby yang terlihat sendu itu. "Dengarkan aku, yang memilih mu itu Rumi sendiri, bukan kamu yang merebutnya. Dan itu hak Rumi kan? Kamu tidak usah berfikir seperti itu."


"Tapi sama saja, waktu itu bukankah dia hendak?"


"Sssssttt... Jangan di lanjutkan." Shafa menggandeng tangan Debby membawanya ke atas ranjang, lalu duduk di sana.


Sebelum itu Shafa meraih secarik tissue dari kontaknya. Lalu mengusap air mata Debby pelan-pelan. "Jangan nangis nanti riasannya rusak, Keduanya terkekeh.


Hingga saat keduanya mulai tenang, kini Shafa pun meraih tangan gadis itu. Menggenggamnya erat.


"Mbak, sungguh aku masih merasa kalau aku sudah jahat pada mu. Karena yang ku tahu hari itu, kau lah yang mau di lamar kak Rumi. Mbak pasti terluka sekali kan?"


Shafa tersenyum. "Itu pasti... Tapi aku sudah tidak apa-apa."


"Haha... Kamu apaan sih Deb, aku sudah bilang aku tidak apa-apa."


"Mbak Shafa?" Debby merengek, ia menggoyangkan tangan itu. Membuat Shafa terkekeh lagi.


"Wajar kan kalau aku sedikit terluka sebelum ini. Tapi sungguh aku sudah tidak apa-apa... Mengingat? Allah SWT lebih paham apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan." Tutur Shafa menatap Debby dengan lembut. Gadis itu kembali menitikkan air matanya di hadapan Shafa. "Mungkin iya, tidak mudah untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah kita genggam sejak lama. Tapi, kita sebagai mahluk bisa apa? Ketika Rabb kita tidak memberikannya Restu? Sebagai manusia kita boleh bermunajat, meminta sesuatu pada Rabb kita. Tapi kembali semua keputusan ada pada Rabb kita. Dan kita tidak bisa menolak sebuah takdir yang sudah di gariskan."


Debby berusaha tersenyum, masih mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari bibir manis gadis di hadapannya itu.


"Aku tidak pernah menyalahkan siapapun. Baik kau, ataupun Rumi. Dia berhak menjatuhkan pilihannya..."


"Tapi mbak, tetap saja aku tanpa sengaja menyakitimu. Seperti tidak punya hati saja."

__ADS_1


"Tidak ada yang menyakiti ataupun di sakiti. Aku kan sudah bilang? Gantungkan cinta mu lebih besar kepada Rabb mu, maka kau tidak akan pernah merasa tersakiti ataupun terkhianati. Dan aku sedang melakukan itu pada diri ku. Deb, justru yang zolim itu bukanlah orang yang sudah mengecewakan ku, tapi malah diri aku sendiri. Sudah tahu belum halalnya, kenapa sudah menaruh hati. Selama ini aku menangisi diri ku sendiri Deb, bukan karena kalian." Shafa tersenyum lagi, dia lantas menyeka air mata Debby pelan dengan tissue di tangannya.


"Maaf..." Rengeknya lagi, Debby pun kembali memeluk Shafa. Hingga Shafa pun tersenyum sembari memejamkan matanya.


'benar, aku sudah kuat. Buktinya aku sudah tidak merasa sesak lagi...' batin Shafa.


"Intinya selamat untuk mu Deb, aku bahagia, aku turut bahagia. Berharap kau pun bisa bahagia selalu bersama Rumi. Allah SWT tidak akan pernah salah menempatkan jodoh seorang mahluk... Kau yang lebih membutuhkan Rumi, bukan aku. Bisa jadi kan, ada orang lain yang malah justru membutuhkan diri ku. Semua itu rahasia alam yang sedang ku tunggu hikmahnya, jadi berbahagialah kamu, untuk hari ini."


"Iya mbak Shafa... Ku harap kau bakal mendapatkan jodoh mu yang terbaik."


"Aamiin... Aamiin... Sudah jangan nangis terus, riasan mu nanti rusak. Sayang loh."


"Hehehe... Iya mbak, tapi air mata nggak mau berhenti." Keduanya terkekeh masih dalam posisi saling memeluk antar satu sama lain.


***


Di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah bibi Maryam, Safa duduk di sebelah Debora di bagian saf perempuan, sembari menggenggam tangan Debby, ia pun mendengarkan Ikrar cinta dari Rumi untuk Debby.


Sementara tangan Rumi mulai menjabat tangan seorang penghulu. Dengan satu tarikan Nafas, sebuah Ikrar pun di ucapkan dengan lantang. Hingga semua berseru 'saaaaahhh...' Rumi pun menitikkan air matanya, ia menoleh ke arah Abinya yang langsung memeluk dengan tangis haru keduanya.


"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Rumi terlihat bahagia sekali, memeluk erat tubuh ustadz Irsyad.


"Selamat untuk mu, semoga sakinah menjadikan kalian mendapatkan mawadah dan warahmahnya. Jaga istri mu, sayangi dia, didik dia dengan baik. Hanya itu pesan Abi." Tutur ustadz Irsyad, yang lantas mencium pipi kanan dan kiri Rumi, yang masih menangis haru.


"Aamiin.. inshaAllah Bi," jawabnya. Ia pun beranjak menghampiri ibunya mencium kaki Rahma lalu memeluk Rahma erat. Tangis haru di sana pecah, memenuhi ruangan masjid yang lumayan besar.


Para tamu yang turut hadir dalam prosesi akad nikah yang di gelar lumayan sederhana itu pun turut terenyuh, setelah menjadi saksi bersatunya sepasang pria dan wanita, yang kini sudah merubah seratus mereka menjadi suami dan istri.


Rumi menyibak tirai hijau itu. Ia menghampiri Debby yang sudah menyunggingkan senyum kearahnya. Dan tanpa di suruh, Debby langsung meraih tangan Rumi ia mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Sementara Rumi langsung tersenyum, ia menyentuh pangkal kepala Debby. Lalu memejamkan matanya mengucap doa.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." Gumam Rumi, setelahnya ia pun mencium kening Debby lembut.

__ADS_1


Melihat itu, Shafa tersenyum. Ia hanya mengucap selamat dalam hatinya untuk mereka berdua. Lalu berjalan pelan keluar dari kerumunan yang tengah berbahagia itu.


Bersambung...


__ADS_2